Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sungai Darah


__ADS_3

Serangan pedang tadi lewat di bawahnya. Huang Taiji lantas segera turun kembali sambil tetap berputar. Kedua tangannya dia rentangkan.


Begitu tiba di bawah, tiga buah pisau energi sudah melesat dari balik telapak tangannya. Pisau tersebut seperti mempunyai mata, benda tajam itu menuju ke masing-masing lawan si orang tua.


Warnanya biru muda. Tampak sangat berkilauan saat terkena sinar matahari.


Warnanya memang indah, tapi pisaunya tidak indah. Pisau itu tercipta bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk mendatangkan kematian.


"Slebb …" satu buah pisau berhasil mendarat tepat di kerongkongan pendekar. Dia menjerit tertahan lalu akhirnya ambruk ke tanah.


Matanya masih melotot. Seolah dia tidak percaya bahwa dirinya akan menjadi korban pertama dalam pertempuran ini.


Dua pisau energi lainnya berhasil dihindari oleh lawan.


Saat ini keduanya sudah mengeluarkan jurus pamungkas miliknya. Kekuatan hebat terpancar. Pedang yang digenggam masing-masing pendekar bergetar karena saking besarnya tenaga dalam yang terkandung.


Mereka menyerang secara bersamaan dari sisi kanan dan sisi kiri. Kedua serangan itu mengandung kekuatan hebat dan pastinya sangat berbahaya.


Tetapi Huang Taiji Lu masih tampak tenang seolah sedang menunggu datangnya kematian.


Pada saat itulah tiba-tiba sebuah benda putih menghantam balik serangan keduanya sehingga mereka terpental ke belakang.


Tubuhnya melayang di atas sungai yang jernih. Sebelum tubuh itu mendarat, beberapa senjata rahasia telah bersarang di beberapa titik penting. Salah satunya adalah di kerongkongan dan jantung.


Darah segera muncrat. Mereka langsung tewas dengan rasa penasaran. Pasalnya karena tidak tahu siapa yang telah menyerang mereka. Karena tahu-tahu senjata rahasia telah menancap.


"Byurr …"


Dua tubuh jatuh ke sungai. Air yang jernih seketika berubah warna menjadi merah darah.


Dalam waktu singkat, sungai itu telah berubah menjadi sungai darah.


Di sisinya, pertarungan Chen Li melawan seorang Pendekar Dewa tahap dua pertengahan juga hampir mencapai batas akhir.


Luka-luka sudah banyak terlukiskan di tubuh si pendekar. Chen Li juga mengalami beberapa luka, hanya saja masih dalam termasuk kategori luka ringan.

__ADS_1


Bocah bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu mendadak menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya langsung meluncur dalam kecepatan tinggi.


Dia menyerang kembali dengan gerakan aneh. Tubuhnya berputar, kakinya berputar. Mendadak dia sudah menyerang beberapa kali sabetan dan tusukan dahsyat.


Sepuluh jurus kemudian, Pedang Awan menancap telak di jantung lawan.


Chen Li langsung menendang tubuhnya ke sungai sehingga darah kembali bercampur dengan air yang jernih.


Pertarungan telah selesai. Suasana kembali seperti semula.


"Maaf, yang ada di balik semak-semak, kalau kita satu jalan tolong segera keluar," kata Chen Li sambil tersenyum menggemaskan.


Awalnya masih tidak terjadi apa-apa. Tapi kemudian, mendadak dari sana muncul tiga orang pendekar. Satu merupakan pendekar wanita. Satu lagi bocah pria sepantaran Chen Li. Dan satunya lagi seorang gadis kecil, umurnya paling lebih tua satu atau dua tahun darinya.


"Salam hormat, mohon maaf kalau saya sedikit mencampuri urusan. Sekali lagi saya minta maaf karena telah berbuat lancang," kata seorang pendekar wanita.


Dia memakai pakaian putih. Ada selendang putih bermotif bunga teratai putih pula. Usianya kira-kira sekitar empat puluh tahunan. Namun wajahnya masih terlihat cantik, kulitnya masih kencang. Bentuk tubuhnya padat sempurna. Rambutnya sebagian digelung sebagian lagi dibiarkan tertiup angin.


"Aihh, Nona jangan sungkan. Kalau boleh tahu, apakah sekarang aku sedang berhadapan dengan salah satu petinggi Sekte Teratai Putih?" tanya Huang Taiji dengan sopan.


