
Chen Li sudah berjalan cukup jauh ke depan. Pemuda itu sama sekali tidak tahu kalau di antara para pengemis tadi, ada satu orang yang memegang lukisan wajahnya.
Sebenarnya apa tujuan mereka? Kenapa mereka bisa mempunyai lukisan dirinya? Dari mana pula mereka mendapatkannya?
Kedua pengemis yang tadi bicara telah pergi. Mereka sudah tidak ada lagi di tempat tadi. Sedangkan para pengemis lainnya masih berada di sana untuk meminta-minta belas kasihan dari setiap orang yang mereka jumpai.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua sosok bayangan manusia melesat sangat cepat di atas atap bangunan di Kotaraja yang berserakan itu. Meskipun jarak bangunan satu ke bangunan lainnya cukup berjauhan dan mempunyai tinggi yang tidak sama, namun keduanya tampak tidak kesulitan.
Bahkan dengan mudahnya dua bayangan manusia tersebut telus melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah terhitung mencapai tahap tinggi. Mereka semakin cepat sehingga hanya beberapa kejap mata, keduanya telah berada cukup jauh dari Kotaraja.
Dua sosok bayangan manusia tadi akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan cukup besar dan mewah. Setelah menempuh beberapa waktu, akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuannya.
Tempat itu dikelilingi oleh tembok yang membentenginya. Sebuah gerbang cukup lebar terbentang di depan matanya. Dua penjaga gerbang berpakaian dekil dan kumal sedang berjaga sambil menggenggam sebatang tongkat bambu berwarna kuning.
Wajahnya dekil tapi garang. Caranya berdiri begitu tegak seperti sebuah tombak yang keras. Tapi pakaian mereka benar-benar dekil, sama seperti wajahnya. Pakaian itupun dipenuhi dengan tambalan. Bau apek keluar dari tubuh mereka. Entah itu bau dari pakaian, ataukah bau dari tubuh mereka. Yang jelas baunya sungguh tidak sedap. Jika ada orang manja yang lewat di depan mereka, mungkin orang tersebut bakal langsung mual dan muntah.
Dua sosok bayangan manusia yang baru saja tiba itu bukan lain adalah dua pengemis yang tadi sempat ditemui oleh Chen Li. Bahkan yang mempunyai gambar lukisan Pendekar Tanpa Perasaan serta yang berlari dengan sangat cepat pun ternyata mereka itulah orangnya.
Keduanya segera berjalan beriringan. Dua penjaga gerbang membungkuk hormat lalu segera membukakan gerbang tersebut.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam bangunan mewah yang besar tersebut. Beberapa saat kemudian, keduanya telah tiba di pintu utama.
Di atas pintu terdapat sebuah tulisan dengan tinta emas. Tulisan itu ditulis di agas sebuah papan kayu pilihan yang sangat istimewa.
"Perkumpulan Pengemis …"
Hanya dua buah kata saja yang tertulis di sana. Tapi yang dua kata itu justru terlibat sangat indah. Sangat menawan serta sangat mempesona. Di bawah tempaan sinar matahari, dua buah kata tersebut memberikan kilauan cahaya yang membuat mata silau.
Dua penjaga lainnya dengan penampilan sama juga ada di sana. Tapi kedua orang pengemis tadi tidak memperdulikannya. Mereka terus masuk hingga ke dalam ruangan utama.
__ADS_1
Ruangan itu besar. Semua ornamen terdapat di segala macam tempat. Meskipun ruangannya hanya sederhana, namun isinya sungguh luar biasa. Warna cat nya merah darah. Puluhan lukisan orang tua berpakaian putih kelabu penuh tambalan tampak di sana sini.
Meskipun pakaiannya amat jelek, tapi setiap gambar lukisan itu seperti mendatangkan aura agung tersendiri. Kedua orang pengemis tersebut berjalan ke depan.
Di sana ada dua orang tua sedang duduk berdampingan di atas sebuah kursi yang terbuat dari batu giok putih. Kursinya sangat sederhana. Tapi siapapun dapat melihat bahwa dua buah kursi itu sangat mahal harganya.
