
Entah sudah berapa lama bocah itu duduk seorang diri. Yang jelas, sekarang matahari sudah meninggi. Wajah Chen Li memerah akibat terlalu banyak minum arak.
Namun meskipun begitu, dia masih dalam keadaan sadar sepenuhnya. Pikirannya masih normal, semuanya juga normal.
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Perasaan merasa ngantuk. Entah bagaimana, sesaat kemudian, dia sudah tertidur dengan pulas.
Bocah itu telah menyatu dengan mimpi-mimpinya.
Secara tiba-tiba, Chen Li bermimpi bertemu dengan seorang tokoh tua yang memakai pakaian serba hijau. Usianya sudah sangat tua. Tapi kegagahan masih terlihat dengan jelas dalam dirinya.
Orang tua itu duduk di atas sebuah batu hitam di pinggir air terjun yang sangat indah. Sedangkan Chen Li berdiri beberapa langkah di depan si tokoh tua tersebut.
Angin dingin menerpa tubuh. Bau harum bunga bwee meresap menusuk ke dalam hidung.
Si orang tua serba hijau itu memberikan senyuman hangat kepada Chen Li. Dia melambaikan tangannya kepada bocah tersebut agar dia mendekat.
Tanpa disuruh kembali, Chen Li langsung mengerti. Dia kemudian segera menghampiri orang tua tersebut.
"Kau anak dari Pendekar Halilintar?" tanya si orang tua tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Benar, siapakah Tuan sebenarnya?"
"Aku Yashou, Pendekar Belalang Sembah. Pemilik dari Bukit Awan," jawabnya santai.
Orang tua itu memang Yashou si Pendekar Belalang Sembah. Dia sengaja datang ke dalam mimpi, khusus untuk menemui Chen Li.
"Aii, bukankah kata Ayah, Kakek Yashou ini sudah meninggal beberapa tahun lalu?"
"Benar,"
"Kalau begitu, kenapa sekarang Kakek bisa menemuiku?"
"Kau tidak akan mengerti. Yang jelas, aku datang khusus untuk menemui dirimu Li'er,"
Chen Li mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti alasan apa Yashou ingin menemui dirinya.
__ADS_1
"Memangnya, petunjuk apa yang ingin Kakek katakan kepadaku?" tanya Chen Li lebih lanjut lagi.
Yashou turun dari batu hitam yang dia duduki sejak tadi. Setelah itu, dia langsung berjalan mendekat ke arah Chen Li.
"Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Kau boleh bersedih, tapi kau tidak boleh berlarut dalam kesedihan itu. Kuatkan hatimu, kuatkan tekadmu. Buktikan kepada dunia bahwa kau mampu mewujudkan harapan mereka semua. Tunjukkan kepada langit bumi bahwa anak dari Pendekar Halilintar sanggup mewujudkan mimpi semua umat manusia yang ingin menciptakan perdamaian,"
"Untuk beberapa tahun ke depan, di sinilah tempat tinggalmu,"
Chen Li terkejut mendengar ucapan itu. Dia harus tinggal di tempat yang bahkan tidak ada manusia lain kecuali dirinya dan Huang Taiji, bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah setiap manusia harus hidup berdampingan dengan manusia lainnya? Kalau dia tinggal di tempat tersebut, lantas dengan siapa dia akan berdampingan?
"Apa? Kenapa harus seperti itu? Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa ada manusia lainnya? Tempat ini memang tenang, tapi tidak cocok jika sebagai tempat tinggal dalam waktu yang lama," ucap Chen Li protes karena merasa tidak terima.
"Aku paham. Tapi kau tetap harus tinggal di sini," tegas Yashou.
Chen Li semakin penasaran. Dia kemudian bertanya terkait alasan kenapa dirinya harus tinggal di tempat yang sangat sepi tersebut.
"Alasan kenapa kau harus tinggal di sini karena dirimu harus melakukan latihan. Kau harus meningkatkan kemampuanmu hingga ke titik tertinggi dalam ilmu silat. Kau harus mencapai puncak kesempurnaan. Kau juga harus menjadi pendekar tanpa tanding di tiga Kekaisaran besar," kata Yashou si Pendekar Belalang Sembah.
