
Tubuh tanpa kepala itu bergulingan di lantai beberapa kali. Darah berceceran membasahi lantai sehingga membuat warna putihnya berubah menjadi warna merah. Merah, semerah darah.
Kepalanya terlempar hingga menabrak dinding lalu hancur. Isi kepala juga berceceran membuat siapapun yang melihatnya merasa mual. Baik yang pria, maupun yang wanita, semuanya merasa jijik melihat penampakan mengerikan itu.
Sebagian tokoh wanita menutup hidung karena tidak mau mencium bau amisnya darah. Kalau bau amis biasa, mereka mungkin masih dapat bertahan. Namun bau amis yang sekarang sangat berbeda dengan bau amis lainnya.
Bau amis yang sekarang mereka cium bercampur dengan bau gosong.
Berbeda dengan belasan tokoh dunia persilatan tersebut, Pendekar Merah justru masih berdiri dengan tegak. Tubuhnya kokoh bagaikan sebuah tombak yang ditancapkan dalam-dalam ke dasar bumi.
Pedang Merah Darah yang digenggam di tangan kirinya masih meneteskan cairan merah kental.
Darah si tokoh tua. Darah itu jatuh ke bawah setetes demi setetes. Suasana hening. Semua tokoh menahan nafasnya.
Mereka tidak pernah menyangka kalau pemuda bergelar Pendekar Merah itu ternyata sangat keji. Selama mengembara dalam dunia persilatan, orang-orang tersebut baru mengalami kejadian seperti ini. Di mana seorang pendekar aliran putih mampu berbuat sesuatu yang kejam.
"Sungguh kejam. Tak kusangka bahwa golongan putih menyimpan pendekar sepertimu," ucap Hong Hua setelah terbiasa dengan suasana baru tersebut.
"Kau pikir aku golongan putih?" tanya balik Pendekar Merah. Suaranya masih dingin. Bahkan suara itu lebih dingin dari sebelumnya.
"Kalau bukan, apakah kau aliran hitam?" tanya Hong Hua lebih lanjut.
Orang tua itu semakin penasaran. Di sisi lain, dia juga merasa tertarik kepada Pendekar Merah karena kepribadiannya yang penuh dengan misteri.
"Alirna pun bukan,"
"Lalu?"
"Aku berdiri di tengah-tengah di antara keduanya. Di sebut golongan putih, tapi aku suka sekali dengan pembunuhan. Disebut golongan hitam, tapi aku juga paling tidak suka melihat kejahatan yang terjadi di depan mata. Jadi aku menyebut diriku berada di antara keduanya. Aku seorang Dewa, juga seorang iblis," jawab Pendekar Merah.
Suaranya serak parau. Saat dia berkata demikian, setiap kata per-katanya diucapkan dengan sangat perlahan sehingga terdengar jelas bahwa ucapan itu begitu ditekan.
Pernyataan Pendekar Merah barusan seperti membawa kekuatan tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya. Mereka merasa kagum sekaligus bergidik ngeri.
Dewa dan iblis.
Dua kata yang sangat singkat. Namun setiap orang yang ada di sana, sudah pasti memahami maksud yang sebenarnya.
__ADS_1
Kalau dia sedang menjadi seorang Dewa, itu artinya Chen Li sanggup melakukan kebaikan yang tidak bisa dibayangkan.
Dan pada saat menjadi seorang iblis, itu artinya Pendekar Merah juga sanggup melakukan sebuah kejahatan yang mungkin tidak akan dapat dibandingkan dengan para tokoh sesat golongan hitam yang ada di muka bumi.
Bagaimana kejamnya ketika dia menjadi sosok iblis, semua itu tidak dapat dibayangkan kecuali melihatnya secara langsung.
"Hahaha, benar-benar menarik. Dewa dan iblis. Hemm, aku ingin melihat saat dirimu menjadi seorang iblis," ucap Hong Hua setelah terkejut beberapa saat.
Chen Li tersenyum misterius. Aura kegelapan mendadak meremges keluar lebih kental dari tubuhnya. Pendekar Merah memperlihatkan sifat yang sesungguhnya kepada orang-orang itu.
"Baik, akan aku tunjukkan sekarang juga bagaimana saat aku menjadi seorang iblis,"
Baru saja pemuda itu berkata, dirinya sudah diserang oleh tiga sinar hitam yang berkelebat sangat cepat. Bentuk sinar itu memanjang dan memancarkan kekuatan jahat. Hanya sekejap mata, ketiga larik sinar tersebut telah tiba di hadapannya.