Di samping kanan dan kiri keduanya ada empat orang pelayan. Semuanya mempunyai tugas masing-masing. Ada yang menuangkan arak, mengipasi kedua orang tua itu, dan lain sebagainya.
Lima belas orang lainnya ada pula di depan mereka. Semuanya sedang duduk dengan penuh rasa segan.
"Kau sudah kembali?" tanya seorang kakek tua yang duduk di atas kursi mewah itu.
Pada saat dia bicara demikian, tangan kanannya mengibas. Empat orang pelayan dengan penampilan yang tidak berbeda segera beranjak pergi dari sana.
Sebelum pengemis tadi menjawab, keduanya terlebih dahulu langsung berlutut dengan hormat.
"Hamba sudah menjalankan tugas dari Ketua," jawab dua pengemis tadi.
"Kami berhasil menemukannya. Bahkan dia memberikan sumbangan kepada saudara-saudara kita," jawabnya sambil mengangguk.
"Bagus. Kerja yang bagus, sekarang, di mana pemuda itu?"
"Dia sedang berada di Rumah Makam Ok Yang,"
Si kakek tua mengangguk tersenyum. Dia amat puas dengan kerja dua orang kepercayaannya tersebut.
Seorang kakek tua yang ada di sampingnya lantas segera menuliskan selembar surat. Setelah selesai, dia segera memandangi orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut.
"Langkah Petir," katanya dengan suara lantang.
"Hamba Ketua," sahut seseorang lalu berlutut.
__ADS_1
"Antarkan surat ini kepadanya,"
"Baik Ketua,"
"Nah, pergilah sekarang,"
Orang yang berjuluk Langkah Petir segera mengangguk. Setelah itu, dia langsung pergi dari ruangan tersebut. Hanya sesaat saja, dirinya sudah berada jauh diluar bangunan mewah yang ternyata merupakan markas Perkumpulan Pengemis tersebut.
###
Chen Li memang sedang berada di Rumah Makan Ok Yang, perutnya lapar. Dan dia ingin sekali menyantap menu masakan yang enak. Karena dirinya sedang berada di Kotaraja kembali, maka dia memutuskan untuk menyambangi rumah makam yang mewah dan berkelas.
Sekarang dia sudah tidak ada urusan lan lagi. Selain makan atau menyambangi tempat-tempat yang istimewa, memangnya apalagi yang dapat dia lakukan?
Mencari masalah di segala penjuru? Atau melakukan perbuatan tercela lainnya?
Tentu saja dia tidak akan pernah melakukan perbuatan-perbuatan rendsham semacam itu. Sedikitpun tidak ada niat dalam hati untuk melakukannya. Bahkan dia merasa tidak sudi.
Tempat duduknya berada di paling belakang. Dan dia makan di lantai paling atas. Seperti biasa, pemuda itu suka akan kemewahan.
Pemuda itu berniat setelah ini, pada saat malam nanti, Chen Li akan kembali ke markas Organisasi Elang Hitam. Dia ingin menjarah semua harta di sana untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Meskipun hartanya sendiri sudah sangat banyak, tapi kalau mengetahui ada harta berlimpah tak terpakai, rasanya dia sayang juga. Oleh sebab itulah pemuda tersebut ingin memanfaatkan harta peninggalan organisasi sesat itu.
Sekarang hidangan telah datang. Meja yang ada di hadapannya saat ini telah dipenuhi oleh berbagai macam makanan mewah dan lezat rasanya. Bau harum segere terendus menusuk hidung. Asap putih masih mengepul. Ternyata semua menu masakan itu dimasak secara mendadak.
Dua guci arak harum yang masih tersegel pun ada di meja tersebut. Ada makanan, pasti ada arak.
Sejak kecil Chen Li sudah doyan minum arak. Bahkan kebiasaannya minum lebih besar dari pada makan. Kalau disuruh memilih, dia pasti bakal memilih lebih baik tidak makan nasi dari pada harus tidak minum arak.
Sepasang sumpit sudah dia jepit. Makanan berupa daging dengan bumbu pedas hampir saja Masukk ke mulutnya. Tapi tepat pada saat itulah tiba-tiba ada sesuatu yang melesat ke arahnya dengan sangat cepat.
__ADS_1
Wushh!!!