
Wushh!!!
Sesuatu berwarna putih melesat dari arah kiri dalam kecepatan tinggi.
Crapp!!!
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri Chen Li dengan cekatan menangkap sesuatu berwarna putih itu. Benda tersebut berhenti tepat di bagian tengah-tengah. Dengan santainya Pendekar Tanpa Perasaan terus melanjutkan makanan yang hendak masuk tersebut.
Dia mengunyahnya dengan perlahan. Sepertinya Chen Li sangat menikmati makanan itu. Sedikitpun dia tidka merasa khawatir ataupun curiga terkait benda berupa selembar surat yang sekarang sudah terjepit di antara dua jarinya itu.
Setelah menelan makanan, pemuda itu meletakan sumpit dengan tenang. Kemudian dia baru membuka surat yang sempat mengganggu waktu santainya.
"Apakah nanti malam Tuan muda ada waktu senggang? Kalau ada, mohon untuk memenuhi undangan ini. Malam nanti kami tunggu di markas utama Perkumpulan Pengemis. Semoga Tuan muda sudi untuk datang. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih yang mendalam …"
"Kang Liu, Ketua Ketua Perkumpulan Pengemis …"
Setelah selesai membaca isi dari surat tersebut, Chen Li segera memasukkan kembali. Dia membungkus rapi surat tersebut seperti sebelum dia buka.
Tanpa memikirkan apapun lagi, dia segera menyantap habis hidangan yang ada di depannya. Jika sedang makan, pemuda serba putih itu paling tidak mau memikirkan berbagai macam persoalan.
Janganlah persoalan sepele, bahkan persoalan berat saja akan dia lupakan sejenak kalau sedang makan. Alasannya karena dia tidak ingin mengurangi rasa nikmatnya sebuah hidangan.
Kalau sedang makan terlalu memikirkan banyak hal, bukankah hal itu bakal mengurangi cita rasa dari sebuah makanan?
Sekarang pemuda itu sudah selesai menyantap hidangan tadi. Ternyata menu masakan di restoran ini benar-benar nikmat. Sang koki berhasil memanjakan lidahnya.
Setelah kegiatan makan selesai, tinggal minum arak ditemani dengan daging segar.
Sambil minum arak, baru secara perlahan Chen Li mulai memikirkan perihal surat tadi.
Kenapa Perkumpulan Pengemis mengundang dirinya ke markas mereka? Apakah ada sesuatu penting yang akan mereka bicarakan? Ataukah ada persoalan lainnya?
Chen Li tidak tahu. Jangankan jawaban pasti, asumsi pun tidak dia dapatkan.
Karena semuanya belum jelas, apalagi dia sendiri tidak mengenal secara pasti si pengirim surat itu, apakah dia bakal datang?
__ADS_1
Tentu saja jawabannya adalah iya. Bagaimanapun juga, Chen Li tidak suka menolak undangan seseorang. Tidak peduli apakah undangan itu dari orang tak dikenal atau dari orang yang sudah dikenal, perduli setan apakah undangan baik atau undangan buruk, yang pasti dia bakal datang.
Chen Li tidak suka kalau ada seseorang yang menolak undangannya, oleh sebab itulah diapun tidak mau menolak undangan seseorang terhadap dirinya.
Masalah mengambil harta di markas pusat Organisasi Elang Hitam bisa ditunda. Lagi pula toh di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Semuanya sudah mati. Mati di tangan dia sendiri.
Tapi kalau menyangkut surat undangan itu, baginya hal tersebut tidak bisa ditunda lagi. Karena alasan tersebut, maka dirinya memutuskan untuk pergi ke sana.
###
Malam telah tiba. Suasana ramai seperti biasanya, Chen Li sudah tiba di tempat tujuannya. Sekarang pemuda itu telah berada di depan pintu gerbang.
Dua orang penjaga gerbang menahannya. Dengan suara yang kalem tapi berwibawa, seorang di antara mereka kemudian mengajukan tanya kepadanya.
"Siapakah Tuan ini?"
"Chen Li," jawabnya singkat.
"Ada perlu apa sehingga Tuan kemari?"
