Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Dewa


__ADS_3

"Menebarkan Cahaya Kehidupan …"


Jurus pedang Chen Li keluar. Sinar Pedang Awan segera memecah malam yang gelap. Cahaya biru menyeruak. Bocah itu bergerak semakin cepat dan ganas. Sembari terus berlari, pedangnya juga terus dimainkan memberikan tusukan dan sabetan pedang.


"Bertempur Melawan Raja Naga …"


Jurus keempat dari Kitab Seruling Pencabut Nyawa juga turut dilancarkan.


Sebuah rangkaian jurus yang jika semakin tinggi kekuatan si pengguna, maka akan semakin mengerikan juga hasilnya.


Seruling giok hijau bercahaya hijau muda terang. Tangan kanan yang memegang seruling pusaka itu menebarkan kabar dari Malaikat Pencabut Nyawa.


Entah sudah berapa lama Chen Li berlari membantai para murid Sekte Serigala Putih. Namun yang pasti, kini di sekelilingnya telah banyak manusia tanpa nyawa. Tak kurang dari dua puluh murid Pendekar Bumi dan Pendekar Langit, tewas bersimbah darah.


Ada yang kepalanya copot. Ada yang kepalanya pecah, ada juga yang dada serta perutnya robek karena sabetan pedang Chen Li.


Semua murid yang tewas kondisinya sungguh menggiriskan. Bocah itu memang sangat pantas dijuluki Pendekar Tanpa Perasaan. Sebab semakin banyak dia membunuh dalam sebuah pertarungan, semakin bangkit pula jiwa semangat bertarungnya.


Bocah kecil itu berdiri dengan pedang di tangan kiri dan seruling di tangan kanan. Dia berdiri mematung, tapi hawa pembunuh memancar kuat dari tubuhnya.


Mata Chen Li menyapu ke sekeliling. Yang dia lihat hanya mayat bergelimpangan dan genangan darah yang membawa bau amis. Bibirnya tersenyum, senyuman yang simpul tapi menyeramkan.


Andai kau melihat senyumannya, mungkin tubuhmu akan lemas dan bergetar. Sebab kalau Pendekar Tanpa Perasaan sudah tersenyum seperti itu, maka sisi kemanusiaannya akan lenyap untuk beberapa saat.


Alasan Chen Li melemparkan senyuman maut adalah karena dia sudah tahu. Di belakangnya, sekitar jarak lima tombak, ada tiga murid berkekuatan Pendekar Langit tahap tiga sedang berlari ke arahnya dengan senjata yang sudah terhunus dan ditebaskan.


Ketiganya berlari secepat yang mereka dapat lakukan. Para murid yakin, dengan cara menyerang dari belakang seperti ini, apalagi dilakukan secara serempak, sudah pasti bocah kecil itu tidak mampu menghindar.


Kematian sudah pasti akan segera menjemputnya.


Sayangnya, ketiga murid tersebut telah salah langkah. Perhitungan yang mereka anggap sudah sangat matang, padahal sebenarnya masih sangat mentah.

__ADS_1


Bagi Chen Li, ketiga murid tersebut sama saja seperti orang bodoh.


Padahal mereka sudah tahu bahwa bocah itu mempunyai kekuatan di atasnya. Bahkan mereka melihat sendiri bagaimana rekan-rekannya dibantai.


Tetapi sekarang, ketiga murid malah berusaha untuk membunuhnya. Puluhan orang murid saja tidak sanggup, apalagi mereka yang hanya bertiga? Bukankah ini tindakan konyol sekaligus bodoh?


Sekalipun kekuatan mereka berada di atas murid-murid lainnya, namun tetap saja, mereka belum sanggup untuk membunuh Chen Li.


Bocah kecil itu masih diam tak bergerak. Seolah dia tidak mengetahui bahaya yang sedang mengancamnya.


Tiga murid telah melancarkan serangan jarak jauh yang ganas dsn penuh kekuatan. Tiga buah sinar melesat cepat ke arahnya. Kalau tidak segera menghindar, mungkin Chen Li tidak memiliki kesempatan lagi.


Tapi tetap, dia belum menunjukkan pergerakan.


Ketika tiga serangan tersebut hampir tiba, barulah Pendekar Tanpa Perasaan bergerak. Gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga. Tiga orang murid yang menyerang pun tidak tahu bagaimana bocah tersebut dapat melakukannya.


