
"Siap!!!"
"Tentu saja,"
"Sangat siap,"
Teriakan berbeda dari tiga orang anak terdengar sangat bersemangat sekali. Senyuman cerah terhias di wajah mereka masing-masing.
"Tuan Huang, Nona Zhu, kami berangkat dulu," ucap Yuan Shao dengan sopan kepada keduanya.
"Baik, silahkan,"
"Hati-hati di jalan,"
Yuan Shao mengangguk. Dia kemudian membalikkan badan lalu segera mempercepat langkahnya menyusul yang lain.
Yuan Shao menjadi pemimpin dalam perjalanan ini bukan lantaran dia sendiri yang mau. Tetapi karena ditunjuk oleh Huang Taiji.
"Saat di perjalanan nanti, kau yang menjadi pemimpin. Tidak boleh membantah, dan kau harus menerimanya. Belajarlah menjadi pemimpin dari hal-hal terkecil, sebelum suatu saat nanti kau memimpin sesuatu yang besar," demikian dia berkata saat dirinya sedang bersiap-siap.
Orang tua itu sendiri sengaja memih Yuan Shao sebagai pemimpin. Sebab di lihat sekilas, dia memang menggambarkan sosok yang tenang. Seperti juga kakeknya, Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.
Dia sangat tenang. Dalam keadaan apapun, dia akan berlaku tenang. Bahkan jika kematian menjemputnya juga dia akan selalu tenang.
Karena Yuan Shi adalah Yuan Shi, bukan orang lain.
Alasan Huang Taiji Lu tidak menunjuk Chen Li sebagai pemimpin karena dia tidak mau bocah itu tampil menonjol. Biarlah dia merendah di balik ketinggiannya.
Bahkan sebaliknya, Huang Taiji malah menyuruh Chen Li untuk tidak turun tangan apabila keadaan belum benar-benar mendesak.
Terlepas apakah masih ada maksud dan tujuan lain atau tidaknya, Chen Li tidak tahu. Dia tidak bertanya dan tidak ingin banyak tanya.
Yang jelas, apapun yang diperintahkan oleh Huang Taiji, dia pasti akan mematuhinya. Jika disuruh terjun ke lautan api juga dia rela melakukannya.
Karena bagi Chen Li, Huang Taiji bukan hanya sekedar paman saja. Dia telah menganggapnya sebagai ayah kedua setelah Shin Shui.
Hari sudah mulai sore.
Keempat bocah tersebut telah berada jauh dari kota sebelumnya. Saat ini mereka sedang berada di kota lain yang jauh lebih besar dan lebih ramai.
Bagi seorang bocah seperti mereka, hal seperti ini tentu saja hal baru. Berpetualang bersama kawan, tanpa ada orang tua atau siapapun itu, bebas ke mana pun mereka mau. Bebas membeli apa saja, dan bebas melakukan apa saja, bukankah itu sesuatu hal yang sangat menyenangkan?
"Hei lihat, di sana banyak sekali mainan bagus," kata Yuan Shao menunjuk ke sebuah toko yang dipenuhi mainan anak-anak.
__ADS_1
"Lihat, baju di toko itu sangat bagus sekali. Aihh, kalau aku mengenakan baju itu, pasti sangat cantik bukan?" tanya Meng Li kepada tiga rekannya.
"Aku lebih suka warna merah," jawab Xiuhan Moi.
"Aku suka warna kuning emas," kata Yuan Shao tidak mau kalah dengan yang lainnya.
Sepanjang perjalanan itu, tiga bocah terus banyak bicara. Saat seorang bocah kecil melihat banyak hal baru, sudah bukan hal aneh jika mereka banyak bicara.
Justru yang tidak banyak bicara, baru aneh namanya.
Chen Li tidak banyak bicara. Dia hanya bicara sewajarnya saja. Bercanda juga sewajarnya. Pada dasarnya dia memang tidak suka berlebihan.
Kalau 'penyakit dinginnya' kumat, dia akan berubah seperti serulingnya. Ditiup berbunyi, tidak ditiup akan diam. Walau bagaimanapun, dia akan tetap diam.
Karena dia adalah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan. Seorang pendekar berdarah dingin.
"Apakah kalian melihat toko besar yang di depan sana?" tanya Chen Lo secara tiba-tiba kepada rekannya.
"Yang mana?"
