
Hon Tong terhuyung-huyung hampir jatuh. Pipinya yang kena tampar langsung bengkak saat itu juga. Wajahnya langsung merah padam karena merasa malu sekaligus merasa sangat marah.
Sebelumnya Hon Tong sudah marah, setelah dia mendapatkan tamparan barusan, kemarahannya semakin berkobar beberapa kali lipat.
"Ternyata semua laki-laki sama," dengus wanita cantik itu.
"Sama apanya?" jawab Huang Taiji.
"Sama-sama kurang ajar …"
Wuttt!!!
Tubuhnya melesat sambil melayangkan cambuk pusaka miliknya.
Tarr!!!
Suara cambuk kembali membelah keheningan malam. Suaranya semakin lama semakin menggelegar. Kekuatan yang disalurkan juga semakin besar.
Hon Tong setara dengan Pendekar Dewa tahap empat akhir. Sudah pasti setiap serangannya sangat berbahaya. Satu langkah melakukan kesalahan, maka nyawa yang menjadi jaminannya.
Namun Huang Taiji tidak takut sama sekali. Lagi pula, apa yang harus dia takutkan?
Di dunia ini, rasanya tidak ada yang bisa membuat Huang Taiji benar-benar merasa takut.
Pendekar Pedang Tombak menggeser tubuhnya untuk menghindari serangan Hon Tong. Dia masih belum menyerang lagi. Sebisa mungkin, Huang Taiji akan membuat pertarungan supaya lebih seru.
Melihat serangan cambuknya gagal untuk yang kesekian kali, Hon Tong mulai mengeluarkan seluruh kekuatannya. Cambuk itu mendadak diselimuti aura berwarna hijau tua.
Bau busuk tercium terbawa angin yang semilir lembut.
Cambuk itu terus dilayangkan tanpa henti. Semakin lama Hon Tong menyerang, semakin besar juga kekuatan yang dia salurkan kepada cambuk miliknya.
Wushh!!!
Huang Taiji bergerak. Sudah cukup rasanya untuk main-main, sekarang dia akan berlaku lebih serius lagi.
Tubuhnya melesat ke depan sambil terus menghindari hujan serangan dari cambuk milik wanita cantik itu.
Kedua tangannya tiba-tiba diayunkan. Dua gulung tenaga dahsyat menerjang Hon Tong. Pertarungan berjalan semakin seru lagi. Hanya beberapa kali saja dirinya melakukan perlawanan, posisi Hon Tong semakin tkdak diuntungkan.
Semua serangan cambuk yang dia layangkan lenyap di tengah jalan.
Wutt!!!
__ADS_1
Segulung angin dahsyat menerjang Huang Taiji. Sinar hijau menimbulkan cahaya yang sedikit menyilaukan mata.
Plakk!!!
Lagi-lagi Huang Taiji mampu menghindari semua serangan yang dilayangkan oleh lawan. Dan hanya dengan sentila kecil, tubuh Hon Tong kembali terpental.
Untuk sekarang Huang Taiji tidak mau berlama-lama lagi. Apalagi sekarang dirinya tiba-tiba memikirkan Chen Li.
Wushh!!!
Tubuhnya meluncur ke depan. Kedua tangannya dikibaskan dengan saluran tenaga dalam tinggi.
Dua gulung pusaran angin melesat ke arah wanita cantik itu. Hanya dalam beberapa jurus kemudian, Huang Taiji sudah berada di atas angin.
Hon Tong mulai mengigit bibirnya. Sepertinya dia baru menyadari bagaimana bahayanya lawan yang satu ini.
"Cambuk Menggelegar di Atas Bumi …"
Wushhh!!!
Cambuk milik Hon Tong berputar sangat cepat. Cambuk itu terlihat menjadi sekian ribu banyaknya.
Huang Taiji hanya tersenyum. Tubuhnya juga berputar mengikuti irama lawan. Setelah beberapa saat kemudian, pusaran dari jurus dahsyat yang dilancarkan oleh kedua orang itu menghilang.
Hio Sun dan Bi Ling terkejut setengah mati. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa kejadian seperti ini akan benar-benar terjadi.
Bahkan wajahnya juga sangat pucat. Mirip seperti mayat.
Mata Hio Sun dan Bi Ling melotot besar. Kemarahan langsung memuncak hingga naik ke ubun-ubun.
Mereka tidak tahu apa yang telah dialami oleh saudaranya itu. Hanya saja keduanya yakin, Hon Tong pasti mengalami luka yang sangat parah.
