
Chen Li berjalan lunglai ke tempat biasa dirinya dan Huang Taiji duduk bersama. Batu hitam itu selama tiga tahun ini menjadi saksi bisu betapa dekatnya hubungan mereka berdua.
Air terjun itu menjadi saksi bagaimana keduanya melakukan hidup bersama.
Semuanya seakan hampa. Semuanya seakan bersedih.
Seperti juga Chen Li. Dia menatap jauh ke depan di balik kain sutera yang selalu menutup kedua matanya.
Dia tidak bergerak sedikitpun. Ingatan demi ingatan mendadak muncul di benaknya. Ingatan bersama Shin Shui, ingatan bersama Yun Mei, Huang Taiji, bahkan rekan-rekannya. Semuanya muncul lalu bertumpuk menjadi satu.
Saat seseorang berada dalam kesendirian dan kesedihan, terkadang segala macam kenangan indah selalu sama muncul tanpa diduga sebelumnya.
Entah sudah berapa lama dirinya berdiam diri di atas batu hitam tersebut.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba segulung angin dingin datang dengan cepat dari arah belakangnya.
Wushh!!!
Chen Li yang sekarang bukanlah Chen Li yang dulu. Sekarang, kekuatannya sudah jauh jika dibandingkan pada saat usianya empat belas tahunan. Kepekaan dalam menghadapi suatu bahaya telah terlatih dengan sendirinya.
Kemampuannya untuk membaca keadaan di sekitar juga sudah meningkat tajam.
Tepat sebelum segulung angin dingin itu menerpa ke arahnya, Pendekar Tanpa Perasaan mendadak melompat tinggi lalu berjumpalitan beberapa kali di tengah udara.
Angin menderu dihasilkan dari lompatan tersebut.
Blarr!!!
Bebatuan di pinggir sungai di seberang sana langsung hancur berkeping-keping. Air muncrat ke segala arah. Ternyata angin dingin tadi dihasilkan dari sebuah sinar berwarna merah pekat.
Chen Li sudah berdiri kembali. Sepasang matanya memandang tajam ke arah datangnya sinar merah tadi. Puluhan langkah di depan sana, debu mengepul tinggi sehingga membuat sepasang matanya tidak dapat memandang dengan jelas.
Meskipun begitu, Chen Li tetap memandang ke arah tempat tersebut. Setelah beberapa saat kemudian, satu sosok mulai muncul.
Sosok itu memakai jubah putih. Mulutnya melemparkan senyuman kepada Chen Li. Di tangannya ada keranjang berisi buah-buahan.
Huang Taiji. Sosok tersebut benar-benar Huang Taiji.
Chen Li tersenyum, tapi senyumannya sedikit ditahan. Dia sedang kebingungan. Kenapa pamannya kembali lagi? Bukankah tadi orang tua itu bicara ingin meninggalkannya?
__ADS_1
Pendekar Tanpa Perasaan masih berdiri di tempat yang sama. Dia tidak bergerak walau sedikitpun. Setelah Huang Taiji sudah berjarak beberapa langkah darinya, bocah itu langsung mengajukan sebuah pertanyaan.
"Apakah masih ada urusan lainnya Paman?" tanya Chen Li sedikit ragu-ragu.
"Urusanku semuanya di sini," jawabnya santai.
"Maksudmu?"
"Apakah maksud Paman kurang jelas?"
"Bukankah Paman tadi berkata ingin meninggalkanku? Kalau begitu, kenapa sekarang Paman kembali lagi?"
"Hemm, kau tidak senang aku kembali?"
"Tentu saja senang, malah sangat senang. Tapi …"
"Tapi kau bingung kenapa Paman kembali lagi?"
Chen Li mengangguk mengiyakan. Dia masih ingat betul bahwa beberapa waktu lalu, pamannya tersebut ingin pergi meninggalkannya.
"Hahaha … Li'er … Li'er, tadi Paman hanya bercanda. Bagaimana mungkin Paman akan meninggalkanmu? Tadi Paman hanya mengerjaimu saja. Hahaha …" Huang Taiji tertawa lantang karena ternyata niatnya untuk mengerjai Chen Li berhasil.
"Jadi, Paman tidak akan meninggalkanku?"
"Tentu saja tidak,"
"Sungguh?"
"Aku tidak suka bercanda …"
Tepat pada saat ucapannya selesai, Chen Li langsung melompat lalu segera menubruk maju ke arah Huang Taiji. Dia memeluknya dengan erat. Air mata langsung merembes keluar dengan deras.
