Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XVII


__ADS_3

Duarr!!!


Ledakan dahsyat langsung terdengar. Sepuluh tokoh itu ternyata tidak main-main lagi. Baru saja pertarungannya akan dimulai, mereka telah melancarkan serangan dengan jurus terdahsyat miliknya.


Wushh!!!


Pertarungan dilanjut kembali. Sepuluh tokoh itu sadar jika menghadapi Kakek Sakti Manusia Dewa dari jarak jauh, mereka tidak akan bisa menang. Harapan untuk menang sama sekali tidak ada.


Karena itulah, sepuluh orang tersebut lebih memilih untuk menyerang dari jarak dekat dengan harapan bisa membunuh Kakek Sakti Manusia Dewa.


Mereka sangat yakin jika mampu bekerja sama dengan baik, sosok pria tua itu pasti bisa dibunuh dengan mudah. Asalkan kesepuluhnya saling melengkapi satu sama lain.


Sebagai tokoh yang sudah kenyang dengan segudang pengalaman, Kakek Sakti Manusia Dewa pastinya dapat membaca apa yang akan direncanakan oleh sepuluh lawannya tersebut.


Dia melemparkan sebuah senyuman hangat. Senyuman hangat tapi membawa maut.


Wushh!!!


Trangg!!! Trangg!!!


Dua senjata pusaka kelas tinggi telah patah hanya dengan jepitan kedua jari Kakek Sakti Manusia Dewa.


Jepitan kedua jari orang tua itu ternyata lebih keras dari pada baja dan lebih kuat dari pada gigitan seekor harimau pemangsa.


Masing-masing pemiliknya terkejut setengah mati. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa senjata pusaka yang selama ini dibanggakan, ternyata bisa dipatahkan hanya dengan jepitan jari tangan.


Crashh!!!


Cahaya putih berkelebat. Dua kepala terlempar jauh lalu menggelinding jatuh ke tanah.


Delapan musuh yang tersisa ingin bergerak, tapi mereka tidak sempat melakukannya. Karena tepat setelah membunuh dua orang tokoh kelas atas, Kakek Sakti Manusia Dewa kembali melayangkan serangkaian serangan dahsyat.


Kedua tangannya bergerak secara bersaan. Dua tangan itu melancarkan pukulan berantai yang sangat cepat. Tusukan dengan jari telunjuknya sangat kuat. Tusukan itu bahkan dapat menghancurkan sebuah batu besar sekalipun.


Blarr!!! Gelegar!!!

__ADS_1


Ledakan demi ledakan terjadi. Kakek Sakti Manusia Dewa tidak berhenti melancarkan serangan dahsyat.


Beberapa saat kemudian, satu persatu lawannya mulai tewas. Tusukan jari dan hantaman telapak tangan kakek tua itu sungguh sulit dibayangkan. Di dunia ini, mungkin hanya dia saja yang dapat melakukan hal tersebut.


Crashh!!! Slebb!!!


Hanya dengan jari tangan, dia mampu menembus tenggorokan tokoh kelas atas dari Kekaisaran lain. Hanya dengan tebasan tangan, dia mampu membuat kutung kepala tokoh terkenal dari negeri lain.


Tangannya seperti pedang. Tusukannya seperti ujung mata tombak yang sangat tajam.


Seolah jari dan tangan itu merupakan sebuah senjata pusaka. Pusaka tanpa tanding yang mengerikan.


Delapan nyawa manusia kembali melayang oleh Kakek Sakti Manusia Dewa. Keadaan di sekitarnya menjadi lenggang. Para pasukan musuh tidak ada lagi yang berani mendekat setelah sebelumnya mereka melihat puluhan ribu rekannya terlempar lalu tewas saat itu juga.


Angin berhembus membawa bau amis darah. Debu mengepul menutupi pandangan mata.


Pada saat itu, Kakek Sakti Manusia Dewa sedang berdiri sambil memandangi keadaan di sekitarnya. Matanya menatap ke sekeliling, dia tersenyum hangat. Tapi di balik kehangatan senyumannya tersebut, ada kesedihan yang tidak bisa diceritakan.


Sampai kapan perang ini akan berlangsung? Berapa banyak lagi manusia yang akan menjadi korban selanjutnya? Apakah perang ini akan terulang kembali?


Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya secara bergantian. Kakek Sakti Manusia Dewa tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri. Dia hanya mampu menghela nafas dalam-dalam sambil menyesalkan apa yang dilakukan oleh para manusia.


Apa yang sebenarnya terjadi?


###


Huang Taiji bertarung sengit melawan lima pendekar pilih tanding dari Kekaisaran Tang. Manusia setengah Dewa itu telah mengeluarkan kekuatannya semaksimal mungkin. Dia sudah sangat marah. Dia tidak lagi memberikan ampun bagi siapapun yang berani menghalangi jalannya.


Lima pendekar pilih tanding itu merupakan satu kelompok. Kerja sama mereka telah terkenal di negerinya. Setiap orang-orang dunia persilatan pasti mengenal mereka berlima.


Lima orang itu biasa dijuluki Lima Serigala Kelaparan. Dijuluki seperti itu alasannya karena saat mereka melangsungkan sebuah pertarungan, kelimanya akan menyerang brutal seperti kawanan serigala yang sedang lapar.


Lima Serigala Kelaparan menyerang dengan kalap. Lima macam senjata pusaka menerjang Huang Taiji si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding dengan ganas.


Lima gulungan sinar seperti bianglala terlihat indah namun menakutkan. Di balik keindahan itu ada sebuah ancaman. Ancaman mengerikan yang bernama kematian.

__ADS_1


Wushh!!! Wushh!!! Trangg!!!


Lima macam serangan berbeda yang menerjang ke arah Huang Taiji, berhasil dia tahan. Pedang Tombak Surga Neraka diangkat lalu dengan gerakan kilat langsung menahan gempuran serangan tersebut.


Senjata pusaka pilih tanding itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Hawa panas dan hawa dingin menyeruak ke seluruh penjuru mata angin.


Wushh!!!


Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding bergerak lebih dulu. Pedang Tombak Surga Neraka bergerak sangat cepat melebihi helaan nafas seseorang.


Huang Taiji menyerang dengan ganas. Saat ini dia sudah mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya, bahkan tanpa sadar orang tua itu mengeluarkan sedikit kekuatan para Dewa.


Kalau sudah seperti itu, siapa yang sanggup menahannya?


Crashh!!!


Hanya beberapa saat, lima nyawa telah melayang. Pedang Tombak Surga Neraka berhasil mencabut nyawa lima pendekar pilih tanding tersebut.


Darah menyembur dengan deras.


Huang Taiji tersenyum dingin. Setelah kelima lawannya tewas, dia langsung pergi untuk mencari lawan lainnya lagi.


Perang besar ini sudah berlangsung cukup lama. Korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak juga sudah sangat banyak. Para tokoh kelas atas dari masing-masing Kekaisaran sudah banyak yang meregang nyawa.


Termasuk sepuluh tokoh terkuat dari Kekaisaran Wei. Dari sepuluh tokoh itu, sekarang yang tersisa hanyalah Kaisar Wei An, Pendekar Halilintar dan Raja Seribu Pedang.


Selebihnya, mereka telah tewas. Mereka tewas sebagai pahlawan yang membela tanah airnya dengan segenap kemampuan.


Para keluarga korban yang mengetahui kabar tentang gugurnya para tokoh tersebut langsung menangis histeris.


Para pendekar muda yang bersangkutan marah besar. Mereka menerjang siapa saja yang berani menghalanginya. Amarahnya tidak bisa dijelaskan lagi. Dendamnya tidak dapat dilukiskan lagi.


Cucu dari masing-masing tokoh tersebut mengeluarkan kekuatan hingga ke titik tertinggi. Mereka bagaikan naga muda yang menari di antara pusaran badai.


Pertarungan para pendekar muda yang kelak akan menjadi generasi penerus semakin menegangkan. Mereka mengeluarkan jurus terkuat secara berturut-turut.

__ADS_1


Kekuatannya seolah bertambah beberapa kali lipat. Moi Xiuhan, Li Meng Yi, Eng Kiam dan yang lainnya bertarung sekuat tenaga. Mereka melampiaskan amarahnya kepada pasukan musuh ataupun kepada para pendekar yang kini sedang bertarung dengan mereka masing-masing.


Suara ledakan dahsyat tidak pernah berhenti. Sinar yang berasal dari berbagai macam jurus mengerikan tidak pernah menghilang dari pandangan. Sinar itu terus terlihat berganti-ganti seiring berjalannya perang berlangsung.


__ADS_2