Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sekumpulan Siluman Yang Bodoh


__ADS_3

Shin Shui dan Chen Li tidak mampu berkata apa-apa. Ayah dan anak itu tidak menyangka bahwa Negeri Siluman ternyata negeri yang sangat indah. Selain itu, negeri ini memang sangat luas.


Bahkan Istana Kekaisaran pun terlihat begitu megah menjulang tinggi menembus langit. Kehidupan di sini sama dengan di kehidupan manusia, hanya berbeda dalam beberapa hal. Yang paling menonjol, tentunya penghuni negeri ini semuanya siluman.


Orang-orang tersebut masih mengawasi dari jauh. Mereka bersembunyi di sebuah bangunan tinggi.


"Kaisar, berapa kira-kira jumlah pasukan Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk itu?" tanya Shin Shui penasaran.


"Sekitar tiga puluh ribu pasukan. Di dalamnya sudah termasuk lima ribu pasukan elit," jawab Kaisar Naga Merah.


"Hemm, baik. Aku akan mencoba ke sana," ucap Shin Shui.


"Kau mau apa?"


"Aku hanya ingin melihat lebih jelas lagi. Li'er, kau tunggu di sini,"


"Baik ayah," jawab Chen Li.


Selesai berkata, Shin Shui langsung melesat terbang menuju Istana Kekaisaran. Begitu hampir tiba, dia mendarat seringan kapas. Namun baru saja dia mendarat, tiba-tiba dirinya sudah dikurung oleh puluhan siluman bertampang seram.


Shin Shui sendiri tidak tahu sejak kapan siluman itu mengetahui kedatangannya. Tahu-tahu dia sudah berada di tengah-tengah para siluman.


"Siapa kau?" tanya seekor siluman bertubuh besar. Bentuknya seperti serigala, hanya saja warnanya hitam pekat. Giginya panjang dan runcing. Air liurnya selalu jatuh menetes dari dua taring yang panjang.


"Aku Shin Shui. Aku tersesat, mohon petunjuknya bagaimana bisa keluar dari sini," jawab Shin Shui dengan tenang.


"Kau bangsa manusia?"


"Benar,"


"Tidak mungkin bangsa manusia bisa tersesat kemari,"


"Tapi buktinya aku tersesat dan bisa sampai disini,"


"Omong kosong,"

__ADS_1


Shin Shui hanya tersenyum dingin. Dia melirik semua siluman yang mengurung dirinya. Ada sekitar dua puluh ekor siluman di sekeliling Shin Shui.


Semuanya memiliki ukuran tubuh beberapa kali lipat dari siluman yang ada di dunia nyata. Yang membuat Shin Shui terkejut adalah kekuatan mereka.


Dari dua puluh itu, lima di antaranya berkekuatan setara dengan Pendekar Dewa tahap dua akhir. Shin Shui tidak takut, hanya saja dia merasa terkejut bukan main.


"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Aku datang baik-baik, aku sudah bicara tidak sengaja ke sini. Tapi kalian malah tidak percaya," kata Shin Shui sambil terus memandangi para siluman tersebut.


"Karena apa yang kau katakan itu bohong. Jadi bagaimana kami akan percaya?" jawab seekor siluman serigala biru tua.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku berbohong?"


"Karena selama ini belum pernah ada seorang manusia datang kemari," katanya dengan geram.


"Hemm. Ternyata kau sok tahu," ucap Shin Shui sambil mengejek.


"Manusia hina …" bentak siluman serigala tersebut.


Kemudian dia langsung memberikan perintah kepada rekan-rekannya. Serempak, sembilan belas ekor siluman menyerang Shin Shui dari segala arah. Datangnya semua serangan itu sangat cepat, bahkan mungkin lebih cepat lagi.


Buru-buru dia melompat tinggi ke atas lalu melenting ke belakang. Dia tidak mendarat, melainkan masih dalam keadaan terbang di udara. Bagi Shin Shui sendiri, terbang bukanlah perkara sulit. Hanya saja membutuhkan tenaga dalam dengan jumlah cukup besar.


Sementara itu, Kaisar Naga Merah dan Chen Li kaget melihat kejadian ini. Mereka tidak menyangka bahwa Shin Shui akan berlaku nekad di dekat Istana Kekaisaran.


Chen Li tadinya ingin maju untuk membantu ayahnya, namun tidak jadi karena segera di tahan oleh Kaisar Naga Merah.