Pendekar Merah adalah sosok yang selalu waspada dalam hal apapun. Bahkan pada saat dirinya tertidur sekalipun, dia akan selalu waspada. Seluruh tubuhnya selalu berjaga-jaga dan siap bekerja kapanpun itu.
Wushh!!!
Segulung angin dahsyat menerjang ke depan ke arah tiga sinar tersebut. Benturan keras terdengar sehingga menimbulkan suara ledakan hebat.
Ruangan itu bergetar cukup kencang.
Mata yang sebelumnya tertutup oleh kain sutera putih itu, sekarang telah terbuka. Di balik kain putih bersih tersebut, ternyata terdapat sepasang bola mata yang mengerikan.
Sepertinya segulung angin tadi tercipta karena munculnya dua bola mata aneh itu.
Kejadian ini baru mereka saksikan seumur hidupnya. Sebenarnya bola mata apakah itu? Apakah bola mata seorang Dewa? Ataukah bola mata seorang iblis?
Wushh!!!
Tiga sosok tokoh tua yang ada di sana mendadak melesat ke depan. Sekali bergerak, mereka langsung melancarkan serangan dahsyat kepada Pendekar Merah.
Mereka menyerang dari tiga sisi berbeda. Satu di kiri, satu di kanan, dan satu lagi di tengah.
Semuanya serangan hebat.
Tiga kilatan senjata tajam telah terlihat menyeramkan. Ruangan tersebut menjadi lebih sesak karena hawa pembunuhan yang semakin kental.
__ADS_1
Pendekar Merah tersenyum dingin lagi. Dia menjejakkan kakinya ke tanah lalu tubuhnya pun ikut meluncur menyongsong datangnya serangan semua lawan.
Cahaya merah menyeruak terang. Cahaya itu tampak indah. Seperti bianglala yang memanjakan mata pada saat senja tiba.
Trangg!!!
Benturan pertama terdenya sangat jelas dan nyaring. Satu sosok tubuh terdorong ke belakang beberapa langkah. Sosok itu merupakan lawan dari Pendekar Merah.
Chen Li terus menyerang tanpa ragu sedikitpun. Dia sudah dapat mengukur kemampuan ketiga lawannya. Tiga orang tokoh tua itu setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga akhir.
Kalau menyerang ketiganya sekaligus, sudah tentu pemuda itu bakal kalah. Namun kekalahan itu akan berubah menjadi sebuah kemenangan jika sia melangsungkan pertarungan satu persatu.
Karena alasan itulah, Pendekar Merah tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Jurus hebat yang diajarkan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding telah dikeluarkan.
Lawan yang dicecarnya mulai kewalahan. Serangan Pendekar Merah terlampau cepat dan dahsyat. Dia sendiri baru melihat serangan yang demikian anehnya.
Wushh!!!
Dua rekannya turut datang membantu pada saat melihat seorang rekan mereka kewalahan. Keduanya kemudian menebaskan senjatanya masing-masing. Yang satu mengarah ke leher. Satu lagi mengarah ke dada.
Respon Pendekar Merah patut diacungi jempol. Saat dia melihat datangnya dua musuh lain, pemuda itu melancarkan jurus dahsyat sehingga posisi mereka menjadi berjauhan kembali.
"Menyerang Secepat Kilat …"
Wushh!!!
Pendekar Merah berteriak lantang pada saat mengeluarkan jurus tersebut. Kekuatan hebat merembes keluar memenuhi seisi ruangan.
Pedang Merah Darah melancarkan tusukan yang amat cepat ke depan. Gerakannya seperti kilat, serangannya juga seperti kilat menyambar.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan benda keras mulai terjadi kembali. Si tokoh yang menjadi lawan Pendekar Merah merasakan seluruh tubuhnya menjadi bergetar cukup hebat.
Rasa ngilu menjalar dari telapak tangan hingga ke pangkal lengan. Dia sedang berusaha mati-matian untuk tetap bertahan di bawah gempuran pemuda asing yang misterius itu.
Wushh!!!
__ADS_1
Cahaya merah mengelilingi tubuhnya. Cahaya itu membawa sebuah tekanan hebat sehingga membuat lawannya terpaku untuk sesaat.