
Seperti biasa, setiap pagi para petinggi Sekte Bukit Halilintar selalu menikmati seduhan teh hijau khas Bukit Awan sambil berbicara ringan.
Teh khas sekte ini memang terkenal enak. Bahkan beberapa daerah sekitar terkenal sebagai penghasil teh terbaik di Kekaisaran Wei. Karena itu, banyak sekali perkebunan teh yang tergelar bagaikan permadani hijau.
Pagi yang cerah, udara sejuk. Di tambah secangkir teh dan makanan ringan, bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya kegiatan pagi hari para petinggi tersebut.
Biasanya pagi-pagi begini mereka lebih banyak bercanda. Tetapi sekarang berbeda, para tetua lebih banyak berbicara serius. Terutama tentang gejolak di seluruh Kekaisaran Wei. Khususnya di dunia persilatan.
Para tetua masing-masing bercerita memberikan berbagai macam usul dan lain sebagainya. Sedangkan Shin Shui dan Yiu Jiefang serta tetua Lu Xiang Chuan lebih banyak mendengarkan.
Di saat sedang berdiskusi seperti itu, tiba-tiba saja seseorang menanyakan ke mana Lin Zong He. Sebab dari tadi, mereka belum melihat tetua itu.
"Mungkin tetua Lin masih tidur atau sedang bersemedi," kata seorang tetua.
"Ah tidak mungkin. Biar aku periksa ke kediamannya," timpal seorang tetua lalu pergi ke kediaman Lin Zong He.
Waktu tetua tadi mengetuk pintu kediaman tetua Lin Zong He, saat itu dia baru saja tiba di Sekte Bukit Halilintar. Pria itu masuk lewat pintu belakang, sehingga tetua yang mengetuk pintu tidak tahu yang sebenarnya.
Lin Zong He keluar sambil menguap. Seolah dia baru bangun dari tidurnya.
"Tetua Lin, kenapa kau tidak ikut bergabung?" tanyanya.
"Ahh maaf, aku baru bangun tidur. Tadi malam aku latihan. Sebentar lagi aku akan segera menyusul," kata Lin Zong He.
Si tetua yang menyusul sebenarnya ingin bertanya lebih, tetapi tidak bisa karena Lin Zong He sudah menutup pintunya kembali.
Setelah beberapa saat, akhirnya tetua Lin sampai di tempat berkumpulnya para petinggi. Dia meminta maaf karena terlambat, Shin Shui tentu saja mengiyakan.
Lagi pula, dia tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Para tetua tersebut terus bicara sampai tiba waktunya mengerjakan tugas. Sepanjang hari, mereka melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa ada kejanggalan apapun.
Bahkan tiga murid Yashou juga merasa heran kenapa semalam Shin Shui berlaku sangat serius. Namun ketiganya tidak ada satupun yang berani bertanya terkait hal tersebut.
Menjelang sore hari, saat semua tugas sehari-hari selesai, di ruangan para tetua kini sedang berkumpul. Shin Shui memimpin pembicaraan serius.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berdiskusi, akhirnya dia membuka mulut dan memakai ekspresi wajah lebih serius lagi.
"Tengah malam nanti, aku menyuruh para tetua semua untuk pergi ke hutan Bukit Awan. Termasuk istriku sendiri," tegas Shin Shui sambil menyapu pandangan semua tetua.
"Maaf Kepala Tetua, memangnya ada apa? Apakah ada masalah penting?" tanya seorang tetua kepada Shin Shui.
"Bahkan sangat penting. Karena itulah aku menyuruh kalian ke sana. Tempatnya sebelah timur goa. Aku ingin berbicara tanpa ada yang tahu. Kalau di sini, bisa saja ada yang mencuri obrolan,"
Para tetua hanya saling pandang satu sama lain. Mereka tentu saja tidak dapat membantah semua ucapan Shin Shui. Karena kalau dia sudah menetapkan, tidak ada yang dapat mencegahnya.
Malam harinya, belasan bayangan melesat secepat kilat menembus gelapanya hutan Bukit Awan. Belasan bayangan itu sudah berdiri di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.
Semua tetua sudah ada di sana. Bahkan termasuk Yun Mei sendiri juga ada. Semua tetua sedang menunggu kedatangan Shin Shui.
