Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar VI


__ADS_3

Blarr!!!


Benturan dua jurus dahsyat terjadi. Bumi bergetar dan gelombang kejut menyapu semua yang ada di sekitar tempat tersebut.


Raja Neraka Tanpa Ampun semakin mengganas. Sepak terjangnya mampu membuat siapapun ngeri. Orang tua itu melompat menembus mega. Begitu turun, satu pukulan dahsyat telah dia layangkan.


Gelegar!!!


Pukulan terakhir itu datangnya sangat cepat. Kekuatan yang terkandung di dalamnya juga sangat dahsyat. Sulit untuk menjelaskan bagaimana dahsyatnya pukulan tersebut.


Sebab pukulan barusan adalah jurus pamungkas dari Fang Han si Raja Neraka Tanpa Ampun.


Mengguncangkan Neraka Membebaskan Seribu Iblis.


Sebuah pukulan yang teramat dahsyat. Selama ini, belum pernah ada seorang manusiapun yang dapat bertahan dari keganasan jurus tersebut.


Semua manusia yang menjadi sasaran jurus Mengguncangkan Neraka Membebaskan Seribu Iblis semua mampus dengan kondisi mengenaskan. Tubuh mereka bakal gosong mulai dari atas sampai bawah.


Dara mereka mengental saat itu juga. Keadaannya persis seperti manusia yang dibakar hidup-hidup. Siapapun korbannya, pasti bakal berada dalam keadaan seperti itu.


Tak terkecuali meskipun dia merupakan kepala tetua sebuah sekte.


Seperti juga saat ini, lawan Fang Han yang merupakan seorang kepala tetua sekte di negerinya, tewas dalam keadaan yang telah disebutkan di atas.


Orang itu tewas membawa seribu tanda tanya ke alam baka. Dia tidak melihat bagaimana caranya Raja Neraka Tanpa Ampun merenggut nyawanya, dia tidak tahu jurus yang digunakan. Dan dia juga tidak tahu bagaimana cara Fang Han melakukannya.


Pasukan musuh yang melihat pertarungan dari jauh, semuanya lari terbirit-birit. Mereka ingin menghindari Fang Han sejauh mungkin. Bahkan kalau bisa, pasukan yang ketakutan itu ingin lari dari gelanggang pertempuran.


Sayangnya mereka tidak bisa melakukan hal tersebut. Tidak bisa sama sekali.


Karena detik selanjutnya, satu gelombang tenaga yang sangat dahsyat mendadak menerjang dirinya dari arah sebelah kanan.


Wushh!!!


Ratusan pasukan musuh terlempar sangat jauh. Semuanya berteriak ketakutan. Mereka meregang nyawa sebelum tubuhnya mengenai tanah.


Jumlah korban kembali bertambah. Darah bertambah pula.

__ADS_1


Gelombang barusan adalah efek dari pertarungan yang tidak kalah hebatnya. Orang yang terlibat dalam pertarungan tersebut juga bukan orang biasa.


Di sana ada Fu Wei si Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma. Kepala Tetua Sekte Seribu Iblis itu sedang bertarung melawan dua orang tetua sekte dari Kekaisaran Sung.


Kedua musuhnya setara dengan Pendekar Dewa tahap empat awal. Meskipun begitu, Fu Wei tidak merasa jeri. Dia bertarung dengan gayanya yang selalu tenang tapi menghanyutkan.


Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma sendiri masih merupakan tokoh terkuat di Kekaisaran Wei sekarang ini. Dia menempati posisi kedelapan, satu tingkat di atas Raja Neraka Tanpa Ampun.


Sekali lagi, dua tokoh kelas atas aliran sesat sedang bertarung dengan sengit, Fu Wei tidak main-main. Dua lawannya bukan tokoh sembarangan, karena itulah, orang tua itu memutuskan untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Jubah ungunya selalu memancarkan aura kematian yang sangat pekat. Asap berwarna ungu terus keluar mengelilingi seluruh bagian tubuhnya.


Kerudng ungunya menambah daya keseraman yang dia miliki. Fu Wei mirip malaikat. Malaikat Pencabut Nyawa yang tidak pernah mengenal ampun.


Wushh!!!


Dua lawannya mendadak menerjang dengan kalap. Dua sinar putih melesat sangat cepat. Dua serangan berbahaya hampir tiba di hadapannya.


Blarr!!!


Sayang, dugaannya itu keliru. Sangat-sangat keliru.


