Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Keganasan Dua Siluman Kera Putih


__ADS_3

Terpaksa sepuluh Pendekar Dewa itu harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang meraka miliki. Sebab jika tidak begitu, menurut perkiraan orang-orang tersebut, mungkin hanya dalam waktu lima belas atau dua puluh jurus saja, mereka akan dapat ditumbangkan.


Bukan mustahil juga untuk dibunuh secara sadis. Mengingat bahwa jika melihat tampang siluman kera tersebut, terselip kekesalan mendalam akibat tuannya dipermainkan.


San Ong lebih mengganas. Saat pertempurannya mencapai jurus kelima belas, dia meraung sangat keras.


Suara aumannya menggetarkan langit. Bumi berguncang.


Hembusan angin langsung menerjang ganas seperti pusaran tornado.


San Ong meluncur kembali. Kali ini kedua tangannya lenyap dari pandangan semua musuh, mereka tidak mampu melihat ke mana gerakan tangan tersebut. Yang mereka lihat hanyalah sinar merah tembaga selalu berkelebat ke segala arah.


Perlahan, satu lawan mulai kewalahan. Sang Ong terus mencecar pendekar yang paling lemah. Kakinya di ayunkan memberikan tendangan telak.


Satu pendekar tewas terkapar di tanah karena tulang lehernya patah terkena tendangan keras dari siluman kera itu. Kalau saja tidak ada kulit, mungkin kepalanya sudah menggelinding.


Sembilan Pendekar Dewa yang tersisa merasa kaget setengah mati. Hanya dalam beberapa saat saja, rekan mereka sudah tewas.


Padahal semua orang itu tahu, kekuatan mereka sudah terbilang lumayan. Tak disangka, mereka harus tewas di tangan seekor siluman kera.


Setelah satu lawannya tewas, San Ong tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya bergerak lagi sehingga mengeluarkan gugusan sinar membara di tengah udara hampa.


Sembilan pendekar yang tersisa melancarkan jurus ampuhnya. Namun San Ong dapat menghindari semua jurus serangan tersebut dengan mengandalkan kecepatannya.


Hujan serangan kembali datang menerpa sembilan pendekar. Siluman kera San Ong telah mengeluarkan kekuatannya hingga mencapai sembilan puluh persen.


Ini artinya, dia sudah benar-benar serius.


Serangkaian pukulan beruntun dia layangkan. Bulunya mengeras seperti baja. Hal ini membuat sembilan pendekar kebingungan. Harus dari posisi mana dia menyerang?


Sebisa mungkin orang-orang tersebut berusaha untuk tetap bertahan dengan jurus pertahanan.


San Ong melancarkan pukulan jarak jauh yang tidak terhitung banyaknya. Tendangan keras dia lancarkan bersamaan dengan pukulan tersebut.


Tak hanya itu saja, dia sendiri juga turut ambil bagian. Siluman kera putih tersebut melayang di udara lalu memberikan jurus dahsyat.


Dua buah bola api berhasil dia ciptakan. Secepat kilat dirinya langsung melemparkan bola api tersebut ke arah semua lawan.


Datangnya bola api persis seperti meteor. Hawa panas sangat terasa kental sekali.


Sembilan pendekar dalam keadaan tidak beruntung. Tiga serangan dahsyat melesat secara bersamaan. Apa yang harus mereka lakukan?

__ADS_1


Belum sempat menentukan tindakan yang akan mereka ambil, tiga serangan tersebut lebih dahulu menerjang.


"Duarr …"


Tanah bergetar. Ribuan pukulan, serangan keras dan dua buah bola api berukuran lumayan besar, dengan telak menghantam sembilan pendekar.


Tak ayal lagi, mereka tewas dengan tubuh gosong karena terbakar panas dari dua bola api.


###


Serangan Shin Shui yang pertama berupa tebasan pedang energi tadi, ternyata mampu dihindari oleh sepuluh Pendekar Dewa.


Sepuluh orang tersebut bahu membahu untuk mengalahkan Pendekar Halilintar. Tanpa tanggung-tanggung, seluruh kekuatan yang mereka miliki langsung digelar.


Alasannya karena mereka tahu bahwa orang yang menjadi lawannya saat ini, bukanlah orang sembarangan.


