Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kedatangan Rombongan Jendral Besar dari Selatan


__ADS_3

Bercanda sudah puas, minum arak sudah sampai setengah mabuk. Maka sudah tiba waktunya untuk serius kembali.


Shin Shui mulai mencecar para tetua Sekte Serigala Putih lagi dengan memberikan berbagai macam pertanyaan seputar kelompok yang ingin menghancurkan Kekaisaran Wei, juga tentang apa saja yang telah dilakukan Sekte Serigala Putih dalam berkhianat.


Terdapat banyak sekali jawaban yang membuat orang-orang di sana terkejut. Entah sudah berapa kali mereka kaget. Namun yang jelas, semua jawaban jujur yang keluar dari mulut Wakil Kepala Tetua Sekte Serigala Putih, adalah hal yang tidak pernah disangka oleh siapapun sebelumnya.


Tanpa terasa, hari sudah beranjak sore lagi. Semua murid Sekte Serigala Putih sibuk menyiapkan penyambutan Jendral Besar dari Selatan bersama prajuritnya.


Walaupun yang datang tidak akan lebih dari dua puluh orang, tapi Shin Shui dan lainnya tahu bahwa yang datang itu justru merupakan orang-orang pilihan.


Tentunya kekuatan yang mereka miliki juga tidak rendah.


Rencana Shin Shui untuk hal yang akan segera datang nanti, mereka akan bersembunyi lebih dulu. Pihak Pendekar Halilintar akan membiarkan Wakil Kepala Tetua Sekte Serigala Putih berbicara dengan orang yang disebut Jendral Besar dari Selatan.


Ketika malam telah tiba, mereka mulai menjalankan rencana yang telah di susun rapi oleh Shin Shui. Pihaknya akan bersembunyi di beberapa titik untuk menjaga semua kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Sebagian tetua Sekte Serigala sudah ditempatkan di beberapa tempat. Puluhan murid pilihan telah bersiap menjalankan tugasnya. Mereka akan mengepung seluruh penjuru Sekte Serigala Putih.


Tujuan utamanya tentu supaya pihak musuh yang akan datang tidak dapat melarikan diri. Mengingat semua jalan keluar sudah terkepung rapat.


Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Rembulan sudah muncul meninyari jagat raya. Hembusan angin dingin menerpa tubuh. Suara lolongan serigala mulai menggema bersahutan.


Dari kejauhan, terdengar derap langkah kaki kuda yang cukup banyak. Suaranya menggebu seperti gendang yang bertalu-talu. Debu beterbangan saat puluhan ekor kuda lewat.


Mereka adalah rombongan Jendral Besar dari Selatan bersama para pengawalnya. Kekuatan besar terpancar keluar dari tubuh orang tersebut. Setelah beberapa waktu memacu kuda dengan kencang, akhirnya rombongan itu tiba juga di Sekte Serigala Putih.


Puluhan kuda ditarik tali kekang lalu meringkik keras. Kedua kaki terangkat sebelum berhenti.


Puluhan murid Sekte Serigala Putih menyambut kedatangan rombongan tersebut.


"Selamat datang di Sekte Serigala Putih Jendral Besar. Wakil kepala tetua telah lama menunggu Anda dan rombongan di ruangan," kata seorang murid yang menyambutnya.


"Terimakasih. Kalau begitu antarkan ke ruangan itu," kata Jendral Besar.

__ADS_1


Si murid mengangguk. Dia langsung mengantarkan Jendral Besar dari Selatan dan rombongannya ke tempat di mana wakil kepala tetua berada. Puluhan anggota lain segera membawa kuda-kuda untuk disimpan.


"Wakil kepala tetua, Jendral Besar bersama rombongan ingin bertemu dengan Anda," ucap si murid ketika sampai di depan pintu.


"Suruh mereka masuk," jawab wakil kepala tetua.


Rombongan masuk. Wakil kepala tetua menyambutnya dengan penuh hormat.


"Selamat datang Jendral Besar. Mohon maaf hamba tidak bisa menyambut dengan layak," kata wakil kepala tetua setelah mereka duduk.


"Tidak masalah. Kau jangan terlalu sungkan. Aku kemari hanya ingin mengucapkan turut berduka cita atas kematian Kepala Tetua Ying Mengtian," kata si Jendral Besar.


