
Chen Li langsung duduk setelah mendapatkan perintah tersebut. Begitu juga dengan tiga sahabatnya.
Empat bocah kecil itu masih belum mengerti apa yang sudah terjadi sebenarnya. Namun mereka yakin, ada sesuatu di balik semua kejadian yang mereka alami sejak awal.
"Paman, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Dan kenapa Paman bisa ada di sini lebih dulu?" tanya Chen Li masih merasa penasaran kepada Huang Taiji.
Dia masih belum puas dengan jawaban orang tua itu sebelumnya.
Bukankah sejak awal Huang Taiji sudah berkata akan melakukan tugas penting? Sehingga dia memutuskan untuk menyuruh Chen Li dan yang lainnya memberikan surat dari Shin Shui kepada Kepala Tetua Sekte Seribu Iblis. Lantas, kenapa orang tua itu sekarang bisa ada di sini?
Chen Li tidak habis pikir. Dia tetap merasa penasaran jika belum mendapatkan jawaban pasti.
"Bukankah Paman sudah bilang? Paman sedang menikmati keindahan alam," jawabnya sambil tertawa.
Si orang berkerudung ungu juga tertawa. Keduanya minum arak lagi.
"Tapi, bukankah Paman yang bicara sendiri akan melakukan tugas penting?"
"Menikmati keindahan alam adalah tugas penting," jawab Huang Taiji seenaknya.
Chen Li tidak langsung bicara lagi. Dia berjalan mendekati Huang Taiji. Setelah itu, bocah kecil tersebut langsung menarik jenggot pamannya tanpa ragu.
"Aihh, sakit Li'er, aduhh. Baik, baik, Paman akan menceritakan yang sebenarnya," jawab Huang Taiji menyerah setelah jenggotnya ditarik.
Tiga sahabatnya diam-diam tertawa. Orang berkerudung ungu juga tertawa.
Dia semakin kagum kepada bocah di hadapannya ini. Tadi, dia seperti iblis. Menyerang tak kenal ampun, bertarung sekuat tenaga. Persis seperti seorang pendekar sejati. Tak ada raut wajah yang manja. Bahkan wajahnya tidak terlihat seperti bocah seusianya.
Namun sekarang, apa yang dia lihat sangat, sangat bertolak belakang. Bocah itu justru sangat lucu dan menggemaskan. Bocah yang tadi menyeramkan, sekarang sudah berubah menjadi bocah menggemaskan. Bocah yang manja kepada orang-orang terdekatnya.
"Paman mengatakan akan menjalankan tugas penting itu hanyalah pura-pura saja. Itu hanya akal Paman supaya kalian mau melakukan perjalanan bersama. Tujuannya adalah mendidik kalian. Supaya kalian bisa belajar bagaimana caranya bekerja sama dengan baik, belajar bagaimana menghadapi rintangan yang menghadang. Supaya kalian tahu rasanya hidup di alam bebas. Semua itu tujuannya untuk kalian di kemudian hari nanti."
"Kalau tidak dilatih sejak sekarang, mau kapan lagi? Kalian adalah angkatan muda dunia persilatan Kekaisaran Wei. Kalian ini para naga muda. Bagaimanapun juga, kelak, kalian akan menanggung beban besar di pundak masing-masing. Karena itulah, Paman sengaja melakukan semua ini agar kalian mendapatkan pengalaman," jelas Huang Taiji Lu kepada Chen Li dan tiga sahabatnya.
__ADS_1
Empat bocah tersebut hanya mampu terbengong mendengarnya. Sekarang mereka paham betul maksud dan tujuan Ye Xia Zhu dan Huang Taiji ketika hendak berangkat.
Ternyata ada maksud lain di balik itu semua.
Tanpa sadar mereka mengucapkan rasa terimakasih yang dalam di hatinya masing-masing. Apa yang dikatakan oleh Huang Taiji, semuanya memang benar.
Mereka calon penerus. Generasi muda Kekaisaran Wei. Sudah sewajarnya jika mulai membiasakan diri di alam liar sejak usia dini. Karena jika ilmu tanpa pengalaman, rasanya belum cukup.
Seperti sebuah perahu. Perahu pun akan sempurna jika ada airnya.
Ilmu pun akan sempurna jika ada pengalamannya. Ada perahu, pasti ada air. Ada pengalaman, pasti ada ilmu. Ini sudah menjadi hal berdampingan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan.
