
Melihat bahwa kedua lawannya mulai kewalahan oleh gempuran serangan yang dia berikan, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding tampak lebih beringas lagi.
Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menghela nafas dengan lega. Kekuatannya dinaikan menjadi sekitar tujuh puluh persen.
Itu artinya, pertarungan orang tua itu sudah mencapai titik terakhir. Sebab kalau dia sudah begini, maka tenaganya akan bertambah kuat berlipat ganda.
Pedang Tombak Surga Neraka dia ayunkan bolak-balik dari sisi kanan dan kiri. Sinar merah membara melesat sangat banyak seperti meteor yang jatuh dari angkasa.
Hawa panas terasa sangat hebat. Rasanya seperti dipanggang di atas bara api. Dua pemimpin tersebut semakin payah. Luka sabetan pedang atau bagian tubuh yang keserempet oleh senjata Huang Taiji Lu, terlihat sangat banyak sekali.
Tiga jurus kemudian, Pendekar Pedang Tombak menggetarkan senjatanya. Satu sinar merah membara kembali terlihat. Tetapi kali ini jauh lebih dahsyat lagi sehingga dua pemimpin tidak sanggup untuk menghindari kematiannya.
"Duarr …"
Ledakan terjadi terdengar sangat memekakkan telinga. Keduanya terpental puluhan langkah lalu bergulingan dan tewas seketika.
Tak ada teriakan yang terdengar. Sebab keduanya keburu dijemput oleh Malaikat Pencabut Nyawa.
Pertarungan dahsyat selesai. Hanya puluhan jurus saja, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding telah menyelesaikan pertarungannya.
Orang-orang yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan dari yang pertama hingga yang akhir, langsung bersorak-sorai gembira karena kemenangan ternyata berhasil diraih oleh seorang pendekar yang menolong mereka.
Serempak puluhan orang tersebut menghampiri Chen Li dan Huang Taiji Lu.
Seorang yang dianggap sebagai orang tertua, maju ke hadapan mereka.
"Terimakasih atas pertolongan Tuan dan Tuan Muda. Budi baik ini tentu tidak akan kami lupakan begitu saja. Entah siapa nama Tuan penolong sekalian, yang jelas, kami sangat menghaturkan rasa terimakasih dari hati yang terdalam," ucap orang tua itu merasa terharu karena tidak menyangka koya Quandai akan terbebas dari sekelompok orang-orang jahat tadi.
Padahal sebelumnya mereka sudah putus harapan. Tak disangka, ternyata pertolongan datang tanpa diduga siapapun. Sudah melapor ke sekte terdekat, tetap tidak ada bantuan. Jangankan bantuan, balasan pun tidak ada.
Tapi ternyata hari ini mereka dapat pertolongan luar biasa dari dua orang yang bahkan mereka sendiri belum mengenalnya.
"Paman tidak perlu khawatir. Membantu sesama sudah menjadi kewajiban bagi seorang manusia. Orang bijak bilang kalau kita membantu sesama, maka suatu saat kita juga akan mendapat balasannya, bukan begitu?" kata Chen Li sambil tersenyum ramah dan penuh kesopanan.
__ADS_1
Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh bocah itu. Namun mereka juga heran, tadi saat bertarung dia terlihat sangat menyeramkan sekali. Bahkan nampak seperti monster.
Tetapi sekarang, justru dia nampak tampan dan lucu sekali. Kelakuannya telah kembali normal seperti bocah berusia dua belas tahun.
Bagi mereka, hal ini sungguh merupakan anugerah tersendiri. Hadirnya bocah lucu nan menggemaskan tapi saat bertarung menakutkan itu, tentu menjadi harapan baik bagi orang-orang dalam dunia persilatan Kekaisaran Wei.
"Kalau boleh tahu, siapakah nama adik pintar ini?" kata si kakek tua sambil tersenyum.
"Dia keponakanku Paman, namanya Chen Li," jawab Huang Taiji Lu dengan ramah pula.
"Chen berarti Laki-laki yang dermawan dan pemberani, Li berarti kekuatan. Aiii nama yang sungguh bagus sekali. Semoga kelak jika sudah besar, adil kecil bisa tumbuh sesuai namanya," ujar si kakek memuji nama Chen Li.
