Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kembali ke Sekte Bukit Halilintar


__ADS_3

"Wushh …"


"Gelegarr …"


Langit bergemuruh. Seolah dunia saat ini sedang kiamat. Guntur menggelegar memecahkan bebatuan besar. Bumi bergetar hebat seperti akan ada makhluk raksasa yang akan muncul.


Langit gelap, menjadi lebih gelap lagi. Bintang yang tadinya bertaburan kini lenyap entah ke mana.


Angin hilang tanpa jejak.


Suara binatang tidak lagi terdengar.


Seolah mereka semua ketakutan atas sesuatu yang sekarang terjadi ini.


Para Tetua Sekte Bukit Halilintar menengadahkan kepalanya ke atas sambil membentangkan kedua tangan. Teriakan menggelora terdengar dari masing-masing mulut mereka.


Setelah itu, aura dahsyat segera terasa. Batu-batu di sekitar hancur lebur menjadi debu.


Halilintar menghujani bumi tanpa ampun. Apapun yang ada di bawahnya, akan dilibas habis tanpa sisa.


Delapan belas para pengawal yang tersisa, merasa ngeri melihat jurus seperti ini. Bagi mereka, jangankan tokoh kelas atas, salah satu pendekar terkuat di Kekaisaran Wei pun, belum tentu dapat menahan jurus mengerikan ini tanpa mengalami luka.


Karena tidak ada jalan keluar dari jurus yang membawa kematian ini, maka belasan pengawal tersebut turut mengeluarkan jurus terdahsyat yang mereka miliki.


Berbagai macam sinar terlihat memberikan warna di malam yang sangat gelap ini. Kekuatan dahsyat terasa sangat menekan. Teriakan orang-orang yang menyebutkan nama jurus mereka, terdengar membahana.


Suara menggelegar bagaikan benturan gunung, terjadi setiap waktu.


Belasan jurus dahsyat melesat sangat cepat sekali ke arah para Tetua Sekte Bukit Halilintar.


"Duarrr … gelegar …"


Suara ledakan terdengar hebat. Bumi terasa seperti dilanda gempa bumi.


Belasan pengawal Jendral Besar dari Selatan, terlempar puluhan tombak jauhnya karana tidak sanggup menandingi kedahsyatan jurus Sejuta Halilintar Menggetarkan Semesta yang dikeluarkan oleh para Tetua Sekte Bukit Halilintar.


Mereka semua mengalami luka gosong. Darah yang seharusnya encer, mendadak jadi sangat kental bahkan membeku.


Baju mereka koyak habis. Begitu luncurannya selesai, belasan nyawa para pengawal tersebut sudah melayang keluar dari raganya.


Pertempuran yang sangat dahsyat bwrkahie menyisahkan sebuah kenangan mengerikan bagi setiap orang yang ada di sana.

__ADS_1


Si bocah kecil Chen Li, melihat semua pertempuran ini. Mulai dari pertempuran antara ayahnya melawan Jendral Besar dari Selatan, sampai pertempuran terkahir di saat tewasnya delapan belas pengawal.


Semua tetua mengalami luka yang lumayan parah. Mereka menghimpun tenaga dalam untuk memulihkan kondisinya.


Setelah itu, para tetua tersebut segera menelan pil penambah tenaga sekaligus pil yang berfungsi untuk mengobati luka dalam.


Puluhan murid Sekte Serigala Putih segera membantu para tetua mereka. Sebagian lagi membereskan mayat-mayat yang koyak. Sisanya, membereskan puing-puing bangunan yang hancur akibat pertempuran dahsyat yang baru saja terjadi.


Kini para tetua telah kembali berkumpul di ruangan khusus sebelumnya. Mereka membahas terkait keadaan di Kekaisaran Wei.


"Sepertinya kami akan pulang malam ini juga, keadaan di Kekaisaran Wei semakin parah. Kalau tidak di antisipasi sejak sekarang, rasanya tidak ada waktu lagi," kata Shin Shui di sela-sela pembicaraan para tetua.


Keadaan di negerinya memang sudah lumayan parah. Kekacauan terjadi di segala lini. Namun yang sudah Shin Shui ketahui dengan jelas, keadaan di dunia persilatan lah yang paling parah.


Di beberapa daerah sudah terjadi kekacauan hebat. Pertempuran mulai terjadi di mana-mana, dia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau menunggu satu atau dua tahun lagi.


