
Karena sudah kelewat geram, pada akhrinya Shin Shui, Maling Sakti Hidung Serigala dan juga Chen Li, memutuskan untuk menunjukkan diri. Mereka melesat lalu masuk langsung ke halaman luas bangunan kuno tersebut.
Ketiganya tidak memikirkan keselamatan mereka. Bukan karena sok jago, tetapi karena mereka sudah sadar bahwa tidak ada jalan keluar lagi kecuali bertarung lebih dulu.
Melihat kedatangan tiga orang manusia asing, semua siluman langsung mengambil sikap waspada. Mereka serentak melindungi sepasang suami istri tadi.
Suasana menjadi tegang. Hanya di lihat dari tatapan mata saja, sudah jelas dan dapat diartikan bahwa mereka semua memendam amarahnya sendiri-sendiri.
"Atas dasar apa kau menyerang kami?" tanya si Maling Sakti geram.
"Kalian sendiri, atas dasar apa berani kemari?" tanya si pria tidak kalah geram.
"Karena kami merasa ada sesuatu yang ganjil sekaligus penuh misteri. Dan ternyata benar, keganjilan dan misteri, memang terdapat di hutan ini," kata Maling Sakti.
"Kenapa kalian membunuh satu muridku?" tanya si pria yang diduga merupakan pemimpin di sana.
"Aku hanya melatih keponakanku saja. Tak nyanya lima kawanan siluman harimau emas menyerang kami. Tapi kami bersyukur, sebab kalau tidak muncul persoalan seperti sekarang, mungkin keberadaan kalian tidak akan diketahui. Dan yang terpenting, sekarang kami sudah mengetahui rencana busuk kalian yang ingin membuat kekacauan," ujar si Maling Sakti masih mencoba untuk menahan amarahnya.
"Hahaha … bagus, bagus. Punya nyali juga kalian bertiga. Aku sudah beri kalian kesempatan untuk pergi, tetapi kalian tidak pergi. Malah justru berani menampakkan diri, maka oleh sebab itu, jangan salahkan kami kalau kalian tewas dan menjadi santapan para siluman," kata si wanita yang suaranya cempreng.
"Hei nenek keriput. Kau pikir bisa membunuh kami dengan mudah? Hemm, kau terlalu memandang rendah kami. Belum saja aku sentil telingamu. Andai bisa kusentil, sudah pasti terbang itu daun telingamu," kata Chen Li tidak bisa menahan sabar.
Memang di antara Shin Shui dan Maling Sakti, hanya Chen Li lah yang belum bisa menguasai dirinya. Terutama dalam hal emosi. Tetapi hal tersebut sangat wajar, selain usianya masih sangat kecil, penguasaan terhadap dirinya juga belum ada. Bahkan pengalamannya juga masih sangat dangkal.
"Bocah laknat tidak tahu diri. Aku robek mulutmu baru tahu rasa kau," bentak si wanita tua sangat marah kepada Chen Li.
Bocah kecil itu ingin menjawab sindiran keras si wanita tua, sayangnya Shin Shui lebih dulu melarang Chen Li untuk bicara lagi.
"Maaf tuan dan nyonya, kami sedang tidak ingin mencari keributan. Tetapi kami juga ingin mengetahui apa maksud perkataan ingin menguasai tadi?" tanya Shin Shui sopan dan penuh ketenangan.
Si wanita dan si pria kaget. Walaupun bicaranya sopan dan yang bicara masih terbilang muda, tetapi sangat jelas bahwa dia memiliki kekuatan luar biasa.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau tidak perlu tahu," bentak si pria krpadw Shin Shui.
__ADS_1
Pendekar Halilintar sempat terpancing lagi emosinya. Namun kemudian, dis berhasil mengontrol diri kembali.
"Kalau tuan dan nyonya tidak mau menjelaskan, maka kami akan berpikir negatif. Apakah aku yang rendah boleh mengetahui dengan siapa sekarang bicara?"
"Kami Sepasang Suami Istri Penguasa Hutan Misteri. Istriku biasa disebut Ratu Siluman Liar, sedangkan aku biasa disebut Raja Siluman Tanpa Ampun," kata si pria yang mengaku mendapat julukan Raja Siluman Tanpa Ampun.