"Aii, ternyata seorang petinggi sekte besar. Sungguh senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Wakil Kepala Tetua Zhu,"


"Tuan terlalu sungkan, dan sekarang, dengan siapakah aku berhadapan?" tanyanya sambil terus tersenyum ramah.


"Panggil saja aku Huang Taiji,"


"Aii, Tetua Huang dari Sekte Bukit Halilintar? Si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding?" tanya Xia Zhu sedikit terkejut.


Siapa yang tidak pernah mendengar nama Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding? Terlebih lagi belakangan ini, kabarnya dia sudah beberapa kali menyelamatkan desa dan bertarung melawan para penjajah tanpa kenal pamrih.


Karena hal tersebut, namanya langsung ramai menjadi perbincangan. Nama Sekte Bukit Halilintar kembali harum. Mereka memuji Huang Taiji karena sepak terjangnya yang sangat ksatria.


"Orang-orang menyebutku seperti itu," jawabnya sedikit merendah.


"Sungguh sangat beruntung sekali aku bisa berjumpa dengan Kepala Tetua Huang. Kalau begitu, berarti ini Tuan Muda Li?" tanyanya sambil melirik Chen Li.

__ADS_1


"Benar, dia anak dari Kepala Tetua Shin Shui. Li'er, beri salam kepada Wakil Kepala Tetua Zhu,"


"Salam hormat Wakil Kepala Tetua Zhu, perkenalkan nama saya Chen Li,"


"Sungguh menggemaskan sekali," katanya sambil mencubit pipi bocah kecil itu.


"Nah, kalian, kemarilah. Perkenalkan diri kalian kepada Tuan Muda Li,"


Dua bocah yang tadi diam dan malu-malu di belakang, mendadak maju ke depan sambil memperkenalkan dirinya.


"Hei, namaku Yuan Shao," kata seorang bocah kecil berpakaian kuning keemasan, jubahnya bergambar pedang emas. Jelas, dia dari Sekte Pedang Emas.


"Perkenalkan, namaku Li Meng Yi," kata si gadis kecil. Dia memakai pakaian putih. Seputih salju, dia berasal dari Sekte Gunung Salju yang dipimpin oleh Li Xu.


Ketiga bocah itu langsung akrab. Mereka kemudian duduk di pinggir sungai sambil berbagi ceritanya.


Seorang bocah kecil memang akan lebih cepat akrab jika dalam hal perkenalan.


"Apakah mereka merupakan cucu dari Kepala Tetua masing-masing sekte?" tanya Huang Taiji Lu kepada Ye Xia Zhu.


"Benar, kebetulan sekali mereka sudah saling kenal. Mereka berkunjung ke Sekte Teratai Putih untuk bertemu dengan puteriku. Tapi akhirnya, aii, puteriku malah terkena musibah,"


"Jadi Wakil Kepala Tetua Zhu sudah mengetahui bahwa puterimu di sandera?"


"Sudah, seseorang memberikan kabar kepadaku. Kebetulan sekali mereka juga memberitahu ada dua orang, tua dan kecil yang sedang berusaha menyelamatkan Xiuhan'er. Karena itulah aku datang kemari,"


"Puterimu memang di sandera, tapi dia masih hidup. Wakil Kepala Tetua Zhu jangan khawatir. Kita bisa bekerja sama untuk menyelamatkannya. Sebelumnya aku memang hampir menyelamatkan dia, hanya saja mereka sangat pintar sehingga menukarnya secara diam-diam,"


"Sungguh licik. Sedikit saja puteriku terluka, aku bersumpah tidak akan membiarkan ada yang keluar hidup-hidup di antara mereka," kata wanita itu sangat kesal.


"Sudahlah, kita bergerak secara senyap saja. Namun kita juga harus selalu menjaga Para Naga Muda ini, biarlah mereka berlatih sejak dini supaya kelak terbiasa menghadapi pertarungan hidup dan mati," ujar Huang Taiji sambil melirik kepada tiga bocah.


"Tetua Huang benar, terlebih lagi aku ingin melihat bagaimana kemampuan Tuan Muda Li. Katanya menurut kabar, Tuan Muda justru melebihi bakat ayahnya," ucapnya sambil tersenyum.


"Ahh, itu hanya kabar kosong saja. Li'er hanya senang dengan tantangan saja sehingga dia suka melakukan hal-hal tertentu," jawab Huang Taiji lalu menghampiri tiga bocah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2