Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Yang Ada Hanyalah Kematian


__ADS_3

Setelah sepuluh jurus itu, Shin Shui semakin gencar menyerang Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun. Kedua tangannya bergerak lincah ke segala arah melancarkan pukulan beruntun.


Ledakan kerap kali terdengar ketika tangan dua tokoh tersebut berbenturan. Sekarang Kiam Mo Kong semakin yakin bahwa dia benar-benar tidak dapat meriah kemenangan.


Untuk menjadi pemenang dalam pertarungan ini, setidaknya hanya tersedia kesempatan peluang sebesar dua puluh persen saja.


"Ular Berbisa Mengibas Ekor di Sungai …"


"Wushh …"


Di tengah gempuran Pendekar Halilintar, Kiam Mo Kong berusaha mencari celah untuk membalas serangan. Untungnya dia dapat.


Sehingga kakek tua itu mampu mengeluarkan salah satu jurusnya yang berbahaya dan terkenal mematikan.


Dua tangan itu seolah berubah menjadi ekor ular yang sangat lentur dan lincah. Kedua tangannya bergerak menangkis setiap serangan Shin Shui.


Benturan jurus tangan kosong terus terjadi hingga pertarungan mereka berjalan semakin tegang. Benturan jurus jarak dekat dan jarak jauh mengiringi.


Suara bentakan dari mulut mereka yang mengandung tenaga dalam selalu terdengar nyaring.


Mencapai jurus kedua puluh satu, Pendekar Halilintar melihat adanya peluang.


Walaupun peluang itu kecil, tapi baginya sudah lebih daripada cukup.


Terkadang sesuatu yang kecil bisa berubah menjadi besar.


Mimpi besar tapi kenyataan tidak sesuai, bagi sebagian orang mungkin akan mustahil untuk mencapai mimpinya tersebut. Tapi bagi sebagian orang lain tidaklah mustahil. Selama ada usaha, selama mimpinya masih dalam batas wajar, pasti bisa diraih.


Siapa yang dapat melakukannya?


Mereka adalah orang-orang yang mau berjuang. Mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah. Dan yang terpenting, mereka adalah orang-orang yang dapat mengubah peluang kecil menjadi besar.


Seperti Shin Shui misalnya.


"Tapak Pembelah Bumi …"


"Wushh …"


Serangan dadakan yang dilancarkan oleh Shin Shui merupakan jurus hebat. Jurus itu tertera dalam Kitab Tapak Penghancur yang dulu pernah dia pelajari sebelumnya.


Gelombang energi tak kasat mata dan mengandung kekuatan dahsyat seketika langsung menerjang ke arah Kiam Mo Kong secepat kilat.


Karena jarak mereka berdekatan, al hasil kakek tua itu tidak mampu menahannya.

__ADS_1


Tubuh yang sudah tua renta tersebut terpental sepuluh tombak ke belakang sampai menabrak bangunan tua dan menghancurkan tiangnya.


"Brugg …"


"Hoekk …"


Mulutnya langsung muntah.


Muntah darah yang cukup banyak. Darah kental kehitaman. Dadanya terasa sangat sesak. Kepalanya berkunang-kunang.


Seperti ada bintang mengelilingi kepalanya.


"Keparat. Aku tidak boleh kalah darinya. Jangan pernah kau meremehkan Kiam Mo Kong …" gumamnya pelan menahan rasa sakit yang mulai mendera.


Kakek tua itu berteriak lantang. Suaranya menggelegar seperti ledakan halilintar yang dapat memecahkan gendang telinga. Kakinya melesak masuk ke dalam tanah. Tubuhnya menghitam mengeluarkan sisik seekor ular yang sangat menyeramkan.


Lidahnya mendadak memanjang dan bercabang dua.


Sekarang dia benar-benar mirip seperti seekor ular. Bedanya, kakek tua tersebut masih mempunyai tangan dan kaki.


Satu kali lagi dia berteriak, lalu kemudian melesat menerjang Shin Shui dalam kecepatan yang sulit untuk diikuti mata telanjang.


Hanya dalam satu tarikan nafas, kakek tua itu telah tiba di hadapan Pendekar Halilintar. Secepat kilat tangan kanannya melancarkan pukulan dahsyat.


Shin Shui terkejut. Dia terpental sejauh lima belas langkah. Satu pohon besar tumbang karena tak kuat menahan luncuran tubuhnya.


Dari sudut bibirnya keluar darah kental.


Tangan kanannya langsung mengusut darah tersebut.