"Terimakasih Jendral. Tapi, adakah hal lain yang ingin Jendral Besar sampaikan?" tanya wakil kepala tetua.


Dia memang tidak percaya kalau Jendral Besar dari Selatan, datang hanya untuk mengucapkan ungkapan turut berduka saja. Apalagi perjalanan yang mereka lalui juga tidak sebentar.


Pasti ada hal lain di balik ini semua. Namun hal apakah itu, dia sendiri tidak tahu. Sebab Jendral Besar dari Selatan tidak memberitahunya.


"Sesuatu apakah itu? Kalau kami mampu, pasti akan kami usahakan,"


"Aku ingin meminjam pusaka leluhur pernah digunakan oleh Kaisar Buas," ucap Jendral Besar.


"Ma-maksud Jendral, Pedang Raja Serigala?" tanya wakil kepala tetua itu sedikit terkejut.


Bagaimana mungkin orang Jendral Besar dari Selatan tahu akan hal ini? Pedang Raja Serigala adalah pedang pusaka turun temurun di Sekte Serigala Putih. Setiap kepala tetua, pasti akan memegang pedang tersebut. Selama menjabat, selama itu juga dia akan memegangnya.


Namun, Kaisar Buas sendiri sangat jarang sekali menggunakan Pedang Raja Serigala. Seumur hidupnya dia hanya beberapa kali saja menggunakan pedang tersebut dalam sebuah pertarungan.


Jangankan orang luar, anggote Sekte Serigala Putih saja tidak semuanya mengetahui terkait pedang tersebut.


Bagaimana bisa orang lain tahu?


"Tepat, tidak salah lagi. Apakah kau bisa melakukannya untukku?"

__ADS_1


"Masalah ini, maaf, aku tidak bisa melakukannya. Jangankan orang luar, orang dalam seperti seorang wakil kepala tetua saja tidak berhak untuk menyentuh benda pusaka keramat tersebut. Selain itu, Pedang Raja Serigala ditempatkan di sebuah bangunan kecil yang memerlukan pola untuk membukanya. Dan yang mengetahuinya, hanya seorang kepala tetua sendiri," jelas wakil kepala tetua.


Jendral Besar dari Selatan sangat marah mendengar perkataan wakil kepala tetua. Tetapi dia mencoba untuk berusaha menahan amarahnya.


"Wakil kepala tetua, apakah kau tidak bisa mengusahakannya untukku? Bukankah kita sudah menjalin kerja sama cukup lama?" Jendral Besar berusaha merayu wakil kepala tetua Sekte Serigala Putih.


"Aku tahu, tapi terkait ini aku tidak bisa melakukannya,"


"Kenapa?"


"Semuanya sudah aku jelaskan," ucap wakil kepala tetua mulai tidak senang.


"Aku tidak mau tahu, kau harus bisa mengambil pusaka itu," ucap si Jendral Besar yang mulai kesal.


"Tidak bisa. Sampai kapanpun aku tidak bisa membantumu,"


Jendral Besar semakin marah. Dia sudah melakukan perjalanan cukup jauh demi membawa pulang pusaka Sekte Serigala Putih. Sayangnya, apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Kalau kau tetap tidak mau, maka aku akan memaksamu," tegasnya memberikan ancaman.


"Kau kira aku takut?" wakil kepala tetua justru balik membentak.


Seumur hidupnya, Jendral Besar dari Selatan baru mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya, kalau dia sudah membentak seseorang, siapapun orangnya maka akan merasa ketakutan setengah mati.


Tetapi sayangnya, hal tersebut kini tidak berlaku kepada seorang wakil tetua Sekte Serigala Putih. Bahkan dengan beraninya orang tersebut membentak balik. Di hadapan dua puluh pengawalnya pula.


"Kau menantangku? Kau kira aku tidak berani membunuhmu karena berada di kandangmu?"


"Dan kau sendiri? Apakah kau kira aku tidak berani kepadamu karena kau utusan Kaisar Tang Yang? Kalau anggapanmu seperti itu, kau sudah salah besar.


Jendral Besar dari Selatan kaget. Dia baru menyaksikan ada orang di Sekte Serigala Putih yang sangat berani seperti ini kepadanya.


"Lancang mulutmu. Kalau begitu kau menantangku," kata Jendral Besar itu bersama api amarah yang meluap.

__ADS_1


__ADS_2