Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Racun Dalam Makanan


__ADS_3

Li Feng dan Li Cun sudah keluar dari restoran mewah tadi. Kini keduanya sedang berjalan ringan diantara orang-orang yang lalu-lalang di kota besar tersebut. Keduanya berjalan menuju ke tempat yang cukup sepi.


"Kakak, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Li Cun.


"Kita akan pergi ke perguruan baru yang katanya mencurigakan itu. Aku penasaran siapa mereka," jawab Li Feng sambil kembali berjalan santai.


"Baiklah. Aku mengerti,"


Mereka kembali berjalan lagi. Tujuannya ke salah satu perguruan mencurigakan yang ada di sekitar tempat tersebut. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan.


Di pinggiran kota, terdapat sebuah bangunan yang cukup megah dan memiliki halaman luas. Kelihatannya bangunan tersebut memang masih baru. Di tengah-tengah atapnya ada sebuah patung burung elang yang sedang megepakan sayap sambil membuka mulutnya.


Warnanya merah tua. Terlihat gagah dan angker.


Li Feng dan Li Cun memperhatikan bangunan tersebut dari jarak yang cukup jauh dan tersembunyi. Mereka berdiri di balik rimbunan pepohonan rindang.


Dari kejauhan, terlihat ada kegiatan yang memang cukup mencurigakan. Lima orang asing dengan pakaian pendekar yang berbeda pada umumnya sedang memasuki perguruan tersebut.


Gerbang perguruan dijaga ketat oleh tiga orang murid. Kekuatan mereka lumayan tinggi. Kira-kira sudah mencapai level Pendekar Surgawi tahap tiga. Cukup aneh memang, sebab penjaga gerbang seperti itu biasanya hanya ada di sekte-sekte menengah ke atas.


Sedangkan ini merupakan perguruan yang terbilang kecil, bahkan kabarnya jumlah murid hanya puluhan orang, tapi memiliki penjaga gerbang yang mempunyai level pelatihan cukup tinggi.


Ditambah lagi ada beberapa pendekar asing yang memasuki perguruan tersebut.


Ada apa dengan perguruan itu? Dan siapa para pendekar asing tadi?


Hal ini membuat Li Feng dan Li Cun semakin curiga. Keduanya menjadi semakin yakin bahwa perguruan tersebut memang menyimpan sebuah rahasia.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Li Cun.


"Tunggu sampai malam. Kita selidiki perguruan itu selama diam-diam," ucap Li Feng.


"Kita akan menunggu di mana?"


"Tentu saja di restoran. Kita cari restoran terdekat,"


"Apakah kita akan makan lagi?"


"Pasti … hahaha," Li Feng tertawa dibuatnya.


Seperti yang kita ketahui, bahwa Li Feng atau Shin Shui, merupakan orang yang gemar sekali makan makanan enak dan mewah. Apalagi dengan hartanya yang sangat banyak merupakan warisan dari sang guru.


Sejak ia masih muda, kalau ada kesempatan, pasti dia akan mencari restoran termewah di kota yang dia singgahi. Bahkan kebisaan itu masih sering dia lakukan walaupun kini sudah mempunyai anak.

__ADS_1


Kebiasaan atau hobi seseorang memang tidak mudah dilepaskan. Apalagi kalau kebiasaan tersebut sudah mendarah daging.


Tak berapa lama, keduanya sudah kembali lagi ke sebuah restoran yang tak kalah mewah dengan restoran yang sebelumnya mereka kunjungi. Kini 'dua saudara' itu sedang duduk menantikan pesanan.


Setelah beberapa saat menunggu, makanan mewah pun tiba. Seorang pelayan wanita datang membawa hidangan yang menyebarkan bau harum.


Setelah hidangan berada di meja, Li Cun berniat untuk langsung mencicipinya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja Li Feng menarik tangannya secara mendadak.


"Ada apa? Apakah masih ada yang kurang?" tanya Li Cun penasaran.


"Jangan dulu dimakan,"


"Kenapa? Bukankah sangat enak kalau menikmati hidangan selagi hangat?"


"Tahan sebentar," kata Li Feng.


Kemudian dia segera mencium semua hidangan dan arak yang ada di meja mereka.


"Makanan ini mengandung racun ganas," ucap Li Feng.


"Apa? Bagaimana mungkin?" Li Cun dibuat terkejut karena perkataan tersebut.


"Tentu saja mungkin,"


"Siapa yang melakukannya?"