Pendekar Halilintar dibuat marah besar. Amarahnya telah meluap sampai ke ubun-ubun. Kalau kepalanya terbuat dari plastik, mungkin kepala itu sudah meleleh saking panasnya menahan amarah.


Shin Shui berdiri dengan tenang. Pedang Halilintar dia cabut dari sarungnya. Batang pedang berwarna biru segera mengeluarkan cahaya terang lalu menyeruak ke seluruh bagian hutan.


Tatapan matanya lurus ke depan.


Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun berada di hadapannya dalam jarak sekitar sepuluh tombak. Tak lama kemudian, doae segera berlari mengitari Shin Shui dalam kecepatan tinggi.


Uap hitam pekat menutupi arena pertarungan mereka. Udara langsung terasa pengap dan panas. Keadaan benar-benar menghitam.


Tak ada sesuatu apapun yang terlihat kecuali hanya uap hitam yang terus menggumpal semakin pekat.


Dunia seolah lenyap. Semua yang ada mendadak hilang dari pandangan.

__ADS_1


Jurus ini adalah jurus terkuat yang dimiliki oleh Kiam Mo Kong. Dia memberikan nama jurus Kabut Hitam Kegelapan Membawa Kematian.


Sebenarnya jurus Kabut Hitam Kegelapan Membawa Kematian adalah jurus terlarang. Karena setelah menggunakan jurus tersebut, dia harus memberikan persembahan kepada Raja Ular.


Persembahan yang dimaksud tentunya nyawa manusia. Biasanya Raja Ular akan meminta korban sebanyak dua puluh gadis. Kalau tidak ada persembahan, maka nyawanya akan menjadi jaminan.


Sebenarnya dia tidak ingin mengeluarkan jurus terlarang ini. Tapi karena keadaan terdesak, mau tidak mau dia harus mengeluarkannya.


Keadaan di sana benar-benar berubah total.


Shin Shui tetap tenang. Dia tidak terlihat panik sedikitpun. Bahkan senyuman berkembang di bibirnya.


Kiam Mo Kong masih berlari mengelilingi Shin Shui. Tapi kali ini di kedua tangannya terdapat dua batang pedang yang digenggam dengan erat.


Semua persiapan telah siap. Perhitungan matang telah dilakukan. Dia yakin bisa menang jika sudah mengeluarkan jurus terlarang ini.


Sebab sebelumnya, tidak pernah ada yang selamat dari cengkraman jurus Kabut Hitam Kegelapan Membawa Kematian.


Namun sesuatu yang sungguh tidak diluar dugaan terjadi. Secercah cahaya putih keemasan melesat sangat cepat. Cepat sekali sehingga dia tidak dapat menebak cahaya apakah itu.


Hanya satu kali cahaya itu terlihat berkelebat lalu kemudian lenyap tanpa jejak.


Kiam Mo Kong tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Yang jelas dia merasakan lehernya tertusuk benda dingin.


Sangat dingin dan membawa rasa perih yang teramat sangat.


Detik selanjutnya kakek tua itu ambruk ke tanah sudah dalam kondisi tak bernyawa. Matanya melotot seperti ingin keluar karena saking tidak percayanya.


Ternyata saat Shin Shui berdiri dalam diam tadi, dia sedang mengumpulkan tenaganya untuk mengeluarkan satu jurus pedang terhebat yang jarang dia keluarkan jika tidak dalam kondisi terdesak.


Jurus Pedang Cahaya.


Siapa yang dapat menahan jurus maha dahsyat ini? Selama ini, belum pernah ada yang mampu selamat dari ganasnya jurus tersebut. Jangankan selamat, mampu menghindarinya saja belum ada yang bisa melakukannya.


Setelah Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun tewas, keadaan kembali normal. Hutan nampak lagi. Desiran angin barat yang dingin terasa lagi.


Shin Shui berjalan dengan langkah tenang. Setenang air di danau sana. Pedang Halilintar telah dia masukkan kembali ke sarungnya. Wajahnya masih dingin dan kaku.


Duel maut melawan salah satu datuk dunia persilatan telah selesai.


Hanya saja pertarungan mereka tidak separah dengan pertarungan sebelumnya yang menghancurkan area sekitar. Karena pertarungan keduanya merupakan pertarungan kelas atas.


Tidak ada teriakan memilukan. Tak ada jerit menyakitkan. Dan tanpa bentakan mengerikan.

__ADS_1


Sebab yang ada hanyalah kematian.


__ADS_2