
"Li'er, Li'er," Huang Taiji berteriak memanggil-manggil nama Chen Li.
Tetapi setelah beberapa saat memanggilnya, orang yang dipanggil justru tidak muncul sama sekali. Di sana benar-benar tidak ada orang lain kecuali dirinya sendiri.
Di mana Chen Li? Kenapa dia bisa menghilang?
Berbagai macam pertanyaan mulai berkecamuk dalam benak Huang Taiji. Dia sangat tahu watak Chen Li, bocah itu tidak akan sudi bermain-main seperti ini. Kalau begitu, itu artinya sesuatu telah terjadi kepada Chen Li dan Huan Ni Mo.
Huang Taiji memutar otak. Dia mengelilingi kamar tersebut beberapa putaran. Matanya mengawasi ruangan kamar.
"Hemm, ada bekas jejak kaki di sini," desis Huang Taiji.
Jejak kaki itu terlihat ada beberapa banyak. Sepertinya, yang datang ke kamar tersebut juga bukan hanya satu orang. Paling minimal mungkin empat orang.
Jendela kamar terbuka. Ternyata diluar juga sama, ada beberapa jejak kaki seperti sebelumnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Huang Taiji langsung menerjang keluar jendela lalu mengikuti ke mana arah jejak kaki tersebut. Jejak kaki itu terlihat sangat rapi sekali. Tidak terlihat acak-acakan, juga tidak terlihat tak beraturan.
Lima belas menit telah berlalu. Tanpa terasa, Huang Taiji sudah cukup jauh mengikuti jejak kaki itu. Sekarang, dirinya sudah berdiri di tengah hutan yang sangat luas.
Di depan sana ada bangunan tua yang kokoh dan megah. Walaupun usia bangunan itu sudah berumur puluhan tahun, tetapi bangunannya masih terlihat sangat antik. Keseraman menyelimuti keadaan sekitar.
Hawa pembunuhan yang pekat terasa membangunkan bulu kuduk.
Huang Taiji masih berdiri si depan tempat tersebut. Dia sendiri tidak mengerti kenapa jejak kaki itu menghilang di tempat ini. Namun dalam hatinya, dia sudah yakin bahwa sesuatu yang tidak beres sudah menantinya.
Wushh!!!
Puluhan pisau melesat keluar dari segala penjuru. Kecepatannya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan luncuran pisau-pisau itu hingga mengeluarkan gurat merah membawa. Persis seperti meteor yang jatuh ke bumi.
Huang Taiji selalu siap. Tubuhnya sudah terlatih dalam segala macam kondisi. Begitu mendengar ada desingan puluhan senjata rahasia, secara tiba-tiba dia melayang ke atas lalu berputar beberapa kali seperti baling-baling.
Jubahnya berkibar mengeluarkan deru angin yang hebat. Tenaga dalamnya sudah disalurkan lewat kedua telapak tangan. Hanya beberapa kibasan kecil, seluruh senjata rahasia itu rontok. Hampir semuanya patah menjadi dua bagian.
Pendekar Pedang Tombak tidak mau main-main ataupun berlama-lama lagi. Karena itulah, orang tua itu langsung mengeluarkan tenaga dalamnya tidak tanggung-tanggung lagi.
__ADS_1
Brakk!!!
Puluhan dahan pohon mendadak patah saat dia menjejakkan kakinya ke bumi. Tanah bergetar hebat, gemuruh terdengar seperti raungan iblis raksasa yang minta dibebaskan dari belenggu.
Hawa di sana menjadi tidak karuan. Kadang terasa panas, kadang terasa dingin.
"Kalau kalian memang ingin mampus tanpa melakukan perlawanan, baik, aku akan mencoba mengabulkannya sekarang juga," teriak Huang Taiji.
Selesai berkata demikian, dirinya langsung memutarkan kedua tangannya lalu dihentakkan ke atas. Hawa panas menyebar luas. Hawa dingin menyeruak menusuk tulang.
Dua hawa yang berlawanan itu memenuhi keadaan di sekitar tempat tersebut. Huang Taiji sudah tidak perduli lagi siapa lawan yang akan dihadapinya nanti. Yang jelas, bagaimanapun caranya, Chen Li harus ditemukan.
Namun belum sempat dia melakukan hal yang lebih berbahaya lagi, mendadak muncul belasan orang berpakaian merah darah dari balik pepohonan.
