Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Lima Tokoh Pilihan


__ADS_3

Lima orang tokoh termasuk si gendut sendiri telah berdiri tegak di hadapan Pendekar Merah. Kelimanya merupakan para tokoh pilihan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Mereka dianggap yang terbaik dari pada yang lainnya. Kelimanya sudah berusia cukup lanjut, yang paling muda mungkin hanya si gendut sendiri.


Yang satu bersenjatakan dua batang tombak berwarna perak. Orangnya tinggi tegap, sekalipun sudah tua, tapi ototnya masih tampak dengan jelas. Wajahnya kalem, dan yang paling mencolok, orang tua itu hanya mempunyai satu mata saja. Karena itulah, dirinya dijuluki si Dua Tombak Mata Satu.


Di sisi si Dua Tombak Mata Satu, ada satu sosok berpakaian paling lusuh. Orangnya bungkuk dengan tongkat kayu hitam yang meliuk-liuk di tangan kanannya. Di antara kelima tokoh pilihan, sepertinya orang itu yang usianya paling tua. Dia biasa dijuluki si Bungkuk Kilat.


Si gendut berada di tengah-tengah di antara keempat rekannya. Sekarang di tangan kanannya telah tersedia sebuah cambuk berduri berwarna hijau tua. Cambuk itu selalu mengepulkan asap hijau beracun, baunya pun cukup menyengat hidung.


Orang-orang dunia persilatan sudah mengenal dirinya. Karena dia memang punya nama yang cukup cemerlang. Julukan tokoh tua itu adalah si Gendut Cambuk Maut.


Di sisi si Gendut Cambuk Maut ada lagi seorang wanita berusia sekitar lima puluhan tahun. Wajahnya masih tampak cantik dan menawan. Padahal usianya sudah setengah abad.


Sekalipun sudah tua, tapi kerutan di wajahnya belum terlihat dengan jelas. Menurut cerita, nenek tua itu mempelajari dan mengkonsumsi sejumlah sumber daya untuk membuat wajahnya selalu tampak awet muda.


Julukannya si Nenek Tua Genit. Julukan tersebut sangat sesuai dengan kenyataan, sekalipun sudah lanjut usia, namun nenek tua itu selalu genit kepada setiap pria. Terlebih lagi kepada pemuda tampan seperti Chen Li si Pendekar Merah.


Tangan kanannya menggenggam pedang cukup panjang. Pedang itu berwarna hitam kebiruan. Sekalipun senjata tersebut belum dikeluarkan dari sarungnya, namun kekuatan kegelapan selalu keluar dari seluruh bagian pedang pusaka itu.


"Sebenarnya kau itu sangat tampan. Selain tampan, kau juga dingin. Ada sebagian wanita yang sangat menyukai pria tampan dan dingin. Bagi tipe wanita seperti itu, orang sepertimu amat sangat menarik hati," ujar si Nenek Tua Genit kepada Chen Li.


Suaranya dibuat semanja mungkin. Bagi dirinya, suara itu amat sangat merdu. Bahkan dia percaya bahwa suaranya mampu membangkitkan hasrat lawan jenis.


Itu anggapan dia pribadi.


Namun bagi orang lain yang mendengarnya, suara tersebut amat sangat menjijikan. Sangat tidak enak di dengar, kalau di ibaratkan, mungkin masih lebih bagus suara kaleng rombeng dari pada suara dirinya.

__ADS_1


"Dan apakah dirimu termasuk tipe wanita yang menyukai pria tampan serta dingin?" tanya Pendekar Merah acuh tak acuh.


Si Nenek Tua Genit tertawa kembali. Suaranya benar-benar membuat telinga terasa sakit. Bahkan suara tawa itu membuat rekan-rekan yang ada di sisinya terpaksa harus melindungi pendengaran mereka dengan tenaga dalam.


"Ternyata kau pun pandai menebak perasaan wanita," jawabnya semakin manja.


"Sayangnya aku bukan pria yang menyukai nenek tua sepertimu. Jadi bagaimanapun kau berusaha menggodaku, aku tetap tidak akan mau. Bahkan tidak sudi," ujar Pendekar Merah bertambah dingin.


Empat rekan yang ada di sisi Nenek Tua Genit berusaha menahan tawa. Mereka mengalihkan pandangan matanya agar tidak tertawa.


