Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Naga Hitam Bersayap Delapan


__ADS_3

Dua sosok bayangan melesat. Mereka mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya hingga ke ttik tertinggi sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk keluar dari hutan yang berliku-liku tersebut.


Tidak ada yang bicara di antara mereka. Keduanya diam seribu bahasa. Ayah si Tuan muda sedang memikirkan siapakah orang yang telah berani mencari masalah dengan dirinya.


Terlebih lagi, siapa bocah yang sudah melukai anaknya? Apakah bocah itu benar-benar hebat sehingga mampu melukai anaknya hingga sedemikian parah?


Dia masih merasa sangsi akan kabar yang disampaikan si orang tua tadi. Anaknya dikenal sebagai jenius yang jarang ada saingannya di dunia. Bahkan menurutnya, dalam kurun waktu lima puluhan tahun, mungkin tidak akan ada bocah yang mempunyai bakat dan kejeniusan seperti anaknya tersebut.


Tapi hari ini, dia harus percaya bahwa ramalan atau anggapannya ternyata salah. Salah besar. Terbukti karena sekarang anaknya terluka parah oleh bocah seusianya.


Beberapa saat telah berlalu. Kedua orang tersebut telah tiba di tempat tujuan mereka.


Si orang tua terkejut setengah mati begitu sampai di sana.


Sekarang tempat itu telah bersih. Bersih dari segala macam noda darah dan bersih dari mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh kedua mata kepalanya saat ini.


Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi? Sudah jelas bahwa sekarang dia sedang berdiri di tempat pertarungan sebelumnya. Bahkan empat rekannya pun tewas di sini.


Tapi saat ini, apa yang dia lihat sangat bertolak belakang dengan sebelumnya. Di mana mayat empat rekannya? Ke mana pula perginya darah yang tadi menggenang? Apakah lenyap begitu saja?


Tidak, tidak mungkin. Pasti ada sesuatu di balik semua ini.


"Apakah ini tempat yang kau maksud?"


"Benar Tuanku. Hamba sangat ingat sekali. Tempat ini sebelumnya menjadi ajang pertarungan hidup dan mati," jawab si orang tua.


"Tapi buktinya, di sini tampak seperti tidak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja, paling-paling hanya ranting pohon yang patah saja,"


"Sungguh Tuanku, hamba tidak berbohong. Memang di sini tempat pertarungan dahsyat itu. Hanya saja, hamba juga merasa sangat heran sekali. Kenapa tempat ini bisa berubah total hanya dalam waktu singkat?" si orang tua bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia tidak pernah habis pikir bagaimana hal ini bisa terjadi. Sepanjang dirinya mengarungi dunia persilatan, baru kali ini dia mengalami kejadian yang terbilang aneh itu.


"Aku percaya padamu. Kau tenang saja, tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri dari Naga Hitam Bersayap Delapan," ucapnya sangat percaya diri.


Orang itu dikenal dengan julukan Naga Hitam Bersayap Delapan. Nama aslinya adalah Cit Sun. Dia merupakan salah satu tokoh pilihan dari Kekaisaran tetangga yang berniat untuk merebut Kekaisaran Wei.


Cit Sun sudah terbilang mempunyai nama. Apalagi dirinya sudah beberapa tahun lebih dulu ada di Kekaisaran Wei. Sebelum yang lainnya datang ke negeri ini, dia sudah lebih dulu ada si sini.


Sehingga tidak heran kalau wilayah kekuasaannya terbulang luas. Apalagi dirinya mendirikan semacam perguruan bawah tanah yang ditakuti. Dan bangunan tadi adalah markas utama perguruan mereka.


Namanya perguruan Naga Terbang. Perguruan Naga Terbang ini mempunyai satu pasukan satu pasukan yang bergerak secara rahasia. Mereka tidak pernah menjalankan tugasnya secara terang-terangan. Semua tugas yang dilakukannya pasti dijalankan dengan cara senyap.