Mereka mengelilingi Huang Taiji dengan tatapan mata yang sangat tajam. Belasan batang golok sudah diacungkan.
"Bagus. Akhirnya kalian keluar juga," tegas Huang Taiji.
Tanpa berkata lagi, dirinya langsung mengumpulkan tenaga dalam di kedua telapak tangannya dengan jumlah yang sangat besar. Aura berwarna putih mulai menyelimuti tubuhnya secara perlahan.
Matanya memutih. Wajahnya terlihat lebih bengis dari pada sebelumnya.
Secara tiba-tiba, Huang Taiji memukul bumi dengan keras. Akibatnya tanah berhamburan ke segala arah. Belasan orang terlempar tidak karuan. Hanya dalam satu kedipan mata, tempat di sana benar-benar dibuat hancur luluh lantak.
Belasan orang tersebut meregang nyawa. Mereka tewas karena terkena serpihan tanah yang melaju kencang seperti luncuran anak panah itu. Ada juga yang kepalanya pecah karena beradu dengan kepala rekannya sendiri.
"Hiyaaa …"
Huang Taiji berteriak sangat kencang. Tubuhnya langsung meluncur deras mengarah ke bangunan tua itu. Pukulannya sudah siap untuk dilayangkan.
Blarr!!! Blarr!!!
Dua kali pukulannya dilayangkan. Keadaan bangunan tersebut langsung hancur. Atap bangunan jebol, dinding dan tiangnya pecah berantakan.
Huang Taiji benar-benar dibuat marah saat ini.
__ADS_1
Debu mengepul tinggi. Pusaran angin menyapu dedaunan kering.
Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding masih berdiri dengan kokoh seperti bukit yang jauh di sana. Tangan kanannya sudah menggenggam sebatang senjata pusaka yang tidak pernah mengecewakan dirinya.
Pedang Tombak Surga Neraka.
Matanya menatap tajam ke arah kepulan debu itu tanpa berkedip sedikitpun.
Setelah semuanya kembali normal, Huang Taiji semakin naik darah.
Empat orang yang pernah dia temui sebelumnya sudah berdiri menantang dalam jarak lima belas tombak. Mereka memakai pakaian serba hitam. Wajahnya sangar, matanya melotot tajam menggambarkan kebengisan yang tiada tara. Satu langkah di depan mereka, ada dua orang yang sangat dikenal olehnya.
Chen Li. Orang yang terkapar itu memang dia.
Chen Li sudah dalam keadaan pingsan. Begitu juga dengan Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara yang berada di sisinya. Keadaan dua orang itu sangat mengkhawatirkan, mereka tidak lebih seperti orang yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya.
Nafasnya tersengal-sengal. Wajah keduanya sudah pucat pasi.
Seorang dari mereka tersenyum sinis. Senyuman itu sangat jelas meremehkan Huang Taiji.
"Kau sudah datang terlambat," kata seorang lawannya.
Huang Taiji masih terdiam. Dia sama sekali tidak ada selera untuk menjawabnya. Orang tua itu tidak memiliki niat untuk bicara, yang dia miliki hanyalah niat untuk membunuh mereka secepat mungkin.
"Kedua orang itu sudah aku cekoki racun yang sangat ganas. Nyawa mereka tidak akan bisa diselamatkan lagi, karena di dunia ini sudah tidak ada yang mampu mengobatinya kecuali aku sendiri. Dalam waktu satu jam kemudian, mereka akan membusuk dan tubuhnya lenyap begitu saja," kata orang tersebut melanjutkan.
Huang Taiji masih bungkam. Seolah telinganya tidak mendengar sama sekali apa yang dia katakan barusan.
"Kalau kau memang tidak percaya, lihat saja. Sebagian tubuh mereka sudah ada yang menghitam dan mengeluarkan bau busuk,"
Huang Taiji melirik sekilas. Ternyata benar, di beberapa bagian tubuh Chen Li dan Huan Ni Mo, terdapat kulit yang sudah berubah menjadi warna hitam. Bau busuknya tercium hingga membuat perut mual.
Tapi Huang Taiji tidak panik. Dirinya justru malah tersenyum simpul.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya orang tersebut.
__ADS_1
"Karena aku ingin," jawab Huang Taiji menahan amarahnya.
"Kau senang jika kedua orang itu mampus?"