Yashou terus bicara memberikan nasihat kepada Chen Li. Dia juga memberi arahan hal apa saja yang harus dilakukan oleh bocah itu ke depannya.
"Siapa yang akan menjadi guruku?"
"Kalau begitu terimakasih Kek, Li'er akan mendengarkan semua nasihat Kakek. Sekali lagi terimakasih," kata Chen Li sambil memberikan hormatnya.
Yashou tersenyum lembut. Dia menyukai bocah itu yang ternyata mempunyai etika dan sopan santun tinggi.
"Kau sangat mirip seperti Ayahmu waktu muda," tukas Yashou tertawa simpul sambil mengenang masa lalu saat dia masih hidup.
"Kakek bisa saja," jawab Chen Li tertawa pula.
"Aku bicara yang sebenarnya. Dulu, Ayahmu juga seperti ini. Dia sangat sopan kepada para seniornya, tapi dia sangat kejam kepada musuh-musuhnya,"
"Benarkah?"
"Tentu saja,"
__ADS_1
Chen Li tertawa. Tapi tawanya terdengar lain dari biasanya. Di balik suara tawa itu ada sebuah kepedihan yang sulit untuk dikatakan. Mendengar Yashou membicarakan Shin Shui, bocah itu langsung teringat kepadanya.
Di manakah dia sekarang? Benarkah dia masih hidup? Benarkah dia akan bertemu dengan ayahnya kembali?
Melihat ekspresi Chen Li yang mendadak berubah, Yashou langsung berhenti membahas tentang Shin Shui. Sekalipun bocah itu tidak berterus terang tentang kesedihannya, tapi sebagai orang tua yang kenyang akan pengalaman, dia sudah tentu dapat melihat semuanya.
"Li'er, kau adalah bocah istimewa yang ditunjuk oleh langit untuk menanggung beban seluruh umat manusia di muka bumi. Tanggungjawabmu sangat besar, karena itulah, kau harus berlatih keras. Kau harus selalu ingat tentang kenyataan ini, lupakan kesedihanmu, fokus kepada tanggungjawabmu," kata Yashou kepada bocah kecil itu.
Chen Li mengangguk tanda mengerti. Setelah merenung dan mendapat pencerahan dari Pendekar Belalang sembah, akhirnya bocah itu mengerti.
Dia sudah tidak terlalu bersedih. Chen Li tidak murung lagi. Dia telah kembali menjadi Chen Li yang sebelumnya. Sekarang bocah itu sadar bahwa semuanya sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelum manusia dilahirkan ke dunia.
"Terimakasih atas semua nasihat Kakek Yashou. Sekarang Li'er mengerti semuanya. Li'er berjanji, Li'er tidak akan mengecewakan semuanya," jawab Chen Li dengan tegas dan mantap.
"Bagus. Aku senang kau sudah kembali menjadi seperti semula, kalau begitu, sekarang juga aku akan pergi," ucap Yashou.
"Baik Kek, sekali lagi terimakasih,"
Yashou tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia langsung menghilang dari pandangan mata. Keadaan di sana juga mendadak gelap.
Chen Li mendadak terbangun dari tidurnya. Tepat pada saat itu, Huang Taiji juga sudah berada di sampingnya kembali.
Orang tua itu memperhatikannya sambil tersenyum. Senyuman hangat. Senyuman penuh kasih sayang. Seperti seorang ayah kepada anaknya sendiri.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya.
"Sudah Paman. Li'er sudah menyadari semuanya,"
"Bagus. Kalau begitu Paman juga ikut bahagia. Sekarang, kita akan tinggal di sini untuk beberapa tahun ke depan,"
"Baik Paman. Li'er siap mengikuti ke mana pun Paman pergi. Li'er juga siap mendengarkan semua ucapan Paman,"
"Itu baru Li'er keponakan Huang Taiji … hahaha,"
Keduanya tertawa gembira. Kesedihan yang sebelumnya terasa, sekarang telah hilang entah ke mana.
__ADS_1
"Makanlah buah-buahan ini, Paman sengaja mencarinya untukmu. Ini adalah buah-buahan yang langka, jika kau memakan buah-buahan ini, maka luka-lukamu pasti akan cepat sembuh,"
Chen Li mengangguk. Dia langsung menyambar semua buah-buahan yang ada di hadapannya saat ini.