Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan di Pinggir Sungai


__ADS_3

Empat pendekar yang diperintahkan oleh si pemimpin tadi sudah siap siaga. Mereka tahu bahwa pelaku yang telah membunuh rekan-rekannya tidak bisa dipandang sebelah mata.


Apalagi bisa membunuh orang dalam waktu sangat singkat. Menurut perkiraan empat pendekar, setidaknya orang yang telah membunuh rekannya berada pada tingkatan Pendekar Dewa.


Tiga pedang dan satu golok telah diacungkan. Semua indera tubuh telah dipasang dengan tajam. Jangankan suara serigala, suara nyamuk sekalipun mungkin mereka akan mendengarnya.


Aura pembunuh langsung mereka keluarkan hingga ke titik tertinggi.


Chen Li dan Huang Taiji melihat bahwa empat pendekar yang menghampiri mereka merupakan Pendekar Dewa tahap dua.


Tidak perlu lama menunggu, empat pendekar itu telah sampai tepat di bawah tempat persembunyian Chen Li dan Huang Taiji. Mereka sedang mengawasi keadaan sekitar.


Dua orang yang bertengger di atas dahan pohon layaknya burung elang, masih terdiam dengan tenang.


Tidak ada ketakutan di raut wajah mereka. Tentu saja, karena keduanya sangat yakin bisa membereskan empat pendekar ini.


"Di atas," teriak salah seorang pendekar secara tiba-tiba.


Begitu mendengar teriakan rekan mereka, serentak tiga orang lainnya langsung melihat ke atas dahan pohon. Berbarengan dengan itu, dari dua tempat tampak melesat bayangan berwarna putih seperti hantu di siang bolong.


Kecepatannya sungguh sulit diikuti mata biasa. Untung mereka merupakan Pendekar Dewa. Kalau bukan, mungkin tidak akan bisa melihat betapa dua bayangan tadi bergerak.


Chen Li dan Huang Taiji meluncur dengan cepat. Dua orang itu sengaja melalukan hal ini supaya empat pendekar tadi mengejarnya hingga jauh dari sarang.


Perkiraan mereka ternyata terbukti. Begitu melihat dua bayangan meluncur, empat Pendekar Dewa segera mengejarnya tanpa memikirkan apapun.


Masalah siapa dua bayangan tadi, mereka tidak peduli. Tapi keempatnya sangat yakin bahwa dua bayangan itulah orang yang sudah membunuh rekan mereka.


Empat bayangan melesat tidak kalah cepat. Hanya dalam sekejap mata, mereka telah berhenti di satu tempat.


Chen Li dan Huang Taiji sudah berada di pinggir sungai. Suara air mengalir terdengar menenangkan jiwa. Suara gemericik air terjun membuat perasaan melayang.


Burung-burung bernyanyi. Keadaan di sana sangat cocok untuk menikmati keindahan alam.


Tapi keduanya bukan untuk menikmati segala yang ada. Melainkan mereka datang ke sana untuk menunggu para pendekar lalu membunuhnya.

__ADS_1


Tidak lama, empat pendekar telah tiba di sana. Semuanya merasa sangat kaget saat melihat bahwa salah satu dari bayangan tadi adalah seorang anak kemarin sore.


Bermimpi pun rasanya belum pernah, jika hari ini mereka akan bertemu dengan bocah sepertinya.


"Apakah kalian yang membunuh rekan-rekanku?" tanya salah seorang Pendekar Dewa.


Entah kepada siapa dia bertanya. Kepada rumput kah? Kepada burung yang berkicau nyaring kau?


"Benar, kami yang sudah membunuh rekan-rekan kalian. Mereka sungguh tidak berguna, jadi rasanya lebih baik mati saja," jawab Chen Li sambil tersenyum sinis.


Mendengar jawaban si bocah kecil, keempat Pendekar Dewa itu langsung naik darah. Aura pembunuhan keluar semakin kental. Mata mereka mencorong tajam saat menatap Chen Li.


"Bagus. Nyali kalian ternyata memang sangat patut dipuji. Aku juga memujinya. Hanya saja, aku ke sini bukan untuk memuji," katanya dengan suara menahan amarah.


"Lantas untuk apa? Apakah kau juga tidak berguna sehingga akan menyerahkan nyawamu seperti rekan-rekanmu sebelumnya?" kata Chen Li semakin mengejek.