"Terimakasih atas doanya Paman, kalau begitu, kami izin untuk undur diri sekarang juga. Masih banyak persoalan yang harus kamu segera selesaikan," kata Huang Taiji Lu meminta pamit undur diri.
"Ah, baiklah Tuan. Silahkan, silahkan,"
Huang Taiji dan Chen Li memberi hormat sebelum pergi, setelah itu, mereka segera pergi dari sana untuk kembali ke penginapan. Setelah membayar semua biaya sewa kamar dan makan, keduanya kemudian berniat untuk pulang lagi ke Sekte Bukit Halilintar.
"Betul Li'er. Pertemuan para tokoh tinggal beberapa hari lagi, jadi kita tidak bisa membuang waktu sia-sia. Selain itu, ayahmu juga sebentar lagi pasti akan kembali," kata Huang Taiji Lu.
"Baiklah kalau begitu. Li'er mengerti,"
Keduanya segera melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mereka kuasai.
Di sepanjang perjalanan, Huang Taiji Lu dan Chen Li tidak mengalami masalah sama sekali. Sehingga saat tiba ke Sekte Bukit Halilintar, tepat seperti apa yang sudah diperkirakan.
Keduanya tiba di sekte saat sore hari. Mereka segera memasuki ruangan para tetua untuk melaporkan bahwa misi yang dijalankan sudah selesai.
"Kalian sudah kembali?" tanya Yun Mei saat melihat kakak angkat dan anaknya tiba-tiba masuk ke ruangan.
"Sudah," jawab Huang Taiji.
"Cepat sekali, padahal baru tiga hari,"
__ADS_1
"Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Kau benar, baiklah. Silahkan mengisi laporan dulu," ujar sang istri Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu.
Huang Taiji Lu dan Chen Li segera mengisi laporan bahwa mereka telah menyelesaikan misi. Setelah itu, keduanya langsung duduk di sana karena kebetulan para tetua juga sedang beristirahat.
"Li'er, kau tidak menyusahkan Pamanmu kan?" tanya Yun Mei kepada anak kesayangannya.
"Mana ada dia menyusahkan. Yang ada justru Li'er telah membantuku. Bahkan sangat membantu," kata Huang Taiji mendahului sebelum Chen Li menjawab.
Semua tetua saling pandang. Mereka percaya kepada Huang Taiji, apalagi orang tua itu terkenal jarang sekali berbohong. Namun pernyataan barusan, bagi mereka jelas sangat ganjil. Pasalnya karena orang-orang itu merasakan kekuatan Chen Li hanya setara dengan Pendekar Surgawi tahap satu.
Bagaimana bisa seorang Pendekar Surgawi mengalahkan Pendekar Dewa? Pertanyaan ini masih mengganjal di benak para tetua.
Huang Taiji menyaksikan kurang percayanya orang-orang itu. Dia segera memerintahkan Chen Li untuk mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.
"Li'er, perlihatkan kekuatanmu yang sebenarnya," ujarnya kepada Chen Li.
"Baik Paman,"
Chen Li bangkit berdiri. Setelah itu, bocah istimewa tersebut segera menyalurkan Kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi.
Kekuatan dahsyat merembes keluar dari tubuhnya. Ruangan para tetua mendadak terasa sangat menekan. Ada sebuah kekuatan aneh yang membuat suasana di sana cukup mengerikan.
"Kekuatan apa ini?" tanya Tetua Thai Lu merasa penasaran karena dia belum pernah merasakan kekuatan seperti ini sebelumnya.
"Benar, kekuatan apa yang dimiliki oleh Li'er. Rasanya kami baru merasakan adanya energi aneh seperti ini," timpal Tetua Yiu Jiefang.
Semua orang saling pandang, mereka saling tatap sebagai tanda keheranan.
"Kakak Huang, bukankah ini seperti kekuatan dari Mata Dewa?" tanya Yun Mei sambil melirik Huang Taiji. Walaupun dia tidak tahu, tetapi Yun Mei hapal betul bagaimana kekuatan energi yang terpancar saat beberapa waktu lalu ketika Mata Dewa keluar.
"Benar, memang ini adalah pancaran dari kekuatan Mata Dewa," jawab Huang Taiji Lu bangga.
__ADS_1