
Si biksu tua itu tertawa kembali. Sebagai seorang yang sudah tua, apalagi penampilannya merupakan biksu, sudah pasti dia paham.
Chen Li dan Huang Taiji juga ikut tertawa.
Ketiganya kembali minum arak lalu makan daging lagi. Si biksu tidak berdiri, juga tidak pergi. Dia masih tetap di sana menemani dua orang asing tersebut.
"Kalau sudah takdirnya demikian, sudah pasti bagaimanapun mereka menghindar, hal iti hanya sia-sia belaka," kata si biksu tua sambil tertawa getir.
"Benar. Hanya saja orang-orang ini terkadang keras kepala,"
"Sifat manusia memang seperti itu," jawab si biksu.
Ketiganya langsung terdiam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Tidak ada yang tahu satupun.
"Biksu, kenapa kau tidak menyuruh orang-orangmu untuk masuk dan bergabung minum arak di sini?" tiba-tiba Chen Li membuka suaranya memecahkan kesunyian di antara mereka.
Si biksu tua itu tampak sangat terkejut. Perubahan wajahnya terlihat jelas. Bahkan kali ini, Huang Taiji juga melihat perubahannya tersebut.
"Ternyata saudara kecil ini sungguh mempunyai mata dan telinga yang tajam," ucap si biksu sambil tersenyum.
Dia bertepuk tangan tiga kali. Tidak berapa lama, muncul dua puluhan orang bercadar hitam. Mereka semua muncul dari segala arah. Kanan, kiri, depan, belakang, semuanya saat ini sudah dipenuhi sosok tersebut.
Mereka tidak ada yang bicara. Tidak ada juga yang berminat untuk duduk bersama tiga orang itu. Semuanya berdiri tegak.
Tubuh mereka hampir sama rata. Badannya sedikit kekar. Posisi berdirinya tegak, seperti barisan tentara keamanan yang sering berdiri seperti patung. Tanpa bergeser walau sedangkan pun. Sepertinya walaupun ditampar, mereka tidak akan bereaksi jika bukan waktunya untuk bergerak.
"Hemm, lumayan. Ternyata orang-orang yang kau bawa merupakan orang-orang pilihan," kata Huang Taiji sambil tertawa.
Si biksu tua hanya tertawa. Tawa yang terlihat jelas dipaksakan. Apakah dia merasa senang? Ataukah sekarang dia malah merasa bodoh?
"Ternyata berita tentang ketajaman mata dan telinga kalian memang bukan omong kosong belaka. Sekarang aku menjadi orang bodoh jika di hadapan kalian," kata orang tua itu.
Chen Li dan Huang Taiji tertawa untuk yang kesekian kalinya. Kemudian keduanya minum arak. Mereka masih terlihat sangat santai. Seolah merasa sedang di rumah sendiri.
"Bukankah kau adalah si Rajawali Botak Cakar Merah?" tanya Huang Taiji Lu tersenyum.
Si biksu itu mengangguk perlahan. Karena dia juga berpikir, jika berbohong pun tak ada gunanya lagi.
__ADS_1
"Ketajaman mata Tuan Huang memang sangat luar biasa. Padahal kita baru berjumpa kali ini saja. Bagaimana Tuan Huang bisa tahu diriku?" tanyanya.
"Walaupun baru pertama kali bertemu, tapi ketenaran nama Rajawali Elang Botak Cakar Merah sudah tersebar ke mana-mana. Sangat sedikit orang yang bisa terkenal hingga ke perbatasan,"
"Benar. Mungkin aku termasuk orang yang beruntung,"
"Sepertinya begitu. Selain dari pada itu, aku mengetahuimu karena sudah takdir. Seperti yang dibilang Li'er sebelumnya,"
"Takdir? Takdir apa maksud Tuan Huang?" tanya si biksu tua yang ternyata mempunyai nama besar Rajawali Botak Cakar Merah.
"Takdir untuk mati di tangan kami," jawab Huang Taiji.
Orang botak itu tidak marah. Justru dia malah tertawa lantang.
"Hahaha … sungguh suatu kebanggaan kalau memang demikian. Tewas di antara siapa saja, asalkan orang itu adalah kalian berdua, aki pasti akan merasa bangga,"
"Benarkah?"
