
Tempat yang akan dituju oleh Shin Shui merupakan tempat khusus yang dibuat oleh dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Tempat itu memang sengaja diperuntukkan untuk menyepi. Baik itu menyempurnakan sebuah jurus, menenangkan diri, ataupun memulihkan diri seperti sekarang yang akan dilakukan oleh Shin Shui.
Tempat ini hanya boleh dimasuki oleh seorang Kepala Tetua seperti dirinya sendiri. Andai kata seorang tetua ingin melakukan hal yang sama, mereka tetap tidak boleh berada di tempat khusus yang dibuat Shin Shui ini.
Terdapat beberapa rumah kecil lainnya di pinggir tempat khusus tersebut. Tempat itulah yang baru dibolehkan untuk para tetua.
Tabib Seribu Cara pun tidak berani mengantarkan Shin Shui sampai ke dalam. Dia mengantarkan sang Kepala Tetua hanya sampai ke gerbang yang dijaga ketat oleh dua orang murid inti Pendekar Dewa tahap dua akhir.
"Terimakasih karena Tabib Qi sudah mau mengantarkan," ucap Shin Shui kepada Tabib Seribu Cara.
"Sudah menjadi tugas hamba untuk melayani Kepala Tetua," katanya penuh hormat.
Setelah basa-basi, Tabib Seribu Cara segera kembali lagi ke sekte. Dua murid inti yang berjaga membungkuk memberikan hormatnya kepada Shin Shui.
Dia langsung masuk ke dalam rumah kecil namun sangat antik tersebut. Bangunan kecil itu hanya merupakan tempat sederhana yang dibuat dari kayu-kayu pilihan. Tanaman atau buah-buahan sumber daya tumbuh subur di sana. Ada juga berbagai macam bunga yang mekar dengan indah serta menebarkan bau harum.
Shin Shui masuk ke dalam. Dia mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan proses pemulihan dirinya.
Setelah semuanya siap, Shin Shui mulai duduk bersila. Dia mulai menghimpun semua tenaga dalam yang disediakan oleh alam sekitarnya. Baik tenaga dalam inti dari langit, maupun dari bumi.
Awalnya memang biasa saja. Belum tampak ada keaenahan apapun.
Tetapi setelah beberapa jam Shin Shui bersemedi, perbedaan mulai terlihat. Ada sebuah asap putih tipis yang mulai menyelimuti dirinya. Ada juga aura agung yang mulai terasa di sekitaran tempat.
Shin Shui terus memejamkan matanya memfokuskan pikiran dan melupakan segalanya. Sampai-sampai, dia tidak ingat lagi berada di mana. Entah di langit, ataupun di bumi. Bahkan tubuh Pendekar Halilintar terlihat mengapung beberapa jengkal. Sesekali tubuh itu berputar sambil terus diselimuti asap putih.
Selama kurang lebih tiga belas hari, Shin Shui terus melakukan hal serupa seperti yang disebutkan di atas. Besok adalah hari terkahir untuk dirinya berada di sana.
__ADS_1
Dan sekarang adalah merupakan puncak dari pemulihan diri. Bukan hanya pembersihan diri dari racun atau lainnya, tetapi sekaligus di sini lah dia menghimpun tenaga sebanyak mungkin.
Bahkan di alam sana, Shin Shui juga menyempurnakan beberapa ilmu yang menurutnya belum sempurna. Hampir sehari semalam Shin Shui melakukan pembersihan diri di hari terakhir ini.
Keesokan harinya, yaitu hari ke empat belas atau hari terkahir, Shin Shui mengulangi hal yang sama lagi. Namun kali ini tidak memerlukan konsentrasi penuh, sebab sekarang hanyalah untuk melakukan pengecekan terhadap dirinya. Apakah racun itu masih ada atau sudah musnah. Apalah lukanya sudah sembuh, atau belum.
Dan ternyata, hasilnya sempurna sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua racun yang disebabkan oleh Dewi Iblis sudah musnah. Sehingga tubuhnya kembali segar, bahkan lebih segar lagi. Selain itu, semua luka di tubuhnya juga mulai pulih seperti sedia kala.
Kalau orang lain yang menerima luka semacam ini, sudah pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk benar-benar pulih total. Sekalipun itu dibantu dengan berbagai macam sumber daya.
