
Waktu terus berjalan. Jika kau menunggu waktu, niscaya waktu itu terasa berjalan dengan sangat lambat sekali. Namun jika kau tidak menunggunya, maka waktu akan terasa berjalan dengan sangat cepat.
Di dunia ini, dari dulu hingga sekarang, belum ada satu pun orang yang dapat menghentikan sang waktu. Waktu akan terus berjalan, karena jika waktu berhenti, itu artinya kehidupan di muka bumi juga akan berakhir.
Yang paling menakutkan di dunia ini, selain kematian, adalah waktu. Apapun itu, tidak akan sanggup untuk menghentikan sang waktu. Waktu bisa menjadi segalanya, dan segalanya bisa menjadi waktu. Segalanya juga ditentukan oleh waktu.
Karena itulah bagi sebagian orang, waktu justru lebih mengerikan dari pada kematian. Karena waktu, berbagai macam hal bisa terjadi. Karena waktu, hal yang tidak diinginkan bisa menjadi kenyataan.
Satu tahun lebih sudah berlalu. Keadaan di Kekaisaran Wei saat ini benar-benar gawat sekali. Bahkan jauh lebih gawat dari pada jauh-jauh hari sebelumnya.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam, bahkan setiap saat, pertarungan besar selalu terjadi. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan nyawa manusia melayang dengan percuma.
Untuk saat ini, nyawa manusia bahkan tidak jauh lebih berharga dari pada nyawa binatang. Setiap saat selalu ada nyawa yang keluar dari raganya.
Anak-anak menjadi korban. Mereka seharusnya dapat menikmati keindahan masa kecil. Sayangnya, hal tersebut hanya sebuah impian belaka. Kebahagiaan yang mereka bayangkan, justru berubah menjadi kesengsaraan. Kegembiraan berubah menjadi kesedihan. Impian indah berubah menjadi impian paling buruk dari yang terburuk.
Setiap hari bau amis darah selalu menyelimuti bumi. Setiap saat raungan kematian dan teriakan kesedihan dari keluarga korban, terdengar menggetarkan hati.
Bumi banjir darah. Langit meneteskan air matanya. Alam semesta merintih melihat tingkah laku manusia yang sangat senang dalam hal bunuh membunuh.
Apakah manusia selalu seperti ini? Apakah manusia diciptakan hanya untuk bunuh membunuh saja? Sampai kapan hal seperti ini akan terus terjadi? Apakah hingga dunia berakhir, pembunuhan akan selalu terjadi?
Tidak ada yang mampu menjawab semua pertanyaan di atas. Yang mampu menjawabnya hanya manusia-manusia itu sendiri. Jika manusia sudah sadar akan hakikat kehidupan, maka hal di atas bisa berhenti. Tetapi jika manusia tidak pernah sadar, maka hal di atas tidak akan pernah berhenti.
Waktu menunjukkan siang hari. Udara sangat panas sekali. Seperti panasnya api neraka, seperti juga panasnya api dendam amarah yang ada dalam diri setiap manusia.
Di sebelah Barat Kekaisaran Wei, perang sedang terjadi. Ratusan pasukan Kekaisaran Wei bersama para murid dari berbagai macam aliran serta berbagai macam sekte sedang bertempur habis-habisan.
Teriakan kematian terdengar ke seluruh jagat raya. Berbagai macam jurus dahsyat menyelimuti bumi dan seisinya. Dua Kekaisaran besar bergabung menjadi satu untuk menghancurkan Kekaisaran Wei.
Para tokoh kelas atas dunia persilatan dari masing-masing Kekaisaran diterjunkan ke medan perang untuk membabat habis musuh-musuhnya. Dalam keadaan seperti ini, tidak peduli itu siapa, mau teman, mau kawan, mau sahabat, keluarga, semuanya di babat habis.
Yang penting tujuan utama dapat tercapai sesegera mungkin. Masalah bagaimana cara melakukannya, hal itu bukanlah sesuatu yang penting. Jangankan cara licik, cara sadis sekalipun akan dilakukan demi tujuannya terwujud.
__ADS_1
Menyangkut kekuasaan, mengorbankan nyawa prajurit ataupun nyawa rakyat, hal itu bukanlah hal yang aneh. Malah sudah menjadi hal lumrah.
