Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menjalankan Misi


__ADS_3

Kedua orang tersebut langsung menghentikan pertarungannya. Chen Li melompat lalu turun tepat di depan Pendekar Pedang Tombak.


"Terimakasih Paman. Li'er pasti tidak akam mengecawakan Paman," kata Chen Li sangat gembira.


"Sudah, sudah. Sekarang kita segera pulang. Ibumu pasti sudah menunggu, nanti kalau ada kesempatan lagi, Paman akan mengajarkanmu jurus pedang yang Paman janjikan," ucapnya sambil mengelus kepala bocah itu.


"Baik Paman, Li'er akan menunggu saat itu,"


Huang Taiji Lu hanya tersenyum sambil sedikit mengangguk. Dalam hatinya dia juga merasa sangat senang. Terlebih lagi karena tugas beratnya sudah berkurang walaupun baru sedikit.


Mereka segera kembali ke Sekte Bukit Halilintar. Hanya dalam beberapa saat saja, keduanya telah sampai kembali.


Chen Li segera masuk ke kediamannya karena Yun Mei ternyata sudah menunggu sejak tadi.


"Li'er, apakah sudah selesai berlatih dengan Pamanmu?" tanyanya saat bocah itu menghampiri.


"Sudah Bu,"


"Hemm, sepertinya kau sudah mengalami hal baru, seperti ada yang berbeda dari dirimu," katanya sambil memandangi Chen Li dari atas sampai bawah.


"Mungkin hanya perasaan Ibu saja. Ibu, Li'er ngantuk," rengek bocah itu dengan manja.


Tanpa banyak bicara lagi, Yun Mei segera mengajaknya untuk beristirahat. Dia tidak menanyakan apapun lagi. Namun dalam hatinya, wanita itu tahu bahwa anaknya telah mengalami hal baru.


Walaupun dia jarang berlatih, tapi kekuatannya terus meningkat tajam. Bahkan saat ini saja dia sudah menginjak tingkatan Pendekar Dewa tahap tujuh awal.


Yun Mei berlatih hanya di saat-saat tertentu. Sedangkan di hari biasa, dia lebih memilih untuk menjalankan tugas sebagai seorang ibu sekaligus istri. Atau juga sebagai salah satu wakil ketua di Sekte Bukit Halilintar jika Shin Shui sedang tidak ada, seperti saat ini misalnya.


Sementara itu, Huang Taiji Lu juga sudah kembali ke tempat kediamannya. Orang tua itu sedang berbaring sambil tersenyum sendiri menatap langit-langit.


Malam ini dia benar-benar gembira. Banyak hal yang membuatnya tersenyum puas. Dan besok, rencananya dia akan memberikan ujian bagi Chen Li untuk sekedar mencoba kekuatan barunya.

__ADS_1


Dia ingin tahu sampai di mana kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi. Walaupun sudah bicara langsung dengan makhluknya, tetapi dia belum melihat kekuatan yang sesungguhnya.


Pagi-pagi hari sekali, para Tetua Sekte Bukit Halilintar telah berkumpul di ruangan tempat mereka menikmati pemandangan alam Bukit Awal sambil minum teh hangat.


Semua petinggi sekte sudah berkumpul di sana. Termasuk juga Huang Taiji Lu bersama Yun Mei dan Chen Li, anaknya.


"Tetua Yun, apakah sekarang ada misi yang harus dilakukan?" tanya Pendekar Pedang Tombak di sela-sela bercanda.


"Ada Tetua Huang, di Provinsi Hunan, Kota Quandai sebelah Barat dari sini, ada sekelompok orang yang diduga kuat telah meratakan beberapa sekte Kekaisaran Wei. Menurut informasi para murid, orang-orang itu berasal dari luar Kekaisaran. Memangnya kenapa? Tumben sekali kau menanyakan hal ini," kata Yun Mei sambil tertawa.


Untuk diketahui, Huang Taiji Lu dulu sempat di angkat menjadi tetua sekte oleh Shin Shui, tetapi dia menolak. Namun meskipun begitu, para petinggi yang lain sudah terbiasa menganggapnya sebagai seorang tetua.


Para tetua lain yang ada di sana pun setuju dengan ucapan Yun Mei, mereka memperlihatkan ekspresi keheranan. Sebab tidak biasanya Huang Taiji Lu menanyakan soal misi-misi Sekte Bukit Halilintar yang biasa dilakukan oleh para murid.