"Itu, di depan sana. Toko Senjata Pusaka Pualam," ujarnya sambil menunjuk ke toko yang dimaksud.
Tiga sepasang mata bening dan jeli turut melihat ke sana. Mereka baru tahu bahwa di sana ada toko senjata yang sangat besar dan mewah. Tampilan gedungnya saja lebih mewah daripada toko lainnya.
Bahkan dari jauh juga terlihat sangat banyak sekali pengunjung yang ke sana. Entah itu karena memang berniat beli, atau hanya melihat-lihat saja.
"Aku juga,"
"Aku pun," jawab mereka silih berganti.
"Mari kita ke sana untuk melihat-lihat," ajak Chen Li.
Dia langsung berjalan mendahului rekannya. Tetapi setelah sepuluh langkah ke depan, ternyata ketiganya masih terdiam di tempat. Mau tidak mau dia harus kembali ke tempat semula.
"Kenapa kalian tidak mengikuti aku?"
Mereka saling pandang sekejap. Wajahnya terlihat bimbang.
"Kami takut," kata Moi Xiuhan.
"Apa yang kau takutkan?"
"Kami takut jatuh hati dengan pusaka-pusaka di sana. Nanti bagaimana kalau kami ingin membelinya? Sedangkan kami tidak membawa uang yang banyak," jawab gadis kecil itu sambil menunduk.
__ADS_1
Didikan mereka memang ketat. Bukan karena orang tuanya tidak mampu atau kikir, hanya saja sebagai orang tua, sudah sepantasnya untuk mengantisipasi sesuatu yang bisa saja terjadi setiap saat.
Kekuatan mereka masih terbilang baru dasar. Jika membawa uang banyak, bagaimana kalau mendapat gangguan? Misalkan dirampok orang.
Masih mending jika yang dirampok hanya barangnya saja, kalau dirampok bersama nyawanya, bagaimana?
Karena itulah ketiga bocah itu kebingungan saat Chen Li mengajak ke sana.
"Ikut saja denganku. Masalah kalian menginginkan benda pusaka atau tidak, itu urusan belakangan,"
"Bagaimana kalau kami mendadak ingin membelinya?"
"Tentu saja tinggal beli, apa susahnya?"
"Uangnya?" tanya Meng Li kebingungan.
"Aku yang bertanggungjawab," ucap Chen Li sambil tersenyum.
Ahirnya tiga bocah itu mengangguk. Walaupun mereka belum yakin sepenuhnya, setidaknya mereka percaya kepada Chen Li.
Apalagi bocah itu dikenal karena tidak perhitungan jika mengeluarkan uang untuk orang-orang sekitarnya.
Kini persis di depan, sebuah nama terpampang jelas dan besar. Tulisan itu dibuat dari tinta emas dengan dasar cat berwarna hitam.
"Toko Senjata Pusaka Pualam"
Toko tersebut benar-benar megah dan mewah. Bahkan mereka sedikit tercengang.
Seorang pelayan wanita menghampiri empat bocah itu, awalnya dia ingin mengusirnya. Tapi setelah melihat Chen Li, entah kenapa wajah yang tadinya sedikit geram, kini mendadak ramah.
"Selamat datang Tuan dan Nona muda, adakah yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan suara lembut.
"Apakah kami boleh masuk untuk melihat-lihat dulu? Siapa tahu ada senjata yang cocok," ucap Chen Li dengan ramah.
Senyuman yang menggemaskan selalu dia keluarkan jika dalam keadaan seperti ini. Jangakan manusia, Dewa pun mungkin tidak bisa marah jika melihatnya tersenyum demikian menggemaskannya.
"Aihh, tentu saja boleh Tuan muda. Mari silahkan masuk, biar aku antar ke dalam," katanya sambil mencolek pipi Chen Li.
Mereka segera masuk ke dalam.
Begitu berada di sana, keempatnya lebih tercengang lagi. Pengunjung sangat padat. Apalagi katanya sekarang sedang diadakan sebuah pameran tahunan.
Ratusan bahkan ribuan senjata terpajang di rak atau wadah khusus. Mulai dari senjata umum, hingga senjata aneh yang mungkin tidak akan ditemukan di tempat lain, di sini pasti ada.
__ADS_1
Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar, semuanya ada. Lengkap, tanpa ada yang kurang.
"Nah, ini semua adalah barang di toko kami. Silahkan Tuan dan Nona muda melihat-lihat," kata si pelayan mempersilahkan.