"Berani sekali kau!!!" teriak Bi Ling sangat marah.
Begitu dia selesai berkata, bayangan biru muda berkelebat. Bi Ling sudah melesat dan telah tiba di hadapan Huang Taiji.
Dua pedang pendek miliknya langsung diayunkan mengirimkan serangkaian serangan dahsyat. Suara mendengung terdengar setiap kali pedang itu bergerak.
Kecepatannya benar-benar sulit untuk diikuti mata. Wanita cantik itu sudah kalap karena melihat keadaan Hon Tong yang sangat mengkhawatirkan.
Bertepatan dengan serangan gencar yang dilancarkan oleh Bi Ling, Hio Sun juga sudah ikut menyerang pula.
Bayangan merah muda melesat sangat cepat melancarkan serangan jarak jauh. Setelah itu, dia langsung menyambung serangannya dengan pedang panjang yang selalu dia banggakan selama ini.
__ADS_1
Bayangan perak membelah udara. Lima tusukan dan enam sabetan langsung dilayangkan dengan ganas.
Jika lawannya bukan Huang Taiji, sudah pasti orang itu bakal merasa kewalahan. Sebab walaupun tidak berdiskusi lebih dahulu, namun serangan keduanya terlihat sambung menyambung.
Hanya dalam beberapa saat saja, pertarungan yang jauh lebih dahsyat sudah terjadi lagi. Serangan dari dua pedang pendek dan satu pedang panjang benar-benar hebat.
Kali ini, Huang Taiji tidak berani berlaku sembarangan. Setiap kali bergerak menghindari serangan lawan, dia sudah memperhitungkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi.
Suara menggelegar dan desingan angin tajam menyambar tubuhnya tanpa jeda. Bi Ling dan Hio Sun menyerang dengan segenap kemampuan keduanya.
Dua serangan hebat yang bersatu padu. Hal ini sudah pasti membuat keadaan menjadi lebih menegangkan.
"Dua Pedang Dua Nyawa …"
"Satu Pedang Pembunuh Tanpa Ampun …"
Wushh!!! Wushh!!!
Bi Ling mengubah gaya serangannya. Begitu juga dengan Hio Sun. Serangan pedangnya yang sekarang sangat berbeda dengan serangan sebelumnya.
Tiga pedang itu seperti tiga ekor naga yang mengamuk di udara. Setiap ketiganya bergerak, seolah kematian selalu mengikuti di belakangnya.
Pertarungan mereka telah berlangsung selama kurang lebih lima puluh jurus. Keadaan masih tetap berimbang seperti awal. Huang Taiji belum menyerang serius. Tapi dua wanita yang sedang bertarung dengannya sudah berniat untuk membunuh.
Setelah melewati enam puluh lima jurus, Pendekar Pedang Tombak mulai melancarkan serangan seriusnya untuk yang pertama kali.
Dua tangannya bergerak. Bergulung-gulung angin dahsyat datang menerjang sambil membwa hawa panas. Tubuhnya berkelebat di antara tiga bayangan pedang yang mengamuk.
Blarr!!!
Huang Taiji memukul telak tiga pedang yang bergerak cepat itu sekaligus juga pemiliknya. Bi Ling dan Hio Sun terpental lima langkah ke belakang.
Mereka langsung muntah darah cukup banyak. Organ dalamnya terguncang akibat serangan jarak jauh yang tidak terlihat itu.
Bi Ling dan Hio Sun jatuh dalam keadaan terduduk. Seluruh tubuh mereka terasa sangat lemas sekali. Pertarungan langsung terhenti.
Tiga Wanita Pembawa Maut sudah berubah seperti kapas yang terkena air. Mereka tidak mampu melanjutkan pertarungannya lagi. Jangankan untuk begitu, untuk berdiri pun rasanya sudah tidak mampu sama sekali.
Pedang mereka terlempar jauh. Bahkan pedang milik Hio Sun patah ujungnya.
Huang Taiji berjalan mendekati Tiga Wanita Pembawa Maut. Kedua tangannya digendong di belakang. Mulutnya masih tersenyum hangat.
"Apakah kalian masih sanggup untuk melanjutkan pertarungan lagi?" tanyanya sambil tersenyum hangat
__ADS_1
Masing-masing dari mereka tidak ada yang menjawabnya. Tiga Wanita Pembawa Maut secara kompak malah mendengus dingin.
"Apakah kau sedang mengejek kami?" tanya Hio Sun sambil tersenyum sinis.