Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah 'Sang Dewa'


__ADS_3

Sepuluh serangan hebat datang dari segala penjuru. Berbagai macam sinar menyilaukan mata sudah melesat ke arah Pendekar Halilintar.


Kecepatan berbagai macam tersebut sesuai dengan kekuatan si penggunanya sendiri. Pendekar Halilintar maju ke depan tanpa mau mundur selangkah pun.


Tangan kanannya bergerak mengeluarkan benteng pertahanan yang sangat sulit untuk ditembus oleh lawan. Dua cahaya biru dan merah keluar dari telapak tangannya.


Dua cahaya tersebut merupakan dua jurus berbeda. Kedua jurus itu menghalau sepuluh jurus yang dilancarkan oleh lawan.


"Blarr …"


Ledakan terdengar sangat keras. Gelombang kejut yang dihasilkan menyapu segala yang ada di sekitar. Bahkan atap bangunan tua pun beberapa ada yang terbang karenanya.


Sepuluh pendekar tersebut terdorong empat langkah ke belakang. Sedangkan Shin Shui hanya terdorong dua langkah.


Kesepuluh lawannya merasakan bahwa telapak tangan mereka mati. Pertarungan baru saja dimulai, tapi efek yang dihasilkan sudah membuat nyali lawan menjadi ciut.


Untuk sesaat pertarungan berhenti sejenak. Sepuluh pendekar menyalurkan tenaga dalam untuk mengobati bagian tubuh yang terluka.


Sementara itu, Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun, masih berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Dia belum turun tangan. Atau lebih tepatnya tidak mau turun tangan sebelum pertarungan selesai.


Walaupun dia aliran hitam, tapi sebagai datuk dunia persilatan, setidaknya dia harus mentaati peraturan yang berlaku di rimba hijau.


Kalau sampai orang lain tahu bahwa dia ikut melakukan pengeroyokan, mau ditaruh di mana mukanya?


Tetapi meskipun hanya berdiri, bukan berarti dia hanya berdiri saja. Di samping itu, kakek tua tersebut juga memperhatikan jalannya pertarungan. Matanya melihat ke segala arah, terlebih kepada Shin Shui.


Tujuannya tentu supaya dia tahu di mana kelebihan dan kekurangan lawannya. Kalau seorang pendekar sudah mengetahui kelemahan lawannya, maka dipastikan kemenangan akan berpihak kepada orang tersebut.


Dan hal itulah yang sekarang sedang dilakukan oleh Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun.


Dia terus meneliti bagaimana serangan dan pertahanan Pendekar Halilintar itu. Hanya saja, sampai sejauh ini dia belum menemukan sesuatu yang dicari-carinya sejak tadi.


"Tidak mungkin kalau tak ada titik kelemahan dalam setiap serangan dan pertahanannya. Pasti ada, aku yakin itu," gumam Kiam Mo Kong terus mengawasi jalannya pertarungan.


Di gelanggang pertarungan, Shin Shui saat ini sedang digempur oleh sepuluh Pendekar Dewa tahap tiga. Mereka menyerang secara serempak dari segala penjuru.


Benturan senjata pusaka terdengar bagaikan tabuhan genderang perang. Pendekar Halilintar melenting tinggi ke atas. Setelah itu dia memutarkan tubuhnya dengan sangat cepat.


Hujan pisau energi segera turun ke bumi menyebar ke segala penjuru. Sepuluh pendekar tersebut membuat benteng pertahanannya masing-masing supaya tidak terkena sasaran pisau.


Sayangnya walaupun sudah membuat perisai, tetap saja ada satu atau dua pisau yang menusuk ke tubuh mereka.


Pertarungan itu sudah berjalan sebanyak dua puluh jurus lebih. Shin Shui masih mengeluarkan jurus Hujan Pisau Halilintar yang tiada hentinya.

__ADS_1


Hal tersebut mengakibatkan sepuluh Pendekar Dewa merasa kewalahan. Sebisa mungkin mereka memperpendek jaraknya supaya bisa menyerang langsung si Pendekar Halilintar.


"Dewa Halilintar Mengguncangkan Semesta …"


"Wushh …"


"Duarrr …"


Langit kembali bergemuruh dahsyat. Bumi bergetar hebat seperti dilanda tsunami. Shin Shui sudah marah besar. Jurus tertinggi dari Kitab Halilintar telah digelar.