Sedangkan si nenek tua sendiri, dia merasa telinganya sangat sakit. Ucapan Pendekar Merah barusan telah menusuk relung hatinya yang terdalam. Sehingga membuat amarahnya meledak saat itu juga.


"Bangsat kecil. Lancang sekali mulutmu," teriaknya penuh dendam.


"Sudah tahu dia pemuda yang amat dingin, tapi kau masih mau menggodanya. Seharusnya kau lihat dirimu lebih dulu sebelum menggoda pemuda sepertinya," ejek seorang tokoh yang ada di samping Nenek Tua Genit.


Julukannya si Langkah Setan. Dijuluki demikian karena dirinya bisa melangkah sangat cepat seperti halnya setan gentayangan.


Lima tokoh itu sudah siap sepenuhnya. Mereka siap bertarung hingga titik darah penghabisan hanya demi membunuh Pendekar Merah.


Selama ini, si gendut selalu menyunggingkan senyum kemenangan. Dia merasa sangat bahagia.


Jika rencanamu berhasil, bukankah kau juga akan sama seperti dirinya?


"Heu gendut, rencanamu untuk menjebakku mungkin berhasil dan berjalan sangat mulus. Namun meskipun begitu, bukan berarti kau dapat membunuhku seperti apa yang kau bayangkan," kata Chen Li sambil melangkah satu langkah ke depan.


Dia juga sudah siap. Pedang Merah darah digenggam semakin erat. Hawa pembunuhan yang keluar dari ujung pedang itu terasa menakutkan. Debu yang ada di dekatnya dibuat berterbangan karena hawa pembunuhan itu.

__ADS_1


Selain itu, seluruh tubuh Pendekar Merah juga sudah diselimuti oleh aura putih yang amat kental. Aura putih itu menebarkan hawa kematian yang tiada hentinya.


Bola matanya masih sama seperti sebelumnya. Bedanya, bola mata tersebut bertambah menyeramkan. Seolah dari dalam bola matanya ada iblis yang siap keluar kapan saja.


"Hemm, setidaknya rencanaku sudah berjalan. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan nanti," jawabnya sedikit kaget karena ternyata pemuda itu telah mengetahui rencananya.


Belum selesai ucapan si Gendut Cambuk Maut, si Nenek Tua Genit telah menerjang lebih dulu ke arah Pendekar Merah. Dari keempat tokoh pilihan, rupanya hanya nenek tua itu yang paling marah.


Ucapan pemuda itu masih terngiang-ngiang dengan jelas di telinganya, oleh sebab itu, dia menyerang tanpa perhitungan sama sekali.


Pedang hitam kebiruan yang sudah menemani dirinya selama puluhan tahun mengarungi dunia persilatan telah terhunus ke depan. Satu tusukan datang dengan sangat cepat dan dahsyat.


Ibarat seekor ular kobra yang menyambar mangsanya, pedang itu terlihat sangat menakutkan. Nenek Tua Genit telah mengeluarkan seluruh hawa kematian yang dapat dia kerahkan.


Serangan tersebut sangat mendadak sehingga siapapun tidak akan ada yang menyangkanya. Nenek Tua Genit sudah mengerahkan seluruh tenaganya dalam serangan tersebut.


Jurus itu terlihat simpel, tapi sebenarnya mengandung satu kekuatan yang sulit untuk dibayangkan.


Jurus tersebut diberi nama Tusukan Pedang Biru, seperti juga namanya, jurus itu membawa kabar kematian dari neraka.


Trangg!!!


Pedang Merah darah bergerak jauh lebih cepat. Pedang itu secara tiba-tiba menangkis tusukan yang dilancarkan oleh Nenek Tua Genit.


Hanya satu kali cahaya merah tampak. Setelah itu cahaya tersebut langsung lenyap kembali tanpa jejak. Gerakan yang tepat dan penuh perhitungan itu telah mematahkan seluruh serangan lawan.


Ujunh Pedang Merah Darah sedikit bergetar karena berbenturan dengan pedang milik Nenek Tua Bungkuk.

__ADS_1


Jika Pedang Merah Darah bergetar, maka pedang milik nenek tua itu justru malah patah menjadi dua bagian.


__ADS_2