Huang Taiji balas memeluknya. Air mata Chen Li semakin deras membasahi pipi. Dia benar-benar bahagia. Hatinya kembali tidak hampa. Hidupnya kembali berwarna. Baginya, lebih baik kehilangan seluruh ilmu dari pasa harus kehilangan Huang Taiji.
"Makanlah buah-buahan ini. Paman sengaja mengambilnya untukmu. Ini adalah sumber daya yang berguna untuk latihanmu," ujar Huang Taiji sambil memberikan buah-buahan dalam keranjang tersebut.
Chen Li langsung mengambil buah-buahan itu. Tanpa banyak berkata lebih jauh, dia langsung saja mengambil satu persatu lalu segera memakannya dengan lahap.
Keduanya duduk kembali di atas batu hitam yang selalu menjadi tempat favorit mereka.
__ADS_1
"Paman, kapan calon guruku akan datang?" tanya Chen Li tiba-tiba teringat kepada guru baru yang disebut-sebut oleh Huang Taiji.
"Beberapa waktu lagi mungkin dia akan tiba. Apalagi sekarang kau mulai beranjak dewasa,"
"Hemm, baiklah," ucap Chen Li tiba-tiba murung.
Huang Taiji yang melihat perubahan itu langsung bingung. Karena tidak kuasa menahan rasa penasaran, akhirnya orang tua itu langsung mengajukan tanya.
"Kenapa kau Li'er?"
"Tiga tahun di Lembah Ketenangan ternyata sangat jenuh. Apalagi yang aku lihat hanya itu-itu saja. Rasanya, aku seperti hidup tapi mati, mati tapi hidup. Kasihan juga Phoenix Raja, dia ingin melihat dunia luar. Benarkan?" tanyanya sambil melirik kepada burung kesayangannya tersebut.
"Mana ada seperti itu, Tuan Muda mengada-ada," ucap Phoenix Raja yang memang kebetulan dapat bicara.
Chen Li merasa sangat gemas. Ingin rasanya dia meremas kepala burung itu, hanya saja dia terlalu sayang sehingga tidak berani melakukan hal tersebut.
Sementara itu, Huang Taiji justru malah tertawa kegirangan. Dia paling senang jika sudah membuat bocah itu kesal.
"Untung kau burung, kalau orang mungkin aku sudah menebas kepalamu …" kata Chen Li menahan rasa kesalnya.
Setelah puas tertawa, akhirnya Huang Taiji berhenti. Dia kembali memasang wajah serius. Orang tua itu menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak menyalahkan Chen Li, karena dia sendiri mengerti dan merasakan perasaan yang sama dengannya.
Kalau bukan dikarenakan tugas dari Dewa Lima unsur untuk menetap di Lembah Ketenangan, mungkin orang tua itu tidak akan mau untuk tinggal berlama-lama di sana.
"Kau ingin melihat dunia luar?" tanyanya dengan nada serius.
"Kalau boleh, Li'er sangat ingin," jawab Chen Li sambil menundukkan kepalanya.
"Boleh saja. Tapi kau jangan pergi ke dunia luar terlalu lama. Kau harus ingat bahwa pelatihanmu belum tamat Li'er,"
"Li'er paham Paman. Li'er ingin keluar hanya untuk mengobati rasa rindu saja. Li'er ingin berpetualang lagi seperti dulu,"
"Hemm, baiklah kalau begitu. Besok pagi-pagi kau boleh berangkat ke sana. Tapi Paman tidak akan ikut bersamamu, Paman akan tetap di sini untuk menjaga situasi. Jadi yang akan menemanimu hanya Phoenix Raja saja,"
"Baik, terimakasih karena Paman sudah memberikan izin," ujar Chen Li sangat gembira setelah dibolehkan untuk melihat dunia luar lagi.
"Besok kau harus menyamar menjadi orang lain. Jangan perlihatkan identitasmu kepada siapapun. Pokoknya, jangan sampai ada yang tahu bahwa kau adalah anak dari Pendekar Halilintar,"
"Memangnya kenapa Paman?" tanya Chen Li kebingungan.
__ADS_1
"Li'er, kau harus ingat perang besar beberapa tahun lalu. Meskipun kejadiannya sudah cukup lama terlewati, namun kau jangan lupa bahwa masih banyak musuh yang berkeliaran di sana. Siapa tahu mereka masih menaruh dendam kepada kita. Selama ilmumu belum sempurna, kau jangan beritahu siapa dirimu yang sebenarnya,"