Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menjadi Seorang Pembunuh


__ADS_3

Jumlah orang yang menjaga bangunan tua ada sekitar dua puluh banyaknya. Namun semuanya hanya merupakan Pendekar Langit tahap tiga.


Bagi Shin Shui, mereka semua bukanlah apa-apa. Apalagi sekarang dia sedang marah besar. Dia murka karena sahabatnya hampir tewas.


Sepuluh orang yang menjadi korban, semuanya tewas dalam luka yang sama. Yaitu leher mereka hampir buntung karena tebasan Pedang Halilintar milik Shin Shui.


Tidak ada yang sempat membuka suara. Bahkan melihat orang yang menyerangnya pun tidak. Sepuluh orang pertama, mati dalam keadaan penasaran karena mereka tidak tahu siapa yang membunuhnya.


Setelah berhenti beberapa saat, Pendekar Halilintar kembali melancarkan aksinya. Sekelebatan cahaya biru membelah kegelapan malam. Udara di sana langsung berubah mencekam diliputi hawa pembunuh.


Tangan kanan Shin Shui menggerakkan Pedang Halilintar dengan sangat cepat. Lima nyawa kembali melayang hanya dalam satu kedipan mata.


Korban yang barusan, sama seperti sepuluh korban sebelumnya. Mereka mati dalam keadaan penasaran.


Tak ada suara. Tak ada gerakan lain.


Yang ada hanyalah keseraman. Yang ada hanyalah kematian.


Tinggal lima lawan lagi yang tersisa. Shin Shui tidak mau membuang waktunya terlalu lama, apalagi situasinya sedang gawat.


Dia kembali melesat ke depan ke arah lima orang penjaga yang tersisa. Tubuhnya diselimuti hawa pembunuh yang terasa sangat kental sekali.


Pedang Halilintar berkelebat. Korban kembali tercipta. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, lima orang penjaga berkekuatan Pendekar Langit tahap tiga telah berubah menjadi jasad tanpa nyawa.


Semua kejadian ini terjadi dalam sesaat saja. Hanya hitungan menit, Pendekar Halilintar seolah telah berubah menjadi seorang pembunuh yang sangat kejam.


Dia membunuh yang bahkan lawannya tidak tahu kapan mereka terbunuh.


Dua puluh nyawa terkapar. Darah masih menetes di ujung Pedang Halilintar.


"Tahap pertama telah aku bereskan. Sekarang tinggal tahap kedua," gumam Shin Shui kemudian melenting tinggi.


Dia bertengger sesaat di celah dahan pohon. Shin Shui memastikan kembali keadaan di sekitarnya. Ternyata tidak jauh dari bangunan tua tersebut, terlihat ada sepuluh orang berwajah garang.


Kalau di lihat dari jauh, setidaknya sepuluh orang tersebut merupakan Pendekar Surgawi tahap tujuh atau Pendekar Dewa tahap satu.


Namun walaupun begitu, Pendekar Halilintar sama sekali tidak gentar ataupun takut.


Wajahnya justru seperti tidak sabar ingin menghabisi mereka semua.

__ADS_1


Tolong diingat baik-baik ya agar tidak terus-menerus terjadi salah paham, Shin Shui dapat membunuh atau terkadang bertarung cepat meskipun lawannya lebih kuat daripada lawan sebelumnya, alasannya karena dia telah mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya hingga mencapai delapan puluh persen lebih.


Karena alasan itulah di beberapa pertarungan lalu, dia berhasil menyelesaikan pertarungan dalam waktu yang jauh lebih singkat.


Angin Barat yang dingin menerpa kembali tubuh Pendekar Halilintar. Satu buah daun jatuh dengan indah ke bawah sana.


Berbarengan dengan jatuhnya daun tersebut, Pendekar Halilintar kembali bergerak.


Delapan puluh persen kekuatannya langsung dia kerahkan. Hal ini bertujuan untuk mempersingkat pertarungan.


Incaran Shin Shui tentunya mereka yang paling kemah terdahulu. Ada empat Pendekar Surgawi tahap tujuh di sana.


Dan merekalah tujuan pertama Pendekar Halilintar.


Tak ada angin tak ada hujan, keempat Pendekar Surgawi dikagetkan dengan kemunculan seorang pendekar berpakaian serba biru.


Pendekar biru itu bukan lain adalah Shin Shui adanya. Begitu tiba di hadapan empat Pendekar Surgawi, dia langsung menyerangnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Keempat lawan kaget. Untung bahwa mereka Pendekar Surgawi, sedikit banyak pondasinya telah kokoh dan ilmu yang dimiliki pun tentunya sudah terbilang hebat.


