Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menyambut Kedatangan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar


__ADS_3

Shin Shui tersenyum penuh makna kepada si kakek pengemis tersebut.


Tidak ada yang tahu arti dari senyuman Pendekar Halilintar untuk si pengemis. Hanya saja, semua orang tahu bahwa kalau seorang seperti Shin Shui memperlakukan pengemis itu secara berbeda dari pengemis pada umumnya, berarti ada sesuatu di balik itu semua.


Tapi terkait sesuatu apa itu, tidak ada yang mengetahuinya. Baik itu Yun Mei yang merupakan istrinya, maupun author sebagai penulis kisahnya.


Tidak ada yang tahu. Kecuali dia dan si pengemis sendiri.


"Bicaranya nanti saja paman. Suasana di sini kurang enak, kita cari tempat lebih cocok lagi," kata Shin Shui berbisik.


Si pengemis tua mengangguk. Dia tersenyum lalu segera memakan semua hidangan yang ada di meja makan.


Mereka kembali melanjutkan makannya. Tidak ada yang bicara lagi ketika makan.


Setelah selesai menyantap semua makanan yang ada, Shin Shui dan yang lainnya langsung memanggil pelayan untuk membayar biaya.


Seorang pelayan wanita berumur sekitar tiga puluh tahun menghampirinya setelah di panggil.


"Ini bayarannya. Apakah masih kurang?" tanya Shin Shui sambil memberikan satu kantong kecil berisi keping emas.


Saat membuka isi kantong kecil tersebut, si pelayan terlihat sangat terkejut sekali. Dia tidak menyangka bahwa Pendekar Halilintar akan membayar makan sebanyak itu.


Seumur hidup, dia baru melihat kepingan emas sebanyak itu. Melihatnya saja baru, apalagi memegangnya?


Mimpi apa dia semalam sehingga sekarang bisa memegang kantong berisi keping emas sebanyak itu?


"Ma-maaf Tu-tuan, ini … ini terlalu banyak," kata si pelayan merasa ketakutan.


Bahkan kedua tangan yang memegang kantong berisi emas tersebut sampai bergetar. Bagi seorang pelayan biasa sepertinya, memegang kepingan emas sebanyak ini tentu merasa takut. Pikiran yang bukan-bukan langsung masuk ke dalam benaknya.


Melihat hal tersebut, Shin Shui hanya tersenyum.


Dia menghampiri si pelayan lalu menepuk pundaknya pelan.


"Sudah, jangan seperti itu. Keping emas itu pakai saja untuk membayar orang-orang yang makan sekarang ini. Sisanya untukmu, bukalah usaha sendiri," kata Shin Shui langsung beranjak pergi diikuti yang lainnya.


Suaranya tadi memang pelan. Tapi karena keadaan di restoran hening, suara Shin Shui dapat terdengar jelas di telinga semua pengunjung.


Mereka langsung mengucapkan banyak terimakasih kepada Pendekar Halilintar. Bahkan semua pengunjung memberikan hormatnya sampai Shin Shui dan rombongan tidak terlihat lagi.


Perjalanan untuk menuju ke Sekte Bukit Halilintar tidaklah memerlukan waktu yang lama. Hanya sekitar setengah jam saja, rombongan Shin Shui hampir tiba di sektenya.

__ADS_1


Empat orang murid Dewa tahap satu yang menjaga, tahu betul bayangan biru di kejauhan itu.


Dia langsung menyuruh dua orang rekannya untuk memberitahukan kedatangan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar.


Dua orang murid penjaga mengangguk. Dia langsung melesat secepat kilat memasuki sekte lalu menuju ke ruangan para tetua.


Di dalam sana, ada Ong Kwe Cin dan Thai Lu yang sedang mengerjakan tugas rutin sebagai seorang tetua sebuah sekte.


Karena waktu sudah sore, mereka hanya bicara ringan saja sambil beristirahat setelah lelah seharian.


Secara tiba-tiba, pintu diketok oleh seseorang.


"Siapa diluar?" tanya Ong Kwe Cin.


"Kami tetua. Rombongan kepala tetua telah tiba. Sebentar lagi mereka akan sampai," kata si murid itu.


