Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ah Kui


__ADS_3

"Sudah aku katakan, mereka memang mati," kata Pendekar Tanpa Perasaan menegaskan kembali ucapannya.


Si tokoh tua itu hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Hatinya dirundung kesedihan mendalam. Kabut kepedihan menutupi relung hatinya.


Pendekar Tanpa Perasaan menarik Pedang Merah Darah. Dia menyarungkan pusaka tersebut lalu segera memasukannya ke dalam Cincin Ruang.


Pedang telah lenyap. Seekor burung phoenix tiba-tiba muncul dan sudah bertengger di pundak sebelah kanannya.


Phoenix Raja.


Yang dimaksudkan memang burung istimewa itu.


"Akhirnya aku bebas juga setelah sekian lama terkurung," kata Phoenix Raja sambil menatap ke sekelilingnya.


"Aku membutuhkan bantuanmu. Sebab petualangan kita yang sebenarnya baru akan dimulai," kata Chen Li sambil memberikan beberapa potong daging segar yang dia ambil dari Cincin Ruang.


"Aku selalu siap membantu Tuan Muda,"


"Bagus, aku percaya kepadamu,"


Sementara itu, melihat pemuda tersebut telah menarik senjatanya, si tokoh tua Organisasi Elang Hitam pun turut kembali menarik tombaknya.


"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanyanya dengan tatapan mata kebingungan.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti. Sekarang kita cari sebuah tempat yang nyaman," jawab Chen Li.


Sosok tua tersebut mengangguk. Tanpa membantah sedikitpun, dia lantas segera pergi mengikuti Pendekar Tanpa Perasaan.


Keduanya melesat cepat bagaikan hembusan angin di musim semi. Mereka adalah tokoh kelas atas, sudah tentu ilmu meringankan tubuhnya tidak perlu diragukan lagi.


Hanya beberapa tarikan nafas, keduanya sudah berada jauh dari gedung yang merupakan markas cabang Organisasi Elang Hitam.


Duarr!!!


Ledakan keras terdengar mengguncangkan langit bumi. Gedung yang sedemikian megahnya tiba-tiba hancur rata dengan tanah. Puluhan mayat yang berserakan, sekarang telah hangus terpanggang api membara.


Sebuah bayangan merah tiba-tiba melesat dari arah belakang. Bayangan itu bukan lain merupakan Phoenix Raja. Dia kembali bertengger di tempatnya semula.


Ternyata yang telah meledakan markas cabang tersebut adalah burung siluman itu. Entah bagaimana cara dia melakukannya, yang jelas, kejadian tersebut merupakan kenyataan. Bukan sebuah khayalan.


"Di sana tidak ada harta. Mungkin mereka menyimpan harta itu di suatu tempat yang rahasia. Aku tidak dapat menemukannya," kata Phoenix Raja kepada Chen Li.


"Tidak masalah. Lagi pula aku tidak terlalu membutuhkan harta sesat mereka," jawab Pendekar Tanpa Perasaan sambil tetap mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menggunakan ilmu meringankan tubuh, akhirnya mereka berdua telah tiba di sebuah tempat.


Tempat yang indah, tempat yang nyaman tenteram dan sejuk.


"Kenapa kita harus ke bukit seperti ini?" tanya orang tua tersebut.


"Karena aku menyukai tempat yang sunyi sepi,"


"Sepertinya kau sudah terbiasa hidup sendiri," kata si tokoh tersebut.


Chen Li tidak menjawab lagi. Dia lantas duduk di sebuah batu, tangan kanannya dikibaskan. Dua guci arak dengan satu krat daging telah muncul di hadapan mereka.


"Siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Chen Li kepada orang tua yang ada di sampingnya,"


"Ah Kui,"


"Nama yang unik,"


"Begitulah. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, sebenarnya kenapa kau tidak membunuhku?" tanya orang tua yang ternyata bernama Ah Kui itu.


"Karena aku membutuhkanmu. Aku ingin menghancurkan seluruh markas Organisasi Elang Hitam, bahkan aku ingin melenyapkan organisasi itu," katanya dengan nada dingin.


Ah Kui terbelalak. Hampir saja dia tersedak arak yang baru masuk ke tenggorokannya.


