Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Orang Asing


__ADS_3

Chen Li sedari tadi hanya melihat jalannya pertarungan tiga orang sahabatnya. Kedua tangannya di lipat di dada. Dia berdiri sambil bersandar ke sebuah pohon.


Sepanjang jalannya pertarungan, bocah itu selalu melemparkan senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda bahwa dia puas dan tidak kecewa akan 'pertunjukkan' ini.


Dia tidak akan bergerak kalau situasi tidak menyuruhnya bergerak. Dan dia tidak akan bertarung jika tidak ada lawan yang berarti.


Walaupun usianya sangat belia, tetapi pikirannya justru telah dewasa. Mungkin di dunia ini, tidak ada bocah kecil yang sepintar dan secerdas dirinya. Juka tidak akan ada bocah yang mempunyai bakat bela diri sebesar dirinya. Baik di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.


Karena Chen Li tetaplah Chen Li. Chen Li hanya ada satu, tidak akan pernah ada Chen Li lainnya lagi.


Si pemimpin dari sembilan belas orang mulai memperlihatkan ekspresi tidak percaya. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa empat bocah yang dianggap remeh, ternyata mempunyai kemampuan yang jauh diluar perkiraannya.


Sepanjang dia mengarungi dunia persilatan, baru kali ini menemukan bocah-bocah kecil yang luar biasa.


"Kau memang benar-benar hebat. Aku salut padamu bocah," kata si pemimpin kepada Yuan Shao.


Dia tersenyum. Tapi bukan senyuman tulus. Melainkan senyuman yang dipaksakan.


"Terimakasih atas pujian Tuan. Sayangnya aku tidak butuh pujian itu. Dan lagi, jangan pernah berharap kau bisa kabur dariku,"


Yuan Shao menyerang lebih dulu. Sinar emas kembali menyeruak ke sekitar arena pertarungan. Tubuhnya melesat bagaikan bayang-bayang kesunyian.


Pemimpin tersebut semakin terkejut. Tetapi hanya sebentar, karena detik berikutnya dia sudah memperlihatkan ekspresi yang sulit digambarkan.


Chen Li menyaksikan pertarungan Yuan Shao dengan serius. Karena memang hanya dia saja yang masih bertarung. Menurutnya, si pemimpin tersebut merupakan Pendekar Surgawi tahap tiga akhir. Beda dua tingkat dengan Yuan Shao sendiri.


Begitu Pedang Phoenix Emas tiba di hadapannya, si pemimpin itu segera menegaskan pedangnya.


"Trangg …"


Benturan terjadi. Tubuh si pemimpin terdorong dua langkah ke belakang. Pedangnya bergetar, tangannya terasa ngilu.


Yuan Shao melihat bahwa hal ini menjadi kesempatan baik baginya. Dia kembali menggerakan Pedang Phoenix Emas. Pedang tersebut bergerak melancarkan enam kali tebasan dan lima kali tusukan kilat.


Semua itu dilakukan dalam waktu singkat. Si pemimpin berhasil menghindari semua serangan tersebut. Sayangnya dia tidak menyangka bahwa serangan lain sudah datang lagi.


"Tebasan Pedang Dewa …"


"Wushh …"


Seluruh tenaganya tertumpu pada tebasan pedang tersebut. Dia mengandalkan serangan terakhirnya pada jurus ini. Jurus Tebasan Pedang Dewa adalah jurus khusus yang diajarkan oleh ayahnya.


Sinar emas melesat membawa kekuatan hebat. Debu mengepul, daun di pohon berjatuhan terkena energinya.

__ADS_1


"Wushh …"


"Sreett …"


"Ahh …"


Mati.


Leher si pemimpin mengalami nasib yang sama dengan tujuh anggota lainnya. Leher itu hampir buntung. Darah segar segera menyembur, mulutnya juga sudah dipenuhi oleh darah.


Dia masih tidak percaya bahwa dirinya akan tewas di tangan seorang bocah ingusan. Mimpi pun tidak pernah.


"Ka-kau …"


Dia tidak mampu untuk menyelesaikan kata-katanya. Karena tepat pada saat itu, tubuhnya sudah roboh ke tanah dalam posisi telungkup. Pedangnya masih digenggam erat di tangan kanan.


Seolah dia berharap bisa bangkit kembali dan membalaskan dendamnya kepada seorang bocah kemarin sore.


"Yeayy …" sorak sorai dari tiga bocah itu terdengar.