Belum sempat mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, cahaya berwarna ungu telah meluncur deras ke depannya lebih dulu. Datangnya cahaya itu seperti hantu yang tidak pernah diduga sebelumnya.


Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma menunjukkan kemampuannya yang jarang dimiliki oleh orang lain. Orang rua itu mendadak menjadi dua sosok.


Keduanya sangat mirip. Siapapun pasti akan sulit membedakan antara yang asli dan yang palsu.


Fu Wei menyerang. Tingkat bulan sabit yang jarang dia keluarkan, kini telah digenggam erat di tangan kanan. Sabetannya menyapu segala yang ada. Debu mengepul tinggi menyatu dengan bebatuan.


Tebasan pertama membawa kabar maut. Dua lawannya terlempar sepuluh langkat ke belakang. Mereka seolah merasakan ada kekuatan sebesar gunung yang mendorongnya.


Belum sempat mendapatkan posisi pasti, serangan berikutnya telah datang lagi.


Dua sosok Fu Wei menerjang. Serangan beruntun langsung dikerahkan demi mempersingkat jalannya pertarungan tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!

__ADS_1


Angin yang mengandung racun langsung menyebar dalam jarak seratusan meter. Pasukan musuh yang tidak sempat menghindar, langsung ambruk lalu tewas saat itu juga.


Pasukan yang menjadi korban itu berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tubuh mereka menyusut. Seperti orang yang dihisap energi kehidupannya. Dari masing-masing mulutnya mengeluarkan busa berwarna putih keunguan.


Mereka tewas keracunan.


Jurus yang bernama Racun Pembunuh Seluruh Alam memang dahsyat. Selama kekuatan musuh masih di bawah kekuatan Pangeran Setan Bayangan Pencabut Sukma, maka tidak peduli siapapun orangnya, dia tidak mungkin bisa selamat dari ancaman kematian.


Terbukti sekarang, dua lawan tangguhnya saat ini sudah berada salam keadaan sekarat.


Sekujur tubuhnya mulai berubah warna menjadi keunguan. Masing-masing mulutnya mengeluarkan busa yang berbau busuk. Sepasang matanya melotot, kedua tangannya memegangi leher sekuat tenaga.


Mereka kelojotan beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar mampus di bawah jurus mengerikan tersebut.


Fu Wei tertawa. Suara tawanya menggema ke seluruh alam semesta. Suara tawa itu seolah menggetarkan bumi, membuat pasukan musuh bergulingan karena merasa gendang telinganya di tusuk oleh ribuan jarum.


###


Waktu berjalan lambat. Matahari sudah condong ke sebelah barat. Sinar kemerahan menerpa seisi jagat raya. Lapangan luas yang sudah merah oleh darah itu, bertambah merah lagi.


Walaupun waktu akan berganti, tetapi perang masih belum berhenti. Justru perang besar itu semakin menjadi.


Teriakan semakin menggema. Kobaran api semangat semakin menggelora. Perjuangan ini harus sampai titik darah penghabisan.


Meskipun sudah banyak tokoh dari dua Kekaisaran musuh yang tewas, tapi tak urung sudah banyak pula tokoh Kekaisaran Wei yang turut mampus.


Sekilas kedudukan memang imbang. Tetapi jika di lihat lebih teliti lagi, sebenarnya perang ini tidak imbang. Pihak Kekaisaran Wei mulai terpojok secara perlahan.


Pasukan musuh tiada habisnya. Baik dari segi pasukan kelas bawah, maupun dari tokoh kelas atas.


Hal ini menjadi kerugian besar bagi Kekaisaran Wei. Meskipun mereka mendapatkan bantuan dari pil ataupun sumber daya lainnya, tetapi orang-orang gagah tersebut tidak bisa untuk terus melakukannya. Sebab jika terlalu sering, akan mengakibatkan efek tersendiri.


Di sebelah barat, Chen Li sedang bertempur melawan empat orang. Masing-masing dari mereka merupakan Pendekar Dewa tahap dua akhir.


Hal ini menjadi beban tersendiri. Chen Li berada dalam keadaan terdesak hebat. Keempat musuhnya menyerang tanpa kenal lelah. Sepertinya mereka juga menyadari bahwa bocah itu sangat berbahaya.


Karena itulah, jurus serangan yang dilancarkan juga tidak diragukan lagi. Berbagai macam jurus dahsyat menggempur Pendekar Tanpa Perasaan dari segala penjuru.

__ADS_1


__ADS_2