
Melihat jurus yang demikian hebat tersebut, keempat pendekar tua semakin tergetar hatinya. Kini mereka benar-benar sadar bahwa pemuda itu memang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan sudah matang.
Gempuran Li Feng menerjang ke segala arah. Dua batang pedang kembar terus menerus memberikan kilatan cahaya yang mengerikan. Suara dengungan seperti ribuan lebah terdengar jelas di telinga keempat pendekar tua tersebut.
Dua puluh jurus sudah terlewati. Perlahan namun pasti, Li Feng sudah mulai mendesak seorang lawan di antara yang lainnya. Yang paling lemah di antara mereka adalah si pendekar tua bersenjatakan golok.
Karena alasan tersebut, dia mencecar orang tua itu masih dengan jurus yang sama. Jurus maut yang mengerikan.
Pedangnya mengincar ke segala titik. Dia berputar seperti pusaran angin yang sedang mengamuk. Semuanya dilibas oleh Li Feng.
Si orang tua golok semakin terdesak hebat. Begitu tubuh Li Feng melompat dan berputar di udara, punggungnya sudah terkena sabetan dari salah satu pedang kembar.
Dia mengeluh menahan sakit. Rasa panas mulai dia rasakan. Tubuhnya terhuyung ke belakang.
Ketiga rekannya mulai membantu. Tetapi sia-sia. Sebab gerakan pemuda itu terlampau cepat sehingga ke mana pun mereka menyerang, akan ada dua pedang yang menahan serangannya.
Mencapai jurus tiga puluh, golok orang tua itu terlempar ke udara. Li Feng memutarkan tubuhnya lalu memukul golok tersebut dengan gagang pedang.
"Wushh …"
"Slebb …"
Si orang tua tertegun sejenak. Perutnya terasa dingin. Seperti ada sebuah benda masuk ke dalamnya. Begitu matanya memandang ke bagian perut, golok pusakanya sudah menancap tembus ke belakang.
Orang tua itu seperti ingin mengucapkan sesuatu, sayangnya tidak sempat karena dia sudah keburu ambruk. Tewas. Tewas karena senjatanya sendiri.
Kejadian ini berlangsung sangat cepat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana marahnya tiga rekan orang tua tersebut.
Tiga jurus maut keluar dari masing-masing orang tua. Li Feng cukup dibuat kaget, sebab gabungan jurus mereka lumayan hebat. Bahkan tubuhnya terdorong empat langkah. Untung bahwa dia segera menahan dorongan jurus itu dengan pertahanan kokoh.
Sehingga dia tidak mengalami luka sama sekali. Hanya saja bajunya sedikit koyak karena hebatnya jurus tadi.
"Pedang Kembar Delapan Penjuru …"
__ADS_1
"Wushh …"
Jurus Li Feng kembali keluar. Kalau tadi dia bergerak seperti seorang wanita menari, maka kali ini berbeda.
Dia seperti ada di depalan penjuru. Serangan datang sekaligus dari masing-masing penjuru itu. Sabetan dan tusukan pedang mulai membayangi tiga orang tua.
Saking bahayanya jurus itu, orang tua bersenjata tombak sedikit tercekat dibuatnya. Akibatnya, betis orang tua itu terserempet tusukan pedang Li Feng.
"Bangsat …" bentaknya.
Bukannya mundur, dia justru menyerang lebih ganas lagi. Kekuatannya memang sudah mencapai Pendekar Dewa tahap tiga. Sehingga dia bisa menghentikan jalan darah dalam waktu singkat.
Tetapi sayangnya, dia terlalu gegabah karena tidak menyiapkan strategi bertarung. Karena amarah sudah meluap, serangannya menjadi lebih dahsyat dua kali lipat. Sayanganya pertahanan dia longgar.
Begitu melihat ada celah terbuka lebar, Li Feng melompati kepala si orang tua bersenjatakan tombak tersebut. Tanpa menoleh lagi, satu pedang kembarnya segera dia tusukan ke belakang.
"Slebb …"
Pedang tersebut menusuk tepat di bagian punggung hingga tembus ke ulu hati.
Di sisi lain, Li Cun selalu mengawasi ke segala penjuru. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang akan segera terjadi.
