
Sekte Tangan Dewa Kegelapan. Sekte ini sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja selama ini, Sekte Tangan Dewa Kegelapan lebih memilih untuk menutup diri dari dunia luar.
Konon katanya mereka sedang mempersiapkan kekuatan untuk persiapan jika muncul kembali di dunia persilatan. Dan hal itu sepertinya memang bukan kabar kosong.
Setelah puluhan tahun menutup diri, enam tahun belakangan, sekte tersebut benar-benar muncul dan tidak lama langsung dinobatkan sebagai sekte aliran hitam terbesar kedua setelah Sekte Seribu Iblis.
Dengan jumlah murid sekitar dua ribu lima ratusan, sekte ini berhasil mempunyai kekuasaan yang cukup luas. Bahkan kepala tetuanya sendiri termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang terkuat di Kekaisaran Wei.
Sudah sejak lama tersiar kabar bahwa Sekte Tangan Dewa Kegelapan mempunyai banyak sekali murid berbakat. Hal itu dibuktikan dengan beredarnya berita di wilayah tertentu yang diakibatkan oleh ulah murid mereka.
Namun katanya, beberapa waktu lalu, Sekte Tangan Dewa Kegelapan telah berpindah haluan menjadi aliran merdeka atau sebagai sekte yang berdiri di antara aliran hitam dan putih.
Kabar tersebut tersiar setelah beberapa kali anggota mereka membantu pemerintah dalam upaya membasmi para penjajah dari Kekaisaran tetangga.
Bahkan tidak jarang juga meraka mengulurkan bantuan kepada para warga yang ada di sekitarnya. Entah itu menyumbangkan kepingan emas, bahan makanan, atau bahkan tenaga.
Semua kebiasaan kriminal, hampir semua sudah mereka hentikan. Kecuali hanya perampokan saja yang tidak dihentikan.
Meraka masih merampok hingga sekarang. Hanya saja, hasilnya akan dibagikan kepada para warga yang membutuhkan bantuan.
Sasaran rampokan mereka biasanya harta para penjajah asing. Atau juga harta dari para pejabat pribumi yang menjalankan tugas tidak sesuai ketentuannya.
Di depan sana sekitar jarak lima puluh tombak, berdiri sebuah bangunan yang megah dan luas. Kemewahan bangunan itu sudah terlihat dari jarak sekian jauhnya.
Chen Li dan Huang Taiji sudah tiba di dekat Sekte Tangan Dewa Kegelapan pagi hari tadi. Keduanya merasa sangat takjub saat menyaksikan bangunan yang berdiri di pinggir hutan tersebut.
Pada zaman ini, pada umumnya sebuah sekte memang akan berdiri di pinggir hutan, bukit, atau gunung. Hal ini disebabkan supaya tidak mengganggu para warga biasa.
Sebab walaupun hampir sama, namun kehidupan dunia persilatan dan kehidupan warga biasa, terdapat sebuah jarak yang memisahkan keduanya.
Chen Li dan Huang Taiji berjalan dengan santai di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang. Suara teriakan para pedagang terdengar dari sisi kanan dan kiri.
Terlihat di sepanjang jalan, ada beberapa orang yang memakai seragam sama. Walaupun tidak bertanya, tapi Chen Li sudah dapat mengetahui bahwa mereka adalah murid-murid Sekte Tangan Dewa Kegelapan yang ditugaskan untuk pengamanan di sana.
__ADS_1
Para tentara pemerintah berbaris di setiap sudut kota.
Kehidupan di sini cukup makmur, jarang sekali terlihat ada rakyat miskin. Kecuali hanya sedikit.
Dua orang tersebut terus berjalan mempercepat langkah mereka. Menjelang hampir siang hari, keduanya sudah tiba di depan pintu gerbang utama Sekte Tangan Dewa Kegelapan.
Dua orang murid penjaga terlihat berdiri tegak seperti tombak. Mereka memakai seragam pakaian berwarna hitam pekat. Tatapan mereka mencorong tajam.
Sebelum dua orang tamu itu menyapa, seorang murid telah menyapa lebih dulu.
"Apakah Tuan bernama Huang Taiji dari Sekte Bukit Halilintar? Dan apakah ini adalah Tuan muda Chen Li, anak dari Pendekar Halilintar?" tanya salah satu penjaga dengan ramah dan penuh kesopanan.
"Benar, bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Huang Taiji dengan ramah pula.
