Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
San Ong dan Ong San Beraksi


__ADS_3

Ling Yang tidak menjawab. Dia sama sekali tidak dapat membuka mulutnya. Namun dalam hati kecil wanita cantik yang sekarang berubah menjadi nenek tua itu, terdapat satu rasa sakit yang tidak akan pernah hilang walaupun nyawanya telah melayang.


Rasa sakit hati karena usahanya gagal. Rasa sakit karena merasa ditipu oleh Pendekar Halilintar.


Dan yang terpenting, rasa sakit karena cintanya pernah ditolak secara tidak langsung belasan tahun lalu.


Ling Yang sebenarnya masih muda. Hanya saja karena dia banyak mempelajari berbagai macam ilmu sesat, akibatnya ternyata berefek kepada kecantikan di wajahnya. Tak hanya itu, bahkan seluruh tubuh dan keadaannya nampak seperti seorang nenek tua berusia tujuh puluh tahun.


Padahal usia aslinya tidak berbeda jauh dengan Shin Shui sendiri.


Tetapi dia sendiri tidak perduli akan hal tersebut. Selama dendamnya dapat terbalaskan, maka apapun akan dia lakukan.


Rasa sakit hati karena tidak diterima cintanya, dia balas dengan sebuah dendam. Di bumbui dengan niat ingin membunuh. Bukan hanya membunuh Pendekar Halilintar saja, kalau dia sanggup, Ling Yang bahkan ingin membunuh keluarga pendekar yang membuatnya menderita itu.


Setelah beberapa saat merasakan sakit yang tiada terkira, tiba-tiba dia melompat bangun dan berdiri menatap Shin Shui dengan tatapan penuh dendam.


Shin Shui tampak terkejut walaupun hanya sesaat. Dia tidak menyangka bahwa wanita tersebut masih dapat berdiri. Padahal, Pendekar Halilintar tahu bahwa racun yang digunakan untuk membunuhnya merupakan racun kelas atas.


Dia sendiri tidak tahu namanya. Yang dia tahu hanyalah efek racun tersebut adalah nyawa melayang.


Tak disangka, justru wanita tersebut masih bisa hidup bahkan terlihat baik-baik saja.


"Apakah kau kaget?" tanya Ling Yang sambil tersenyum sinis.


"Tidak, karena aku sudah tahu. Toh tidak terlalu aneh juga. Kau punya racun, pasti kau punya obat penawarnya. Kuncinya hanya di sini. Sayangnya, obat penawar itu hanya mampu menghilangkan racun dalam tubuh dan tidak bisa menghilangkan efeknya, bukankah begitu?" tanya balik Shin Shui.


"Cerdas, memang begitulah. Tapi aku tidak keberatan, selama bisa membalaskan dendam di masa lalu, apapun akan aku lakukan," kata Ling Yang.


Shin Shui kebingungan. Dendam apa yang dimaksud wanita itu? Dia sendiri baru bertemu sekarang ini saja. Namun, memang Shin Shui seperti merasakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan wanita itu.


Hanya saja siapa dan di mana, dia masih belum tahu secara pasti.


"Lalu apa maumu?"


"Tentu saja aku ingin nyawamu,"


"Serang!!!"


Satu kali ucapan itu keluar dari mulutnya, serentak dua puluh Pendekar Dewa menyerang Pendekar Halilintar dengan jurusnya masing-masing.

__ADS_1


Puluhan orang melompat sambil melancarkan serangan pertama mereka. Semuanya merupakan Pendekar Dewa tahap dua.


Dua puluh serangan datang dari segala penjuru bagaikan hujan deras. Semuanya serangan yang bisa dibilang kelas atas.


Puluhan sinar mewarnai cakrawala. Kekuatan dahsyat dari berbagai macam aliran terasa amat menekan.


Namun Pendekar Halilintar masih tampak tenang. Tidak ada rasa takut yang tergambar di wajahnya.


Begitu serangan hampir tiba, Shin Shui bergerak.


Dia berputar secepat kincir angin lalu menghempaskan semua serangan tersebut dengan kedua tangannya.


Debu mengepul. Daun kering berterbangan terbawa gelombang kejut yang tercipta.


Begitu tubuh Pendekar Halilintar telah menginjak tanah kembali, pemandangan semua musuh berubah.


Kali ini dia tidak hanya melihat satu sosok. Melainkan menjadi tiga sosok.


Satu manusia. Dua siluman.


Entah sejak kapan dua siluman itu tiba. Yang jelas, kekuatan dahsyat terpancar keluar dari dua siluman tersebut.


