Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rencana Pendekar Pedang Tombak


__ADS_3

PTiga minggu sudah berlalu …


Sementara di tempat lain, dua orang bocah terlihat sedang beristirahat di bawah pohon sakura yang rindang. Bau harum semerbak tercium karena hembusan angin yang sepoi-sepoi.


Kedua pakaian bocah tersebut telah basah seluruhnya oleh keringat. Peluh sebesar biji jagung jatuh setetes demi setetes. Namun walaupun begitu, keduanya tampak tidak kelelahan. Justru mereka bercanda gembira.


Tak seberapa jauh dari dua bocah itu, ada seorang pria yang sudah cukup tua. Wajahnya terlihat ramah namun gagah. Siapapun pasti akan segan kepadanya. Pakaiannya serba putih. Di punggungnya tersoren sebuah benda yang dibungkus dengan kain berwarna putih.


Di saat seperti itu, mendadak si bocah pria mengelap keringat yang hampir jatuh ke matanya. Dia lantas bangkit berdiri lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


Suasana saat itu sangat panas sekali. Matahari bersinar terang tanpa tertutup awan sedikitpun. Langit nampak biri cerah mendatangkan kesan keindahan di balik rasa panas.


"Kakak Kiam, apakah kau sudah siap untuk berlatih lagi?" tanya si bocah pria penuh kehangatan.


"Aii, nanti dulu Tuan Muda. Aku merasa sangat lelah sekali. Hari ini panasnya melebihi hari-hari sebelumnya." jawab ai bocah wanita.


Keduanya memang anak-anak yang luar biasa. Yang satu bernama Chen Li, anak tunggal dari Pendekar Halilintar sekaligus Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar. Sedangkan yang satu lagi merupakan cucu dari seorang tokoh aliran hitam kenamaan, Kakek Tua Jubah Hitam.


Dialah Eng Kiam. Si gadis manis yang keras kepala.


Sebenarnya kedua bocah tersebut sedang melakukan istirahat setelah merasa lelah seharian berlatih bersama.


Sedangkan orang yang berpakaian putih tadi, tak lain dialah si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Seorang tokoh pendekar yang namanya sudah terkenal ke mana-mana.


Setiap hari semenjak kepergian Shin Shui, orang tersebut tidak berhenti untuk mengawasi serta mengajarkan beberapa jurus kepada keduanya.


Bahkan lebih daripada hal itu, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding sempat juga mengajarkan beberapa jurus senjata kepada dua bocah tersebut.


Khususnya kepada Chen Li. Sebagai anak dari saudara angkatnya, tentu dia harus menggembleng habis bocah tersebut. Kalau tidak begitu, bisa-bisa dia yang habis oleh Shin Shui. Apalagi sebelumnya dia sendiri pernah berjanji akan menurunkan jurus hebat kepada anaknya.


"Li'er, Kiam'er, mulai latihan kembali. Jangan sampai saat Pendekar Halilintar pulang kalian masih begini-begini saja," tegas Pendekar Pedang Tombak.


Kalau sedang berlatih seperti ini, orang itu memang akan berubah menjadi tegas. Sangat tegas malah. Entah sudah berapa kali Chen Li terkena hukuman karena tidak menuruti perkataannya.

__ADS_1


"Baik Paman …"


"Baik Tuan …"


Kedua bocah tersebut serentak bangun berdiri. Mereka menghampiri si Pendekar Pedang Tombak lalu berdiri berhadapan.


"Nah, sekarang coba kalian berlatih tanding dengan jurus yang baru saja aku ajarkan,"


Keduanya mengangguk.


Pendekar Pedang Tombak melompat ke belakang untuk memperhatikan hasil latihan kedua 'muridnya' tersebut.


"Mulai …"


Begitu kata tersebut terdengar, dua bocah itu langsung menerjang secara bersamaan.


Mereka berlatih dengan pedang kayu. Namun walaupun begitu, tetap saja kecepatannya terbilang mengerikan untuk bocah sepantaran mereka.


Eng Kiam menyabetkan pedangnya mengarah ke pinggang. Kaki kirinya menendang pula ke arah leher. Gerakan yang dilakukan sangat cepat.


Secepat Eng Kiam menyerang, secepat itu pula Chen Li menangkis.


"Trakk …"


Dua batang pedang kayu berbenturan. Keduanya beradu tenaga untuk beberapa saat.


