Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bantuan Datang


__ADS_3

Tepat saat selesai mengkonsumsi pil yang berkhasiat memulihkan tenaga dalam dengan cepat, pada saat itu juga dua bayangan manusia sudah berdiri di udara di hadapan Shin Shui.


"Sungguh menjadi suatu kehormatan bisa bertarung melawan Pendekar Halilintar," kata salah seorang diantara keduanya.


"Terimakasih atas pujian tuan sekalian. Kalau boleh tahu, dengan siapa aku berhadapan?" tanya Shin Shui dengan senyuman.


"Perkenalkan, namaku Ong Tiong, orang-orang biasa menyebutku Pendekar Dua Pedang, dan ini rekanku namanya Wong Qing, dia biasa disebut Tongkat Besi Pembelah Baja," kata Ong Tiong atau Pendekar Dua Pedang memperkenalkan dirinya.


"Aihh, sungguh aku merasa terhormat bisa bertemu dengan kalian," kata Shin Shui menjura hormat di udara.


Tiga orang tersebut bercakap-cakap beberapa waktu lagi. Ketiganya justru tidak memperlihatkan benih permusuhan. Malah mereka nampak seperti tiga orang teman yang sudah lama tidak berjumpa.


Orang-orang yang sudah mempunyai ilmu sempurna, biasanya memang akan berlaku demikian. Terhadap musuh sekalipun, mereka akan memilih untuk bercengkrama lebih dulu.


Entah apa tujuannya, mungkin karena mereka merasa bangga bisa bertarung dengan lawan yang tak kalah hebatnya dengan mereka sendiri.


Dan hal itu kini sedang terjadi terhadap Shin Shui. Ketiga pendekar tersebut berbincang untuk waktu yang lama. Walaupun Ong Tiong dan Wong Qing tahu bahwa Shin Shui sedang menunggu bantuan, tetapi keduanya tidak menghiruakan hal itu.


Bagi mereka, hal itu bukanlah masalah besar. Toh murid dan tujuh orang anak buahnya masih ada. Dan mereka mempunyai kekuatan cukup lumayan, apalagi yang perlu ditakutkan?


Setelah cukup lma berbicara, pada akhirnya Ong Tiong memutuskan untuk segera melakukan pertarungannya.


"Apakah tuan sudah siap?" tanya Ong Tiong kepada Shin Shui.


"Sudah,"


"Baik kita segera mulai. Harap tuan Pendekar Halilintar mau memberikan sedikit petunjuk. Jangan sungkan, bisa berakhir di tangan Pendekar Halilintar, merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami berdua," ucapnya sambil tersenyum.


"Terimakasih. Kalian juga jangan sungkan," jawab Shin Shui.


Selesai berkata seperti itu, ketiganya lalu mundur untuk mengambil jarak. Hal ini dilakukan supaya mereka bisa lebih leluasa dalam memulai pertarungannya.


"Lihat serangan …" kata Wong Qing.


Tongkat bajanya segera dia pukulan dari atas ke bawah, hembusan angin sebesar gunung segera menyapu ke arah Shin Shui.


Tongkat baja itu berwarna merah darah dengan ujung hitam legam. Terlihat sangat angker dan membuat siapapun gentar. Shin Shui sendiri merasa terkesiap melihat datangnya serangan itu.


Tetapi Shun Shui tetaplah Shin Shui. Bukan orang lain. Dia yang sekarang, bukanlah yang dulu. Perbedaannya juga bagaikan langit dan bumi.


Ketika tongkat tiba di atas kepalanya, Pedang Halilintar segara di angkat lalu menahan hantaman lawan.

__ADS_1


Suara benturan benda keras terdengar. Percikan bunga api segera berpijar.


Belum selesai benturan mereka, dari samping kanan Ong Tiong sudah menerjang dengan dua pedangnya.


Julukan Pendekar Dua Pedang memang cocok dengannya. Sebab dalam setiap pertarungan, dia selalu menggunakan pedang tersebut.


Shin Shui memuji dalam hatinya. Kedua senjata lawan bukanlah senjata ecek-ecek. Sekilas pandang saja, dia segera tahu bahwa senjata-senjata tersebut merupakan pusaka kelas satu. Bahkan mungkin hampir menyamai Pedang Halilintar miliknya.


Sambaran pedang Ong Tiong datangnya lebih cepat. Dua sabetan pedang segera dia lancarkan. Saat itu juga terlihat dua sinar kuning emas melesat cepat ke arahnya membentuk huruf X.


Terpaksa Shin Shui mundur ke belakang untuk menghindari sedangan tersebut. Tak berapa lama, ketiga pendekar itu kembali mendarat. Mereka akan melanjutkan pertarungannya di atas tanah.