"Saudara kecil tenang saja. Pendekar Shin Shui pasti bisa mengalahkan semua siluman itu. Bagi ayah saudara kecil, Kaisar ini yakin bahwa masalah seperti sekarang bukanlah hal sulit baginya," kata Kaisar Naga Merah menenangkan Chen Li.


"Hemm, baiklah kalau begitu. Li'er percaya kepada Kaisar," ucapnya penuh hormat.


Akan tetapi walaupun berkata seperti itu, dalam hatinya dia merasakan kecemasan. Apalagi Chen Lo melihat bahwa semua siluman itu memiliki kekuatan yang lumayan.


Di sisi lain, Shin Shui masih belum membalas serangan. Dia tetap seperti tadi, memandangi semua siluman yang saat ini ada di sana.


Di bagian lain, para rakyat siluman yang tidak ingin terlibat dalam masalah ini, mereka langsung berlari menjauhi tempat tersebut. Jadi suasana kota yang tadinya sangat ramai, kini dalam waktu sekejap sudah sepi kembali bagaikan kota mati.

__ADS_1


Saat Shin Shui masih terdiam, tiba-tiba asa dua buah gelombang serangan yang melesat ke arahnya. Dengan gerakan sederhana, Pendekar Halilintar mampu mengelak dari dua serangan tersebut.


"Hemm, sungguh tuan rumah yang tidak sopan. Aku datang baik-baik, kalian malah sebaliknya. Baiklah, jangan salahkan aku kalau sebentar lagi akan membuat kalian menyesali semua ini," katanya dengan nada mendalam.


"Jangan banyak bicara manusia rendahan. Kalau memang kau punya nyali, buktikan sekarang juga," kata seekor serigala berbulu putih, seputih salju.


"Silahkan saja kau coba kalau memang tidak percaya," kata Shin Shui menjawabnya dengan tersenyum dingin.


Baru saja selesai berkata demikian, tiba-tiba dari arah belakangnya dia merasakan ada sebuah angin yang dingin. Tubuh Shin Shui sudah terlatih, begitu merasakan hawa dingin itu, dia langsung membalikan badan lalu menahan serangan lawan dengan tangan kirinya.


Ternyata angin dingin itu memang sebuah serangan berbahaya. Serangan dari dua cakar siluman singa putih. Begitu serangannya tertahan oleh Shin Shui, dia lalu mengaum dengan keras.


Kalau Pendekar Halilintar tidak memiliki kekuatan setinggi langit, pasti telinganya akan mengeluarkan darah dan langsung tuli seketika.


Untung saja Shin Shui merupakan pendekar nomor satu di Kekaisaran Wei, sehingga dia masih bisa menahan semua serangan. Apalagi serangan tadi hanya berasal dari sekor singa berkekuatan Pendekar Dewa tahap dua.


"Plakk …"


Tangan kanannya menampar wajah singa tersebut. Sekali tampar, siluman singa putih langsung terlempar ke bawah dengan deras. Dia merasa kepalanya hampir pecah hanya dengan satu tamparan saja.


Serentak siluman yang lain tidak tinggal diam. Mereka kembali menyerang secara bersamaan. Cakaran, tendangan, gigitan dengan gigi setajam ujung pedang dan serangan jarak jauh, serempak menghujani Pendekar Halilintar.


Shin Shui hanya mendengus dingin. Dia berputar satu kali di udara. Begitu kembali ke posisi semula, tubuhnya sudah diselimuti oleh aura biru mencolok. Dalam aura biru itu, terdapat banyak kilatan-kilatan petir yang membawa hawa kematian.


Dua puluh siluman tersebut tersentak kaget untuk beberapa saat. Sebab mereka merasakan adanya sesuatu yang menekan. Bahkan untuk mengangkat kepala pun terasa sangat sulit. Tapi kejadian itu hanya terjadi beberapa tarikan nafas saja.


Sebab detik berikutnya, serangan yang sempat terhenti, kini kembali melesat mengarah ke Shin Shui.


"Sekumpulan siluman bodoh. Tapi baguslah, biar kalian tahu siapa aku," kata Shin Shui sedikit arogan. Sikap gilanya keluar.


Begitu semua serangan hampir tiba. Shin Shui mengibaskan kedua tangannya dari bawah ke atas.


Gelombang biru mencolok keluar bagaikan ombak di lautan lepas. Begitu besar. Dan membawa tekanan seberat puluhan ribu kati.


"Blarr …"

__ADS_1


Ledakan besar seketika terdengar saat jurus Shin Shui berbenturan dengan jurus semua lawan.


__ADS_2