Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Pemimpin


__ADS_3

Jarak antara Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding dan Chen Li dengan tiga musuhnya hanya terpaut sekitar dua puluh langkah saja. Belum ada yang bergerak di antara mereka.


Huang Taiji dan Chen Li berdiri tenang tanpa menghiraukan kedatangan musuhnya. Mereka berdua bersiul seolah tidak menganggap kehadiran lawan.


Lain mereka, lain lagi lawannya.


Dua pemimpin sekelompok orang yang telah berbuat kekacauan di Kota Quandai itu sedang memperhatikan lekat-lekat Chen Li dan Huang Taiji.


Keduanya merasa tidak percaya atas laporan satu anggotanya yang mengatakan bahwa dua orang pendekar telah membuat orang-orangnya kewalahan. Terlebih lagi, satu pendekar di antaranya merupakan seorang bocah bau kencur. Tentu saja informasi ini sangat sulit di terima nalar mereka.


Sehingga begitu tiba di hadapan musuhnya, dua orang tersebut langsung memperhatikan Chen Li dari atas sampai bawah. Dan setelah menyadari bahwa bocah yang ada di hadapannya lain daripada yang lain, mau tidak mau dua pemimpin tersebut merasa terkejut juga.


"Bocah ini bukan bocah biasa. Sepertinya dia mempunyai latar belakang yang berbeda. Terlebih lagi, ada sesuatu misteri dalam diri bocah ini. Aku merasakan adanya kekuatan dahsyat yang mengalir seperti air di sungai," kata seorang pemimpin berbisik kepada rekannya.


"Apa yang kau katakan memang benar. Aku juga setuju dengan ucapanmu. Hemm, siapa orang tua yang ada di sampingnya?"


"Aku tidak tahu, rasanya belum pernah aku melihat dia di dunia persilatan,"


Dua pemimpin itu merasa asing dengan lawan yang akan mereka hadapi. Tetapi walaupun begitu, mereka sama sekali tidak memandang remeh.


"Apakah benar bahwa kalian yang telah bertaring melawan anggotaku?" tanya seorang pemimpin.


"Benar, apakah kalian pemimpin mereka?" tanya balik Huang Taiji.


"Tepat, kenapa kalian mencari masalah dengan kami?"


"Karena kami tidak suka melihat kalian yang bertingkah sesuka hati," jawab Chen Li dingin. Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi masih mengalir deras di seluruh jalan darahnya. Sehingga sedikit banyak lawan akan tahu bahwa dia memang bukan bocah sembarangan.


"Siapa anak kecil yang sangat pemberani ini? Hemm, aku sungguh kagum atas keberanianmu," katanya sambil tertawa.


"Dia adalah keponakanku. Namanya Chen Li,"


"Ah, pantas saja dia berani. Ternyata anak kecil ini belajar keberanian dari Pamannya. Kalau boleh tahu, dengan siapa saat ini kami berhadapan?" tanya seorang pemimpin.

__ADS_1


"Aku beritahukan juga kalian tidak akan mengenalku,"


"Hemm, baiklah. Kami tidak akan memaksa. Sekarang, di mana seluruh anggota kami tadi?"


"Tuh di sana. Mereka sedang tidur bersama mimpinya, bahkan aku turut mengantarkan mereka untuk bermimpi," jawab Chen Li sambil menunjuk di mana terdapat mayat orang-orang yang bergeletakan seperti bangkai.


Dua orang pemimpin itu menengok ke arah yang ditunjuk oleh Chen Li. Termasuk juga satu orang Pendekar Dewa tahap dua yang tadi menyusulnya. Tiga orang tersebut dibuat terkejut saat melihat semua anggotanya telah menjadi mayat.


Lebih parah lagi, mereka menyaksikan luka yang diderita oleh para anggotanya sangat parah. Bahkan ada yang tewas tanpa kepala.


Sontak saja mereka merasa sangat marah sekali. Kekuatan sesat segera terpancar keluar dari tubuh masing-masing dua pemimpin itu.


"Apakah benar kalian yang sudah membunuh mereka?" tanya seorang pemimpin.


"Kalau bukan kami, siapa lagi? Kau pikir kami tidak berani? Cih, kalian terlalu percaya diri," ejek Chen Li sambil memberikan senyuman yang dingin dan menyeramkan.


