Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mengembara


__ADS_3

Sontak saja Chen Li merasa sangat girang sekali. Akhirnya dia mempunyai dua ekor siluman peliharaan sekaligus bisa menjadi sahabatnya seperti tokoh-tokoh pendekar yang sering tersebar beritanya.


Saking girangnya, bahkan dia sampai melompat-lompat tidak karuan. San Ong dan Ong San mengikuti gaya bocah kecil itu. Sekali pandang saja, siapapun dapat menebak bahwa mereka bertiga mempunyai kecocokan.


"Ayah, besok aku akan pergi mengembara ya,"


"Boleh, asalkan kau bisa menjaga dirimu sendiri," kata Shin Shui tersenyum sambil mengelus kepala anak semata wayangnya.


"Baik Ayah. Pesan Ayah akan selalu Li'er ingat,"


"Harus. Nah sekarang, pergilah untuk istirahat. Kau harus menyiapkan segalanya sebelum memulai pengembaraan,"


"Siap Komandan," katanya dengan girang lalu kemudian berlari sambil sesekali melompat.


San Ong dan Ong San sudah pergi juga dari sana. Entah ke mana, Shin Shui tidak perlu mengetahui ke mana perginya dua siluman tersebut. Sebab dia sudah tahu, kalau besok saatnya tiba, keduanya akan sudah pasti kembali lagi.


"Kakak Huang, sekarang sudah tidak ada orang. Kenapa kau masih juga bersembunyi?"


Suasana di sana awalnya sepi. Tak ada seorangpun kecuali Shin Shui. Namun tepat setelah dia berkata demikian, mendadak sebuah bayangan putih turun dari dahan pohon sakura yang tepat di atasnya.


"Kau memang jeli," kata Huang Taiji sambil duduk di bawah pohon sakura.


"Kau terlalu memujiku," kata Shin Shui sambil tertawa.


Dia kemudian duduk di pinggir kakak angkatnya. Arak yang harum segera dia keluarkan dari Cincin Ruang.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Huang Taiji Lu.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ingin bicara denganmu?"


"Kalau kau saja bisa tahu, kenapa aku tidak? Hahaha …"


Keduanya tertawa bersama sambil sesekali menenggak arak. Dua tokoh kelas atas sedang duduk bersama dan saling bercerita. Kalau sudah seperti ini, rasanya setan pun tidak berani mengganggunya.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa membuat Mata Dewa Unsur Bumi dapat dikendalikan oleh Li'er?" tanya Shin Shui kepada kakak angkatnya.


"Mudah saja. Namun sebelum itu, aku sempat memberikan Pil Lingkaran Dewa dan Pil Penghancur Tulang Sumsum pada Li'er. Singkatnya, aku membantunya meleburkan khasiat dari dua pil ajaib itu. Aku menyuruh Li'er untuk fokus kepada satu unsur dari Mata Dewa. Setelah berhasil, aku berusaha sebisa mungkin untuk membuat Li'er marah hingga dia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Aku bertarung dan membuatnya terdesak hebat. Seolah aku benar-benar ingin membunuhnya. Setelah itu, kekuatan Mata Dewa mulai keluar,"


"Dan yang keluar memang unsur yang diharapkan. Mata Dewa Unsur Bumi. Dari situ aku mulai membantunya untuk menguasai kekuatan dahsyat tersebut,"


Huang Taiji Lu menceritakan kembali kejadian beberapa waktu lalu. Namun sama seperti yang dilakukan kepada para tetua, dia berbohong sedikit supaya jati dirinya tidak terbongkar.


Sepanjang dia bercerita, Shin Shui sama sekali tidak memotong bicaranya. Dia mendadak menjadi pendengar yang baik.


"Baguslah. Aku sangat berterimakasih kepadamu Kakak Huang,"


"Kau tidak perlu sungkan. Dia anakmu, sudah tentu aku anggap juga seperti anakku sendiri,"


"Baiklah. Aku minta juga kepadamu supaya kau menjaga Li'er saat mengembara nanti. Dia masih anak-anak, secerdas apapun Li'er, tetap saja hakikatnya dia hanya seorang bocah berusia dua belas tahun yang kadang suka ceroboh," kata Shin Shui.


