Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ruang Jiwa


__ADS_3

Pendekar Tanpa Perasaan tidak dapat merasakan apa-apa kecuali sepi dan sunyi. Kedua kata itu terus menemani dirinya hingga dia benar-benar melupakan segala macam persoalan yang menyangkut duniawi.


Pemuda itu tidak dapat melihat apa-apa kecuali kegelapan. Sekelilingnya gelap gulita. Seperti malam tanpa cahaya rembulan dan bintang. Tiada cahaya yang menyinari. Tiada angin berhembus yang menemani.


Secara tiba-tiba, suasana mendadak terang. Chen Li sudah memasuki ruang jiwanya sendiri. Dia telah masuk ke dalam dunianya sendiri. Pemuda itu tidak dapat melihat siapapun. Di sana dia seorang diri.


Kecuali dia, memangnya bakal ada siapa lagi?


Pendekar Tanpa Perasaan berdiri mematung. Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah kabut putih menyelimuti tempat tersebut. Di kanan, di kiri, depan, belakang, semuanya tampak putih.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba saja dari depannya dia melihat ada seseorang yang sedang berjalan menghampiri.


Siapakah orang itu? Benarkah dia orang lain? Kalau iya, siapa yang bisa masuk ke dalam ruang jiwanya?


Chen Li tetap berdiri. Tubuhnya tidak bergeming sedikitpun. Langkah kakinya masih diam di tempat. Seluruh anggota tubuh itu mematung. Hanya matanya saja yang terlihat mengawasi sosok itu lekat-lekat.


Setelah beberapa saat kemudian, pemuda itu dibuat terkejut. Ternyata sosok yang sedang berjalan tadi sangat mirip dengan dirinya. Postur tubuh, pakaian, bahkan wajah, semuanya mirip sekali dengan dirinya. Sedikitpun tidak ada yang dibuang.


Pada saat seperti ini, sejatinya dia telah melupakan segala macam hal. Oleh sebab itulah pemuda yang dingin itu lupa terhadap nasihat gurunya, Dewa Lima Unsur.


Dia lupa bahwa sosok yang menjelma sebagai dirinya adalah jelmaan dari hawa nafsunya sendiri.


"Siapa kau?" tanyanya kepada hawa nafsu tersebut.


"Aku Shin Chen Li," jawabnya kalem.


"Aku bertanya serius,"


"Akupun menjawab serius,"


"Bagaimana kau bisa masuk kemari?"


"Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku. Bukan kau," kata sosok tersebut.


"Ini ruang jiwaku. Sudah sepantasnya aku berada di sini. Sedangkan kau, siapa kau sebenarnya?" tanya Chen Li mulai merasa kesal.


"Siapa bilang? Aku justru sudah berada di sini sebelum kau datang kemari. Seharusnya kau sudah tahu apa maksudku," katanya dingin.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Perasaan mulai marah. Amarahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun kepala. Sepasang matanya yang berada di balik topeng itu telah berubah menjadi sepasang mata yang sangat mengerikan.


Kekuatan Mata Dewa telah keluar secara sempurna.


Keadaan di tempat itu mendadak berubah total. Hawa kematian tiba-tiba terasa sangat pekat. Hawa pembunuhan juga semakin kental.


Ternyata apa yang dilakukan oleh dirinya, dilakukan pula oleh sosok tersebut. Chen Li mengeluarkan Mata Dewa, dia pun sama. Chen Li mencabut Pedang Merah Darah dari Cincin Ruang, sosok itu pun melakukan hal yang sama.


"Kau harus mampus …" teriaknya sangat marah.


Wushh!!!


"Kau tidak akan sanggup membunuhku," jawab sosok itu.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Perasaan mendadak melesat jauh ke depan ke hadapan hawa nafsu yang menjelma menjadi dirinya tersebut.


Sosok itu tidak mau kalah. Dia pun membalas apa yang saat ini sedang terjadi di hadapannya.


Dua sosok itu melakukan gerakan yang sama. Kalau Chen Li menyerang, maka sosok itu akan menyerang pula. Kalau pemuda itu menyerang lebih ganas, maka sosok tersebut juga melakukan hal yang sama.


Mereka mulai bertarung dengan serius. Saking seriusnya sampai-sampai jurus hebat yang telah dikuasai sempurna pun dilancarkan dengan sekuat tenaga.