"Kepala tetua datang?" Thai Lu berkata sambil memandang wajah rekannya, Ong Kwe Cin.


"Baiklah. Siapkan semua persiapan untuk penyambutan, kami akan segera keluar," kata Ong Kwe Cin.


Dua murid tersebut mengangguk. Mereka langsung menghubungi semua orang Sekte Bukit Halilintar bahwa kepala tetua mereka telah kembali.


Ong Kwe Cin dan Thai Lu menanti di depan pintu gerbang bersama beberapa orang murid utama Sekte Bukit Halilintar.


Tidak jauh di depan sana, serombongan orang mempercepat gerakan mereka.


Tak lama, Shin Shui dan rombongan telah tiba.


Rasa haru dan gembira bercampur menjadi satu. Terlebih lagi Yun Mei dan para tetua lainnya, mereka sudah sangat merindukan sekte ini.


Tempat yang baginya rumah sendiri.


"Selamat datang kepala tetua, nyonya kepala tetua dan para tetua … kami semua telah menunggumu," kata Thai Lu mewakili yang lainnya bicara.


Suara ribuan murid langsung segera menyusul seperti apa yang diucapkan oleh Thai Lu.


Suara menggema sejagat raya. Bagaikan sebuah gunung yang mengeluarkan suara gemuruh mengerikan.


Bedanya, suara ini bukan suara mengerikan. Melainkan suara penuh keharuan.


"Terimakasih semuanya karena kalian sudah mau repot-repot menyambutku," ucap Shin Shui.

__ADS_1


Ribuan murid langsung ke pinggir. Mereka mempersilakan rombongan memasuki sekte.


Halaman Sekte Bukit Halilintar sangatlah lua sekali. Mungkin ada sekitar satu atau dua hektar. Terlebih lagi, sekte ini merupakan sekte terbesar di seluruh Kekaisaran Wei.


Bangunan sektenya saja mirip sebuah istana.


Kini Shin Shui dan yang lainnya telah berada di ruangan para tetua. Tidak lupa juga, si kakek pengemis masih turut serta bersamanya.


"Bagaimana kabar kalian Tetua Ong Kwe Cin, dan Tetua Thai Lu?" sapa Shin Shui mengawali pembicaraan mereka.


"Kami berada dalam kondisi baik, bagaimana dengan kepala tetua dan yang lainnya?" tanya balik Ong Kwe Cin.


"Kami juga baik. Kalian jangan terlalu khawatir,"


Mereka bercanda sebentar. Rasa rindu bicara segala hal bersama sudah terasa sejak beberapa hari lalu. Apalagi Yun Mei, dia sudah sangat merindukan sektenya.


Merindukan pula suaminya.


Dan yang terpenting, dia sudah sangat merindukan sekali anak kesayangannya.


Chen Li.


Bocah itu sedari awal perjalanan pulang, belum menunjukkan rasa rindu yang sama seperti ibunya.


Bukan karena tidak rindu. Memangnya ada seorang anak yang tidak merindukan ibunya? Sudah pasti mereka rindu. Apalagi yang hubungannya sangat dekat seperti Chen Li.


Bocah itu sebisa mungkin menahan rasa rindunya. Alasannya karena Chen Li tidak mau menampakkan sikap kekanak-kanakkan saat dirinya berada diluar.


Sebisa mungkin, dia akan bersikap sewajarnya jika sedang berada diluar sekte. Sifat manjanya dia simpan terlebih dahulu.


Yang dia tunjukan hanyalah sifat kegagahan sebagai seorang pendekar. Sifat membela kebenaran seperti seorang pendekar sejati.


Tapi itu hanya berlaku beberapa waktu sebelumnya. Sekarang tentu beda lagi.


Bahkan saat ini Chen Li sedang bercanda dengan ibunya secara manja seperti seorang anak kecil seusianya.


Shin Shui sendiri mulai berpesta bersama para tetua lain. Si kakek pengemis juga turut berpesta.


Tidak ada yang berani menghina kakek tua itu. Jangankan untuk menghina, bertanya pun mereka tidak akan berani jika tak mendapat izin dari Shin Shui.


Yang jelas, semua orang-orang tersebut tahu benar bagaimana sifat Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu.

__ADS_1


__ADS_2