Siluman kera putih yang bertubuh tinggi. Bulunya nampak bercahaya. Ada besi tipis yang melingkar di atas kepalanya.


"Sangat siap. Sudah lama sekali kami tidak menggerakan badan, dan sekarang waktunya telah tiba," jawab San Ong.


"Tidak perlu basa-basi, Tuan Muda, apakah boleh kita mulai permainan ini?" tanya Ong San kepada tuannya.


"Silahkan. Jangan sungkan-sungkan," jawab Shin Shui sambil tersenyum.


Dua siluman kera putih bersaudara sudah bergerak. Mereka melompat-lompat ke sana kemari layaknya kera biasa.


Dua puluh Pendekar Dewa terkejut. Mereka baru menyadari bahwa dua siluman tersebut ternyata bukan siluman biasa.


Kekuatanya setara dengan Pendekar Dewa tahap enam akhir. Jelas, tingkatan dua siluman itu terpaut jauh dari mereka sendiri.


Saat tadi dua sahabatnya bergerak, Pendekar Halilintar tidak diam saja. Dia langsung mengeluarkan Pedang Halilintar yang merupakan senjata andalannya untuk menghabisi manusia iblis.


Cahaya biru terang menyeruak memenuhi alam semesta. Kekuatan dahsyat menekan arena pertarungan.

__ADS_1


Kakinya menjejak tanah lalu meluncur ke depan sambil mengirimkan tebasan pedang dari jarak jauh.


Puluhan tebasan pedang berwarna biru muda menerjang lawan.


Ketiga sahabat tersebut membagi lawan menjadi tiga. Masing-masing mendapatkan sepuluh orang lawan.


Dulu, mungkin mereka tidak akan mampu untuk mengalahkan jumlah seperti saat ini, tapi sekarang, semuanya telah berubah.


Kekuatan yang mereka miliki sudah jauh dari belasan tahun lalu. Kalau diibaratkan, dulu hanya bisa meruntuhkan bukit, maka saat ini mereka dapat meruntuhkan gunung.


Ong San menyerang sepuluh Pendekar Dewa tanpa ampun. Walaupun pertempuran mereka baru saja dimulai, tapi siluman kera itu tidak mau main-main. Dia ingin membuktikan kepada tuannya bahwa sekarang sudah berbeda dengan dahulu.


Sebuah pukulan dahsyat dia lancarkan ke tanah. Bumi bergetar. Sepuluh Pendekar Dewa hampir jatuh kalau tidak konsentrasi. Namun untungnya, di samping itu kekuatan mereka juga sudah cukup lumayan.


Belum habis efek pukulan pertama, serangan berikutnya telah datang lagi. Dia melejit ke atas lalu turun menukik sambil berputar.


"Blarrr …"


Ledakan terdengar. Tanah berlubang saat kakinya menjejak.


Kali ini, sepuluh pendekar tersebut kehilangan keseimbangan. Dua dari sepuluh jatuh terjerembab.


Tanpa banyak membuang waktu, Ong San langsung meluncur ke depan. Dua tangannya segera meriah dua pendekar yang kehilangan keseimbangan.


Dia melemparkan keduanya ke atas. Tubuhnya turut menyusul.


"Bukk …"


"Bukk …"


Dua buah pukulan menghantam telak dada lawannya. Dia meraihnya kembali lalu membawanya turun ke bawah seperti meteor jatuh dari langit.


"Blarr …"


Ledakan terdengar lagi. Dua Pendekar Dewa tadi melesak masuk ke tanah. Tubuhnya terasa remuk. Organ dalamnya bergejolak. Untung bahwa tingkatan pelatihan mereka sudah tinggi, sehingga walaupun mengalami derita seperti barusan, keduanya masih dapat bertahan.


Siluman kera itu ingin mengajar kembali, sayangnya delapan rekan mereka tidak tinggal diam.


Delapan orang tersebut serentak menerjang ke arahnya dengan berbagai macam serangan dahsyat.

__ADS_1


San Ong lain lagi. Saat pertempuran pertama seteleh sekian lama berkahir, dia langsung menggempur sepuluh kawannya sekaligus. Dua tangan siluman kera itu terlihat seperti ada seribu di mata musuh.


Sinar merah tembaga keluar saat dia bergerak. Kecepatannya tidak ada yang dapat melihat dengan jelas. Sepuluh lawan hanya bisa merasakan adanya gulungan angin hebat yang kerap kali menerjang ke arahnya.


__ADS_2