Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Yang Melelahkan


__ADS_3

Tewasnya seorang pendekar yang setara dengan Pendekar Dewa tahap dua akhir itu membuat ketujuh rekannya terbungkam. Mereka tidak tahu harus bagaimana. Seumur hidup, mereka baru menjumpai ada seorang pendekar yang seperti Shin Shui ini.


Selain ketujuh pendekar tersebut, dua pemimpinnya pun terlihat terkejut sekali. Sungguh tidak pernah terbayangkan bahwa seorang anak buahnya yang terlatih akan tewas semudah itu di tangan Pendekar Halilintar.


Walaupun yang tewas merupakan pendekar terlemah diantara yang lainnya, tetap saja hal itu cukup mengguncangkan jiwa para pendekar tersebut.


Tetapi rasa gentar yang menyelimuti hati mereka hanya sebentar saja. Karena berikutnya rasa gentar itu telah berubah menjadi rasa dendam dan rasa benci yang amat besar.


Dalam kegelapan malam, ketujuh mata orang-orang itu terlihat sedikit bercahaya terang. Dari tatapannya segera bisa diketahui bahwa mereka sangat ingin membunuh Shin Shui.


Lalu apakah mereka sanggup?


Ketujuh orang tersebut mulai kembali menyerang Shin Shui. Pertarungan yang sempat berhenti beberapa saat kini sudah berlanjut lagi.


Tujuh batang senjata pusaka kembali berkilat memecah udara yang sejuk. Hawa dingin menerjang Shin Shui dari segala penjuru.


Menurutnya, walaupun dia bisa mengalahkan ketujuh orang ini, setidaknya setengah atau bahkan lebih dari tenaga dalamnya akan terkuras. Tapi jika dia langsung menggunakan kekuatan yang dahsyat, maka kemungkinan tenaganya akan habis sebelum pertarungan sesungguhnya akan dimulai.


Shin Shui berada dalam situasi yang sulit. Tetapi dia tidak berpikir lebih jauh lagi. Baginya persoalan nanti bisa dipikirkan kembali. Yang jelas saat ini adalah bagaimana dia bisa membunuh ketujuh pendekar tanpa harus mengeluarkan kekuatan berlebihan.


Tujuh sabetan dan tusukan lawan berhasil dia hindari dengan gerakan sederhana. Tubuhnya menari di bawah ancaman kematian. Pedangnya bergerak menahan semua serangan lawan.


Jurus demi jurus sudah berlalu. Dua puluh jurus keluar dari masing-masing pendekar. Untuk beberapa saat Shin Shui berada dalam posisi terdesak. Tetapi hal itu hanya terjadi sekejap mata.


Karena berikutnya Shin Shui sudah kembali menunjukkan kemampuannya. Tubuhnya bergerak melebihi kecepatan lawan. Pedang Halilintar dia ayunkan secepat kilat menyambar bumi.


Serangannya benar-benar ganas dan berbahaya. Selain itu, Shin Shui juga membuat semua serangannya dengan perhitungan matang.

__ADS_1


Sehingga walaupun lawan bisa menghindar dan menyerang balik, tapi Pendekar Halilintar masih mempunyai cara untuk mengatasi semua itu.


Di saat dirinya sedang di keroyok musuh, tiba-tiba saja dari arah belakang Shin Shui merasakan adanya angin dingin yang menuju ke arahnya.


Begitu menengok, ternyata dua buah anak panah meluncur dengan deras. Untung Shin Shui segera mengatahui hal ini, sehingga dia mampu mematahkan serangan tersebut saat anak panahnya belum tiba.


Pertarungan masih terus berlanjut. Shin Shui sudah berada di atas angin kembali.


Jurus simpanannya yang terkenal dahsyat sudah dia keluarkan.


"Tarin Ekor Naga Halilintar …"


"Wushh …"


Gerakan pedangnya berubah. Kali ini pedang itu dia gerakan secepat kilat. Tak ada yang mengatahui bagaimana caranya pendekar tersebut mampu melakukan hal seperti itu.


Pedang Halilintar memang bukan pedang biasa. Saat serangan keluar dari pedang tersebut, angin dahsyat yang mampu memporak-porandakan hutan sekitar telah meluncur lebih dulu ke hadapan tujuh lawan.


Dalam keadaan terdesak hebat pun, Shin Shui bisa keluar dari ancaman dengan mudah. Maka tak heran baginya kalau dia dijuluki Pendekar Halilintar.


Sebab semua serangannya jika dia keluarkan serius, persis seperti keagungan halilintar. Sangat cepat, sangat tepat, dan tentunya sangat ganas serta menakutkan.