"Apakah tuan tidak ingin menginap lagi di sini barang satu hari saja?" tanya Wakil Kepala Tetua Sekte Serigala Putih.


"Terimakasih senior, tapi urusanku masih sangat banyak yang harus di selesaikan," jawab Shin Shui penuh kesopanan.


"Aishh, baiklah kalau begitu, kami tidak bisa memaksa,"


"Terimakasih atas kerja samanya, semoga di lain waktu kita bisa berjumpa kembali," kata Shin Shui memberikan hormat.


Rombongan Pendekar Halilintar telah kembali ke sektenya. Walaupun keadaan gelap, tapi mereka bukanlah pendekar biasa. Kegelapan baginya sudah merupakan hal lumrah.


Melakukan perjalanan baik siang ataupun malam, bagi orang-orang seperti mereka, hal itu sudah menjadi kebiasaan.


Siang atau malam, semua sama saja.


###


Tiga hari sudah berlalu, saat ini waktu menunjukkan sore hari. Cahaya merah sinar matahari menyinari bumi dan seisi jagat raya. Hamparan padang rumput terlihat megah diterpa sinar kemarahan itu.


Shin Shui bersama rombongannya saat ini baru saja tiba di sebuah restoran yang cukup mewah.


Restoran tersebut terletak di perbatasan antara daerah Sekte Bukit Halilintar dengan daerah lainnya.


Suasana di restoran sangat ramai. Para pengunjung yang datang berasal dari berbagai macam kalangan. Ada yang berasal dari kalangan pendekar, pedagang, bahkan kalangan orang-orang biasa pun ada.


Suara bicara orang-orang tersebut meramaikan suasana.

__ADS_1


Tapi semua itu langsung berubah saat rombongan tiba dan memasuki restoran.


Suara yang tadinya ramai, mendadak hilang. Orang-orang yang bercanda bersama rekan sambil menunggu pesanan mereka datang, kini menjadi terdiam.


Semua itu terjadi tak lain karena mereka amat menghormati Shin Shui.


Dia mendapatkan posisi terhormat karena di anggap sebagai Pahlawan Kekaisaran Wei.


Semua pengunjung langsung menyapa. Mereka memberikan hormat yang sangat tulus bagi Pendekar Halilintar.


Tidak sedikit juga para pengunjung yang menawarkan tempat duduk mereka kepada Shin Shui dan yang lainnya.


"Para senior dan paman sekalian tidak perlu sungkan. Silahkan lanjutkan kegiatan kalian. Mohon maaf kalau kedatangan kami mengganggu," kata Shin Shui dengan suaranya yang lantang dan penuh wibawa.


Semua pengunjung mengucapkan terimakasih yang terdalam.


Shin Shui terkenal sebagai seorang yang ramah dan suka sekali merendah. Tak jarang juga dia sering membantu para warga yang membutuhkannya tanpa pamrih.


Karena berbagai macam hal itulah sosoknya menjadi sangat dihormati dan disegani. Bahkan oleh para pendekar kalangan hitam sekalipun.


Mereka segera memesan makanan saat seorang pelayan menghampirinya.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang terkait beberapa hal.


Perjalanan yang mereka lakukan kemari, lancar tanpa adanya gangguan apapun. Karena hal tersebut, sekarang mereka telah tiba di tujuan utama.


Makanan tiba. Arak tersedia.


Mereka segera menyantapnya bersama-sama.


Di saat seperti itu, seorang pengemis tua berdiri di pintu masuk.


Seorang nelayan berniat untuk mengusirnya, tapi hal itu di lihat oleh Shin Shui.


"Jangan usir dia. Biarkan saja masuk dan bergabung bersama kami," kata Shin Shui kepada si pelayan.


"Ta-tapi tuan," kata pelayan tersebut agak ragu.


Sebelum dia berkata lebih jauh, Shin Shui telah menghampiri si pengemis dan dia langsung mengajaknya masuk ke dalam.


"Mari paman, silahkan duduk dan makan bersama kami," ucap Shin Shui saat tiba di meja makan.

__ADS_1


"Terimakasih Shui'er. Kau memang tidak berubah, dari dulu hingga sekarang, Shin Shui tetaplah Shin Shui. Aku bangga kepadamu," kata si pengemis bicara tepat di telinganya.


__ADS_2