Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Si Tombak Kematian


__ADS_3

Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan langsung menghentikan langkahnya. Pemuda itu segera menengok ke sebalah kanan di mana suara tersebut terdengar.


Begitu menengok, dia melihat ada seorang pria tua botak. Pakaiannya berwarna abu-abu lusuh, sepasang alisnya sudah memutih seperti janggutnya yang mempunyai panjang hampir satu jengkal.


Wajahnya tersenyum mengejek. Jelas bahwa dia sangat memandang sebelah mata kepada Pendekar Tanpa Perasaan. Di tangan kanannya ada sebatang tombak dengan panjang satu depa. Batang tombak berwarna merah tua, ujung tombaknya sendiri berwarna hitam legam.


Tombak yang kelam. Tombak yang sangat tajam.


Asap hitam selalu menyelimuti seluruh bagian tombak tersebut. Dari asap hitam itu terasa dengan jelas sebuah hawa sesat yang sangat pekat.


Melihat sekilas saja Chen Li dapat mengetahui bahwa orang tua itu merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.


"Siapa kau?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan tanpa ekspresi. Nada suaranya datang. Suaranya sendiri dingin seperti biasanya.


"Si Tombak Kematian," jawabnya bengis.


"Oh, ada perlu apa kau menghampiriku?"


"Sudah aku bilang barusan, aku ingin menguji kemampuan bocah sombong seperti dirimu,"


"Lebih baik pergilah, kau belum pantas untuk bertarung denganku. Kemampuanmu masih terlalu rendah," ujar Chen Li penuh nada ejekan.


Pemuda tersebut sengaja berkata demikian hanya untuk memancing amarah orang tua itu. Padahal kalau bicara yang sebenarnya, si Tombak Kematian merupakan seorang Pendekar Dewa tahap empat akhir. Sebuah tingkatan yang terbilang sudah tinggi. Apalagi kalau dihitung dengan pengalaman seluruh hidupnya.


Sebagai orang yang pernah merasakan asam garam kehidupan, sebagai manusia yang sudah menyatu dengan sifat iblis, mendengar ucapan tersebut tentunya dia sangat tidak terima. Seumur hidupnya, baru kali ini saja si Tombak Kematian diejek oleh seorang pendekar.


Apalagi pendekar yang mengejeknya merupakan bocah kemarin sore.


"Bangsat kecil, kau pikir siapa dirimu itu? Bocah keparat yang bosan hidup, kalau hari ini aku tidak bisa membunuhmu, maka aku lebih memilih untuk mati," teriaknya dengan kalap.


Amarahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun kepala. Sepasang matanya memerah membara. Si Tombak Kematian sudah sangat geram. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung melancarkan serangan pertama kepada Pendekar Tanpa Perasaan.


Satu tusukan yang cepat laksana kilat menyambar langsung dilayangkan. Aura hitam bercampur hawa kegelapan bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Tusukan itu teramat sangat cepat sehingga belum selesai kedipan mata pertama, serangan tersebut sudah datang.


Pendekar Tanpa Perasaan paham bahwa si Tombak Kematian sudah serius dalam serangan pertamanya. Oleh sebab itulah dia sendiri tidak mau main-main lagi.


Trangg!!!


Percikan api membumbung tinggi ke atas. Tusukan si Tombak Kematian langsung berhenti saat itu juga.


Pedang Merah Darah telah menahannya tepat satu jari sebelum pusaka kelas atas itu menusuk batang tenggorokan Pendekar Tanpa Perasaan.


Sebenarnya tusukan pertama tadi sekaligus merupakan tusukan yang terakhir. Kalau tusukan itu gagal, maka itu artinya dia pun tidak berhasil membunuh pemuda sombong tersebut.


Kalau dia tidak sukses menusukkan tombaknya, maka si Tombak Kematian harus rela menanggung sebab akibatnya. Nyawanya pasti akan melayang.


Belum sempat bergerak kembali, orang tua itu telah mampus. Nyawanya benar-benar melayang dari raga.


Ternyata pada saat gerakannya berhenti tadi, tidak lama kemudian Pendekar Tanpa Perasaan menusukkan juga pedang pusaka miliknya.