Sebab racun yang diberikan oleh Dewi Iblis, merupakan racun yang berbeda. Sangat berbeda dengan racun pada umumnya. Sehingga, hal tersebut menyulitkan untuk mencari penawarnya. Karena alasan itulah Shin Shui harus berusaha ekstra untuk meleburkan racunnya lalu dia olah menjadi tambahan tenaga.
Tengah malam saat hari terkahir, bulan bersinar dengan terang. Tiada awan yang menghalangi cahayanya. Semilir angin terasa lebih dingin di sana. Apalagi tempatnya memang berdekatan dengan hutan.
Suara binatang malam meramaikan suasana memecah keheningan. Shin Shui sedang berdiri sambil menggendong tangannya. Dia memandangi rembulan yang terang bersama jutaan bintang.
Di saat sedang asyik menyaksikan keindahan alam, tiba-tiba Shin Shui mengerutkan keningnya. Kemudian dia melihat ke semak belukar dekat bangunan sederhana itu.
"Tuan yang ada di balik semak-semak, keluarlah. Kedatanganmu sudah aku ketahui," kata Shin Shui dengan santai. Bahkan penuh senyuman menawan.
Awalnya memang seperti tidak ada keanehan apapun. Namun tidak berapa lama, mendadak ada sebuah bayangan merah melompat dari semak-semak yang tadi ditunjuk oleh Shin Shui.
Hanya satu kali menjejak tanah, tamu asing itu segera tiba di hadapan Shin Shui. Bahkan dia segera memberikan hormat.
"Aku kira siapa. Ternyata Maling Sakti Hidung Serigala," ucap Shin Shui sambil menjura.
"Ah tidak, tidak, mana berani aku begitu lancang menerima nama itu di hadapan Pendekar Halilintar," kata orang yang dipanggil Maling Sakti Hidung Serigala itu.
__ADS_1
"Mari silahkan masuk," ucap Shin Shui mempersilakan.
Orang yang dipanggil Maling Sakti Hidung Serigala lalu masuk tanpa sungkan lagi, tapi masuknya juga penuh dengan sopan santun.
"Mohon maaf kalau aku telah lancang kemari," kata orang itu yang baru berusia sekitar lima puluh tahun.
"Ah, tidak mengapa. Ada angin apa hingga mendatangkan Maling Sakti kemari?" tanya Shin Shui langsung ke inti.
Shin Shui tidak perlu menanyakan bagaimana orang tersebut bisa masuk tanpa sepengetahuan orang lain dan terkena jebakan yang tertera di sekitar tempat itu, sebab dia tahu bagaimana keahlian si Maling Sakti Hidung Serigala ini.
Kepandaiannya sangat tinggi, bahkan dia merupakan Pendekar Dewa tahap enam. Selain itu, ilmu meringankan tubuh yang dia miliki juga jarang ada tandingannya. Di lain sisi, dia juga merupakan orang yang paling hebat dalam mencari informasi ataupun jejak seseorang. Apapun itu.
Rasanya di Kekaisaran Wei, tidak ada yang mampu mengalahkan dia kalau dalam masalah mencari jejak informasi. Jadi melihat dia bisa datang secara tiba-tiba, Shin Shui tidak terlalu kaget.
"Aku membawa kabar gembira. Keberadaan istri Kepala Tetua dan tetua lainnya sudah aku ketahui. Hanya saja, butuh perjuangan keras untuk bisa membawa mereka kembali," kata si Maling Sakti.
Mendengar perkataan orang itu, tentu saya Shin Shui percaya. Bahkan sangat percaya. Sebab dia juga mengetahui bahwa si Maling Sakti Hidung Serigala ini tidak pernah berbohong seumur hidupnya. Bahkan dia termasuk pendekar pengembara yang tidak berdiri di balik sekte manapun.
Mungkin dia merupakan pendekar bebas. Ke mana pun dia pergi, tidak ada yang melarang. Apapun yang akan dia lakukan, tidak akan ada yang berani mencegah.
Karena dia merupakan pendekar pengembara. Pendekar yang merdeka. Sebab tidak terikat peraturan manapun.
"Benarkah? Kalau begitu, tolong beritahu aku di mana mereka supaya aku bisa segera ke sana. Tapi, apa yang harus aku bayar dari informasi ini?" tanya Shin Shui.
###
Tolong ya gengs, bantu naikin rate bintang. Jangan dibiarkan turun sama yang usil🙏berkarya itu tidak mudah☕
__ADS_1