"Sangat benar,"
"Tuan muda benar," katanya lembut. "Aku memang memaksakan diri. Padahal aku sendiri tahu bahwa untuk mengalahkan kalian, rasanya mustahil. Tapi tak mengapa, sungguh, matipun aku tak menyesal,"
"Benar-benar orang yang luar biasa. Tak mengecewakan juga kau menyandang nama besar tersebut," ujar Huang Taiji.
Si orang botak tertawa kembali. Dia meneguk araknya kembali.
"Mau dimulai kapan?" tanya Chen Li.
"Bagusnya?"
"Terserah, sebagai tamu, kami menghargai tuan rumah,"
Chen Li dan Huang Taiji merasa salut. Sangat jarang sekali ada orang seperti di Rajawali Botak Cakar Merah ini. Bahkan di hadapan musuhnya, dia masih berlaku seperti sahabat. Pertarungan pun dia bicarakan lebih dulu, tidak langsung serampangan menyerang seperti musuh-musuh yang mereka temui sebelumnya.
"Baiklah, kita habiskan saja guci arak ini. Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah tahu bahwa sebenarnya aku bukan biksu?"
"Tentu saja tahu. Di mana ada seorang biksu yang doyan arak dan makan daging? Setahuku, seorang biksu itu tidak minum arak dan tidak pula makan daging," kata Huang Taiji.
__ADS_1
"Walaupun ada, tidak ada yang sepertimu. Engkau orang tua tidak pantas menjadi biksu. Pantasnya menjadi setan arak saja," kata Chen Li melanjutkan.
Mereka bertiga tertawa sambil menghabiskan cawan arak terakhir. Setelah itu, tanpa bicara lagi, tiga orang tersebut langsung melesat ke halaman kuil.
Dua puluhan orang bercadar hitam juga turut keluar pula.
Saat ini halaman yang tadi kosong, kini sudah dipenuhi oleh orang. Tiga orang yang tadinya seperti sahabat, kini sudah berubah kembali seperti layaknya musuh bebuyutan.
Si Rajawali Botak Cakar Merah sudah siap siaga. Dia telah memasang kuda-kuda. Jika sudah seperti ini, dia benar-benar mirip seperti seekor rajawali. Matanya sangat tajam. Hidungnya sedikit bengkok seperti paruh.
Di lihat dari kekuatan, si Rajawali Botak Cakar Merah ini merupakan Pendekar Dewa tahap enam pertengahan. Sedangkan dua puluh orang yang bersamanya merupakan Pendekar Surgawi tahap empat akhir.
Wushh!!!
Rajawali Botak Cakar Merah bergerak. Tubuhnya melesat sambil memberikan cakaran dengan dua tangannya yang memiliki kuku sangat tajam. Tidak lama setelahnya, dua puluhan orang bercadar hitam juga turut melancarkan serangannya.
Wushh!!! Wushh!!!
Bayangan hitam melesat di senja hari. Seperti bayangan macan kumbang yang menyergap mangsanya.
Chen Li juga bergerak. Seluruh kekuatannya sudah dia kerahkan. Kali ini bocah itu tidak berniat untuk berlama-lama lagi.
Seruling giok hijau dan Pedang Hitam telah dikeluarkan dari sarungnya. Dua senjata yang berseberangan tampak mengeluarkan sinar dan kekuatan tersendiri.
Dua puluhan orang itu juga sudah mengeluarkan senjata mereka yang berupa pedang.
Pertarungan sudah dimulai. Huang Taiji Lu sudah bertukar belasan serangan bersama Rajawali Botak Cakar Merah. Keduanya tampak seperti bayangan yang bergerak bebas dan sangat cepat.
Chen Li telah menggerakan pedang dan seruling untuk menahan semua serangan lawannya.
Pedang berkelebat beberapa kali dan berbenturan dengan senjata lawan. Bunyi yang nyaring terdengar memekakkan telinga. Beberapa kali pedang melancarkan serangan balasan, satu orang nyawa telah melayang.
Berbarengan dengan itu, seruling giok hijau juga sudah menunjukkan taringnya. Seruling itu mengeluarkan sinar hijau ketika digerakkan untuk menangkis ataupun menyerang.
Prakk!!!
Jerit kesakitan terdengar lagi. Satu orang lawan tewas dengan kondisi kepala pecah.
__ADS_1