"Dari mana kakak tahu? Tidak ada bau yang mencurigakan dalam semua hidangan ini,"


"Memang racun itu tidak memiliki bau dan warna. Namanya Racun Embun Neraka. Racun jenis ini tergolong racun yang sangat ganas dan langka. Siapapun yang terkena racun ini, tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari dua menit jika tidak ditemukan penawarnya," jelas Li Feng.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Li Feng terdiam sebentar. Dia sedang memikirkan langkah apa yang harus di ambil.


"Kita makan saja semua hidangan ini. Tapi sebelum itu, kita makan dulu obat penawarnya," kata Li Feng sambil memberikan sebuah pil berwarna biru muda kepada Li Cun.


"Apakah pil ini dapat diandalkan?"


"Kalau kau tidak percaya, tidak usah makan. Biar aku saja yang makan," kata Li Feng mulai mengunyah makanan.


"Eh jangan! Baik, baik. Aku juga akan memakannya," ucap Li Cun.


Keduanya pun mulai melahap semua hidangan di meja tersebut. Tak perlu waku lama, hampir semua hidangan sudah habis. Kini mereka sedang menikmati arak mewah.

__ADS_1


Arak Bunga Sakura.


Sebuah arak mewah dan mahal. Arak ini konon katanya sangat sejuk ketika tiba di tenggorokan. Bahkan rasanya pun sangat manis.


Sementara itu, di sebuah ruangan, ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan dua orang tersebut selama mereka menyantap makanan. Bahkan bukan hanya di ruangan tersebut, di ruangan makan pun ada beberapa pengunjung melakukan hal yang sama.


Dari sini saja bisa di lihat apa yang sedang terjadi sebenarnya. Semua orang yang daritadi memperhatikan Li Feng dan Li Cun, dibuat semakin penasaran karena keduanya tidak juga menunjukkan tanda-tanda keracunan.


'Bagaimana bisa mereka tidak mati sampai sekarang? Apakah racun itu tidak berfungsi? Tapi rasanya mustahil. Lalu kenapa mereka belum mati juga? Apa mereka kebal racun? Ah, ini semakin mustahil. Mana mungkin ada orang kebal dadi Racun Embun Neraka,' batin seseorang dari sebuah ruangan restoran.


Waktu terus berlalu dengan cepat. Tapi sampai sekarang, setelah hampir tiga jam, Li Feng dan Li Cun tidak terkapar juga. Semua orang tadi semakin kebingungan menyaksikan kejadian ini.


"Pelayan," kata Li Feng memanggul pelayan.


Tak lama, seorang pelayan wanita segera menghampiri mereka sambil membawa bon.


Li Feng segera membayar, berbarengan dengan itu, dia pun mengatakan sesuatu kepada pelayan tersebut.


"Lain kali sebelum bertindak, cari tahu dulu siapa si target itu. Racun yang ada semua di hidangan tadi, sama sekali tidak mempan kepada kami berdua," bisik Li Feng kepada si pelayan.


Mendapat bisikan tersebut, tiba-tiba saja wajah si pelayan itu berubah pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin sebesar kacang kedelai segera mengucur deras dari keningnya.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya si pelayan dengan penuh rasa takut. Tubuhnya langsung bergetar hebat karenanya.


Tanpa banyak bicara, mendadak Li Feng mendekati pelayan tersebut lalu dia menotoknya sehingga membuat si pelayan mematung.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu menaruh racun?" tanyanya.


"Dia … dia,"


Belum sempat si pelayan menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja dari arah belakang terasa ada sebuah angin dingin. Sebuah benda hitam kecil meluncur dan menusuk tepat di punggung si pelayan.


Hanya hitungan detik, tubuh pelayan itu langsung ambruk dan tewas seketika. Dari mulutnya mengeluarkan busa putih.


Dia telah tewas oleh sebuah jarum rahasia tanpa tahu siapa pelakunya.


###


Jangan lupa likenya ya.


Oh iya, untuk yang belum tahu atau yang bilang kenapa novel ini masih menceritakan Shin Shui, di deskripsi sudah dijelaskan ya.


Sebelumnya banyak yang minta kisah Shin Shui dilanjut, dan ini sudah dilanjutkan. Novel ini menceritakan perjalanan Shin Shui sampai titik terkahir. Untuk saat ini memang MC ada dua, Shin Shui dan anaknya.

__ADS_1


Tapi itu hanya beberapa waktu, sebab ke sananya akan berlanjut dengan kisah Chen Li. Bagi yang penasaran, ikuti terus perjalanannya ya hhi


Salam hangat☕


__ADS_2