Shin Shui masih berada dalam posisi menyerang. Semakin lama serangannya semakin dahsyat lagi. Berbagai jurus maut sudah dia keluarkan tanpa ampun.


Sekarang di antara ketujuh pendekar itu, tidak ada yang tidak terluka. Semuanya mengalami luka di tubuhnya. Walaupun luka itu tidak terlalu mematikan bagi mereka, tetapi setidaknya itu sudah cukup untuk mempengaruhi gerak serangannya.


Terbukti bahwa ketika memasuki jurus ketiga puluh empat, serangan ketujuh lawannya mulai mengalami penurunan. Kali ini jurus yang mereka keluarkan tidak seceoat tapi, walaupun keganasannya masih sama.

__ADS_1


Dalam hati, Shin Shui harus mengakui bahwa pertarungan ini memang cukup melelahkan baginya. Bahkan di beberapa bagian tubuh, terdapat beberapa luka yang sempat mengeluarkan darah cukup banyak. Untung bahwa Shin Shui mampu mengobati luka itu dengan caranya sendiri, sehingga dia masih biss mengungguli lawan.


Pertarungan masih tetap berlanjut. Kini ketujuh pendekar itu sedang berusaha mati-matian untuk mengalahkan Shin Shui. Senjata mereka kembali digerakkan, jurus dahsyat kembali dilancarkan.


Shin Shui tidak tinggal diam. Dia pun turut mengeluarkan jurusnya kembali. Sebuah cahaya biru mendadak keluar dari tubuhnya. Setelah itu, sepqsani sayap yang mengeluarkan kilatan halilintar tiba-tiba muncul.


Jurus Sayap Dewa Menghancurkan Iblis sudah keluar. Ini adalah salah satu jurus dahsyat dari Kitab Halilintar.


Shin Shui terlihat seperti seorang dewa yang turun dari langit. Sayap itu mengepak kencang. Dari kepakannya keluar sebuah gelombang dahsyat yang menerjang apa saja.


Tujuh pendekar tersebut terpental dua puluh langkah ke belakang. Puluhan murid terkapar. Keadaan di sekeliling berubah dalam sekejap.


Shin Shui berniat untuk memberikan serangan terakhirnya supaya pertarungan segera berkahir. Tetapi tepat pada saat itu, sebuah sinar merah memancar menyerang ke arahnya.


Dia tidak menghindar, sebaliknya, sepasang sayap itu kembali mengibas dan mengeluarkan kekuatan dahsyat. Benturan dua jurus mengerikan terjadi. Sebuah ledakan besar terdengar sangat memekakkan telinga. Mungkin dalam jarak satu kilometer, ledakan itu bisa terdengar dengan jelas.


Tubuh Shin Shui terpental lima langkah. Untung dirinya bisa menguasai keadaan sehingga dia tidak sampai jatuh ke tanah. Belum sempat mengetahui lebih jauh, dua bayangan telah melesat menerjang dari arah bawah. Namun sebelum itu, kedua bayangan tersebut terdengar berbicara agak keras.


"Telan pil ini. Setelah merasa lebih baik, segera turun tangan kembali," kata salah seorang sambil melempar satu botol berisi pil.


Dua bayangan tersebut tak lain adalah dua pimpinan ketujuh pendekar. Keduanya kini sudah turun tangan. Kalau sudah begini, maka pertarungan yang lebih dahsyat akan segera terjadi sebentar lagi.


Shin Shui menghela nafas panjang. Tak disangkanya pertarungan ini akan berlangsung memakan waktu cukup lama. Walaupun dia pendekar terkuat di Kekaisaran Wei, tetapi kalau menghadapi keroyokan musuh yang memiliki kekuatan seperti ini, dia merasa kerepotan juga.


Apalagi lawan yang dihadapi berasal dari Kekaisaran lain.


Di samping hal tersebut, Shin Shui mengharapkan bantuan dari Chen Li, anaknya, akan segera datang. Karena kalau keadaan terus seperti ini, kemungkinan besar dia akan mengalami kekalahan.

__ADS_1


Di saat menunggu datangnya dua musuh tersebut, buru-buru Shin Shui mengkonsumsi pil yang berkhasiat memulihkan tenaga dalam dengan cepat.


Saat seseorang akan menghadapi sebuah pertarungan hebat, maka dia harus mempersiapkan segalanya. Baik itu kekuatan, kecepatan, ataupun ketepatan saat menyerang. Semua itu harus dipersiapkan sekarang mungkin. Karena kalau tidak, maka kematian dan kekalahanlah yang akan diterima.


__ADS_2