Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Suara Penggetar Langit Bumi


__ADS_3

Belasan pasang mata yang ada di sana langsung tertuju kepada kejadian mendadak itu. Semua tokoh tersebut tersentak kaget, mereka memandang dengan mata melotot dan mulut setengah terbuka.


Sebuah pedang pusaka milik tokoh rimba hijau, dibuat patah oleh pendekar muda hanya dalam satu kali benturan, siapa yang akan percaya tentang kejadian ini?


Gerakan si Nenek Tua Genit berhenti. Yang lainnya juga berhenti. Waktu seolah berhenti. Semuanya terasa terhenti karena kejadian yang amat mengejutkan ini.


Di depan kursi singgasana, Hong Hua juga merasakan hal yang sama. Kakek tua itu terpaku melihat kejadian barusan. Jantungnya bergetar kencang, tenggorokannya terasa tercekat. Seolah ada sesuatu yang menyumbat tenggorokan tua itu.


Untuk yang kesekian kalinya, Hong Hua dibuat terkejut oleh pendekar muda yang bernama asli Chen Li itu. Hong Hua adalah tokoh tua yang pengalamannya sudah tidak terhitung, dia sudah melihat banyak orang-orang dunia persilatan, namun dia baru pertama kali melihat orang seperti Pendekar Merah.


Meskipun usianya masih muda, tapi kekuatannya telah berada di atas. Sekilas, dia terlihat biasa saja. Namun kalau diteliti dengan seksama, pemuda itu justru merupakan pemuda yang luar biasa.


Tubuh Nenek Tua Genit bergetar hebat. Sepasang matanya masih memandangi kutungan pedang pusaka yang selalu dia banggakan. Pedang itu telah menemani dirinya mengembara ke mana pun, pedang itu juga telah mengangkat namanya hingga menjadi seperti saat ini.


Tapi sekarang, pedang itu telah tiada. Pedang itu telah patah menjadi dua bagian. Pedang yang telah membunuh sekian banyak orang, sekarang harus menemui titik akhir.


Clangg!!!


Bersamaan dengan semua hal di atas, terdengar suara nyaring beberapa kali saat kutungan pedang jatuh ke tanah.


Pada saat itu, tiba-tiba cahaya merah kembali terlihat. Cahaya itu semakin menyeruak, semakin memancarkan aura kematian yang teramat kental.


Slebb!!!


Darah merah muncrat ke segala penjuru. Suara tertahan terdengar sangat memilukan. Nenek Tua Genit melotot tajam. Dia pun tidak menyangka kalau Pendekar Merah mempunyai gerak serangan yang amat cepat.


Tubuhnya tiba-tiba ambruk pada saat pedang itu dicabut. Lidahnya terjulur. Matanya melotot tak percaya. Nenek Tua Genit telah tewas. Tewas membawa rasa ketidakpercayaan.


Empat rekan Nenek Tua Genit, termasuk si Gendut Cambuk Maut, merasakan amarah dalam tubuhnya berkobar hebat seperti api di neraka.


Tanpa berkata sepatah katapun, keempatnya langsung menerjang ke depan ke arah Pendekar Merah.


Empat sinar dari jurus dahsyat terpancar memenuhi arena sekitar. Keempatnya menyerang dari berbagai sisi. Tiga sinar senjata tajam dan satu sinar dari sebuah pukulan keras telah melesat secepat kilat ke arah Pendekar Merah.


Wushh!!! Wushh!!!


Pendekar Merah telah siap siaga. Dia selalu siap menghadapi apapun yang ada di depannya. Meskipun sedang menghadapi empat tokoh hebat secara bersamaan, tapi sedikitpun dia tidak ragu.

__ADS_1


"Menyerang Secepat Kilat …"


Wushh!!!


Tenaga dalam langit bumi warisan Pendekar Halilintar telah dikeluarkan. Kekuatan dari Mata Dewa yang sudah terbuka juga sudah dikerahkan.


Jurus terakhir dari Kitab Pembawa Maut dikeluarkan dengan kekuatan maksimal sehingga membuat jurus itu bertambah dahsyat beberapa kali lipat.


Hawa kematian terasa semakin menakutkan. Pedang Merah Darah memancarkan hawa pembunuhan yang amat sangat pekat.


Duarr!!!


Benturan untuk yang pertama kalinya terjadi. Empat jurus dahsyat bertemu dengan satu jurus yang tidak kalah dahsyatnya.