Langit tampak kelam. Sinar matahari menyorot ke bumi membawa semacam rasa marah. Rasa kesal. Rasa kecewa. Jika alam semesta dan seisinya dapat bicara seperti manusia pada umumnya, mungkin mereka juga akan bicara.
Untuk apa kalian berlaku bodoh? Kenapa kalian saling bunuh membunuh tanpa belas kasihan? Apakah kalian berpikir akan hidup selamanya? Apakah kalian berpikir bahwa kekuasaan ini bisa terbawa sampai mati? Ternyata manusia lebih kejam dari pada binatang dan lebih sadis serta menakutkan dari pada iblis.
Perang kali ini benar-benar sebuah perang besar yang mengguncangkan alam semesta. Kabar ini telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Di sebelah Timur, sebelah Selatan, Utara, semuanya mengalami hal yang sama. Setiap hari hanya ada satu kegiatan pasti. Perang, perang, dan perang lagi.
Nyawa manusia terus melayang silih berganti. Jika hari ini yang menjadi korban keluargaku, mungkin besok keluargamu. Jika hari ini sahabatku, mungkin besok sahabatmu. Bahkan jika sekarang aku, mungkin besok kau yang akan menjadi korban selanjutnya.
Keadaan dunia persilatan Kekaisaran Wei saat ini benar-benar mengalami bencana yang sangat-sangat hebat. Kehancuran di mana-mana, puluhan atau bahkan ratusan bangunan hancur luluh lantak menyatu dengan tanah.
Semuanya rata. Semuanya habis.
Selain perang, adakah sesuatu yang lebih mengerikan di dunia ini?
Angin yang membawa hawa kematian berhembus lirih menerpa satu sosok tubuh. Pria itu mash terbilang muda. Jubahnya berkibar sangat megah, rambutnya juga tertiup angin sehingga ikut berkibar.
Perang yang terjadi di depannya hampir berakhir. Pihak musuh berhasil menguasai medan pertempuran. Sedangkan pihak Kekaisaran Wei lebih dari separuhnya telah meregang nyawa.
"Demi kekuasaan, manusia rela mengorbankan rekannya sendiri. Demi kekuasaan, manusia bahkan tidak memikirkan nyawanya sendiri," gumam orang tersebut.
Orang itu terbang melayang turun ke bumi. Dia mendarat tepat di tengah orang-orang tersebut. Secara tiba-tiba, orang itu melantunkan sebuah syair yang menggetarkan hati setiap jiwa yang ada di sana.
"Oh Dewa …
Lihatlah ulah para manusia
Mereka bertarung dengan sesama
Tanpa memikirkan akibat dari ulahnya
__ADS_1
Nyawa manusia sudah tidak berharga
Bau amis darah ini, menjadi saksi bisu
Akankah kau tenang melihat semua ini?
Untuk apa Tuhan menciptakan manusia jika harus saling bunuh?
Apakah ini sudah takdir mutlak? Atau takdir yang ditentukan oleh manusia sendiri?
Bumi hancur
Langit berguncang
Semua itu ulah manusia
Bencana yang datang, juga akibat manusia
Tapi masing-masing dari mereka tidak ada yang sadar
Para manusia justru saling menyalahkan
Ujung-ujungnya menyalahkan Tuhan
Padahal, bencana yang menimpa terjadi karena ulahnya."
Selama orang tersebut membaca syair di atas, waktu seolah berhenti saat itu juga. Perang besar berhenti. Suara nyaring beradunya senjata tajam juga berhenti.
Prajurit dari masing-masing Kekaisaran seakan berubah menjadi patung. Tidak ada yang bergerak sama sekali. Bahkan untuk bernafas pun rasanya tidak.
Sesaat kemudian, jeritan kesakitan terdengar melengking sangat tinggi. Darah menyembur dari masing-masing mulut prajurit Kekaisaran musuh.
Mereka meronta. Mereka tidak kuasa menahan sakit. Suara syair tadi ternyata mempunyai efek yang mengerikan. Gelombang tenaga dalam dahsyat terkandung dalam setiap untaian katanya.
__ADS_1
Para prajurit sudah tidak kuat menahan sakitnya. Sebagian dari mereka lebih baik bunuh diri dari pada harus menahan sakit itu. Anehnya, yang merasakan kesakitan itu hanyalah prajurit musuh. Sedangkan prajurit Kekaisaran Wei, sama sekali tidak merasakannya.