
Sekte Langit Merah …
Sekte ini pada awalnya memang terkenal sebagai sebuah sekte yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Paling depan membela kebenaran dan sangat terdepan kalau membela ke jabatan.
Di daerah Selatan, nama Sekte Langit Merah beberapa tahun ini menjulang tinggi menembus mega. Banyak sudah para pendekar yang terlahir dari sekte ini. Mereka semuanya adalah pendekar yang menjamin keamanan rakyat.
Karena perbuatannya yang selalu atas dasar rasa kemanusiaan, siapapun akan menaruh rasa hormat kepada Sekte Langit Merah.
Tetapi semua hanya itu berlaku tahun lalu. Karena sekarang, Sekte Langit Merah menjadi salah satu sekte pengkhianat. Bahkan dengan berani dan terang-terangan, sekte tersebut sudah mencari masalah karena bergabung ke sebuah kelompok yang ingin menghancurkan Kekaisaran Wei.
Lebih parah lagi, sekte itu berani mencari masalah dengan pemimpin dunia persilatan. Dengan seseorang yang namanya sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia.
Pendekar Halilintar.
Siapa yang tidak mengenal julukan tersebut? Siapapun pasti tahu. Hampir semua tokoh aliran hitam akan bergetar ketika mendengar nama itu.
Orangnya masih muda, tapi kemampuannya siapapun tidak ada yang berani meragukannya.
Berani mencari masalah dengannya, sama saja berani mati.
Tetapi, Sekte Langi Merah sepertinya baru salah satu sekte yang berkhianat. Karena menurut dugaan, kemungkinan besar sekte aliran putih lainnya juga melakukan hal yang sama. Meskipun itu baru dugaan, tetapi dugaan itu sudah sangat kuat.
Pagi-pagi hari sekali, tiga sosok sudah berdiri dalam jarak puluhan tombak. Dua di antaranya masih terlihat kecil. Tapi walaupun mereka terlihat sebagaimana bocah lain, keduanya tentu saja berbeda.
Dari tatapan matanya, dari pancaran yang keluar dari tubuhnya, dari ketenangan dan kepercayaan, jelas jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
Tepat. Dia adalah Chen Li, anak dari Pendekar Halilintar yang mulai mendapat julukan sebagai Pendekar Tanpa Perasaan. Sedangkan bocah satu lagi merupakan seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa.
Dia adalah Eng Kiam. Cucu dari Kakek Tua Jubah Hitam. Seorang tokoh tua yang ahli racun dari daerah Selatan ini. Di daerah ini, namanya sudah menjulang cukup tinggi. Terutama di kalangan aliran hitam.
Seperti yang diceritakan sebelumnya, Eng Kiam akan ikut bersama Shin Shui selama tiga bukan ke depan. Bahkan gadis tersebut berada di bawah tanggungjawabnya.
Ketiganya menatap sebuah bangunan megah dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Li'er, Kiam'er, kalian tunggu saja di sini. Ayah akan menghancurkan sekte ini," kata Shin Shui dengan suara mengandung kemarahan.
__ADS_1
"Tidak ayah. Li'er tetap akan ikut bersamamu. Walaupun Li'er belum sehebat dirimu, tapi Li'er berjanji tidak akan menyusahkanmu," katanya dengan penuh percaya diri.
Shin Shui bingung kalau anaknya sudah seperti ini. Dia mengerti benar bagaimana sifat bocah istimewa itu. Bagaimana bisa dia menolak permintaan anak kesayangannya? Dan siapa juga yang mampu menolak keinginan bocah selucu dirinya?
"Hahh … baiklah. Asal kau harus pintar memilih lawan. Jangan terlalu memaksakan dirimu,"
"Baik ayah. Li'er mendengar," jawab Chen Li.
Shin Shui melirik sebentar ke arah Eng Kiam yang dari tadi diam tidak banyak bicara.
"Kiam'er,"
"Aku, tuan pahlawan,"
"Apakah aku boleh meminta pertolonganmu?"
"Selama Kiam'er sanggup, maka Kiam'er akan melakukannya dengan senang hati," jawabnya dengan suara penuh sopan santun.
"Bagus. Terimakasih. Aku minta kau jaga Li'er. Jangan sampai kalian terpisah," kata Shin Shui.