Dan memang benar. Tak lama setelah hatinya berkata seperti itu, dari arah datangnya si tuan muda bersama empat pendekar tua tadi, kini datang juga sepuluh orang lainnya ditambah lagi satu si tuan muda itu sendiri, dan satu seorang tua yang wajahnya mirip dengan dia. Semuanya jadi dua belas orang.
"Hemm, sepertinya itu gubernur yang dimaksud," gumam Li Cun.
"Kakak Feng, kita kedatangan tamu lainnya," kata Li Cun berteriak lalu tubuhnya melesat ke sana.
Saat itu, Li Feng sedang bertarung sengit. Dua lawannya sedang menggempur membenturkan jurus-jurus mereka dengan jurusnya. Tapi dua jurus kemudian, dari arah kanan melesat secercah cahaya emas menyilaukan melesat ke arah mereka.
Akibatnya, tiga pendekar tersebut terpaksa melompat mundur dan menghentikan pertarungan.
Dua pendekar tua itu langsung menghampiri rombongan saat tahu siapa yang datang. Mereka segera memberi hormat. Hanya saja, yang di hormati justru mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Tidak perlu seperti ini kalau diluar," katanya dingin.
"Apakah dia yang sudah membunuh mereka?" tanya orang baru datang yang memang gubernur Mo Pou, gubernur daerah setempat.
"Benar. Pemuda itu pelakunya," kata si orang tua yang memegang ruyung.
"Hemm, siapa kau?" tanyanya kepada Li Feng yang kini sudah berdiri sejajar bersama Li Cun.
Li Feng tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan sosok gubernur itu dari atas sampai bawah. Bahkan dia juga memperhatikan sepuluh orang di belakangnya. Terlihat bahwa sepuluh orang tersebut, dua di antaranya berkekuatan Pendekar Dewa tahap dua akhir. Sedangkan si gubernur sendiri mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap lima akhir.
Li Feng kaget. Dia baru bertemu dengan seorang gubernur yang memiliki kekuatan setinggi itu. Seumur hidup, dia baru mengalaminya kali ini saja. Bahkan ada aura lain yang terpancar dari tubuh orang tersebut.
"Hehe, atas alasan apa kalian melakukan semua ini? Hemm, tak disangka orang-orang seperti kalian ternyata masih sanggup melakukan tindakan tidak bermoral. Apakah harta kalian masih kurang? Dan kau, apakah jabatanmu masih kurang juga?" tanya Li Feng kepada mereka sambil menunjuk wajah si gubernur.
"Apa maksudmu? Katakan siapa kau sebenarnya," bentak si gubernur.
"Aku hanyalah orang kecil. Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi yang jelas, aku tahu siapa kalian," kata Li Feng dingin.
"Lalu apa maksudmu bicara sembarangan seperti itu?" tanyanya semakin geram.
"Hahaha, kalian bisa mengelabui orang lain. Tapi jangan harap bisa mengelabuiku. Aku masih heran, kenapa kalian masih melakukan hal ini semua," katanya sambil berjalan bolak-balik.
"Dasar kurang ajar. Di tanya serius malah seperti itu," kata seorang anak buahnya lalu maju menerjang.
"Kau belum pantas untuk bertarung denganku," kata Li Feng mengibaskan tangannya sehingga orag tersebut terpental enam langkah lalu menabrak pohon.
Semua orang terkejut. Terutama si gubernur yang mengaku bernama Mo Pou.
"Hemm, ternyata kau sedang melakukan penyamaran? Kau kira aku tidak tahu?" gubernur Mo Poy tertawa dingin.
"Hahaha, pintar, pintar. Tapi setidaknya kau tidak mengenali siapa aku sebenarnya. Dan yang terpenting, aku tidak melakukan hal sepertimu," balas Li Feng tidak mau kalah.
Li Cun semakin bingung menyaksikan semua ini. Berulang kali dia menyelidiki orang-orang tersebut, tetapi baginya tidak ada suatu keanehan sedikitpun.
__ADS_1
"Kakak Feng, siapa sebenarnya mereka ini?" tanya Li Cun tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Sebentar lagi kau akan tahu siapa mereka," jawab Li Feng.