"Aku serius,"


"Kau benar-benar pemuda yang nekad,"


Ah Kui hanya mampu menghela nafas kembali. Di hadapan pemuda seperti sosok Pendekar Tanpa Perasaan, dirinya memang tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya diam atau menurut seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya.


"Tapi sebelumnya, apakah kau yakin bahwa aku akan membantu rencanamu untuk melenyapkan Organisasi Elang Hitam?" tanya Ah Kui setelah beberapa kali meneguk arak.


"Sangat yakin,"


"Alasannya?"


"Alasannya karena dari wajahmu aku tahu bahwa kau sudah tidak ingin bergabung dalam organisasi sesat itu. Dari wajahmu, aku tahu kau sudah lelah menjalani kehidupanmu selama ini. Aku juga tahu, sebenarnya kau sangat ingin lepas dari belenggu itu, hanya saja ada sesuatu yang tidak bisa membuatmu keluar dari lingkaran setan tersebut," kata Pendekar Tanpa Perasaan dengan mimik wajah serius.


Ah Kui tampak terkejut untuk beberapa saat lamanya. Orang tua itu tampak kaget dengan semua penjelasan Chen Li barusan. Wajah yang sudah tua itu mendadak lebih tua beberapa tahun lamanya. Kerutan di wajahnya semakin jelas terlihat.


"Bagaimana kau bisa mengetahui semua hal itu?" tanyanya keheranan.


Seingatnya, dia sama sekali tidak pernah bicara apapun kepada Chen Li. Bahkan dia yakin bahwa dirinya baru bertemu pertama kali ini.

__ADS_1


Baru pertama kali, tapi sedikit banyak pemuda itu sudah tahu tentang seluk beluk dirinya, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Apakah dia seorang peramal?


"Wajahmu yang memberitahukan semuanya kepadaku," jawab Chen Li lalu meneguk guci araknya.


Ekspresi wajah seseorang pasti mengandung arti tersendiri. Asal kau belajar tentang ilmu itu, maka kau akan mengetahui berbagai macam rahasia orang lain hanya dengan melihat wajahnya. Terlebih lagi sepasang matanya.


Apakah ilmu itu benar-benar ada?


Ilmu itu memang ada. Nyata. Pertanyaannya, apakah kau mau belajar, atau tidak?


"Kau benar, sebenarnya sudah lama aku ingin keluar dari Organisasi Elang Hitam, hanya saja aku tidak bisa karena syarat yang akan aku terima amat berat,"


"Memangnya syarat apa yang bakal diterima jika ada orang yang ingin keluar?"


"Mati,"


Ah Kui menjawab dengan sangat singkat. Tapi meskipun singkat, jawaban itupun mengandung makna yang dalam.


Walaupun tidak dijelaskan lebih jauh lagi, tapi Chen Li sudah mengerti maksudnya.


Berarti setiap orang yang ingin keluar dari Organisasi Elang Hitam, mereka akan mati. Entah itu mati digantung, mati digorok, ataupun mati ditebas kepalanya.


Yang jelas, mereka bakal mati.


Manusia mana yang ingin mati mengenaskan seperti itu? Siapapun pasti tidak ingin.


"Benar-benar organisasi yang tidak berprikemanusiaan," desis Pendekar Tanpa Perasaan.


Sekalipun dia terkadang kejam, namun diapun tidak pernah sekejam mereka.


"Sangat kejam,"


Sekarang Chen Li mengerti kenapa wajah Ah Kui menampilkan ekspresi seperti itu. Kalau dia sendiri berada di posisinya yang amat tertekan oleh keadaan, mungkin pemuda itupun akan mengalami hal yang sama.


"Tenanglah, sekarang kau sudah terlepas dari belenggu itu,"


"Belum, sama sekali belum. Mereka pasti akan mencariku lalu akan membunuhku," katanya dengan rasa takut.


"Selama ada aku, nyawamu pasti akan selamat. Kau tenang saja, asalkan kau mau menunjukkan di mana markas utama Organisasi Elang Hitam, aku jamin tiada seorangpun yang sanggup menyentuh seujung rambutmu,"


Ah Kui terpaku sesaat. Dia tidak menyangka bahwa pemuda yang kejam itu, ternyata mempunyai satu sisi lain yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan.


"Bagaimana, apakah kau setuju dengan syarat yang aku ajukan?" tanya Chen Li setelah beberapa saat tidak ada jawaban.

__ADS_1


__ADS_2