Shin Shui tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Dia sendiri masih merasa asing dengan dua julukan tersebut. Bahkan rasanya, mendengar pun baru kali ini.
Tetapi reaksi yang ditunjukkan oleh Maling Sakti Hidung Serigala, justru bertolak belakang dengan Shin Shui. Dia cukup tersentak ketika mendengar dua julukan tersebut.
"Ada apa Kakak Yang?" tanya Shin Shui penasaran.
"Gawat, mereka dikenal dengan sepasang suami istri yang sangat kejam. Memang mereka jarang keluar dan terlibat dalam urusan dunia persilatan luar. Tetapi siapapun yang mengganggunya lebih dulu, tidak ada yang pernah selamat. Apalagi keduanya terkenal mampu mengendalikan siluman ganas," kata Maling Sakti.
Shin Shui kaget. Pantas saja kakak angkatnya terkejut.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Shin Shui.
Shin Shui nampak berpikir sebentar. Dia sendiri cukup ragu, walaupun dirinya merupakan pendekar terkuat saat ini, bukan berarti tidak bisa terkalahkan. Dengan kekuatannya yang sekarang, melawan dua orang penguasa, belum lagi siluman yang sangat banyak, tentu hal tersebut bukanlah perkara mudah.
Namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu, ada seseorang yang dapat dia andalkan dalam hal ini.
Tepat. Kaisar Naga Merah.
Kalau dia memanggilnya, tentu keadaan akan dapat berubah. Karena Shin Shui sangat yakin dengan kekuatan sahabat sejatinya.
"Baik. Kita hadapi mereka,"
"Adik Shin, kau yakin?"
"Kenapa tidak? Bukankah kau sendiri yang bicara tidak ada cara lain?"
"Tapi, tapi, mungkin kita bisa negosiasi dengan mereka. Itu jauh lebih baik," ujar Maling Sakti.
__ADS_1
"Terlambat. Dan lagi pula, hal itu tidak akan berhasil. Lebih baik kita hadapi saia mereka,"
"Hahh …" si Maling Sakti menghela nafas. "Baiklah, aku ikut apa katamu. Bagaimana dengan Li'er?"
"Kau tenang saja. Dia akan turut andil dalam pertempuran ini,"
"Kau gila …" ujarnya kepada Shin Shui setengah berteriak.
"Memang aku gila kan. Sudahlah, kita segera persiapkan diri saja,"
"Baiklah. Aku mengerti," pungkas si Maling Sakti.
Shin Shui kemudian berpaling lagi kepada sepasang suami istri tersebut.
"Apakah tidak ada cara untuk keluar dari sini?" tanya Shin Shui basa-basi.
"Hahaha … sudah aku bilang, tidak ada yang bisa selamat kalau sudah masuk ke sini,"
"Hemm, baiklah. Kalau begitu aku menantang kalian untuk mengadu nyawa," ucap Shin Shui menantang.
"Kau yakin anak muda?"
"Sangat yakin,"
"Tidak akan menyesal? Kau tidak sayang nyawamu?"
"Kau bilang tidak ada cara lain, maka sudah pasti cara satu-satunya untuk keluar dari sini adalah melalui pertarungan. Siapa yang menang, dia yang hidup. Siapa yang kalah, dia yang tewas. Dalam kamu hidup Pendekar Halilintar, tidak ada yang namanya menyesal ataupun keraguan," tegas Shin Shui.
Kali ini gantian. Giliran Sepasang Suami Istri Penguasa Hutan Misteri yang terkejut. Sedikit banyaknya, mereka pernah mendengar kebesaran nama Pendekar Halilintar. Mencari masalah dengannya, sama saja dengan mencari masalah dengan Kekaisaran Wei.
Tapi setelah dipikir kembali, toh jumlah mereka jauh lebih banyak. Lagi pula, rasanya mustahil tiga manusia itu mampu keluar hutan. Karena pemikiran tersebut, akhirnya kekagetan tadi segera berubah menjadi suara tawa yang membahana.
"Hahaha, ternyata yang datang Pendekar Halilintar. Seorang pendekar yang sudah menggetarkan kolong langit. Hemm, bagus, menarik. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu," tantang si Raja Siluman Tanpa Ampunan.
__ADS_1