Di sekitar daerah sini, pasukan khusus milik perguruan Naga Terbang sangat ditakuti oleh siapapun. Sebab mereka tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya. Tak heran jika Cit Sun si Naga Hitam Bersayap Delapan sangat diperhitungkan oleh para pendekar pembela kebenaran.


Konon katanya, dia belum pernah mengalami kekalahan dalam setiap pertarungannya. Siapapun lawannya, dia selalu bisa meraih kemenangan walau memang menghalalkan segala cara.


Menurut kabar yang terdengar, katanya tidak ada musuh yang bisa lepas dari jeratannya. Karena itulah dia tidak merasa khawatir dengan keadaan sekarang. Karena dia percaya dengan kekuatannya sendiri.


"Kau hanya cukup ikut saja denganku. Sebentar lagi aku pasti bisa menemukan mereka,"


"Baik Tuanku, hamba percaya,"


"Apakah kau masih ingat bagaimana penampilan dan wajah orang-orang yang kau maksud itu?"


"Sangat ingat Tuanku,"


"Bagus. Kalau begitu, mari kita pergi,"


Keduanya pergi kembali. Cit Sun berada di depan sebagai penunjuk jalan. Mereka pergi untuk mencari Huang Taiji dan yang lainnya.

__ADS_1


###


Sebelumnya, sesaat setelah si orang tua yang membawa si Tuan muda pergi, Huang Taiji dan yang lainnya juga segera pergi dari sana. Hanya saja, sebelum benar-benar pergi, orang tua itu telah lebih dulu menghilangkan segala macam bekas pertarungannya.


Hal itu memang sengaja dia lakukan supaya mengkaburkan lawan.


Mereka pergi bersama tiga orang yang sempat terluka parah sebelumnya.


Sekarang, orang-orang tersebut sedang berada di sebuah goa di tengah hutan. Huang Taiji baru saja selesai mengobati tiga orang tua yang terluka parah.


Dengan kekuatannya yang sangat istimewa, rasanya mustahil jika Huang Taiji tidak mampu menyembuhkannya. Apalagi dia memberikan beberapa butir pil yang berguna sebagai pemulihan.


Sekarang mereka sedang duduk di dalam goa. Di depan enam orang itu ada api unggun. Di atasnya ada beberapa ekor ayam hutan hasil buruan Huan Ni Mo beberapa saat yang lalu.


Sambil main menunggu ayam matang, mereka memilih untuk bercerita agar suasana bertambah hangat lagi.


"Sebenarnya siapakah Tuan bertiga ini?" tanya Huang Taiji kepada tiga orang tua di hadapannya.


"Namaku Oh Li, ini Gok Sio, dan ini An Hui. Kami bertiga merupakan guru silat di desa kami masing-masing," jawab Oh Li mewakili kedua rekannya.


"Aii, ternyata kalian merupakan seorang guru. Rasanya aku sungguh tidak sopan mencampuri urusan Tuan-tuan ini," ucap Huang Taiji merendah.


"Tuan tidak perlu seperti itu. Kami hanya menjadi guru di sebuah perguruan kecil. Bahkan hanya mempunyai beberapa orang murid saja. Sudah jelas sangat tidak pantas jika dibandingkan dengan kemampuan Tuan yang sangat luar biasa itu," kata An Hui menyela pembicaraan.


Mereka memang merupakan guru silat, hanya saja perguruannya sangat kecil. Bahkan jumlah murid paling banyak hanya sepuluh orang saja. Kekuatannya juga biasa-biasa saja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Huang Taiji.


"Guru tetaplah guru. Mau itu guru dari perguruan kecil maupun besar, statusnya sama saja. Kalau boleh tahu, hal apakah yang membuat kalian turun tangan dan melakukan hal nekad seperti tadi?" tanya Huang Taiji penasaran.


Orang tua itu berpikir tidaklah mungkin seorang seperti mereka mau terjun langsung ke lapangan jika tidak ada masalah yang sangat serius.

__ADS_1


Kalau sampai orang-orang itu turun tangan, sudah pasti sesuatu telah terjadi. Tapi, sesuatu apakah yang ada di balik semua ini?


__ADS_2