"Kedatangan Tuan sudah terdengar oleh murid sekte. Sehingga mereka melaporkan hal ini kepada kepala tetua, silahkan masuk. Beliau sudah menunggu di dalam,"
"Terimakasih,"
Keduanya segera melangkahkan kakinya. Dua orang murid lain segera menjemput kedatangan dua tamu tersebut. Para murid segera memberikan hormat.
"Terimakasih. Semoga kalian panjang umur," ujar Huang Taiji sambil tersenyum.
Keduanya segera di bawa masuk ke sebuah ruangan besar yang dikhususkan untuk menerima tamu istimewa.
Jelas, Chen Li dan Huang Taiji dianggap sebagai tamu istimewa. Apalagi mereka berasal dari sekte terbesar.
Di ruangan tersebut sudah ada belasan orang yang menunggu kedatangan mereka. Pakaiannya hampir sama. Hanya seorang yang berbeda. Dia memakai pakaian hitam, tapi ada corak merah di beberapa bagian bajunya. Orang itu memakai jubah merah darah.
Rambutnya disanggul sebagian, sebagian lagi dibiarkan terurai. Usianya sudah sekitar tujuh puluhan tahun. Tatapan matanya kalem tapi sangat tajam.
Dialah Kepala Tetua Sekte Tangan Dewa Kegelapan. Fang Han, atau yang biasa disebut Raja Neraka Tanpa Ampun.
"Selamat datang," kata para petinggi sekte secara bersamaan.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Huang Taiji.
"Silahkan duduk Tuan Huang. Aii, sungguh suatu kehormatan bagi sekte kami bisa didatangi dua tamu agung seperti kalian," kata Fang Hang sambil tersenyum hangat.
"Tuan Fang terlalu berlebihan. Aku merasa belum pantas menerima pujian ini," jawab Huang Taiji lalu duduk di kursi yang telah disediakan.
Seorang pelayan menuangkan arak ke cawan yang sudah tersedia di sana. Tidak lupa pula beberapa hidangan lain sebagai cemilan.
"Angin apakah yang membawa Tuan Huang hingga tiba kemari?" tanya orang tua itu.
"Aii, Tuan Fang terlalu sungkan. Aku rasa Tuan sudah tahu maksud kedatanganku kemari. Terlebih lagi, sudah jauh-jauh hari Tuan mendengar berita tentang kami berdua. Sungguh, aku salut dengan kinerja murid Tuan yang ahli dalam mencari informasi," katanya memuji dengan tulus.
"Hahaha, ini hanya sebuah kebetulan saja. Tidak perlu hingga memuji berlebihan seperti itu,"
Mereka tertawa bersama. Masing-masing dari orang tersebut menaruh hormat satu sama lain yang sukar untuk dijelaskan. Para petinggi itu bersulang untuk minum arak.
Chen Li juga minum. Sudah pasti dia tidak ingin ketinggalan.
"Ternyata Tuan muda sudah minum arak juga," ujar Fang Han sambil tertawa.
"Aku hanya berani mencoba sedikit Tuan. Kalau harus banyak, masih belum berani," jawab bocah itu tertawa pula.
Arak sudah diminum, hidangan sudah dicicipi. Maka obrolan pun akan mulai lebih serius lagi.
"Agar lebih jelas lagi, ini, aku berikan surat yang ditujukan khusus dari Kepala Tetua Shin Shui," kata Huang Taiji sambil menyerahkan surat itu.
Fang Han segera menerimanya. Surat tersebut lalu mulai dibaca olehnya. Saat membaca surat, keningnya tampak beberapa kali berkerut. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan dia seperti itu.
"Aii, sungguh tidak aku sangka bahwa hal ini akan bertambah besar. Aku kira kabar yang terdengar hanya isapan jempol, tak tahunya memang benar seperti itu," kata pria tua itu beberapa kali menghela nafas.
"Coba bacakan," lanjutnya menyuruh seorang tetua untuk membaca surat tersebut.
"Tuan Fang yang terhormat. Aku Shin Shui, ingin meminta uluran tangan Tuan Fang. Kekaisaran Wei sudah terancam, kita berada di ujung tanduk. Musuh sudah masuk hingga ke pelosok seluruh negeri. Mereka seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Aku mohon partisipasi Tuan Fang dalam hal ini. Tolong kirimkan murid-murid Sekte Tangan Dewa Kegelapan ke setiap pelosok. Kalau Tuan Fang bisa melaksanakan permintaanku ini, aku sangat berterimakasih sekali. Suatu saat, kebaikan ini pasti akan kubalas,"
__ADS_1
"*Shin Shui* …"