"Bangsat. Kau masih kecil, tapi mulutmu sudah begitu tajam. Mulutmu memang pantas untuk dirobek," kata si pemimpin kepada Chen Li dengan sangat marah.


Chen Li tersenyum menanggapi perkataan pemimpin tersebut. Walaupun masih kecil, tetapi keberaniannya jangan ditanyakan lagi. Sifat pendekar ayahnya turun dan mengalir dalam darahnya.


Nadanya bertambah dingin. Senyumannya bertambah menyeramkan.


Namun walaupun begitu, dia justru terkesan lebih jantan dan tampan.


Ya benar, dengan kemisteriusan yang ada dalam dirinya, justru membuatnya terlihat lebih tampan dan lebih berwibawa. Mungkin kalau dia sudah dewasa, bakal banyak gadis yang mengejarnya.


"Hemm, aku ingin melihat apakah ucapanmu itu benar atau hanya omong kosong saja,"


"Habisi bocah itu," kata seorang pemimpin tersebut memberikan perintah kepada Pendekar Dewa tahap dua yang masih tersisa.


"Perintah akan segera dilaksanakan," jawabnya.


Dia langsung melesat ke depan dengan cepat. Orang itu sempat berjumpalitan di udara lalu melancarkan serangan jarak jauh kepada Chen Li.

__ADS_1


Tiga kali tangannya didorong ke depan, tiga sinar kuning melesat menerjang Chen Li.


Untungnya dia bukan pendekar bocah biasa. Dengan kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi yang sudah dia kuasai sangat baik, maka menghadapi satu Pendekar Dewa tahap dua bukanlah masalah. Dia yakin pasti bisa mengalahkannya.


Dia menjejakkan kakinya ke tanah lalu tubuhnya mencelat tinggi ke atas. Dua tangannya segera dihentakkan mengeluarkan sinar putih transparan.


Dua sinar berbenturan di tengah udara sehingga menimbulkan bunyi yang menggelegar.


"Duarr …" ledakan terjadi. Gelombang kejut membuat dua pendekar itu terdorong.


Lawan terdorong empat langkah ke belakang. Sedangkan Chen Li hanya dua langkah.


Dua pemimpin yang menyaksikan kejadian ini menjadi terkejut. Sekarang mereka percaya bahwa bocah kecil itu memang sudah membunuh anggotanya.


Si Pendekar Dewa tahap dua menyerang lagi. Dia melesat cepat lalu melancarkan pukulan beruntun yang dia keluarkan dengan segenap kekuatan.


Dua tangannya berubah seperti puluhan tangan. Seluruh tubuh Chen Li dihujani oleh pukulan. Tetapi bocah itu masih berdiri dengan tegar. Tidak terlihat bahwa dia kesulitan menangkis serangan.


Justru bocah itu terlihat sangat menikmatinya.


Chen Li sudah serius. Tangan kanannya segera menyodok dari bawah mengincar ke satu dalam posisi telapak tangan ke atas. Sedangkan tangan kirinya di dorongan ke depan mengarah ke dada lawan.


Tubuhnya sedikit condong dengan posisi satu kaki di depan. Semua gerakan tersebut dia lakukan dengan sangat cepat. Sehingga akibatnya lawan tidak mampu menghindar.


Dagunya menjadi sasaran empuk tangan kanan Chen Li. Berbarengan dengan itu, dadanya juga terkena hantaman telapak tangan kanan. Orang tersebut langsung meluncur ke belakang dengan posisi kepala mendongak ke atas.


Chen Li menyusulnya dari belakang. Dua gulung angin dahsyat segera dia keluarkan lalu melesat menerjang lawannya.


Pendekar Dewa tahap dua tersebut terpental jauh hingga tubuhnya menabrak pohon. Dia merasakan betapa seluruh punggungnya remuk.


Namun keadaan itu hanya sesaat. Sebab detik selanjutnya, dia segera bangkit lalu mengeluarkan jurus dahsyatnya.


Segulung angin dahsyat menerjang ke arah Chen Li bagaikan badai. Debu mengepul terbawa kekuatan dahsyat sehingga bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Chen Li tidak mau kalah. Bocah kecil itu segera menghimpun tenaga dalam lalu melancarkan jurus dahsyatnya pula.


"Blarr …" benturan kali ini terdengar lebih keras lagi. Bahkan gelombang kejut yang tercipta jauh lebih besar.


__ADS_2