"Jadi, sebenarnya Paman sudah tiba di sini dan sudah memberitahukan pesan dari Ayah untuk Kepala Tetua Sekte Seribu Iblis?" tanya Chen Li.
"Tepat. Paman tiba dua hari yang lalu Li'er,"
"Di mana sekarang Kepala Tetua Sekte Seribu Iblis itu?" tanya Chen Li.
Huang Taiji tertawa. Ternyata sampai sekarang bocah itu belum menyadari juga.
"Ja-jadi?"
"Ya, orang berkerudung ungu itu adalah Fu Wei si Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma. Orang terkuat urutan ke delapan di Kekaisaran Wei. Kepala Tetua dari Sekte Seribu Iblis,"
Chen Li tercengang. Hampir saja jantungnya copot mendengar penuturan Huang Taiji.
Kalau begitu, berarti yang bertarung dengannya adalah sang Kepala Tetua Sekte Seribu Iblis?
"Berarti …"
"Tepat. Tadi sore kau sudah bertarung dengan Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma," kata Huang Taiji sambil tersenyum.
"Aii, Kepala Tetua Fu, maafkan Li'er yang tidak tahu sopan santun ini. Sungguh, Li'er memang kurang ajar. Li'er siap menerima hukuman," ujarnya sambil berlutut di hadapan Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma yang bernama asli Fu Wei itu.
__ADS_1
Fu Wei tersenyum. Dia senang melihat bocah seperti Chen Li.
"Jangan seperti ini Li'er, aku memang sengaja melakukannya tak lebih hanya karena ingin membuktikan apakah ucapan Tuan Huang benar atau tidaknya. Dan ternyata apa yang dia ceritakan memang benar, sungguh kagum," kata Fu Wei sambil tersenyum.
Sekarang suaranya terdengar ramah dan lemah lembut. Seperti seorang tua yang sedang menasehati anaknya. Sangat berbeda jauh dengan suaranya yang tadi sore.
Sementara itu, Yuan Shao dan dua gadis kecil merasa keheranan. Berarti semenjak mereka tidak sadarkan diri, Chen Li lantas bertarung dengan orang tua itu?
Tiga bocah mengatakan perkataan yang sama dalam hatinya masing-masing. Namun mereka tidak ada keberanian untuk menanyakannya.
"Terimakasih atas kemurahan hati Kepala Tetua Fu. Li'er sekali lagi minta maaf,"
"Sudah, sudah. Bangkitlah," ucapnya sambil membantu Chen Li bangkit berdiri.
Fu Wei lantas segera menceritakan bahwa dirinya sudah menerima surat dari ayahnya. Selain itu, dia juga telah menyetujui untuk melakukan kerja sama dengan para pendekar Kekaisaran Wei lainnya.
Mereka menceritakan berbagai macam pengalaman sambil menikmati arak dan teh. Empat bocah tersebut mendengarkan cerita dari dua orang tua itu.
Setelah membahas berbagai macam pengalaman, Fu Wei kemudian berkata bahwa dia akan segera mengerahkan para muridnya untuk menjaga daerah-daerah sekitar yang rawan.
Di saat sedang bercerita serius tersebut, mendadak dari arah kejauhan sana ada titik hitam.
Awalnya titik hitam itu kecil, lambat laun menjadi jelas. Suara lengkingan tinggi terdengar menggema di angkasa raya.
Elang.
Titik hitam tadi ternyata seekor burung elang. Setelah berputar-putar beberapa kali di atas Sekte Seribu Iblis, akhirnya elang tersebut mendarat tepat di hadapan Huang Taiji dan yang lainnya.
Di kaki elang itu ada sepucuk surat yang diikatkan.
Huang Taiji memberikan sepotong daging yang ada di sana kepada si elang sebelum dia mengambil suratnya.
Setelah itu, barulah dia mengambil lalu kemudian membacanya.
__ADS_1
"Kakak Huang, setelah kau berhasil mengunjungi dua sekte aliran hitam terbesar, aku harap kau juga mau untuk mencari seorang lagi. Orang ini sangat kita butuhkan bantuannya. Biasanya orang ini berdiam di Gunung Cahaya Biru. Namanya Huan Ni Mo. Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara. Ceritakan semuanya dan mintalah bantuannya. Sebab perang besar sepertinya akan terjadi terjadi satu tahun lagi,"
"Shun Shui,"