Tiga pendekar bergerak secara bersamaan. Shin Shui melawan dua pendekar sekaligus. Walaupun dia tahu bahwa mereka jauh lebih kuat daripada tujuh pendekar sebelumnya, tetapi dia tidak merasa takut sekalipun.


Bahkan tak jarang Pendekar Halilintar itu memberikan pujian tulus terhadap dua lawannya tersebut. Senyuman manis sekali dia lemparkan saat kerap kali senjatanya berbenturan.


Pertarungan sudah memasuki dua belas jurus. Kini ketiganya terlihat lebih serius lagi. Serangan yang keluar semakin dahsyat dan semakin hebat. Beberapa kali terdengar dentuman keras yang menyebabkan tanah bergetar.


Ong Tiong dan Wong Qing mengeluarkan segenap kemampuan mereka. Jurus pedang dan tongkat semakin memburu Shin Shui. Sinar dahsyat yang mampu membelah baja terus dikeluarkan oleh keduanya.


Shin Shui mulai merasa sedikit kewalahan oleh serangan kedua lawannya. Beberapa kali dia masih sempat beradu senjata. Dan saat itu tangannya terasa bergetar hebat.


Wong Qing melesat tinggi ke udara. Dia berteriak nyaring sambil menengadahkan kepalanya ke atas langit yang kelam.


"Wushh …"


Sebuah pusaran mendadak muncul setinggi dua puluh tombak. Pusaran itu benar-benar mirip seperti badai tornado yang mengamuk melanda perkampungan. Apapun yang ada di dekatnya, jika itu berada dalam radius sepuluh tombak, dipastikan akan tergulung ke dalam pusaran tersebut.


Ong Tiong tidak tinggal diam. Diapun membentak lebih nyaring. Dua pedangnya dia gerakan sedemikian rupa sehingga mengeluarkan kekuatan yang dahsyat.


Dua jurus yang mengguncangkan langit menggetarkan bumi, kini menyerang Shin Shui secara bersamaan pula. Andai kata orang lain, pasti tidak akan mampu menghindari dua jurus ini.


Tetapi tidak bagi Shin Shui. Bahkan dia sempat melemparkan senyumnya terlebih dahulu.


"Dewa Halilintar Mengguncang Semesta …"


"Wushh …"


"Glegarr …"


Langit bergemuruh kembali. Langit dan bumi berguncang lebih hebat. Badai halilintar segera tercipta. Dunia benar-benar terasa seperti kiamat.

__ADS_1


Para murid yang menyaksikan pertarungan ini mulai merasa ketakutan. Seumur hidupnya, mereka baru menyaksikan pertarungan sedahsyat ini.


Tiga jurus itu berbenturan di tengah jalan. Dentuman yang paling keras segera menggelegar. Para murid yang tidak menutup telinga mereka, seketika itu juga terkapar dengan telinga mengucurkan darah.


Tujuh pendekar yang sedang memulihkan diri, mendadak hidungnya mengeluarkan darah pula.


Sungguh ini benturan jurus yang menakutkan dalam hidup mereka.


Tiga pendekar terpental masing-masing dua puluh langkah. Ketiganya sama-sama memuntahkan darah segar. Untuk beberapa saat, pertarungan berhenti.


Mereka hanya saling pandang dan mengagumi satu sama lain. Tak ada kata yang terucap, karena memang dari pandangan mata saja sudah terlihat bahwa mereka saling memuji.


Di saat seperti itu, tiba-tiba saja satu bayangan orang memasuki arena pertarungan.


Seorang berjubah hitam menyoren golok di pinggangnya. Rambutnya panjang terurai dan matanya tajam, setajam golok yang dia bawa.


"Maaf pendekar, aku sedikit terlambat," katanya dengan hormat kepada Shin Shui.


"Hei, apakah ini Kepala Tetua Sekte Gunung Batu Hitam? Apakah Anda Hwe Koan si Golok Hitam Batu Baja?" tanya Shin Shui dengan senyuman bersahabat.


"Perkataan pendekar memang tepat. Senang sekali bisa berdiri dengan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar," katanya membalas hormat Shin Shui.


"Aishh, Kepala Tetua Hwe Koan terlalu sungkan,"


"Apakah pertarungan ini sudah selesai?" tanya Hwe Koan.


"Belum, justru baru dimulai," jawab Shin Shui.


"Baguslah. Aku jadi bisa bersenang-senang hehe," katanya sambil tersenyum menyeramkan.


"Di mana anakku?"


"Tuan muda sedang menuju kemari bersama yang lainnya,"


"Apakah ada bantuan lain?" tanya Shin Shui kembali.


"Ada beberapa orang. Tapi aku lebih memilih untuk mendahului mereka," jawab Hwe Koan sambil tertawa.


###


Jangan lupa like ya. Karena itu mempengaruhi mood author wkwk

__ADS_1


Salam pecinta kopi☕


__ADS_2