
Empat orang lawannya mulai berlaku serius. Mereka tahu bahwa orang tua yang sedang di hadapi nya saat ini tidak sama seperti pada umumnya.
Mereka bukan anak kemarin sore. Apalagi si orang tua berbaju kuning terang. Di negerinya sendiri, dia merupakan tokoh sesat yang namanya sudah cukup terkenal.
Bahkan semua jurusnya ditakuti sebab beberapa jurus ganasnya mengandung racun yang sangat berbahaya.
Dengan pengalaman yang sudah mumpuni, dengan ilmu yang sudah tinggi, tentu saja dia tahu dan bisa membedakan mana pendekar kelas bawah serta mana pendekar kelas atas.
"Lebih baik keluarkan kekuatan kalian hingga tahap sempurna. Lawan kita saat ini berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Aku sendiri baru mendapati lawan seperti dia," katanya kepada dua rekan dia sendiri.
"Baik, kami juga sudah mengerti. Aku tidak yakin bakal selamat dari cengkeramannya,"
"Aku juga," jawab seorang lagi.
"Yakin atau tidak yakin, menang atau kalau, kita harus berusaha lebih dulu sekuat tenaga. Masalah mati atau hidup tidak menjadi soal," kata si orang tua berbaju kuning.
"Benar. Mari kita lakukan sekarang,"
Tiga orang tersebut seketika itu langsung mengeluarkan kekuatannya hingga tahap tertinggi. Batu berterbangan. Daun-daun kering menggulung menjadi satu pusaran. Aura sesat menyelimuti tubuh mereka.
Tiga orang itu terbungkus oleh sinar hitam pekat dan mengandung kekuatan kegelapan.
Huang Taiji Lu tidak merasa gentar sedikitpun. Sambil terus berlari ke arah lawan, dia tersenyum dingin. Kekuatan yang jauh lebih besar segera merembes keluar dari tubuhnya. Sinar putih transparan menyelimuti seluruh rubuh Pendekar Pedang Tombak.
Dia bukan lagi terlihat seperti manusia. Melainkan terlihat seperti seorang malaikat. perlahan-lahan sinar putih itu membentuk sepasang sayap.
Sayap yang indah seperti sayap malaikat dalam dongeng sebelum tidur.
Chen Li atau bahkan Shin Shui sendiri mungkin tidak tahu jika ini adalah jurus mengerikan milik Huang Taiji Lu.
"Sayap Malaikat Putih …"
Sesuai dengan bentuk dan warnanya. Selama dia menyamar, baru kali ini orang tua itu mengeluarkan jurus tersebut.
Kalau tidak menghadapi kesulitan berarti, tidak mungkin dia akan mengeluarkannya.
Tetapi malam ini adalah pengecualian. Jika yang di sana adalah Pendekar Halilintar, mungkin dia sendiri akan melakukan yang sama sepertinya.
Alasannya tentu karena lawan yang dihadapi bukanlah pendekar kelas bawah.
__ADS_1
Empat pendekar sudah saling berhadapan. Awalnya kekuatan dan aura yang berasal dari tiga lawan memang terasa sangat menekan. Tetapi setelah berhadapan langsung dengan Huang Taiji, sedikit banyak aura dan kekuatan tersebut masih kalah darinya.
Tiga pukulan keras seberat gunung segera bergulung menerjang tiga lawannya. Jurus pertama sudah keluar. Tiga tokoh sesat tersebut segera menahan dengan kekuatan mereka.
Tubuhnya bergetar. Mereka terdorong dua langkah ke belakang.
Huang Taiji Lu tidak diam saja. Dia telah bergerak kembali sebelum tiga lawannya siap.
Gempuran serangan langsung digelar. Sinar putih membelah malam yang gelap. Lampu di setiap sudut halaman telah padam.
Pertempuran empat tokoh itu segera berjalan hebat. Ledakan keras dan berbagai macam sinar menyatu menjadi satu.
Beberapa jarak di sisinya, San Ong sedang bertempur melawan tiga pendekar. Kekuatan yang dahsyat langsung dia keluarkan saat menjelang pertempuran berlangsung.
Bulunya telah mengeras seperti baja. Sinar matanya mencorong tajam berubah menjadi merah membara.
Seperti halnya kobaran api di neraka.
Membawa hawa panas. Membawa perasaan mengerikan.
