Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kakek Tua Jubah Hitam


__ADS_3

Melihat bagaimana dengan mudahnya Li Cun membunuh salah satu rekan mereka, ketujuh pembunuh lainnya semakin marah. Jurus dahsyat yang mereka miliki benar-benar dikeluarkan secara berbarengan.


Tapi Li Cun sudah siap akan semua ini. Dia sudah menyiapkan strategi sebelumnya. Menurut Li Cun, kalau tidak mengeluarkan jurus mautnya, dia pasti tidak akan mampu mengalahkan mereka.


Maka ketika tujuh jurus berbahaya telah dilancarkan ke arahnya, Li Cun mengambil ancang-ancang.


Pedang dan Golok siap untuk kembali mengambil nyawa manusia. Mereka siap memangsa kembali.


"Pedang Menembus Badai …"


"Wushh …"


Li Cun melesat. Tubuhnya berputar seperti angin topan menerjang derasnya hujan sambil menghindari semua jurus lawan. Ketujuh lawannya tidak berhenti sampai di situ saja. Serangan berupa sabetan dan tusukan kembali mereka lancarkan.


Sayangnya Li Cun tetap bisa lolos dari kematian. Walaupun beberapa goresan pedang dan tombak sudah merobek sedikit kulitnya.


Begitu mendapatkan posisi yang tepat, bocah itu segera memainkan dua senjatanya lagi. Seruling menotok dan menghantam. Pedang menusuk dan menyabet secepat yang dia bisa.


Perlahan namun pasti, ketujuh kawanan pembunuh tersebut mulai merasa kewalahan. Bahkan dua orang lagi sudah tewas meregang nyawa dengan kepala pecah akibat hantaman seruling giok hijau.


Pertarungan mereka sudah memasuki jurus keempat puluh dua. Li Cun semakin di atas angin. Dia melompat tinggi ke udara lalu turun memberikan hujan tusukan pedang.


Tak berapa lama, dua lawan kembali tewas, satu karena lehernya tertusuk pedang. Sedangkan yang satu lagi robek dadanya akibat sayatan pedang.


Bocah itu terus mencecar tiga lawan yang tersisa. Walaupun ketiga musuh itu lumayan tangguh, tetapi Li Cun tetaplah Li Cun. Dia tidak akan menyerah kalau sudah seperti ini.


Bocah istimewa itu mengeluarkan sisa kemampuannya. Totokan dan hantaman seruling semakin menghujani dua lawan. Sabetan dan tusukan pedang membayangi pergerakan mereka.


Lima jurus berikutnya, kedua pembunuh tersebut tewas dengan mata melotot tak percaya.


Saat dua lawan yang tersisa ambruk ke tanah, saat itu pula Li Cun jatuh pingsan.


Ini pertama kalinya dia pingsan saat setelah melakukan pertarungan. Mungkin karena bocah itu terlalu memaksakan diri.


Untung saja begitu dia pingsan tidak sampai jatuh menimpa batu disekitarnya. Karena entah bagaimana, tiba-tiba ada seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun sudah merangkulnya.

__ADS_1


Setelah itu, pria tersebut segera membawa Li Cun ke tempat yang lebih aman.


Pertarungan Li Feng semakin dahsyat. Lima pendekar yang tersisa sudah mengarahkan seluruh kemampuannya. Lima buah sinar beraneka warna menyerang secara serempak dari berbagai sisi.


Dia mulai berada dalam kondisi tidak menguntungkan. Karena lawannya terbilang kuat, maka mau tidak mau Li Feng harus berada dalam posisi bertahan untuk beberapa saat lamanya.


Untung saja di saat dirinya terdesak seperti itu, seorang kakek tua dengan pakaian dan jubah hitam mengirimkan sebuah serangan yang membuat benturan jurus itu buyar.


Baik si kakek tua yang baru datang maupun Li Feng dan lainnya, semuanya terpental beberapa langkah ke belakang.


Melihat ada seorang yang mengganggu pertarungannya, Hek Jiu Lin si Tangan Langit Membalik Bumi menjadi sangat marah.


"Heh Kakek Tua Jubah Hitam, berani sekali kau mencampuri urusanku," bentaknya kepada kakek tua itu.


"Hehehe, kalian mengaku aliran putih, tapi kenapa main keroyokan?" tanya si kakek tua yang mempunyai julukan Kakek Tua Jubah Hitam.


"Hemm, perduli setan. Dia telah mencari masalah denganku," dengus Hek Jiu Lin.


"Hahaha, tidak kusangka bahwa aliran putih yang katanya terkenal jujur ternyata tak lebih daripada seorang pendusta. Kau pikir aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya?" si Kakek Tua Jubah Hitam tertawa terbahak-bahak.