"Bisa tunjukkan bukti?"
Tanpa banyak bicara lagi, pemuda tersebut segera memperlihatkan selembar surat undangan tadi. Dia sendiri tidak menyangka, ternyata penjagaan di markas Perkumpulan Pengemis cukup ketat juga. Sampai-sampai dirinya harus memperlihatkan surat undangan itu.
"Maaf telah membuat Tuan menunggu. Silahkan masuk," kata seorang di antara penjaga gerbang sambil mempersilakan dengan tangan dan membungkukkan badannya.
Pendekar Tanpa Perasaan hanya mengangguk pelan. Dia langsung masuk ke dalam tanpa sempat bicara atupun menoleh lagi ke arah dua penjaga tersebut.
Pemuda itu mulai berjalan masuk ke dalam. Hingga pada akhirnya dia tiba di ruangan utama.
Baru saja dua penjaga pintu hendak menahannya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lantang.
"Jangan berani mempersulit pemuda itu. Biarkan dia masuk, bawa ke tempatku berada," ucap suara tanpa wujud tersebut.
Dua penjaga itu langsung membatalkan niatnya yang tadinya ingin memeriksa Chen Li. Meskipun tidak terlihat wujudnya, namun mereka tahu dan bahkan sangat kenal siapakah pemilik suara tersebut.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Perasaan sendiri tidak bertanya ataupun menampilkan mimik wajah keheranan. Karena pada dasarnya dia sudah mengetahui siapa gerangan.
"Mari Tuan muda, silahkan masuk. Mohon maaf atas kekurangajaran kami barusan," katanya sambil mempersilahkan.
Chen Li hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.
"Silahkan Tuan muda ikut kami,"
"Baik …" jawabnya singkat.
Seorang penjaga pintu utama kemudian mengantarkan pemuda serba putih itu. Chen Li berada di belakangnya persis, dia terus mengikuti penjaga tersebut. Sedikitpun tidak bertanya ataupun mengajak bicara.
Si penjaga membawanya ke sebuah ruangan besar. Kemudian dia menaiki tangga yang jumlahnya sekitar dua puluh butir anak tangga. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan terbuka yang ada di posisi paling atas.
Di sana ternyata sudah ada orang lain yang sedang duduk menanti kedatangan dirinya. Jumlah mereka dua orang. Semuanya merupakan seorang kakek tua dengan pakaian dekil dan penuh tambalan.
Meskipun begitu, tapi tidak tercium bau tak sedap dari tubuh mereka seperti halnya para pengemis yang pernah Chen Li temui.
Ternyata dua kakek tua tersebut hanya kotor pakaiannya saja. Sedangkan tubuhnya kalau sedikit menebarkan bau harum yang menyegarkan.
Kedua orang kakek tua itu memandangi dirinya sambil tersenyum hangat. Mereka bukan lain adalah dua orang kakek tua misterius yang sebelumnya pernah menyaksikan pembantaian seratus tokoh pada beberapa hari lalu.
Ternyata kedua kakek misterius saat itu bukan lain dan tidak bukan adalah ketua dari Perkumpulan Pengemis yang ada di Kotaraja.
"Selamat datang, silahkan duduk Tuan muda," kata seorang kakek tua kepada Chen Li.
"Terimakasih," jawab Chen Li lalu kemudian segera duduk di kursi yang tersedia.
"Mohon maaf karena kami telah mengganggu ketenangan Tuan,"
"Tidak masalah. Lagi pula, aku sedang bosan karena tidak ada teman untuk bicara,"
"Aii, kalau begitu syukurlah. Di sini kita akan bicara panjang lebar agar Tuan tidak merasa bosan lagi," kata si kakek tua sambil tersenyum.
Seorang murid yang ada di sana datang membawa tiga guci arak dalam nampak. Di atas nampan ada juga tiga buah cawan arak, di sisinya ada daging segar dan beberapa cemilan lainnya.
__ADS_1
"Persoalan penting apa yang ingin kalian katakan kepadaku?" tanya Chen Li bicara dengan acuh tak acuh. Pemuda itu masih tenang dan santai. Tangannya meraih buah-buahan yang tersedia di sana.