Bumi dihujani kilatan petir yang tiada habisnya. Gemuruh halilintar yang menyeramkan terdengar tidak pernah berhenti walau sedetik sekalipun.


Tubuh Shin Shui diselimuti aura halilintar yang lebih dahsyat dan mengerikan. Dia tidak terlihat lagi seperti manusia.


Dia terlihat seperti seorang Dewa.


Dewa Kematian bagi sepuluh Pendekar Dewa tahap tiga.


Jurus yang keluar benar-benar dahsyat dan mengerikan. Sulit dijelaskan bagaimana keadaan di sana. Namun yang jelas, semua tempat sekitar luluh lantak terbakar karena terkena sambaran kilat.


Bahkan Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun sendiri harus mengeluarkan kemampuannya supaya tidak terkena imbas jurus Pendekar Halilintar yang maha dahsyat tersebut.


Sepuluh pendekar semakin terpojok. Mereka berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan.


Empat puluh jurus berlalu. Satu korban mulai jatuh.


Seorang Pendekar Dewa tersambar petir hingga kepalanya pecah. Darah muncrat le segala arah. Bau anyir langsung tercium.


Lima jurus kemudian, korban kedua nampak lagi. Dada pendekar tersebut bolong cukup besar. Dia terkapar di tanah tanpa nyawa.


Shin Shui ingin mempersingkat waktu pertarungannya, selagi jurus Dewa Halilintar Mengguncangkan Semesta keluar, tubuhnya melesat menyambar delapan pendekar yang tersisa.


Pedang Halilintar sudah dimainkan dengan jurus yang berbeda.


"Kematian di Ujung Pedang Malaikat Maut …"


"Wushh …",


Ujung Pedang Halilintar bergetar. Sekali gebrak, sepuluh tusukan dan tipuan sudah digelar oleh Shin Shui.


Pedangnya bergerak bagaikan Malaikat Pencabut Nyawa. Tidak berapa lama, dua korban kembali jatuh. Mereka mengalami luka di bagian dadanya hingga jeroan dalam tubuh sebagian keluar.


Enam pendekar yang tersisa semakin takut. Mereka baru mengalami kejadian seperti ini. Bertarung melawan 'monster'.

__ADS_1


Rasanya sampai tewas sekalipun, meraka akan tidak pernah melupakan sosok Pendekar Halilintar ini.


Pedang Halilintar melesat ke depan memberikan tusukan. Incarannya kening.


Kening adalah salah satu bagian titik penting. Karena itulah Shin Shui mengarahkan pedang pusakanya ke sana.


"Srett …"


Luka robekan dalam segera nampak. Kening orang itu mengucurkan darah. Gerakannya terhenti karena mulai terasa pusing.


Pendekar Halilintar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Secepat kilat dia mengayunkan pedangnya sehingga berhasil menebas kepala orang tersebut.


Pedang Halilintar kembali memakan korban.


Cahaya biru berkelebat lagi di tengah hujan kilatan petir. Langit masih bergemuruh. Bumi masih bergetar.


Pertarungan mereka menjadi tidak karuan. Tetapi hal tersebut hanya berlaku bagi lawannya.


Karena bagi Shin Shui, dia sudah terbiasa dalam keadaan seperti ini.


Dua kali cahaya biru berkelebat ke depan, dua kepala langsung segera menggelinding ke tanah. Suara jeritan tertahan terdengar amat pilu.


Tapi Pendekar Halilintar tidak memperdulikan hal tersebut.


Kalau dia sudah marah, apapun tidak bisa menggubris kemarahannya.


Dia menyerang lagi. Sebuah sabetan pedang dilancarkan dari sisi kiri dengan kecepatan sangat tinggi.


"Srett …"


"Ahhh …"


Seorang pendekar berteriak menahan sakit. Tangan mereka dibuat buntung sampai sikut. Darah mengucur deras ke tanah.


Belum hilang rasa sakitnya, hal terburuk yang paling mereka takuti tiba menjemput.


Kematian.


Dengan telak, pedang pusaka tersebut merobek perut lawan. Segala jeroan keluar membuat suasana menjadi lebih menyeramkan.


Berbarengan dengan hal itu, dua orang sudah dia serang lagi. Pedang Halilintar menebarkan maut bagu dia lawan yang tersisa.


"Mampus kau …" bentak Shin Shui sambil melompat lalu meluncur deras mengarah kepada dua musuhnya.

__ADS_1


Kalau 'Sang Dewa' sudah marah, siapa yang dapat menahannya?


__ADS_2