Dia tidak tahu sama sekali. Yang dia tahu hanyalah ada hawa dingin menusuk ke tenggorokannya. Dingin yang membawa rasa perih. Dingin yang langsung mengantarkannya ke alam baka.


Semuanya selesai. Si Tombak Kematian langsung ambruk ke tanah.


Meskipun dia mampus hanya dalam beberapa kali serangan, tapi orang tua itu pasti tidak akan menyesal. Sebab dia tewas di tangan seorang pendekar tiada tanding. Alasannya karena dia mampus di bawah jurus yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.


Jurus Pedang Sang Dewa.


Darah mengalir perlahan. Tubuh tua yang mengandung hawa sesat itu sudah terbujur kaku menjadi bangkai yang tidak berguna.


Pendekar Tanpa Perasaan kembali melangkahkan kakinya dengan ringan dan santai.


Selama kejadian tadi berlangsung, beberapa puluh pasang mata sebenarnya memperhatikan dirinya. Terutama sekali para tokoh yang ada di ruangan utama tadi. Mereka melihat dengan jelas apa yang baru saja terjadi di hadapannya.


Orang-orang tersebut sengaja tidak bergerak maju. Mereka ingin melihat sampai di mana kemampuan pemuda angkuh itu.

__ADS_1


Sekarang setelah tewasnya si Tombak Kematian, puluhan tokoh tersebut mengetahui sampai di mana dan bagaimana mengerikannya kemampuan Pendekar Tanpa Perasaan.


Begitu juga dengan Hong Hua.


Saat ini dia sudah benar-benar yakin kalau tebakannya yang mengatakan bahwa kekuatan pemuda itu sudah meningkat dengan tajam, ternyata tidak salah. Sama sekali tidak meleset.


"Kejadian bodoh yang terjadi tiga tahun lalu kembali terulang," ucapnya sambil menghela nafas dalam.


Hong Hua masih ingat dengan jelas kejadian itu. Pada saat tiga tahun lalu, kejadian seperti barusan memang pernah terjadi. Bedanya kalau dulu ada beberapa orang bodoh yang sengaja menyerahkan nyawa, maka sekarang hanya ada satu orang bodoh yang melakukan hal demikian.


Tanpa sadar Chen Li sudah keluar dari markas pusat Organisasi Elang Hitam. Sekarang dia sudah berada cukup jauh dari tempat para iblis tersebut.


Ternyata saat keluar dan saat masuk tidak sama. Kalau pada saat dia masuk terdapat banyak sekali rintangan yang sangat berbahaya, maka pada waktu dia keluar malah sebaliknya. Jangankan tujuh rintangan, bahkan satu rintangan pun tidak ada sama sekali.


Wushh!!!


Bayangan putih meluncur deras di bawah kegelapan malam. Pendekar Tanpa Perasaan berniat untuk mencari Ah Kui. Dia tahu bahwa orang tua itu sudah menunggunya di restoran terbesar.


Oleh sebab itulah tanpa berpikir panjang lagi Chen Li segera menuju ke sana.


Suasana Kotaraja masih sama seperti sebelumnya. Kota itu sesungguhnya tidak pernah mati. Sama seperti dendam Pendekar Tanpa Perasaan yang tidak akan pernah mati.


Pemandangan Kotaraja masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Restoran terbesar yang sangat mewah itupun masih sama pula.


Pendekar Tanpa Perasaan masuk ke dalam tanpa bicara sepatah katapun. Suasana di sana ramai, tapi tidak seramai hari lalu. Mungkin para pengunjung yang sudah menjadi langganan telah berpulang lebih awal karena udara malam yang demikian dinginnya.


Ah Kui sedang duduk dengan tenang. Dia berada di lantai paling atas dan paling mahal Sepasang matanya menatap ke liar jendela, sepertinya dia amat menikmati keindahan Kotaraja Kekaisaran Sung.


Ribuan lampu yang terang benderang, suara riuh orang-orang di jalanan, semua itu menjadi sesuatu yang membuat dirinya merasa amat nyaman.


Tangan kananya sedang menggenggam secawan arak murni yang harum. Dia meminumnya dengan perlahan.


Cara terbaik minum arak adalah dilakukan dengan perlahan. Seperti yang dilakukan Ah Kui pada saat ini.

__ADS_1


__ADS_2