Merah padam empat pendekar tersebut. Seumur hidup, baru kali ini mereka diperlakukan sedemikian buruk. Oleh seorang anak kecil pula. Rasanya kalau Chen Li tidak mati, hidup mereka tidak akan tenang.


"Aku datang kesini untuk mencabut nyawamu dan merobek mulut busukmu,"


Pendekar tersebut langsung bergerak setelah berkata demikian. Tubuhnya meluncur ke depan. Serangan yang dilancarkan pertama berupa pukulan keras yang dipenuhi dengan tenaga dalam.


Benturan tenaga dalam keras dengan keras terjadi. Pendekar tadi terpental tiga langkah ke belakang. Telapak tangannya terasa sangat perih dan kesemutan.


Dia terdorong tiga langkah ke belakang. Sedangkan Chen Li masih saja berdiri dengan tenang di posisinya semula. Tidak bergeser sedikitpun.


"Waktuku tidak banyak. Kalau memang ingin menyerahkan nyawa, serahkan dengan segera,"


Suaranya berubah bengis dan dingin. Bicaranya penuh ancaman. Aura pembunuhan yang terasa semakin kental. Kekuatan misterius dan mengerikan mulai dirasakan oleh keempat Pendekar Dewa tersebut.


Mata Dewa Unsur Bumi sudah keluar.


Chen Li memilih untuk menyerang lebih dulu. Sebuah hantaman dahsyat dia lancarkan ke pendekar yang baru saja menyerang dirinya. Benturan kembali terjadi, hasilnya masih sama seperti sebelumnya.


Pendekar tersebut merasa sangat marah karena saking malunya. Dia mengeluarkan pedang kembali lalu menyerang Chen Li dengan kalap.

__ADS_1


Berbarengan dengan dirinya bergerak, Huang Taiji juga tidak tinggal diam. Dia turut turun tangan ke medan pertarungan. Kedua tangannya segera melancarkan dua serangan jarak jauh lalu disusul kemudian dengan serangan jarak dekat.


Pertarungan di pinggir sungai ini tidak dapat dihindari lagi. Chen Li melawan seorang Pendekar Dewa tahap dua pertengahan. Sedangkan Huang Taiji melawan tiga rekannya.


Walaupun baru berjalan sebentar, tapi pertarungan mereka amat seru. Bocah kecil itu sudah mengeluarkan Pedang Awan miliknya.


Sinar biru berkelebat di tengah hujan serangan lawan. Ke mana pedang lawan bergerak, ke sana juga dia akan menangkis.


Gerakannya lebih cepat daripada lawan. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri untuknya agar bisa meraih kemenangan.


"Pedang Awan Menyapu Badai …"


"Wushh …"


Gaya serangan Chen Li berubah. Pedangnya bergerak semakin cepat seperti sedang menyapu. Kadang-kadang tubuhnya berputar sambil terus melancarkan berbagai macam serangan.


Tusukan dan sabetan yang dahsyat sudah menggempur lawan. Pertarungan mereka baru berjalan dua puluh jurus, namun posisi Chen Li masih unggul di atas lawannya.


"Trangg …"


Di tengah dahsyatnya pertarungan tersebut, pedang mereka beradu sehingga menimbulkan bunga api yang indah melayang ke udara lalu lenyap tanpa jejak.


Pertarungan Pendekar Pedang Tombak jauh lebih hebat lagi. Walaupun dia tidak memakai senjata pusaka, tapi toh semua serangan lawannya berhasil dia hindari dengan sangat mudah


Bahkan sejauh mereka bertarung, belum ada satupun serangan yang mampu mengancam dirinya. Justru sebaliknya, di tengah hujan tiga serangan lawan, Huang Taiji selalu memanfaatkan kecepatan untuk meraih tangan lawan lalu dibenturkan dengan serangan rekannya sendiri.


Sehingga hal tersebut menyebabkan serangan tiga pendekar itu justru malah ditangkis oleh rekannya sendiri.


Amarah tiga pendekar semakin memuncak. Baru kali ini mereka dipermainkan dalam sebuah pertarungan.


"Mampus kau …"


"Wushh …"


Sabetan pedang memancar berkilat di bawah tempaan sinar matahari yang mulai meninggi.

__ADS_1


Gerakan tersebut dilakukan sangat cepat, sehingga tidak ada waktu bagi Huang Taiji untuk menghindar.


Namun dia bukan sembarangan pendekar, kakinya menjejak ke tanah lalu tubuhnya mencelat ke atas sambil berputar.


__ADS_2