
Begitu melihat kedua lawannya terluka parah, si Maling Sakti Hidung Serigala tidak berlama-lama. Secepat kilat kakinya menjejak tanah lalu meluncur deras ke arah dua lawannya.
Dia berniat untuk memberikan lawan masing-masing satu pukulan dari jurus Pukulan Api Dari Neraka.
Karena kedua lawan sudah mengalami luka dalam parah, maka mereka hanya bisa pasrah menerima kematian yang akan segera menghampiri.
Di balik keputusasaan itu, keduanya berharap ada seorang manusia ataupun dewa yang datang untuk menyelamatkan nyawa mereka. Sayang, karena hal tersebut hanyalah sebuah khayalan yang sia-sia saja.
Detik selanjutnya, dua buah pukulan berhawa panas dan berkekuatan sangat dahsyat menghantam telak tubuh dua lawan tersebut. Keduanya terpental sampai puluhan tombak.
Begitu berhenti dari luncuran pukulan yang diberikan oleh Maling Sakti Hidung Serigala, keduanya sudah tidak bernyawa lagi.
Mereka tewas dengan kulit melepuh sekaligus gosong. Organ dalamnya hancur. Bahkan darah yang keluar sempat mengepulkan asap, sama seperti tubuhnya.
Setelah pertarungan dahsyatnya selesai, Maling Sakti Hidung Serigala segera ke pinggir arena. Dia langsung menjaga ratusan anak murid Sekte Bukit Halilintar.
Di sisinya ada Thai Lu yang juga sedang bertarung melawan satu orang pendekar. Thai Lu merupakan tetua yang ahli dalam menggunakan senjata pedang kembar.
Permainan pedang kembar yang dia kuasai sudah terbukti sangat hebat sekali. Jarang ada orang yang mampu menghindari semua serangannya saat dia sudah mengeluarkan jurus terakhir.
Sekarang Thai Lu baru bertarung selama tiga puluh jurus saja. Namun walaupun begitu, semua jurus dan serangan yang masing-masing dikeluarkan oleh keduanya, merupakan jurus serta serangan tingkat atas.
Saat ini yang sedang berada dalam posisi menyerang adalah pihak lawan. Thai Lu dipaksa untuk terus bertahan oleh gempuran jurus maut yang dilancarkannya.
Lawannya menggunakan dua batang tombak warna hijau. Ada hiasan ronce merah di dekat mata tombaknya sehingga menambah kesan angker.
Gempuran tusukan tombak mengincar semua urat syaraf dan titik penting di tubuh. Tombaknya berkelebat mencari celah untuk memberikan sebuah tusukan maut yang telak.
Setiap kali tusukannya selalu membawa aura yang menekan. Namun di sisi lain, Thai Lu juga bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Dia merupakan tetua dari sekte terbesar di Kekaisaran Wei saat ini. Sudah pasti kekuatannya seimbang dengan jabatan yang dia sandang.
Walaupun gempuran tombak terus menerjang tanpa henti, tapi dia masih tetap berlaku tenang. Bahkan setiap kali mampu menangkis dan memberikan serangan balasan yang tidak malah mengerikannya.
Mencapai jurus keempat puluh dua, Thai Lu mulai naik pitam. Dua pedang kembarnya di genggam semakin erat. Ada warna kuning emas yang tiba-tiba menyelimuti pedang kembar tersebut.
Dia sedang mencari saat yang tepat untuk menyerang balik dengan jurus pamungkasnya.
Begitu melihat celah di bagian leher kosong, Thai Lu bergerak cepat.
"Pedang Kembar Kematian …"
Serangkaian jurus pedang kembar yang hebat sudah keluar. Ini adalah jurus pamungkas yang dia miliki. Dengan jurus inilah dirinya bisa di angkat menjadi seorang tetua.
Pedang kembar itu bergerak. Yang satu ke atas, satu ke bawah. Satu cepat, satu lambat. Semuanya dilakukan dengan satu kali bergerak. Hal seperti itu sangat susah dilakukan oleh siapapun.
Termasuk Shin Shui sendiri tidak menjamin bisa melakukannya. Karena hal itu harus melalui tahapan yang sangat lama sekali. Mungkin membutuhkan waktu beberapa tahun bahkan sampai sepuluh tahun lamanya.