Sepuluh pendekar telah mencabut senjata mereka yang terdiri dari berbagai macam itu. Semuanya menyerang secara serentak. Tidak ada celah kosong untuk keluar dari kurungan serangan.


Untuk beberapa saat, benturan berbagai macam senjata dengan Pedang Halilintar terdengar nyaring. Bunga api memercik ke udara kosong.


Shin Shui menari. Pedang Halilintar memberikan tebasan dan tusukan maut yang tiada henti ke setiap lawannya.


Aura pembunuh terasa sangat kental dan menekan. Hal ini disebabkan karena entah sudah berapa banyak nyawa yang tewas di tangan Pendekar Halilintar.


Sedangkan Shin Shui, saat ini telah memainkan jurus pedang terhebat.


"Tarian Ekor Naga Halilintar …"


Pedang pusaka itu berkelebat secepat kilat. Tebasan dari sisi kanan dan kiri langsung dilancarkan tanpa henti. Puluhan tusukan pedang melesat hanya dalam waktu beberapa detik saja.


Sepuluh pendekar merasa kewalahan. Mereka tidak ada yang dapat mengetahui ataupun melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Namun yang pasti, sepuluh jurus kemudian, delapan dari sepuluh orang, kini telah terkapar tanpa nyawa. Semuanya mengalami luka dan derita yang sama.


Mereka tewas dengan luka di leher. Ada yang kepalanya buntung, dan ada yang kepalanya hampir buntung.


Tidak ada suara jeritan. Bahkan suara rintihan juga tidak terdengar.


Karena sebelum mereka melakukan hal tersebut, nyawanya sudah jauh lebih dulu melayang.


Dua pendekar yang selamat merasa sangat ketakutan. Seumur hidupnya, mereka baru melihat kejadian mengerikan seperti ini. Seorang pendekar membunuh hanya dalam waktu singkat.

__ADS_1


Bagi mereka, pendekar tersebut bukanlah orang. Melainkan Malaikat Pencabut Nyawa.


Dua orang itu ingin berteriak meminta ampun. Sayangnya sudah terlambat.


Sebab saat mulut mereka baru terbuka, saat itulah satu tusukan kematian telah bersarang di masing-masing tenggorokan keduanya.


Sepuluh pendekar, tewas di tangan Pendekar Halilintar dalam waktu relatif singkat.


###


Pertempuran Ong San masih berlangsung. Namun di sana juga sama, sepertinya sudah mencapai pertempuran puncak.


Ong San berputar seperti tornado. Dua gulung kekuatan dahsyat keluar lalu kemudian menerjang semua lawannya. Tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya melesat memberikan pukulan kepada masing-masing lawan.


Begitu mereka terpental jauh, siluman kera tersebut mengejarnya lalu memborbardir dengan segala macam jurus.


Semuanya tidak ada yang dapat menahan ataupun menangkis. Sebah datangnya serangan bagaikan air bah.


Hanya dalam sepuluh jurus kemudian, sepuluh Pendekar Dewa tahap dua, kehilangan nyawa di tangan seekor siluman kera.


Tiga pertempuran yang jumlahnya cukup banyak selesai. Kemenangan tentu diraih oleh pihak Pendekar Halilintar.


Tidak ada yang terluka parah di antara mereka. Paling-paling hanya luka goresan kecil dan hantaman tak berarti.


Tiga wanita yang sejak awal menyaksikan pertempuran dahsyat tersebut merasa jeri. Kini mereka telah melihat jelas bagaimana kehebatan dua siluman kera putih itu.


Kalau dua siluman yang bersamanya saja sudah sekuat itu, apalagi dengan Pendekar Halilintar sendiri?


Membayangkan hal tersebut, tanpa terasa bulu kuduk mereka berdiri.


Secara tiba-tiba, dua orang pendekar wanita yang masih memakai cadar, berniat untuk melarikan diri dari sana.


Sayangnya baru tiga langkah melompat, dua sinar biru melesat menembus paha keduanya.


Mereka jatuh ke tanah. Darah mengucur deras dari paha yang terluka tersebut.


Pisau energi.


Senjata itulah yang membuat mereka jatuh barusan.


"Kau pikir bisa melarikan diri dari cengkraman Pendekar Halilintar?" Shin Shui berkata dengan tegas disertai sorot mata tajam.

__ADS_1


Tatapan matanya menembus jantung menggetarkan jiwa.


__ADS_2