"Ehh, anak ingusan. Siapa yang menyuruhmu ikut campur urusan orang tua? Hemm, jangan berlagak mentang-mentang ada gurumu. Kau pikir aku tidak berani?" kata Kakek Tua Jubah Hitam memarahi Hua Kim.


Hua Kim langsung terdiam. Apalagi saat itu gurunya juga langsung melotot kepadanya.


"Kakek Tua, kita sebelumnya tidak mempunyai persoalan apapun. Aku harap kau tidak ikut campur masalah ini. Atau kalau tidak …" kata Hek Jiu Lin tidak menyelesaikan perkataannya.


"Atau kalau tidak apa?" tanya kakek tua itu.


"Kau akan dimusuhi oleh sekte aliran putih lainnya …" kata Hek Jiu Lin dengan tatapan mata setajam pisau.


"Hahaha …" Kakek Tua Jubah Hitam tertawa panjang sebelum melanjutkan bicaranya, "Jiu Lin, Jiu Lin, kau pikir aku takut? Tidak, aku tidak takut sama sekali. Kalau orang lain yang bertarung denganmu, aku tidak akan ikut campur. Tapi kalau pemuda ini, hemm, kalau aku diam saja, rasanya belum waktunya," kata Kakek Tua Jubah Hitam.


Mendengar perkataan tersebut, Hek Jiu Lin semakin terheran-heran.


"Memangnya siapa pemuda ini? Apakah penting bagimu?"

__ADS_1


Li Feng yang sedari tadi diam, dia sadar bahwa Kepala Tetua Sekte Langit Merah itu sedang berusaha untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya. Maka oleh karena hal tersebut, dia memberikan isyarat kepada Kakek Tua Jubah Hitam secara diam-diam supaya tidak memberitahukannya.


Kakek itu manggut-manggut tanda bahwa dia juga mengerti.


"Dia keponakanku. Mau apa kau?" tanya Kakek Tua Jubah Hitam.


"Sejak kapan kau punya keponakan?"


"Untuk apa pula aku harus memberitahukan semua tentang hidupku kepadamu?" tanya balik Kakek Tua Jubah Hitam.


"Omong kosong. Kau pasti berbohong," bentak Hek Jiu Lin.


"Sejak kapan Kakek Tua Jubah Hitam menjadi pembohong? Walaupun aku dikenal sebagai aliran hitam, tapi semua orang-orang dunia persilatan tahu bagaimana sifatku," kata kakek itu menegaskan.


Hek Jiu Lin terdiam. Dia sendiri juga tahu siapa orang yang berjuluk Kakek Tua Jubah Hitam itu. Semua orang-orang rimba hijau tahu bahwa dia tokoh tua yang ahli racun. Semua racunnya terkenal ganas. Bahkan sepak terjangnya juga kejam. Namun ada satu keunikan pada dirinya, yaitu dia tidak pernah berbohong.


Walaupun Hek Jiu Lin tidak percaya sepenuhnya, tetapi dia harus tetap percaya. Setidaknya untuk saat ini.


Sebab siapapun akan berpikir dua kali untuk mencari masalah dengan kakek tua tersebut. Walaupun level pelatihannya setingkat di bawah dirinya, yaitu mencapai Pendekar Dewa tahap lima pertengahan, tetapi jurus racunnya sama sekali tidak bisa dipandang rendah.


"Baiklah. Aku akan melepaskan pemuda itu. Tetapi kalau dia mencari masalah denganku lagi, aku tidak akan biarkan dia lepas," kata Hek Jiu Lin memberikan ancaman.


"Hahaha, terserah padamu. Mau kau lanjutkan lagi masalah ini juga aku tidak takut. Asal kau jangan lupa dengan jurus-jurus yang aku miliki," ucap kakek tua itu.


Meraka semua diam. Tapi di saat seperti itu, tiba-tiba saja Hua Kim menyerang Kakek Tua Jubah Hitam dengan mengirimkan pukulan yang mengarah tepat ke batok kepalanya.


Serangan tersebut dilakukan secara mendadak, sehingga gurunya sendiri tidak keburu menahannya. Sayang, Kakek Tua Jubah Hitam sudah mengetahui lebih dulu.


Hanya dengan sentilan bertenaga dalam, Hua Kim terpental bahkan sampai muntah darah. Tubuhnya seketika langsung membiru.


"Keparat kau tua bangka. Berani sekali melukai muridku," kata Hek Jiu Lin geram.


"Muridmu sendiri yang kurang ajar. Ambil pil ini," katanya sambil melemparkan pil berwarna hijau tua.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran," lanjutnya.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi lagi, rombongan Sekte Langit Merah tersebut segera pergi dari sana.


__ADS_2