Chen Li mendorong Eng Kiam lalu melancarkan serangan pedang beruntun. Sabetan pedangnya semakin cepat saat melihat semua serangannya gagal.


Tusukkan berbahaya dia lancarkan tiada hentinya. Eng Kiam menangkis sebisa mungkin. Walaupun terlihat kewalahan, nyatanya gadis kecil itu masih sanggup untuk bertahan beberapa waktu.


Kalau misalkan berada di pertarungan sesungguhnya, sudah pasti Eng Kiam kalah telak dengan Chen Li yang sekarang. Untung saja kali ini hanya latihan tanding, sehingga keduanya tidak mengeluarkan tenaga dalam kecuali sedikit.


Dua bocah tersebut terus beradu kecepatan dan ketangkasan di bawah panasnya terik matahari. Keduanya terlihat sangat bersemangat meskipun keringat sudah membanjiri tubuh.

__ADS_1


Pendekar Pedang Tombak masih berdiri di pinggir dengan kedua tangan melipat dada. Dia tersenyum puas karena ternyata dua bocah itu memiliki bakat yang luar biasa hebat.


Jarang ada yang bisa menandingi bakat keduanya saat ini. Sekali melihat bagaimana dirinya mengajarkan jurus, maka saat itu pula kedua bocah itu mampu menghapalnya.


"Cukup!!" teriaknya lalu melompat ke arena latih tanding.


"Latiha hari ini selesai, sekarang kita beristirahat," ujarnya lalu mengajak Chen Li dan Eng Kiam berteduh di bawah pohon sakura.


Mereka sempat membahas hasil latihan hari ini. Bicara di mana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing keduanya. Pendekar Pedang Tombak menerangkan dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang.


Hal ini bertujuan supaya kedua bocah itu lebih cepat tanggap dan mengerti. Karena bagaimanapun juga, mereka hanyalah anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti.


"Tuan, aku izin undur diri lebih dulu. Rasanya gerah sekali," kata Eng Kiam secara tiba-tiba ingin beranjak pergi dari sana.


Karena latihannya sudah selesai, maka dia tidak menjadi permasalahan. "Baiklah, biar kami berteduh dulu di sini," jawab Pendekar Pedang Tombak.


Setelah Eng Kiam pergi, keduanya kembali berbicara lagi. Namun kali ini lebih serius daripada sebelumnya


"Li'er, nanti malam kita akan pergi ke hutan Bukit Awan,"


"Untuk apa Paman?"


"Paman ingin memberikan tenaga dalam kepadamu supaya lebih cepat naik tingkatan. Selain itu, Paman juga akan memberikanmu sumber daya pemberian ayahmu dan metode latihannya supaya kau mendapatkan hasil yang maksimal. Saat ini kekuatanmu sudah lumayan, tinggal beberapa tingkatan lagi kau akan mencapai tahap yang terbilang tinggi. Di dunia sekarang ini, mungkin hanya kau yang sudah mencapai tingkatan setinggi ini dalam umur dua belas tahun,"


"Baiklah. Apa kata Paman, Li'er akan menurutinya,"


"Bagus. Paman akan menjemputmu tengah malam nanti, selain itu, nanti Paman juga akan mencoba kekuatan terpendam dalam dirimu. Paman akan mencoba mengeluarkannya supaya kau bisa mengendalikan kekuatan itu. Kalau tidak dilatih sejak sekarang, rasanya tidak ada waktu lagi. Ayahmu sendiri tidak bisa mengendalikan kekuatan mengerikan dalam tubuhmu. Untuk sekarang, mungkin hanya Paman saja yang dapat membantumu melakukannya,"


Chen Li kebingungan. Dia masih belum mengerti tentang kekuatan apa yang dimaksudkan oleh pamannya itu. Namun setelah dia berpikir sejenak, akhirnya bocah tersebut segera paham.


"Apakah yang Paman katakan kekuatan mengerikan adalah Mata Dewa?" tanya karena semakin merasa penasaran.


"Cerdas. Paman akan berusaha supaya kau mengeluarkan mata itu. Lalu paman akan membantumu untuk mengendalikannya, walaupun tidak semua bisa langsung kau kendalikan, tapi jika ada satu yang berhasil, maka tingkat pelatihan dan kekuatanmu akan meningkat dengan tajam," kata

__ADS_1


"Baik Paman, Li'er paham,"


"Bagus. Sekarang pulanglah, tengah malam nanti, Paman akan menjemputmu,"


__ADS_2