Serangan pertama yang datang berupa tebasan pedang dari sisi kanan ke sisi kiri. Sinar biru berkelebat.


"Trangg …"


Namun kejadian itu tidak berlangsung lama. Sebab beberapa tarikan nafas kemudian, Shin Shui menambah daya tekanan pada Pedang Halilintar sehingga kekuatan yang terkandung menjadi berlipat ganda.


"Krakk …"


Dua bilah pedang yang menahan pedangnya retak lalu kemudian patah. Tanpa menunggu lagi, Pedang Halilintar segera di ayunkan ke arah dua lawan.


"Crashh …"


Dua kepala menggelinding ke bawah. Dua rekan yang di dekatnya terkejut setengah mati. Mereka berniat untuk memberikan serangan balasan pula, sayangnya hal tersebut tidak terwujud.


Sebab Pendekar Halilintar telah mendahului keduanya. Pedang pusaka itu kembali melancarkan tebasan yang sangat cepat.


Mereka berdua tidak melihat apa-apa. Yang mereka saksikan hanyalah secercah cahaya biru melesat ke arahnya lalu menebas leher. Dua kepala kembali copot dari tempatnya.


Keduanya sempat berteriak sebelum nyawa mereka benar-benar melayang. Akibat dari teriakan tersebut, enam orang Pendekar Dewa tahap satu yang merupakan rekannya langsung menghampiri ke tempat kejadian.

__ADS_1


Mereka sangat terkejut ketika melihat ada empat mayat tanpa kepala. Belum lagi ada seorang pendekar asing yang berdiri tepat di tengah empat mayat itu.


"Siapa kau? Dan apa yang sudah terjadi?" tanya seorang Pendekar Dewa menahan amarahnya.


"Apaah mata kalian buta? Sudah jelas telah terjadi pertarungan. Dan akibatnya empat rekanmu kalah, sehingga beginilah jadinya. Apakah sampai di sini kalian paha?" ucap Shin Shui ketus.


Keenam orang itu menggertak giginya. Pedang di punggung dan pinggang mereka sudah digenggam erat.


"Majulah. Aku tidak ingin berbasa-basi dengan manusia rendahan seperti kalian," kata Pendekar Halilintar dengan sorot mata yang tajam.


"Bangsat, mampus kau …" bentak seorang di antara mereka.


Selesia berkata, keenamnya langsung bergerak. Enam bilah pedang telah terangkat lalu di ayunkan ke arah Shin Shui.


Tebasan dan tusukan datang secara bersamaan. Berbagai jurus juga sudah dikeluarkan oleh masing-masing pendekar.


"Trangg …" benturan pertama terjadi.


Enam pendekar tergetar karena kalah tenaga.


Shin Shui tidak berdiam diri, dia langsung melancarkan serangan berupa sabetan pedang dan pukulan keras. Sinar biru terang menyala di tengah malam. Pukulan berhawa dingin membawa kekuatan bergulung-gulung.


Pertarungan terjadi. Jurus pedang beradu mengiringi pertarungan mereka. Berbagai macam jurus tangan kosong sudah digelar.


Baru beberapa saat saja, mereka sudah bertarung hingga belasan jurus.


Shin Shui memutarkan Pedang Halilintar. Tubuhnya miring lalu mengirimkan serangan tusukan yang mengarah ke iga lawan.


Gerakan yang dia lakukan terbilang sangat cepat dan mengandung tenaga hebat. Apalagi sekarang delapan puluh persen kekuatannya sudah keluar.


Maka bagaimana ngerinya serangan itu, jangan ditanyakan lagi.


"Taria Ekor Naga Halilintar …"


"Wushh …"


Permainan pedang Shin Shui semakin hebat. Pedang pusaka itu menari bagaikan ekor naga yang mengibas apapun di sekitarnya. Hembusan anginnya terasa sangat tajam dan mampu merobek baju melukai kulit.


Enam pendekar merasa kewalahan saat pertarungan mereka sudah berjalan tiga puluh jurus. Pedang Halilintar bergerak semakin cepat. Satu serangan telak berhasil menemui sasaran.

__ADS_1


Satu lengan kiri lawannya dibuat buntung. Darah bercucuran ke tanah. Jerit memilukan terdengar berbarengan saat tangan itu jatuh.


__ADS_2