Dua cahaya merah yang menyilaukan mata mendadak membelah udara hampa. Kedua cahaya itu tampak berkelebat ke sana kemari. Chen Li bersama 'kembarannya' melancarkan jurus yang sama.


Pertarungan hebat di dalam ruang jiwa segera terjadi. Tempat itu bergetar hebat akibat dua cahaya merah yang saling berbenturan satu sama lain.


Kedua cahaya terang itu tidak berhenti. Semakin lama justru semakin terihat bertambah hebat lagi.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan antar senjata pusaka kelas atas terjadi. Kedua benturan tersebut menciptakan letupan api yang tiada hentinya.


Selama puluhan bahkan ratusan jurus ke depan, gerakan keduanya hampir sama. Chen Li bergerak begini, sosok tersebut pasti bergerak demikian. Pendekar Tanpa Perasaan begini, dia pun turut pula.


Pertarungan semakin sengit. Jurus yang keluar juga semakin dahsyat. Raungan sepuluh naga terdengar tiada hentinya.

__ADS_1


Chen Li mulai merasa lelah. Bagaimanapun juga, dia masih merupakan manusia.


Sampai kapan dia harus bertarung? Kapan pertarungan ini selesainya? Kalau semuanya selalu sama dan satu jalan, bukankah itu artinya tidak akan pernah selesai?


Wuttt!!! Crashh!!!


Pada saat Chen Li mengambil nafas, sepasang matanya sesaat berpaling ke arah lain, pada saat itu pula kejadian diluar dugaan terjadi.


Pedang Merah Darah yang digenggam erat oleh sosok menyerupai dirinya telah berhasil merobek kulit punggung. Luka yang dihasilkan cukup lebar dan dalam. Darah segera segera menyambut keluar cukup deras.


Meskipun sepasang mata itu hanya berpaling sesaat, namun yang sesaat itu merupakan penentuan.


Penentuan antara hidup dan mati. Penentuan antara lanjut dan tidak.


Chen Li meraung sangat keras di sana. Pedang Merah Darah adalah sebilah pedang pusaka tingkat tinggi yang sangat tajam. Ketajamannya pun tiada tandingannya.


Biasanya, sebuah pusaka kelas atas pastinya membawa rasa sakit tersendiri. Begitu juga dengan Pedang Merah Darah itu.


Rasa sakit yang ditimbulkan akibat tebasan tadi sulit dilukiskan dengan kata-kata. Selama hidup, baru sekarang Chen Li merasakan kesakitan seperti itu.


Diluar sana, Huang Taiji dan Dewa Lima Unsur memperhatikan Chen Li dengan tatapan mata yang sangat serius. Keduanya menatap tanpa berkedip.


Air di sekitar tubuh pemuda itu bergolak hebat seperti air panas dalam tungku. Tubuh Chen Li juga bergetar hebat.


"Apakah dia akan berhasil?" gumam Huang Taiji kepada dirinya sendiri.


"Dia pasti dapat melewatinya," timpal Dewa Lima Unsur yang mendengar gumaman barusan.


Sekalipun keduanya merupakan Dewa. Sekalipun keduanya dapat melakukan segalanya, tapi kalau menyangkut masalah pribadi, menyangkut hawa nafsu, mereka berdua tidak dapat melakukan apa-apa.


Masalah itu harus kembali lagi kepada si pemilik tubuh yang sedang ada di sana. Kalau tekad orang itu sangat besar, maka dia bisa melewatinya. Jika orang itu sudah berniat agar dapat menguasai hawa nafsu, pasti dia dapat menundukkannya.


Lantas, apakah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan termasuk ke dalam tipe dua orang tersebut?


Pemuda itu mendadak membungkam mulut. Suara raungan yang tadi sempat menggetarkan langit bumi tidak terdengar lagi. Rasa sakit yang teramat sangat sudah tidak dia rasakan lagi. Bukan karena rasa sakitnya sudah hilang, yang benar adalah dia mengabaikan rasa tersebut.


Pendekar Tanpa Perasaan yang sebelumnya sempat bergulingan hebat di atas tanah, kini secara perlahan dia telah bangkit berdiri. Wajah yang tadinya memperlihatkan rasa sakit, sekarang mendadak memperlihatkan ketenangan.

__ADS_1


__ADS_2