"Baik. Kiam'er mengerti,"
Shin Shui memegangi kepala kedua bocah itu. Seperti sebelumnya, dia mengalirkan tenaga dalam saktinya bagi mereka supaya memiliki kekuatan yang lebih hebat beberapa kali lipat dalam waktu tertentu. Dan kali ini, sepertinya Shin Shui menambah lagi beberapa persen penyaluran kekuatannya.
Selain itu, Shin Shui juga memberikan satu botol pil penambah energi kepada keduanya.
Setelah semuanya siap. Maka dia membawa kedua bocah itu terbang melesat secepat angin ke arah Sekte Langit Merah.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas, dia sudah tiba di hadapan pintu gerbang utama yang dijaga oleh beberapa murid.
Begitu Shin Shui berniat masuk, para penjaga itu menahannya dengan menyilangkan pedang.
"Maaf, siapa kalian?"
"Aku Shin Shui," jawabnya dingin.
__ADS_1
"Hemm, ternyata pendekar terhormat yang datang," kata salah satu murid penjaga.
Tapi tidak ada kesan hormat dalam perkataannya tersebut. Jangankan hormat, tersenyum pun tidak. Namun Shin Shui sudah mengerti apa yang terjadi. Dari kejadian ini saja dia sudah tahun bahwa Hek Jiu Lin ternyata benar-benar menjadi pengkhianat. Bahkan membawa serta seluruh muridnya.
Baru saja dia angkat bicara, tiba-tiba saja sebuah angin dingin melesat menyambar murid penjaga berjumlah tiga orang tersebut.
Tanpa perlu ditanya lagi apa yang terjadi selanjutnya. Karena hanya dalam sekejap, ketiga murid itu sudah terkapar tewas di tanah disebabkan jalan darah mereka pecah karena di totok.
Kalau bukan Chen Li, siapa lagi yang melakukannya?
Shin Shui sendiri kaget kalau anaknya sudah bisa melakukan hal seperti itu. Anaknya benar-benar tidak sabaran seperti pula dia sendiri saat masih muda dulu.
"Li'er," kata Shin Shui.
"Maafkan atas kelancangan Li'er. Tapi jujur, Li'er tidak bisa diam saja kalau ada orang yang tidak menghormati ayah. Apalagi mereka hanya orang-orang hina," jawabnya kesal.
"Li'er, mulutmu," tegurnya.
"Li'er sedang berusaha seperti air. Air bisa menenangkan tapi bisa juga menghanyutkan. Li'er melakukan apa yang telah ayah ajarkan. Harap ayah mengerti," jawabnya.
Shin Shui terdiam seketika itu juga. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Selain itu, dia juga tentu tidak terlalu menyalahkan anaknya. Toh kalau dia di posisi Chen Li, mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama.
Ada rasa bangga di hati pria itu. Dan ada perasaan lain di hati seorang gadis kecil bernama Eng Kiam.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera memasuki perguruan yang memiliki halaman luas tersebut.
Shin Shui melangkah dengan berat sehingga setiap langkahnya meninggalkan jejak yang cukup dalam. Dia mengibaskan tangannya lalu seketika serangkum angin menerjang beberapa ornamen sekte.
Tanpa perlu dijelaskan lagi, ornamen yang terkena terjangan angin itu langsung ambruk. Suara bergemuruh seketika terdengar menggelegar di telinga seluruh orang-orang di sana.
Shin Shui membawa kedua bocah terbang melesat lagi dan mereka berhenti tepat di tengah halaman. Di mana di sana sudah berkumpul semua murid dan beberapa petinggi yang tersisa. Para petinggi paling tidak ada sepuluh orang. Sedangkan jumlah murid tersisa tak kurang dari lima puluh orang banyaknya.
"Seorang tamu yang tidak sopan. Datang tanpa permisi, bahkan langsung merusak," ucap salah satu tetua di sana.
"Sebuah sekte ternama yang menjadi hina dan rendahan. Hanya karena aibnya terbongkar, dia justru lebih memilih berpindah haluan sehingga menjadi lebih hina dari apapun di dunia ini," kata Shin Shui dengan lantang.
__ADS_1
Mendengar ucapan seperti itu, semua orang langsung merasakan kemarahan memuncak. Siapa juga yang tidak akan marah kalau sekte mereka di hina?
Kemarahan sudah terasa di dua belah pihak. Sepertinya pertempuran akan segera terjadi kembali.