Tapi tidak dengan Thai Lu. Justru karenanya, jurus tersebut sangat merepotkan lawan. Seperti sekarang, sudah lima belas jurus dia menggempur. Dan terlihat bahwa sedikit demi sedikit, lawannya keteteran.
Mencapai jurus keenam puluh lima, Thai Lu berhasil mendaratkan dua buah serangan maut. Pedang di tangan kanan menebas leher. Sedangkan yang di tangan kiri menusuk ulu hati.
Tentu saja siapapun sudah mengetahui hasilnya. Lawan langsung tewas mengenaskan.
Pertarungan Ong Kwe Cin juga tidak kalah hebat. Seorang lawanya ahli dalam menggunakan gada yang besar serta sangat berat. Sedangkan dia sendiri merupakan ahli senjata. Hanya saja, senjata yang dia gunakan unik.
Senjata tersebut merupakan dua pisau bulan sabit, tapi bisa disatukan menjadi roda berukuran cukup besar. Senjata unik itu sangat tajam. Apapun yang terkena ketajamannya, bisa ditebas habis.
Ong Kwe Cin berputar sambil memainkan senjata uniknya. Terlihat pinggirannya mengeluarkan api yang cukup besar sehingga membuat lawan kepanasan.
__ADS_1
Puluhan jurus sudah dia lewati. Sebelumnya memang dia berada dalam posisi tidak menguntungkan. Tapi hal tersebut segera berubah setelah dia mengeluarkan juga jurusnya yang paling di andalkan.
"Putaran Roda Api …"
Sebuah jurus berbahaya yang berhawa panas sekali. Tubuhnya berputar sehingga menciptakan pusaran api. Pisau bulan sabitnya dia gabungkan sehingga membentuk sebuah roda api.
Awalnya, sang lawan memang mampu menahan atau menangkis. Tapi lama kelamaan dia menjadi kerepotan karena tidak sanggup menahan hawa panasnya.
Begitu menyaksikan bahwa lawan kewalahan, Ong Kwe Cin segera melepaskan kembali pisau bulan sabitnya.
Tubuhnya memang masih berputar, tapi kali ini kedua tangannya dibentangkan.
Lima belas jurus kemudian, pisau bulan sabit kembarnya berhasil membunuh lawan tepat di bagian dada dan perut.
Pertarungan selesai. Pusaran api dan pisau bulan sabit kembali ke asalanya seperti semula. Orangnya sendiri segera bersila untuk menghimpun tenaga dalam.
Sementara itu, pertarungan Shin Shui lebih dahsyat lagi. Ternyata si pemimpin merupakan Pendekar Dewa tahap enam akhir.
Sehingga sedikit banyak, dia masih sanggup untuk menahan gempuran hebat yang diberikan oleh Pendekar Halilintar. Shin Shui sendiri memang sengaja tidak mau mengeluarkan kekuatannya sampai ke tahap tertinggi.
Sebab kalau sampai terlalu sering, dia bisa terluka parah. Karena terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuatan, tidak baik juga bagi pusat inti tenaga dalamnya. Dantian akan berputar sangat cepat sehingga membahayakan pemiliknya.
Selain itu, alasannya karena Shin Shui baru saja sembuh dari luka dalam dan racun akibat Dewi Iblis. Dia tidak mau menyakiti dirinya sendiri. Sehingga hanya tujuh puluh persen kekuatan saja yang dia keluarkan.
Namun itu saja sudah lebih dari pada cukup. Karena begitu pertarungan mereka memasuki jurus kedelapan puluh lima, pihak lawan mulai kelabakan.
Luka-luka di sekujur tubuhnya yang diakibatkan oleh sayatan Pedang Halilintar sudah tidak terhitung lagi. Darahanya masih sebagian mengucur malah.
Teali semangatnya tidak surut. Bahkan semakin berkobar.
__ADS_1
Sayang, dia menemui lawan yang sangat keras melebihi apapun.
Shin Shui menggunakan jurus lain. Hujan pisau energi berwarna biru terang turun dari langit bagaikan hujan. Setiap pisau energi tersebut mengenai tanah, akan terdengar sebuah ledakan saking kuatnya tenaga yang terkandung.