"Apakah sudah ada murid yang ditugaskan untuk mengatasi persoalan ini?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Yun Mei sebelumnya.


"Untuk saat ini belum. Mungkin nanti siang aku akan mengutus murid sekte untuk ke sana,"


"Aii, sepertinya kau sedang gembira sekali Tetua Huang," ucap Tetua Lin Zong He sambil tertawa.


"Hahaha, mungkin begitu Tetua Lin. Namun selain itu, memang benar juga aku sudah lama tidak keluar,"


Mereka tertawa kembali sambil sesekali minum teh yang tersedia.


"Kalau Tetua Huang minat untuk menjalankan misi ini, boleh saja. Empat hari harus sudah selesai, tetapi, kau akan pergi ke sana dengan siapa?" tanya Yun Mei sambil mengerutkan kening.


"Dengan Li'er. Kami berdua akan ke sana untuk membereskan misi ini. Benar kan Li'er?" tanyanya sambil sedikit melirik Chen Li.


"Eumm, tentu saja. Aku dan Paman akan ke sana,"


"Li'er, kau yakin? Menurut informasi, orang-orang itu mempunyai kekuatan yang cukup lumayan,"

__ADS_1


"Tetua Yun, kau jangan khawatir. Aku akan menjaga Li'er dengan nyawaku," kata Huang Taiji Lu mencoba meyakinkan Yun Mei.


Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia sedang menimbang-nimbang semuanya. Dia tahu bahwa anaknya sudah mendapatkan suatu hal baru. Terlihat dari postur tubuhnya yang sedikit lebih berisi dan kekar. Bahkan tingginya juga bertambah. Sehingga sekarang dia tidak terlihat seperti bocah dua belas tahun, justru seperti bocah berumur lima belas tahun.


"Baiklah kalau memang Li'er bersedia. Aku akan memberikannya izin. Siang nanti, kalian haris mengisi dulu beberapa formulir laporan dan sebagainya," ucap Yun Mei setelah berpikir sebentar.


"Baik, kami mengerti," jawab Huang Taiji Lu.


Para tetua lain tidak ada yang merasa khawatir. Mereka juga merasakan seperti Yun Mei. Ada yang lain dari diri Chen Li. Selain itu, semua orang di sana juga percaya jika Chen Li pergi bersama Huang Taiji Lu, sudah pasti tidak akan ada orang yang gegabah berani mengganggunya.


Siang harinya di saat setelah jam makan siang dan istirahat, para Tetua Sekte Bukit Halilintar sedang bersantai di ruangan. Terlihat Huang Taiji Lu dan Chen Li masuk secara bersamaan.


Mereka memakai pakaian serba putih ringkas. Huang Taiji Lu dengan senjatanya yang dibungkus. Dan Chen Li dengan matanya yang tertutup serta diikat kain sutera putih.


Keduanya mengisi formulir yang telah disiapkan. Setelah semuanya selesai, kedua orang itu segera pamit untuk menjalankan misi.


"Ibu, Li'er pamit pergi dulu," kata Chen Li sopan.


"Hati-hati nak," jawabnya sambil mengangguk.


Para tetua yang lain melihat Chen Li dengan berbagai macam perasaan. Dalam diri bocah itu, ada sesuatu yang tidak ditemukan pada anak seusinya.


Eng Kiam tidak ikut bersama mereka. Gadis kecil itu lebih memilih untuk terus mendalami ilmu pedang karena ingin membuat bangga kakeknya jika nanti dia menyusul. Terlebih lagi, pertemuan perjanjian tiga bulan antar tokoh akan berlangsung kurang dari seminggu lagi.


Karena itu, Eng Kiam lebih memilih untuk tetap fokus berlatih siang dan malam tanpa kenal lelah.


"Li'er, apakah kau tahu maksud tujuan Paman sehingga mengajakmu menjalankan misi?" tanya Huang Taiji Lu di sela perjalanan mereka.


"Tentu saja. Sudah pasti Paman masih penasaran dengan kekuatan baru Mata Dewa Unsur Bumi bukan?" tanyanya sambil tertawa bangga.


"Hahaha, anak cerdas. Memang itu tujuan Paman sebenarnya,"

__ADS_1


"Tentu saja, Keponakan siapa dulu, hahaha. Baiklah Paman, mari kita percepat langkah," ujarnya lalu mereka berdua melesat dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2