Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Iblis Seribu Wajah dari Timur


__ADS_3

Tiga pertempuran dahsyat telah berakhir. Hanya dalam waktu kurang daru satu jam, tiga sahabat tersebut telah menyelesaikan semua pertempuran mereka.


Tidak ada yang selamat dari amukan tiga sosok itu. Lagi-lagi nyawa manusia bertebaran seperti daun-daun kering yang terbawa oleh hembusan angin.


Terkadang jika sedang merenung, Shin Shui juga ingin seperti yang lain. Khususnya seperti warga biasa. Yang petani, mereka akan terus bertani mengurusi sawah ladang mereka.


Pagi pergi ke sawah. Membereskan apa yang harus dibereskan di sana. Siangnya makan bersama dengan anak istri.


Dia ingin seperti itu, sayangnya tidak bisa.


Sebab garis takdirnya telah memilih Shin Shui sebagai seorang pendekar yang menanggung tugas berat di pundaknya.


Namun andai dia disuruh lebih baik memilih menjadi seorang petani atau pendekar. Maka dengan tegas Shin Shui akan memilih untuk menjadi petani saja.


Menikmati hasil panen. Mengajarkan anak mereka dengan ilmu sastra dan budi pekerti luhur.


Lagi-lagi semua hal tersebut hanya khayalan. Sebenarnya Shin Shui sendiri terkadang merasa lelah rasanya jika harus seperti ini setiap waktu. Sedikit-sedikit bertarung, sedikit-sedikit bertempur.


Apakah dari dulu sejak sekarang, tugas seorang pendekar hanyalah meliputi pertarungan hidup dan mati saja? Tidak adakah tugas lain yang merupakan hal baru bagi mereka kalangan pendekar?


Shin Shui masih tetap diam tak bergeming. Dia tidak melangkah walau sedikit. Tubuhnya tegak bagaikan batu karang di tengah laut. Dia tidak ingin menjemput musuh. Tapi dia ingin menunggu musuhnya.


Melihat tuannya berdiam diri, San Ong dan Ong San juga turut diam. Keduanya menanti kedatangan musuh. Siapa lagi yang akan datang? Apakah sebanyak tadi? Atau tidak?


Mereka masih berdiri tanpa bergerak. Tak ada siapapun di sana kecuali tiga orang itu.


Mendadak angin berhembus kencang. Hawa terasa panas sekali, seolah bumi sedang di bakar oleh api neraka. Angin menggulung seperti ombak di pantai.


Suara jeritan roh kematian terdengar membuat bising di telinga. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang entah siapa pelakunya.


Namun ketiga sosok itu masih tetap tak bergerak. Seolah semua yang baru saja terjadi, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Padahal bagi orang lain, setidaknya lutut mereka akan sedikit bergetar.


Tetapi tiga sahabat tersebut tidak.

__ADS_1


"Kalau kau sudah datang, untuk apa bersembunyi lagi? Seperti inikah sifatmu? Jauh-jauh aku datang kemari, ternyata yang aku datangi hanyalah seorang pengecut," kata Shin Shui cukup lantang.


Suaranya dingin. Sedingin ekspresi wajahnya saat ini.


Entah kepada siapa dia berbicara. Sebab tidak ada orang lain lagi selain mereka. Namun setelah dia berkata demikian, suara tawa yang menyeramkan mendadak terdengar kembali.


"Hahaha, ternyata besar juga nyalimu. Semua pasukan terdepan tewas di tangan kalian, hebat, hebat. Tak kusangka kau berani datang kemari,"


Seseorang tiba-tiba keluar dari balik asap hitam yang jaraknya tidak jauh di depan Shin Shui. Semua pakaiannya mirip dengan yang dia pakai sekarang. Wajahnya juga sangat mirip sekali. Kalau diibaratkan, mungkin memang dia Pendekar Halilintar kedua.


Apa yang ada dalam tubuh Shin Shui, ada juga dalam tubuh orang tersebut. Kalau orang lain disuruh untuk menebak mana yang asli dan mana yang palsu, mungkin mereka akan merasa sangat kebingungan.


San Ong dan Ong San sendiri tersentak kaget. Bahkan Shin Shui juga sama. Seumur hidupnya, mereka belum pernah bertemu dengan orang yang bisa melakukan penyamaran sesempurna ini.


Dia berjalan dengan santai. Langkahnya tenang dan tatapan nya lurus ke depan.