"Aii, masalah itu kau jangan khawatir. Sekalipun kau tidak memintanya, sudah pasti aku akan tetap menjaganya dengan segenap jiwa raga,"


Mereka bercerita kembali hingga hari benar-benar larut malam. Setelah merasa puas bercerita, keduanya segera kembali lagi ke kediamannya masing-masing.


Pagi hari sekali, Chen Li dan Huang Taiji sudah berada di depan gerbang Sekte Bukit Halilintar. Keduanya sudah siap untuk melakukan pengembaraan.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Chen Li dan Huang Taiji Lu ditugaskan oleh Shin Shui untuk pergi meminta bantuan ke dua sekte aliran hitam terbesar. Yaitu Sekte Seribu Iblis dan Sekte Tangan Dewa Kegelapan.


Jarak dari Sekte Bukit Halilintar untuk menuju ke dua sekte tersebut terbilang cukup jauh. Untuk mencapai ke Sekte Seribu Iblis, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sedangkan jarak untuk ke Sekte Tangan Dewa Kegelapan, dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan setengah.


Huang Taiji tentu memilih untuk pergi ke Sekte Seribu Iblis dulu. Sebab sekte tersebut lebih dekat. Dari sana, mereka akan langsung berangkat ke Sekte Tangan Dewa Kegelapan. Waktu yang dibutuhkan mungkin hampir sama, satu bulan.


"Li'er, kau jangan nakal. Kau harus menuruti semua perintah Paman Huang, mengerti?"


"Li'er mengerti Bu,"


"Anak pintar. Nah, cepatlah berangkat," kata Yun Mei sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada semua orang, akhirnya Chen Li dan Huang Taiji Lu berangkat.


Mereka pergi ke arah Utara. Keduanya segera melesat dalam kecepatan yang terbilang tinggi.


Chen Li tahu bahwa perjalannya kali ini akan jauh lebih menyenangkan. Masalah pertarungan, sudah pasti akan ada. Bahkan mungkin lebih banyak daripada sebelumnya saat dia pergi ke Kota Quandai.


Setelah beberapa saat, mereka telah berada jauh dari Sekte Bukit Halilintar. Hal pertama yang mereka lakukan setelah berada di tempat jauh adalah memastikan kondisi di sana aman.


Sebab seperti yang kita ketahui, sekarang Kekaisaran Wei sedang dilanda bencana yang amat kacau. Hampir di setiap tempat terjadi penjajahan serentak. Sebagai pendekar yang berjiwa ksatria sejati, tentu saja mereka tidak mau mengabaikan kebahagiaan warga.


Apalagi ayahnya selalu mengingatkan tentang pentingnya menolong orang. Bantu mereka yang membutuhkan, tolong mereka yang memerlukan.


Menjelang sore hari, keduanya tiba di sebuah desa yang cukup besar. Keadaan di sana tampak sepi sekali. Seperti halnya sebuah desa mati.


Tak ada siapapun yang terlihat berada diluar. Padahal suasana masih sore hari. Biasanya di jam-jam segini, justru anak-anak sedang bermain bersama.


Tetapi di desa ini sama sekali tidak ada sebatang hidung manusia sekalipun.


"Paman, sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi di sini," kata Chen Li saat keduanya berhenti di tengah-tengah desa.


"Kau benar Li'er, paman juga merasakan hal yang sama denganmu," jawab Huang Taiji Lu membenarkan perkataan Chen Li.


"Bagaimana kalau kita mencari orang yang bisa kita tanyakan informasi. Aku yakin ada suatu hal,"


"Ide yang bagus. Kalau begitu mari kita cari, "


Keduanya menyusuri kembali desa tersebut. Bahkan mereka menelusuri hingga ke pelosok desa. Namun sayangnya belum ada satu manusia pun yang dapat mereka temui dan tanyakan informasinya.


"Bagaimana kalau kita mencari rumah kepala desa di sini? Pasti dia tahu apa yang sebenarnya sedang mencari," usul Chen Li.


"Bagaimana kita bisa menemukan rumahnya?"


"Mudah saja. Tinggal kita cari rumah mana yang paling besar. Biasanya, itulah rumah para pejabat atau setidaknya orang-orang ternama di tempat tersebut,"

__ADS_1


"Hemm, betul juga. Kalau begitu, mari kita lakukan,"


Mereka bergerak kembali. Tujuannya sekarang adalah mencari rumah terbesar untuk mendapatkan informasi.


__ADS_2