Beberapa saat kemudian, yang ditunggu sudah datang. Dia terlihat lebih gagah dan berwibawa. Jubah birunya berkibar tertiup angin malam.
Keadaan di sana sunyi. Yang ada hanyalah bunyi binatang malam memecahkan kesunyian. Rembulan bersinar terang tanpa terhalang oleh awan. Sehingga malam pun tidak terlalu gelap.
"Apakah semuanya sudah hadir?" tanya Shin Shui penuh wibawa.
Shin Shui mengangguk. Dia menarik nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya bicara.
"Tetua Yiu Jiefang, tetua Lu Xiang Chuan dan Lin Zong He, tetua Ong Kwe Cin serta tetua Thai Lu, kalian semua maju dan berdiri tepat di sampingku," katanya.
"Baik,"
Mereka segera melakukan apa yang Shin Shui suruh. Semua tetua yang dia panggil sudah berada di sisinya.
Belum ada lagi yang bicara, karena memang Shin Shui belum memberikan izin.
"Apakah kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian di sini?" tanya Shin Shui kepada semua tetua.
Para tetua menggeleng secara serempak. Tentu saja mereka tidak mengetahui apa alasannya, toh Shin Shui sendiri belum berbicara kepada siapapun.
"Baik, kalau begitu aku akan mulai bicara. Alasanku mengadakan pertemuan di sini karena menyangkut sekte kita sendiri, yaitu Sekte Bukit Halilintar. Dua bulan lalu seperti yang kalian ketahui, aku pergi melakukan tugas yang memang wajib aku lakukan. Dan baru kemarin aku kembali ke sekte. Seperti yang kita ketahui, dunia persilatan Kekaisaran Wei sedang dilanda badai. Bahkan beberapa sekte besar juga terkena imbasnya. Hanya saja, aku tidak menyangka ada segelintir orang yang berani mengacaukan Sekte Bukit Halilintar secara diam-diam," kata Shin Shui berhenti sebentar melihat reaksi semua tetua.
__ADS_1
Setelah dipastikan masih aman, dia kembali melanjutkan, "Dan yang lebih parah, orang-orang ini mengacaukan sekte dari dalam. Aku dulu pernah membuat pernyataan, siapapun yang berani mengganggu kedamaian Sekte Bukit Halilintar, maka aku sendiri yang akan mengambil tindakan,"
"Shin Shui, apa maksudmu?" tanya Yun Mei tiba-tiba.
"Diam!!" bentak Shin Shui.
"Aku tidak menyuruhmu untuk bicara. Berani sekali kau di depanku," bentaknya.
"Shin Shui, kenapa kau ini? Apakah kau lupa bahwa aku istrimu?" Yun Mei seperti tidak terima atas perkataan Shin Shui barusan.
"Karena aku tahu bahwa kau bukan istriku,"
"Kau gila?"
"Justru kau yang gila karena sudah berani mencari masalah denganku," bentak Shin Shui kembali.
"Aku tidak pernah mencari masalah denganmu," katanya mendadak lunak dan menangis.
"Tidak perlu berpura-pura. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu siapa kalian, katakan di mana istriku dan tetua lainnya?" tanya Shin Shui kepada semua yang ada di depannya tetua termasuk Yun Mei.
"Shin Shui, kau kenapa?"
"Aku bilang diam. Cepat katakan di mana mereka sebelum aku bertindak lebih kejam,"
Mereka semua terdiam. Tidak ada yang berani bicara lagi setelah Shin Shui memperlihatkan wibawa sebagai pemimpinnya.
"Kenapa kalian terdiam? Apakah kalian sangka aku belum tahu permainan ini?"
"Apa maksudmu Kepala Tetua? Kau menuduh kami berkhianat?" tanya tetua dengan nada sedikit tinggi.
"Bukan berkhianat. Lebih parah dari itu, kalian adalah orang-orang yang menyamar menjadi para tetua Sekte Bukit Halilintar dan istriku bukan?"
Semua tersentak mendengar perkataan Shin Shui. Termasuk para tetua yang ada di pinggirnya.
Kalau mereka bukan Yun Mei dan para tetua, lalu siapa? Dan lagi, di mana para tetua yang asli berikut istri Kepala Tetua sendiri?
__ADS_1