"Apakah benar bahwa kau adalah Shin Shui?" tanya orang yang menyamar tersebut.


Orang itu tidak terlihat takut. Bahkan dia tertawa lantang sehingga suaranya menggema ke seluruh area.


"Hahaha … bagus. Justru aku sudah menunggu kedatanganmu kemari, aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Di mana kau datang ke tempatku, lalu tewas di tanganku," kata orang tersebut sambil kembali tertawa.


"Benarkah? Kalau begitu baguslah. Tapi, apakah kau sudah yakin bahwa kekuatanmu sudah sanggup untuk membunuhku?"


"Kenapa tidak? Kalau belum di coba, mana bisa tahu?"


"Bagus. Nama Iblis Seribu Wajah dari Timur memang bukan omong kosong belaka. Jujur aku memujimu, penyamaranmu tentang diriku sangat-sangat mirip sekali. Seumur hidup, aku belum pernah bertemu dengan orang sehebat dirimu jika dalam penyamaran," kata Shin Shui memujinya dengan tulus.


Namun orang yang dipuji cukup terkejut. Dia benar-benar tidak mengira bahwa Pendekar Halilintar ternyata dapat mengetahui siapa dia sebenarnya. Seumur hidup, hanya ada beberapa orang saja yang tahu. Bahkan yang melihat wajah aslinya saja, dapat dihitung dengan jari tangan.


Lantas, dari mana Pendekar Halilintar tahu akan hal itu?


"Tunggu, bagaimana kau dapat mengetahui siapa aku sebenarnya?" tanyanya sangat keheranan.

__ADS_1


"Hahaha, kau pikir aku tidak tahu? Di dunia ini, apa yang tidak aku ketahui? Kapan kematian dirimu pun, aku bisa tahu. Aku tahu kau heran karena yang tahu siapa sebenarnya dan bagaimana rupamu hanya segelintir orang saja bukan? Dan itu juga hanya orang-orang terdekatmu, bukan begitu? Hemm, jangan terlalu sombong jika di depanku,"


"Aku tanya bagaimana kau bisa mengetahui aku?" tanyanya sekali lagi tanpa menanggapi perkataan Shin Shui.


"Karena aku sudah mendapatkan informasi tentang dirimu. Masalah siapa yang memberikannya, kau tidak perlu bertanya. Karena aku tidak akan memberitahumu," tegas Shin Shui.


Sebenarnya Shin Shui dapat mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya saat ini adalah menurut buku informasi yang diberikan oleh para murid mata-matanya. Dia sendiri terkejut karena baru mendengar julukan itu.


Namun meskipun baru mendengar, ternyata informasi yang ada dalam buku bisa dibilang lengkap. Sehingga sedikit banyak dia jadi tahu.


Tetapi yang dia herankan, bagaimana muridnya bisa mengetahui hal tersebut?


Mendengar pernyataan Shin Shui, si Iblis Seribu Wajah dari Timur merasa sangat geram. Kedua tangannya telah mengepal kuat bahkan hingga urat-uratnya menonjol.


"Keparat kau Shin Shui. Sekarang apa maumu?"


"Mencabut nyawamu,"


"Kalau memang kau mampu, lakukanlah,"


Iblis Seribu Wajah dari Timur langsung memberikan terjangan kepada Shin Shui. Sebuah gelombang hitam melesat mengarah kepadanya.


"San Ong, Ong San, kalian mundur. Biar aku sendiri yang menghadapi tikus ini,"


"Baik Tuan," jawab keduanya sambil sedikit menahan tawa.


Shin Shui bergerak menghindar ke samping. Tangan kanannya di kibaskan untuk mementalkan kembali serangan lawan. Terbukti bahwa serangan tadi langsung berbalik arah.


Iblis Seribu Wajah dari Timur terkejut. Buru-buru dia juga menghindar lalu menyerang dengan jurus lainnya. Sinar biru melesat ke arah Shin Shui. Bentuknya mirip dua batang pisau yang melaju dalam kecepatan tinggi.


Semua jurus yang dikeluarkan oleh lawan, ternyata mirip dengan jurusnya sendiri. Bedanya, jurus lawan lebih menjurus kepada banyaknya hawa sesat yang terkandung di dalamnya.


"Blarrr …" ledakan pertama terjadi. Debu mengepul tinggi. Batu dan dedaunan berterbangan ke segala arah.

__ADS_1


__ADS_2