Dia meloncat tinggi. Saat turun tubuhnya telah berputar sangat cepat sekali. Pusaran berhawa panas terbentuk. Begitu dia menginjak bumi, pusaran tersebut segera melesat ke arah tiga lawannya.
Tiga lawan cukup tersentak. Mereka segera membuat jurus pertahanan yang kokoh bagaikan gunung di kejauhan sana.
"Duarr …"
Bumi bergetar. Tubuh tiga orang tersebut juga bergetar. Mereka terdorong dua langkah ke belakang.
Kekuatan siluman kera putih itu sungguh mengerikan. Mereka seperti berhadapan dengan seorang penguasa.
Dan memang siluman itu adalah penguasa.
San Ong menerjang lagi. Gerakannya jauh lebih cepat dan lebih dahsyat. Beberapa kali suaranya terdengar menjerit melengking. Suara itu sangat mengganggu pendengaran, tiga orang lawannya merasa telinga mereka sakit seperti ditusuk ribuan batang jarum.
Di sisi San Ong, ada Ong San. Sepak terjang siluman kera itu tidak berbeda jauh dengan saudaranya.
Bedanya, Ong San sudah mengeluarkan kekuatan hingga ke titik tertentu. Aura dan perubahannya sama seperti San Ong, hanya saja pancaran kekuatan yang keluar jauh lebih hebat lagi.
Matanya merah membara siap membakar apapun yang ada di hadapannya. Dua taring panjang siap menghancurkan apapun.
__ADS_1
Dia kedua tangannya, sudah tergenggam dua pedang kembar.
Pedang jembar yang mengerikan. Ukurannya jauh lebih besar daripada pedang pusaka pada umumnya. Yang lebih mengerikan lagi, dari dua batang pedang kembar tersebut masing-masing mengeluarkan api membara yang siap menggosongkan semua musuhnya.
Dia melesat. Tiaga sinar merah membara terlihat mencolok di gelapnya malam.
Dua pedang menyabet sangat cepat. Dua kakinya menyusul melancarkan tendangan.
Tiga lawannya terkejut. Gerakan siluman kera itu sungguh luar biasa cepat. Sehingga tidak ada satupun dari mereka yang mampu melihatnya dengan jelas.
Ketiganya hanya merasakan ada hawa panas menerjang ke arahnya. Secepat kilat mereka mengeluarkan senjata pusakanya masing-masing.
Dua pedang dan satu cambuk hitam legam.
Benturan antar pedang terdengar. Suara pecutan cambuk juga terdengar menggelegar seperti halilintar.
Kini keempatnya telah terlibat dalam sebuah pertarungan hebat. Kobaran api Ong San semakin membara. Itu artinya dia sudah benar-benar marah.
Tiga titik telah berubah menjadi medan pertempuran hebat. Bentakan nyaring dan suara pukulan atau tendangan beradu terdengar jelas di telinga.
Mereka sedang bertarung memperjuangkan hidup dan mati.
Di sisi Ong San ada Chen Li Pendekar Tanpa Perasaan.
Dia juga sama seperti paman dan dua siluman miliknya. Bocah kecil itu sedang bertempur dengan ganas.
Kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi sudah keluar hingga ke titik tertinggi. Artinya, kehebatan bocah itu bisa bertambah beberapa kali lipat lagi.
Namun walaupun begitu, lawannya juga merupakan Pendekar Dewa tahap dia akhir. Ini bukan lawan yang mudah untuknya saat ini. Walaupun kekuatan Mata Dewa sangat dahsyat, tapi yang baru berhasil di kendalikan baru satu unsur saja.
Lagi pula sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Mata Dewa Unsur Bumi hanya mampu melawan Pendekar Dewa tahap pertengahan ke bawah.
Namun walaupun dia tahu lawannya berat, sedikitpun Chen Li tidak merasa takut.
Justru dia semakin tertantang. Seperti yang kita ketahui semuanya, semakin lawannya kuat, semakin tinggi juga semangatnya.
Pedang Awan telah telah melancarkan puluhan tusukan dan sabetan. Seruling giok hijau sudah melancarkan puluhan macam sodokan atau hantaman.
Puluhan serangan dahsyat ini dikeluarkan dalam waktu sekejap mata. Siapapun tidak akan percaya ada bocah kecil sepertinya.
__ADS_1