Kejadian berikutnya, mampu membuat siapapun terkejut.


Sebelum tiga orang murid mengambil tindakan, Chen Li lebih dulu memulainya. Pedang Awan dia ayunkan sekuat tenaga. Suara berdengung terdengar jelas di telinga. Sinar hijau terang membawa kekuatan yawnh menekan, jelas terasa oleh tiga murid itu.


"Crashh …"


"Prakkk …"


Satu kali Pedang Awan bergerak. Satu kepala lepas dari tempatnya. Dua kali seruling giok hijau di ayunkan, dua kepala hancur seperti di hantam dua bongkah batu besar.


Tiga murid tersebut langsung tewas bersimbah darah. Nasibnya ternyata jauh lebih buruk daripada rekannya yang lain. Kalau rekannya masih mampu memberikan serangan balasan walaupun tidak berarti besar, tetapi mereka bertiga? Jangankan membalas serangan, mengangkat senjata ketika musuh di belakangnya pun belum sempat.


Tahu-tahu malah kepala mereka yang menjadi sasaran telak.


"Orang-orang tidak tahu diri," gumam Chen Li lalu menyimpan kembali dua senjata andalannya.

__ADS_1


Di sisi lain, pertarungan Shin Shui sudah mencapai hampir seratus lima puluh jurus. Kedua kepala tetua bertarung bagaikan dua orang dewa yang sedang marah.


Semua kekuatan sudah mereka keluarkan. Semua jurus langka, telah dilancarkan bahkan sampai beberapa kali. Tetap hasilnya sama saja, mereka tetap bertarung seimbang bahkan hingga saat ini.


Kedua tokoh kelas atas itu saling memuji satu sama lain. Shin Shui memuji Ying Mengtian si Kaisar Buas karena walaupun sudah tua, ternyata dia masih sanggup mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Sedangkan Ying Mengtian sendiri memuji Shin Shui karena kekuatannya. Di usia yang belum mencapai empat puluh tahun, ternyata Pendekar Halilintar sudah mampu menjadi pendekar terkuat.


Bahkan semua orang menaruh hormat kepadanya. Termasuk dia sendiri. Bagi Ying Mengtian, bertarung sampai mati melawan pendekar terkuat, adalah sesuatu yang sangat patut untuk dibanggakan.


"Tuan Shin Shui, aku harap kau sudi untuk mengeluarkan seluruh kekuatanmu. Jangan ragu, justru aku sangat bangga kalau sampai bisa mati di tanganmu," kata Ying Mengtian disela-sela berhentinya pertarungan antar mereka.


Shin Shui tersenyum. Dia memuji kejelian mata Kepala Tetua sekte Serigala Putih itu. Di usianya yang sudah tua, ternyata dia masih mampu melihat kesungguhan lawan dalam pertarungan.


"Hebat, hebat. Aku sungguh kagum. Di usia setua ini, ternyata senior Ying Mengtian masih mampu melihat dengan jeli," kata Shin Shui memuji dengan tulus.


"Hahaha, terimakasih atas pujiannya. Tetapi aku dapat merasakan kesungguhanmu dalam pertarungan kita. Bahkan aku juga tahu bahwa kau beberapa kali menahan serangan, padahal kalau kau melakukannya dengan sungguh-sungguh, mungkin saat ini aku sudah tewas. Atau setidaknya terluka parah,"


"Senior benar. Memang aku beberapa kali menahan serangan,"


"Kenapa kau lakukan itu? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku sangat ingin tewas di tanganmu?"


"Aku tahu. Tapi sungguh, rasanya berat sekali menurunkan tangan kejam kepada orang-orang selihaek,"


"Kau salah. Sekarang ini, kita telah berseberangan. Kau memilih jalanmu, dan aku memilih jalanku. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau membunuhku,"


"Aku tidak bisa," tegas Shin Shui.


Tentu saja, bagaimanapun juga, Ying Mengtian adalah seniornya. Salah satu orang yang berjasa dalam hidup Shin Shui. Dan sekarang, dia diharuskan untuk membunuhnya? Apakah dia sanggup?


"Kau harus bisa. Kau adalah panutan para pendekar Kekaisaran Wei. Kau harus tegas dalam menegakkan kebenaran. Kepada siapapun itu, termasuk aku sendiri. Lakukanlah secepatnya, atau kau akan menyesal selamanya," ujar Ying Mengtian menahan rasa gemas.

__ADS_1


__ADS_2