Kelima orang yang bertarung itu terdorong mundur ke belakang. Semuanya merasakan bahwa tubuh mereka bergetar. Terlebih lagi Chen Li si Pendekar Merah.


Seperti diceritakan sebelumnya, meskipun kekuatan mereka berada di bawahnya, tapi kalau menyerang secara bersama, maka ceritanya beda lagi.


Sudut bibir Pendekar Merah sedikit mengeluarkan darah kental. Pemuda itu mengusut darah tersebut dengan punggung tangan kanannya.


Wushh!!!


Seruling Dewa.


Pusaka kelas atas yang pernah menggetarkan langit bumi pada zaman dahulu kala itu sudah tergenggam erat.


"Suara Penggetar Langit Bumi …"


Wushh!!!


Alunan nada seruling yang amat keras langsung terdengar saat itu juga. Suara itu semakin lama semakin menakutkan. Nada dengan lengking sangat tinggi terdengar.


Getaran yang dihasilkan dari suara seruling itu mengguncangkan ruangan tersebut. Empat orang yang menjadi sasaran Pendekar Merah merasakan sebuah kesakitan yang sulit untuk dibayangkan.


Mereka berusaha menahan gelombang tenaga dalam dahsyat yang telah disalurkan lewat alunan nada itu. Bagi para pendekar, serangan lewat getaran suara adalah sebuah serangan yang paling sulit untuk ditahan.


Pasalnya karena serangan itu tidak terlihat. Setajam-tajamnya mata seorang pendekar, mereka tetap tidak akan sanggup melihat sebuah serangan yang dikeluarkan lewat getaran suara.

__ADS_1


Wushh!!!


Cahaya merah darah bergerak secara tiba-tiba. Suasana terasa semakin menakutkan. Semua tokoh yang hadir tidak dapat melakukan apapun. Kedua kaki mereka seolah telah terpaku pada bumi sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali.


Crashh!!!


Crashh!!!


Crashh!!!


Srett!!!


Cahaya merah yang sama seperti sebelumnya kembali terlihat. Cahaya itu keluar tepat pada saat alunam suara seruling berada di puncaknya.


Empat kali cahaya merah terlihat, empat suara kematian juga yang terdengar. Sekarang semuanya sudah lenyap. Alunan nada yang membawa kabar kematian sudah lenyap. Cahaya yang dihasilkan dari lesatan Pedang Merah Darah juga lenyap.


Semuanya kembali seperti semula. Pendekar Merah telah berdiri kembali di tempat sebelumnya. Pedang pusaka tersebut telah disarungkan kembali. Seruling Dewa pun sudah diselipkan di pinggang bagian kanannya.


Belasan pasang mata tokoh dunia persilatan sedang memperhatikan keadaan dengan teliti. Mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Untuk saat ini, mereka belum bisa memastikan kejadian apa yang telah menimpa keempat tokoh tersebut.


Alasannya karena khusus di tempat itu masih diselimuti oleh segumpal debu. Beberapa saat kemudian, debu itu menghilang.


Setelah debu lenyap tanpa sisa, para tokoh yang hadir dibuat terkejut setengah mati.


Sekarang mereka mengetahui apa yang sudah terjadi dengan rekannya. Empat tokoh pilihan, termasuk si Gendut Cambuk Maut ternyata telah mampus.


Keempatnya tewas mengenaskan. Tiga di antaranya tewas tanpa kepala. Sedangkan seorang lainnya tewas karena sebuah luka sayatan pedang memanjang yang teramat dalam.


Kematian mereka sungguh menyayat hati. Siapapun tidak akan ada yang sanggup melihatnya. Meskipun mereka tokoh sesat, namun mereka juga masih merupakan manusia. Dan selaku manusia, sudah tentu mempunyai rasa tidak tega meskipun hanya sedikit.


Suasana kembali hening. Di sana terasa jauh lebih menegangkan lagi.


Pendekar Merah maju beberapa langkah ke depan. Dia berhenti tepat di hadapan belasan tokoh itu.


"Aku sudah memenangkan pertarungan ini, sekarang aku akan menagih apa yang sudah dikatakan oleh si tua bangka gendut itu," kata Pendekar Merah dengan dingin.


Suaranya amat dingin. Dari suara itu, siapapun dapat menebak bahwa dirinya mash diliputi oleh emosi yang sangat mendalam.

__ADS_1


__ADS_2