Mereka sangat gembira dan merasa puas dengan senjata barunya. Terlihat dari wajah mereka yang cerah, seperti cerahnya sinar mentari di pagi hari.


"Senjata yang luar biasa …" gumam Yuan Shao.


"Pedang kembar yang bagus," ujar Li Meng Li sambil menatap lekat-lekat senjatanya.


Chen Li tersenyum puas melihat tiga sahabatnya gembira.


"Aii, kalian memang sangat hebat. Tadinya aku ingin ikut serta, tapi aku tidak mau menjadi beban kalian," ujarnya sambil tersenyum.


Di luar nampak tersenyum, tetapi di dalam pikirannya dia sedang menghapal dan membayangkan gerakan jurus-jurus yang tertera dari Kitab Pedang Hitam.


Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dengan mengikuti arahan ayahnya jika berlatih, rasanya tidak akan lama bagi Chen Li untuk menguasai jurus-jurus tersebut.


Pemahaman Chen Li dalam seni bela diri jauh lebih besar daripada Shin Shui sendiri. Sehingga jika dia membaca kitab, dia akan langsung bisa mempraktekkan jurusnya. Walaupun memang tidak terlalu sempurna.


"Kau tidak perlu khawatir Chen Li, kami akan selalu berusaha untuk melindungi dirimu," kata Yuan Shao sambil menepuk pundaknya.


Mereka tertawa, ketiga bocah itu benar-benar gembira karena mendapatkan senjata tersebut. Ternyata pilihan mereka memang tidak salah.


"Mari kita lanjutkan perjalanan lagi," ajak Li Meng Li.


"Tidak bisa. Masih ada beberapa orang lagi yang belum tiba, sebentar lagi mereka akan datang," kata Chen Li.

__ADS_1


"Siapa?"


"Tidak ada siapa-siapa,"


"Bersiap!!" ucap Yuan Shao.


Keadaan di sana mulai tegang kembali. Angin mendadak berhembus kencang. Debu dan dedaunan berterbangan ke segala arah.


Sebuah aura pembunuhan yang kental segera menyelimuti keadaan di sekitarnya.


Tidak lama setelah debu menghilang, dua sosok bertubuh tinggi besar berpakaian hitam dan menyoren pedang, sudah berada di hadapan keempat bocah kecil tersebut.


Yang satu bersenjata pedang, satu lagi bersenjata tongkat mata golok.


"Hehe, bocah-bocah yang luar biasa. Tak disangka di sini ada bocah yang berbakat seperti kalian," kata orang yang membawa pedang di punggungnya.


"Siapa kalian?" tanya Yuan Shao.


Suaranya agak berat, jelas, dia juga merasakan sebuah tekanan yang sulit dibicarakan.


"Hemm, siapapun kami tidaklah penting. Kalian sudah membunuh anak buahku, berarti nyawa kalian akan menjadi gantinya," seorang yang bersenjata tongkat mata golok berkata dengan dingin.


Yuan Shao, Li Meng Li dan Moi Xiuhan mulai merasa gentar. Lutut mereka terasa lemas. Jelas, dua orang itu bukan lawan mereka. Yang paling terlihat tenang hanyalah Chen Li seorang.


Dia bahkan masih tetap pada posisi semula, melipat kedua tangan di dada dan tersenyum dingin.


Diam-diam bocah itu mengeluarkan aura pembunuhan yang tidak kalah hebat. Mendadak tiga sahabatnya pingsan karena seluruh tubuhnya terasa lemas. Kepalanya pusing dan terasa berat.


Setelah ketiganya tidak sadarkan diri, Chen Li segera menotoknya dengan gerakan cepat. Tujuannya supaya mereka tidak bangun secara tiba-tiba.


Kemudian dia membawanya ke bawah pohon lalu segera kembali menghadapi dua orang asing bertampang seram.


"Hehe, ternyata ada bocah istimewa di sini," ejeknya kepada Chen Li.


"Siapa yang dimaksud Tuan?" tanyanya sambil tersenyum.


"Tentu saja kau, memangnya ada siapa lagi selain dirimu?" bentaknya.


"Aiih, tidak berani, tidak berani,"


"Tidak usah banyak bicara. Serahkan semua harta kalian kalau ingin selamat,"


"Tapi aku tidak ingin menyerahkannya,"

__ADS_1


"Bagus, berarti kau ingin mampus,"


__ADS_2